Kiana Story

Kiana Story
Bab 35



Ini adalah pertama kalinya Alira datang ke rumah seorang ustad. Itupun tidak luput dari campur tangan sang Papi tercinta. Beruntung sekali tidak sampai nyasar. 🀭


"Papi kamu tadi telfon Tante, kalau kamu mau datang kesini. Ayo masuk dulu, Abi ada di dalam." ucap Aisyah memberi jalan untuk masuk.


"Ra, masuk duluan aja, Hp gue ketinggalan di mobil lo." ucap Kiana pada Alira. Kemudian menoleh pada Umi Aisyah.


Alira mengangguk dan mengikuti Umi Aisyah masuk, sedangkan Kiana kembali melangkahkan kakinya menuju mobil untuk mengambil Hp. Setelah selesai, ia menutup kembali pintu mobil dan hendak masuk ke dalam rumah, namun tubuhnya terhuyung saat tidak sengaja di tabrak seseorang yang baru keluar dari dalam rumah.


"Astaghfirullah, maaf maaf, saya nggak sengaja. Tadi buru-buru mau ke masjid."


Suara berat namun terdengar lembut itu masuki indra pendengaran Kiana yang masih terduduk di paving.


"Bisa berdiri sendiri kan? Maaf sekali lagi, saya benar-benar tidak sengaja."


Kiana mengerjapkan mata berkali-kali melihat pemuda tampan dengan tubuh yang terbalut gamis pria berwarna hitam tak lupa dengan peci di kepalanya.


"O..Oh iya, lain kali kalau jalan liat-liat, untungnya gue nggak luka parah," ucap Kiana sambil berdiri kembali. Ia membersihkan pakaian belakangnya dan menatap pemuda itu lagi.


"Mohon maaf sekali lagi, saya buru-buru, sudah adzan. Kalau ada yang luka, kamu boleh masuk dulu ke dalam, minta Umi kotak obat. Maaf saya tidak bisa menyentuh kamu," ucap pemuda itu lagi. Kiana pikir dia adalah anak Umi Aisyah yang ingin sholat ashar di masjid.


"Saya pamit dulu, sekali lagi maad. Assalamu'alaikum." Cowok itu berlalu pergi dengan buru-buru karena suara adzan ashar sudah terdengar, membuat Kiana menatapnya dengan alis terangkat sebelah.


"Baru kali ini gue ketemu cowok yang nggak natap mata gue kalau lagi ngomong." gumam Kiana sambil menatap arah perginya cowok yang ia tidak tahu namanya itu. Kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk.


****


Alira tidak paham apa yang dilakukan Kiana untuk menemui ustadz, Kiana tidak menjelaskannya sama sekali. Katanya sih nanti saat ia sudah siap, pasti akan menjelaskan semuanya. Alira sih iya-iya saja selagi Kiana tidak lupa memberitahu padanya. Ia juga tidak mau mendesak sahabatnya itu yang berakhir membuatnya tidak nyaman.


Kini Kiana telah beragama muslim. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Kiana merebahkan tubuhnya di kasur sambil menghela napas panjang. Ia menatap jam yang terpasang di dinding sudah pukul enam sore.


Menghela napas sejenak lagi, Kiana akhirnya beranjak bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, bertepatan dengan itu Azam masuk ke dalam kamar sambil memegang segelas air putih.


"Udah pulang ternyata," gumam Azam saat melihat tas di atas kasur.


Azam masuk dan menaruh gelas di atas nakas. Ia duduk di kasur, menunggu Kiana selesai mandi.


Tidak butuh waktu lama Kiana keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Ia melotot kaget saat melihat kehadiran Azam.


"LO!" Kiana menutup bagian dadanya dan menatap Azam horor.


Kiana berdecak kasar, ia lupa membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Kiana awalnya tidak akan mempermasalahkannya, ia pikir tidak ada Azam di dalam kamar, namun sekarang? Sial!


"Pergi sana! Gue mau ganti baju dulu," usir Kiana pada Azam.


