
"Pagi Alira," sapa Kiana pada Alira yang baru turun dari boncengan Ringga. "Tumben dateng bareng?"
Alira memutar bola matanya jengah. Cewek itu menghadap Ringga sambil mengangkat wajahnya, sedangkan tangannya sibuk melepaskan jaket yang melilit di pinggang.
Ringga yang paham langsung melepaskan helm dari kepala Alira dan meletakkannya di jok belakang.
"KIANA!"
Panggilan itu membuat langkah Kiana yang ingin ke kelas terhenti. "Assalamualaikum, ah maaf saya hanya ingin mengantarkan ini, tadi jatuh paa kamu turun dari motor. Ini punya Kiana kan?" tanya cowok berseragam rapih dengan bau parfum khas yang familiar di indra penciuman Kiana. Dia adalah Rayyan.
"Wa'alaikumsalam, oh thanks. Iya ini punya gue." Kiana mengambil gantungan kunci motor miliknya.
"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit ke kelas lebih dulu." Rayyan tersenyum tipis sebelum berlalu pergi.
"Lo ke sini bareng siapa?" tanya Alira pada Kiana yang masih menatap punggung Rayyan yang sudah menjauh.
"Bareng Rayyan," ujar Kiana membuat Alira terkejut.
"Seriusan? Gue tau, lo yang paksa dia buat pergi bareng kan?" Gak mungkin dia nawarin lebih dulu."
Kiana mencebikkan bibirnya. "Kaku amat tu cowok, ya gue paksa lah. Emm.. Bukan cuman gue paksa sih, tapi gue ancam hehe," ujar Kiana disertai cengirannya.
"Udah gue duga," ucap Alira. "Cowok alim bin idaman kayak si Ray gak mungkin mau bersedia jemput lo yang notabenya cewek bar-bar kembarannya setan."
"Pengen gue gorok mulut lo Ra." Kiana berdecak. "Lagian gue sengaja sih, maksa dia buat ke sekolah bareng, biar Azam itu liat. Dia pikir, dia doang yang bisa jalan sama Elsa, gue juga bisalah."
"Kembangkan bakatmu bestie. Jangan biarkan diri lo kalah dari cowok modelan kayak gitu. Kalau dia selingkuh, ya balik selingkuh lah. Gue dukung. Lagian lo kan udah gugat cerai dia jadi lo sebentar lagi akan bebas." ujar Alira menggebu.
Kiana mengangguk. Ia lantas memikirkan mengenai kisahnya sendiri. Jujur saja ia tidak merasakan apa-apa pada Azam dan Davian. Untuk Devan sendiri ia tidak tahu yang dirasakan saat ini apakah masih ada rasa cinta atau tidak.
Kiana menoleh ke arah Loli yang hari ini lebih banyak diam daripada biasanya.
"Loli lo kenapa?" tanya Kiana pada Loli yang tengah melamun.
Loli tersentak kaget, kemudian menoleh kepada Kiana dan Alira.
"Kalian ingin tau?" tanya Loli.
"Iyalah, lo gak kayak biasanya tau! Ada apa sih emang."
"Jadi gini, semalam Bian ngajak Loli jalan kan, terus Bian beliin apapun yang Loli mau. Karena Loli cape, jadi Bian gendong Loli ke taman dan kita duduk di situ dan Loli rebahan di paha Bian sambil minta beliin permen sama Bian tapi nggak dikasih, jadi kan tadi malam mau nangis nih, terus Bian kayak panik gitu hehehe Loli suka banget liat wajah Bian. Terus Kia sama Lira tau gak?" Loli mendekatkan wajahnya pada Kiana dan Alira.
"Terus?" Yah, awalnya tak mau mendengar, namun jiwa kepo mereka tak bisa di cegah begitu saja.
"Bian nyium bibir Loli aaa jantung Loli jedag-jedug terus perut Loli kayak di gelitik gitu. Kira-kira Loli salit apa ya kalau gitu?"
"NJIR MENANG BANYAK SI BIAN," pekik Alira. "Wah ngajak baku hantam nih Bian. Awas aja kalau ketemu gue haj..."
"Ihh Lira bentar dulu, Loli belum selesai ceritanya," sela Loli setelah menyumpal mulut Alira dengan gantungan kunci yang ia ambil dari tangan Kiana tadi.
"Oke lanjut," ujar Kiana menengahi.
"Terus habis Bian nyium Loli, Bian ngomong gini. Loli Milkita, nama lo manis gue suka. Emh, gue boleh manggil lo Milkita? Atau manggil lo milik Bian? Li, gue gak tau sejak kapan rasa ini muncul. Tapi gue serius suka sama lo. Gue gak mau ngomong banyak, cuman mau bilang, lo mau gak jadi pacar gue? Jadi milik kesayangan Abian?... Bian ngomong gitu," ujar Loli meragakan ucapan Bian semalam.
"Bian kayaknya ketularan Alan nih. Kata-kata buayanya keluar," gumam Alira.
"Terus lo terima?" Kali ini Kiana yang bertanya.
Loli menggeleng. "Enggak. Loli bilang, kalau Loli itu suka sama Abi dan cinta juga, jadi Loli nolak Bian," balasnya.
"Sadboy nih Bian. Pesonanya kalah jauh sama tokoh fiksi," imbuh Kiana terkekeh.
"Otak lo perlu gue cuci bersih deh, biar waras dikit, dan gue mau lo stop bucin akut sama karakter fiksi. Itu cuman obsesi lo doang karena gak bisa dapat cowok nyata yang baik sesuai kriteria lo, makanya lo nyasar sama tokoh fiksi."
"Alira gak tau aja kalau cowok fiksi itu lebih berdemage daripada cowok nyata," ujar Loli.
"Ya tapi tetap beda sayang. Mau kayak apapun tokoh fiksi itu, gak bakal bisa nyatu sama lo. Ah ngalah gue. Kalau gue lanjut ngomong takut lo kena mental," ujar Alira pada akhirnya. Ia depresot dengan tingkah sang sepupu.
Loli mengerucutkan bibirnya. Kiana menghela napas sambil menggandeng mereka dan kembali menuju kelas kala bel masuk udah berbunyi.
"Terus Bian jawab apa?" tanya Kiana sambil duduk di bangkunya saat mereka sudah tiba di kelas.
Loli nampak berfikir sambil memukul-mukul pelipisnya. Ia berusaha mengingat ucapan Bian semalam setelah ia tolak.
Flashback on..
"Njir gue di tolak gara-gara tokoh fiksi. Harga diri gue merasa terjungkal. Loli cantik, jadi lo beneran nolak gue nih? Gak takut nyesel udah tolak cowok ganteng gak ada obatnya ini?"
"Ihh Bian kok bawel, udah Loli bilang sukanya Abi," ujar Loli mengerucutkan bibirnya.
"Gue cari tuh Author Abi.. Abi apaan tuh, gue suruh matiin karakternya biar lo nangis" ujar Bian nampak kesal.
"Kok Bian jahat banget. Katanya cinta sama Loli, tapi kok mau buat Loli nangis?"
"Ya karena gue cinta. Anggap aja ini cara gue buat lo sadar kalau lo sama fiksi itu gak bakalan nyatu. Jadi saat lo lagi sedih sambil nangis bombay gue datang sebagai pahlawan kepagian dan buat lo gak sedih lagi. Terus kita jadian, hidup bahagia sampai akhir, habis itu tamat."
"Bian gak nyerah?"
"Nyerah?" Bian tertawa sambil mengusap pipi gembul Loli yang terasa lembut seperti kulit bayi. "Kata nyerah bakalan keluar dari bibir gue, kalau raga ini, udah gak ada nyawanya. Gue bakalan nyerah kalau takdir gue adalah kematian."
Flashback off
"Bian ngomong gitu," ujar Loli pada akhirnya.
"Kok sedih sih jadinya," ujar Kiana. "Lo pertimbangin lagi deh, walaupun Bian bobroknya gak ketolong dia keliatan tulus banget sama lo, ketara banget dari sikap dia," lanjut Kiana.
Walaupun baru mengenal Bian setelah ia berada di tubuh ini, Kiana sangat tau jika Bian adalah sosok yang tulus. Dari tingkahnya saja sudah terbaca.
"Bener, emang lo gak kasian sama Bian? Plis gak kebayang cowok humoris kayak Bian sampe dapat julukan sunshine jadi galau dan gak ada senyuman lagi," ujar Alira tak mampu membayangkan.
Loli memasang wajah memikir setelah itu beranjak berdiri berbarengan dengan guru fisika masuk.
"Yaudah deh," ujar Loli setelahnya.
"Loli kenapa masih berdiri?" tanya Bu Lia.
Loli menatap Kiana dan Alira di bangku belakang kemudian menatap pada Bu Lia.
"Loli mau ke kelas IPS Bu, mau ketemu Bian," ujar Loli membuat semua orang bingung.
"Mau apa di sana?"
"Mau nyuruh Bian nembak Loli lagi, terus habis itu Loli terima, dan kita akan pacaran. Bian jadi gak galau lagi, terus Kia sama Lira gak bakal ceramahin Loli lagi deh." jawab Loli tersenyum lebar, tak menyadari jika semua murid tercengang dengan ucapannya bahkan Ibu Lia sampai tak sadar menjatuhkan buku-bukunya ke lantai.
"Gob*** banget sepupu gue, gemes pengen di cincang."