
Happy reading π€
Memikirkan cewek yang bernama Angelina membuat Devan dibuat penasaran tentang gadis itu. Bagaimana bisa dia mengenal dirinya, sungguh ajaib pikirnya.
"Bale, segera cari informasi tentang cewek tadi. Gue tunggu malam ini." titah Devan tidak terbantahkan.
"Ok, tunggu aja informasi dari gue." ucap Bale.
"Cabut!" ucap Devan, diangguki semua anggota.
Kiana turun dari motor Azam dengan menghela napas berat. Ia memperbaiki anak rambutnya sebelum berlalu masuk ke dalam rumah. Azam mendengus jengkel saat melihat Kiana berlalu begitu saja.
"Gue udah kayak tukang ojeknya aja," gumam Azam sambil mengacak rambutnya dan ikut masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Kiana tengah duduk di sofa ruang keluarga. Wajah gadis itu terlihat terbengong melihat tingkah Ipin dan Papi Zain.
Azam berdecak pelan. Pemandangan seperti ini sudah biasa ia lihat setiap hari. Ia hanya bisa memandang jengah kedua orang beda umur itu.
"Oyy anak gue, sini dulu dong!" Zain memanggil Azam yang hendak menaiki tangga.
Azam menghela napas panjang, apalagi saat melihat Zain memanggilnya menggunakan black card. Tidak sampai disitu, Ipin juga ikut-ikutan. Bocah yang tak lama lagi berusia enam tahun itu tengah memegang lembaran uang sambil memanggil Azam.
"Bang sini deh, Ipin mau bagi-bagi duit." ucap Ipin dengan bangga.
Dengan perasaan dongkol, Azam menghampiri mereka dan mengambil duduk di sebelah Kiana karena hanya tempat itu yang kosong.
"Kenapa tuh muka, kayak orang abis di tabok aja," ucap Zain saat melihat luka lebam di wajah Azam.
"Tawuran Pi," jawab Azam acuh.
Zain tampak antusias mendengarnya. "Beuhh.....Beneran? Tawurannya pake apa? Apa cuman adu tonjok sama tendang aja?" tanya zain lagi.
Azam mengangguk pelan sebagai jawaban. Lagipula jika tawuran mereka hanya menggunakan tangan kosong, dan untuk menggunakan benda seperti tongkat atau balok kayu hanya waktu-waktu terdesak saja.
"Cemen banget sih," Zain terkekeh dengan meletakkan kartu black card di depan Azam. "Papi dulu pas tawuran, saling lempar kartu kredit. Beuuh, langsung kena mental musuh Papi. Kasian, bahkan ada yang sampe mimisan pas liat kartu hitam Papi." lanjut Zain sambil bersedekap dada bangga.
Kiana yang mendengarnya langsung tercengang. "Beneran Pi?" tanya Kiana.
"Bener dong, ya kali sultan Nugraha kayak Papi bohong." Zain melihat ke arah Azam lagi. "Papi saranin deh, kalau tawuran mending adu kekayaan. Beuhh mantap banget. Dulu aja nih ya, Papi sama ketua geng Srigala, sampe hambur-hambur duit pas tawuran. Mengkece banget kan." bangganya lagi saat mengingat zaman SMA dimana ia mendirikan geng Tiger dan juga bermusuhan dengan geng Srigala.
Zara muncul dari arah dapur sambil membawa minuman. "Ck! Habis itu langsung jadi gembel dadakan," ucap Zara membuat Zain melotot.
"Nggak usah di bongkar, Yang." ucap Zain meringis.
Zara tidak memperdulikan perkataan Zain. Ia memilih duduk di sebelah Zain dan Ipin.
"Emang Papi jadi gembel, Mom?" tanya Azam penasaran.
"Nggak ada ya! Papi ini sultan tajir melintir, ya kali jadi gembel," elak Zain seperti tidak suka.
"Iya, semua fasilitasnya di sita kakek kamu. Bahkan Papi cuman di kasih uang dua puluh ribu aja dan pergi ke sekolah harus jalan kaki." bongkar Zara mengingat masa mudanya dulu bersama Zain.
"Yang..." rengek Zain agar rahasia memalukannya tidak di bongkar.
"Nggak kebayang jalan kaki ke sekolah yang jaraknya sekitar dua kilometer. Nggak ada yang boleh bantu Papi, bahkan teman atau anggota gengnya, karena Papi di awasi bodyguard kakek." Zara meringis saat Zain mencubit pahanya, seolah menyuruhnya untuk diam. Sungguh jiwa sultan Zain dipermalukan.
"Mommy bohong tuh," ucap Zain melotot ke arah istri tersayangnya.
"Bohong dari mananya. Kamu lupa ya, dulu merengek sama aku dan curhat terus saat dihukum Papa."
"Ck! Dan kamu malah nggak peduli dan cuek sama seorang Zain yang mendadak jadi kismin," decak Zain, mereka berdua kembali mengingat kejadian masa putih abu-abu.
Kiana dan Azam saling lempar pandang, sepertinya kisah masa muda Zain dan Zara sangat seru. Mereka berdua begitu antusias ingin mendengar kisah selanjutnya.
"Itu kalena Papi jelek sih, makanya Mommy nggak suka," celetuk Ipin yang tengah mengipasi dirinya dengan lembaran uang. "Kayak Ipin dong, udah ganteng, kaya laya, banyak yang suka, tapi malah di tolak..eh?" Ipin begitu terkejut dan membekap mulutnya sendiri saat keceplosan mengenai rahasianya.
Sebuah rahasia dimana pesonanya di tolak oleh gadis kecil yang menurut Ipin begitu menggemaskan yang merupakan murid baru di sekolahnya.
"Njirr ditolak siape lu?" tanya Zain pada bocah buaya itu.
Ipin begitu gelagapan mendengar pertanyaan dari sang Papi. Bocah itu berdiri dan langsung lari terbirit-birit menuju kamarnya, membuat semua orang tercengang.
"Anak siapa sih? Perasaan sifatnya gak ada yang nurun dari gue. Perasaan gue orangnya setia, iya kan Mom? Aku setia kan orangnya?" Zain menyenggol lengan Zara seolah ingin membenarkan ucapannya.
"Iya setia. Setiap tikungan, tanjakan, lorong, gang, sampe tol pun ada," jawab Zara mencubit lengan Zain.
"Aduhh Mom, dulu itu aku bercanda aja, suerr. Aku gitu juga buat nyari perhatian kamu," ucap Zain yang mengingat saat dulu ingin mendekati Zara ia menjadi Playboy dadakan, tujuannya sih ingin membuat Zara cemburu dan nyantol sama dia.
"Tapi kamu malah jadian sama si Mercon!" gerutu Zain mulai kesal.
"Namanya Wilan, bukan Mercon," koreksi Zara yang berhasil mengundang decakan kesal dari Zain.
Azam menghela napas saat melihat tingkah Zain yang sepertinya mulai cemburu. Ia segera beranjak dan menarik tangan Kiana untung mengikutinya.
"Azam ke kamar dulu," pamit Azam sambil mengeratkan genggaman tangannya saat merasakan penolakan dari Kiana.
"Apaan sih pegang-pegang!" Kiana menyentak tangan Azan saat tiba di kamar.
Azam hanya mengedikan bahunya. Ia mengambil kotak P3K di dalam laci dan menyerahkannya pada Kiana.
"Obatin gue," ucap Azam datar.
"Males banget, lo punya tangan kan? Jadi gunain. Gue bukan babu lo," ucap Kiana. Gadis itu hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun tangannya di cekal Azam lagi.
"Obatin gue Kiana!" tekan Azam.
"Gue nggak mau, jangan maksa dong!"
Azam mengeratkan genggaman di pergelangan tangan Kiana. "Obatin gue atau lo mau gue lempar dari balkon hah!"
Kiana memasang wajah datar. Ia menatap Azam tajam. "Lo pikir gue takut? Udah lepas ih, gue mau mandi," ucap Kiana berusaha melepaskan tangan Azam apalagi saat merasakan pergelangan tangan yang mulai sakit.
Azam yang aslinya emosian langsung menarik kasar tangan hingga gadis itu jatuh terlentang di kasur. Mata Kiana melotot kaget saat Azam sudah berada di atas tubuhnya.
"Lo bener-bener ya. Gue cuma minta di obatin, dan lo nolak apa yang gue suruh?" Azam terlihat marah.
"Azam Alfarizi Nugraha..." ucap Kiana pelan. "Ngapain lo mulai deketin gue, bahkan terang-terangan nyentuh gue hmm? Dulu aja kayak anjing yang keinjek ekornya saat gue deketin. Sekarang kenapa berubah? Nyesel udah kasar sama gue? Atau... Lo udah suka sama gue?"
Kalimat yang terucap dari mulut Kiana membuat Azam tersentak. Kiana kembali terkekeh, ia menyentuh rahang Azam dan menepuknya kasar.
"Lo anggap gue sampah yang udah lo buang. Sekarang lo mau pungut lagi? nggak malu gitu?" Kiana terkekeh kecil. "Lo tau nggak, Zam hal yang paling gue sesali adalah suka sama titisan setan kayak lo. Bahkan kenal lo aja gue nyesel."
Kiana menghela napas panjang. "Awas, gue mau mandi," ucap Kiana sambil mendorong dada Azan yang masih berbalut kaos hitam yang dipadukan dengan jaket kebesaran Tiger.
Azam akhirnya beranjak daru atas tubuh Kiana. Ia memberikan gadis itu pergi ke kamar mandi.
Rahang Azam mengeras dan membanting kotak P3K ke atas lantai dengan kesal. Suara notifikasi dari handphonenya membuat Azam menghela napas panjang sesaat sebelum mengambil benda pipih itu dari saku celana.
Ternyata itu pesan chat dari Elsa dan Azam segera membuka isi pesan tersebut.
"Azam kamu dimana? Kamu bisa datang ke rumahku? Aku takut, soalnya Mama sama Papa lagi keluar, terus bibi juga lagi pulang kampung."
Azam memijat pangkal hidungnya saat membaca pesan gadis yang menjadi sahabatnya saat masuk SMA.
"Panggil Ringga aja, gue lagi disuruh Mommy nemenin Kiana."
Azam mengirimkan balasan yang berisi kebohongan. Ia memang sedang sangat malas keluar rumah. Jika tidak berbohong seperti itu, Elsa akan terus merengek sampai keinginannya terpenuhi.
Tak lama kemudian balasan dari Elsa kembali muncul.
"Aku udah telpon Ringga tapi nomornya gak aktif. Zam temenin aku ya, aku takut banget di rumah. Kiana suruh temenin sama pembantu lo aja. Mau yah Zam?"
"Ini masih siang, apa yang lo takuti sih?"
"Rumah aku sunyi banget, aku takut. Kok kamu gini sih, kamu udah berubah Zam,"
Azam mendengus kasar, ia tidak tega melihat Elsa. Ia langsung mengiyakan kemauan Elsa dan kembali memasukkan handphone ke saku. Ia berjalan ke arah pintu, bertepatan dengan Kiana yang keluar dari kamar mandi
"Gue mau ke rumah Elsa," ucap Azam.
"Mau lo ke rumah Elsa atau ke rumah Tuhan juga bukan urusan gue," ucap Kiana dan memilih bercermin dan mengoleskan salep di bekas luka di keningnya yang sudah kering.
Azam memejamkan matanya menahan rasa marah yang bergejolak di dadanya. Cowok itu keluar dan membanting pintu dengan keras hingga menimbulkan suara.
Kiana begitu terkejut, namun setelah itu bibirnya tersenyum miring.
"Azam... Adalah cowok ogeb yang pernah ada di dunia."
****
Gimana menurut kalian tentang bab ini? aku tunggu komentarnya kali ini tentang Papi Zain tentunya π€