Azam mengerjapkan mata berkali-kali. Ia menelisik tubuh Kiana dari atas sampai bawah. "Sial! Mulus sekali," batin Azam membuat ia menelan ludahnya hingga jakunnya naik turun.


"Keluar Zam! Jangan sampe mata lo gue congkel ya." peringat Kiana membuat Azam tersadar.


"Eh, i-iya." ucap Azam dan beranjak berdiri . Bisa berabe jika ia berada satu ruangan dengan penampilan Kiana seperti itu.


"Lo udah buat sisi liar gue meraung-raung, Kia," ucap Azam saat berada di sebelah Kiana. "Untung iman gue kuat, kalau enggak, yakin gue besok lo nggak bakal bisa jalan." imbuh Azam lagi sebelum melangkah keluar.


Kiana yang mendengar itu langsung geram. "Jangan harap lo bisa dapetin gue seutuhnya, Zam!" teriak Kiana, membuat langkah Azam terhenti dan membalikkan tubuhnya.


"Kita lihat saja nanti." ucap Azam kemudian melanjutkan langkahnya kembali.


Kiana berjalan ke arah lemari dan memakai pakaiannya. Setelah selesai ia merebahkan tubuhnya di kasur dan memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Mau beribadah juga ia belum bisa, Ia menjadi bingung sendiri memikirkan itu semua.


"Gue harus belajar tentang agama dari sekarang, biar gue nggak bingung." ucap Kiana mantap.


Ceklek...


Suara pintu terbuka membuat Kiana menoleh. Mendapati Azam yang hanya terlihat kepalanya saja saat membuka pintu.


"Ngapain sih lo!" ucap Kiana ketus.


"Turun kebawah, Kia. Mommy suruh lo makan." ucap Azam.


"Nanti Zam, gue belum laper."


"Lo turun sendiri atau gue paksa?" ucap Azam.


"Yaudah gue bisa sendiri!" Kiana bangun dari tidurnya kemudian melangkah mengikuti Azam menuju ruang makan.


Di meja makan sudah ada Zain, Zara dan Ipin dan hanya tinggal menunggu dirinya dan Azam saja.


"Kakak cantik." celetuk Ipin saat melihat Kiana sudah duduk di sampingnya.


"Hai Ipin ganteng," ucap Kiana sambil mencium kedua pipi Ipin .


Ipin menyentuh pipinya dengan malu-malu. Hal itu tidak luput dari pandangan mata semua orang yang berada di meja makan.


"Mulai genit nih bocil, anaknya siapa sih?" ucap Zain.


"Pipi Ipin di cium sama kak Kia. Senangnya dalam hati." ucap Ipin sambil tertawa gembira.


"Heh bocil, lo tuh masih kecil jadi wajar kalo di cium." ucap Zain.


"Enggak lah, Ipin udah gede tau!" ucap Ipin tidak terima jika dia dikatakan masih kecil.


"Dih, nggak mau dikata bocil dia." ucap Azam sambil tertawa terbahak.


"Diem, Bang! nggak usah ketawa. Aku lebut kak Kia dalimu balu tau lasa!" ucap Ipin.


"Inget umur lo, Pin. Kia nggak bakalan mau sama lo." ucap Azam.


"Kak Kia bakalan mau sama Ipin, kan aku anak ganteng, iya kan kak?" tanya Ipin menoleh ke arah Kiana.


"Iya, Ipin gantengnya nggak ada tandingannya." jawab Kiana.


"Tuh, kalian dengal sendili kan." ucap Ipin bangga.


"Sudah-sudah ayo kita makan dulu, nanti keburu makanannya dingin," ucap Zara.


"Baik Mom, Ipin mau di suapi sama kak Kia."


"Jangan dong, Ipin biasanya juga makan sendiri." ucap Zara.


Mata Ipin sudah berkaca-kaca ingin menangis membuat Zara tidak tega dan akhirnya mengijinkan Kiana menyuapi Ipin. Daripada ngambek tidak mau makan jadi turuti saja.


...Bye mau ngilang lagi πŸ€­πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ...