
Elsa menggeram marah dan membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Gadis itu memegang stir sebelah tangan dengan tangan sebelah lagi sibuk menelepon pria yang membantunya.
Bagaimana bisa Kiana muncul tiba-tiba? Apa pria itu tidak becus menjaganya.
"Hallo!" sapa Elsa saat sambungan telepon terhubung.
"Santai dong, jangan ngegas," ujar pria di seberang sana.
Emosi Elsa semakin memuncak. Sepertinya cowok ini mempermainkan dirinya. "Gue mau ketemu sekarang! Jadi gue harap lo datang ke gudang di jalan Melati sekarang!" ujar Elsa, dan langsung memutus panggilan sepihak. Ia memukul stir mobil saking frustasinya.
Sudah satu jam Elsa menunggu pria misterius itu, namun tak kunjung datang. Ia menggeram marah. Emosinya tersulut.
"Bangsat!' makinya kesal.
"Woah kata sambutan yang sangat kasar," ujar pria yang baru saja datang. Penampilan yang tidak pernah berubah. Setelan hitam dengan topeng menutupi wajah.
"Lo!" Elsa menunjuknya tajam. "Lo gak becus! Gak guna sialan!" amuk Elsa.
"Hei santai, jangan marah-marah dong. Ada apa hm? Cerita baik-baik Elsa," peringatnya. Cowok itu duduk di atas ban bekas yang terletak di situ.
"Lo kelihatan santai, setelah apa yang terjadi hah? Gimana bisa Kiana muncul tiba-tiba dan parahnya dalam keadaan sehat? Gue yakin, gue udah tabrak tubuh dia sampe terpental dan gimana gak ada bekas luka sama sekali? Apa semua ini permainan lo? Lo permainkan gue iya?" Elsa mengacak rambutnya frustasi.
Ia sangat ingat saat kecelakaan itu, ia menabrak tubuh Kiana, tapi apa yang terjadi sekarang? Apa Elsa melewatkan sesuatu?
"Santai cantik, udah gue bilang jangan ngegas," ujar cowok itu.
"Jelasin semuanya bangsat! Gue udah ikutin rencana yang lo susun, tapi sekarang apa hah? Hancur! Gak ada yang bener!"
Cowok itu meregangkan otot lehernya. Bibirnya tersenyum miring di balik topeng. "Ada yang nolongin Kiana. Dan seperti kata lo, rencana kita hancur." pria itu bisa melihat wajah Elsa yang memerah karena kesal.
Sebelum Elsa menyemprotnya dengan kata-kata kasar, ia memilih berujar kembali. "Tapi kita balik lagi ke permasalahan awal. Gue udah bilang kan, kalau rencana kita gagal, kita masih bisa susun rencana kedua."ucap cowok itu.
"Gimana? Siap buat rencana ke dua? Atau mau nyerah aja?"
Elsa mendelik. "Gak ada kata nyerah sebelum rencana gue berhasil, dan Kiana hancur."
Pria itu mengangguk kecil dan tersenyum miring. "Bagus, karena lo terlihat sangat semangat, gue mau kasih lo kesempatan buat tahu nama dan wajah gue," ujar pria itu, Elsa menatapnya. Tentu ia penasaran dengan cowok itu.
Pria itu berdiri, tanpa ragu melepaskan topeng yang ia kenakan, menampilkan wajah tampan dengan rahang tegas. "Lo boleh panggil gue Rios."
****
Satu minggu telah berlalu dan sekarang adalah hari senin, namun masih pagi Kiana sudah kotor dengan lumeran coklat yang belepotan di bibir dan tangannya. Semalam ulang tahun Loli, hanya sederhana sesuai keinginan gadis itu. Hanya teman-teman dekatnya saja yang ia undang, namun walau begitu, hadiah yang gadis itu terima tidak main-main, termasuk hadiah spesial dari almarhum Bian, yang cowok itu siapkan sudah lama sebelum ia meninggal. Hadiah khusus untuk ulang tahun Loli, yang sebenarnya akan ia tunjukan sendiri, namun sayang, ia sudah pergi lebih dulu.
Hadiah dari Bian adalah, istana permen yang di bangun tepat di samping taman kota. Istana permen yang menjadi impian Loli, menjadi hadiah spesial dari Bian.
"Ck! Kenapa banyak banget sih yang di toilet," gerutu Kiana, saat melihat banyak orang di toilet lantai dua. Tak ada pilihan lain, Kiana harus menuju toilet lantai satu jika begini. Apalagi keadaannya yang sangat cemong.
Salahkan saja Loli, mengapa masih pagi membawa kue brownies cokelat yang lumer, Kiana kan jadi ngiler dan berakhir melahapnya.
Dengan perasaan dongkol, Kiana berjalan menuju tangga, namun ia bertemu dengan Elsa dari arah berlawanan.
Kiana menghentikan langkahnya dan menatap Elsa malas. "Minggir deh, gue lagi malas buat ulah," jengah Kiana.
Elsa bersedekap dada. Mereka saling berhadapan, dengan Elsa yang masih di pijakan tangga.
"Jangan senang dulu Kiana! Karena setelah ini lo bakalan hancur," Elsa tersenyum miring. "Mungkin lo selamat dari kecelakaan itu, tapi sekarang tidak lagi. Lo bakalan kalah, dan gue yang akan menang hahah."
"Jadi lo mobil merah yang mau nabrak gue waktu itu?" Kiana melotot tajam.
"Siapa lagi kalau bukan gue hm?" Elsa menyeringai. "Mungkin yang kemarin gagal, tapi sekarang tidak lagi. Semuanya bakalan berpusat ke gue, dan lo bakalan tersingkirkan."
Kiana mengerutkan keningnya, ia belum sempat mencerna keadaan malah Elsa sudah menjatuhkan diri hingga menggelinding di tangga. Kiana di buat tercengang.
"Lo hancur Kiana." itu kalimat yang Elsa ucapkan.
"Lah?" Kiana tercengo melihat tubuh Elsa yang terbaring di bawah sana.
"ASTAGHFIRULLAH! ADA YANG JATUH DARI TANGGA WOY!"
"SERIUSAN LO? LAH ANJIR ITU ELSA, TOLONGIN-TOLONGIN!"
"K..KIANA, DIA GAK DORONG ELSA KAN?"
"Gila, jangan bilang Kiana dorong Elsa, kan mereka gak akur."
"Bisa jadi, wah keterlaluan Kiana, mentang-mentang di takuti, jadi bertindak seenaknya."
"Elsa?! Itu suara Azam, ia menaruh kepala Elsa di pangkuannya.
"To..tolong ...Sakit," lirih Elsa memulai aktingnya.
Semua berkumpul di tempat itu. Alira dan Loli pun ikut, mereka heran dengan yang terjadi. Kiana masih berdiri di atas dengan wajah cengo, di sebelahnya ada Alira dan Loli. Telinganya mulai panas saat mereka mulai menuduh Kiana.
"Siapa yang buat kamu jatuh sayang?" tanya Azam.
Elsa menggeleng lemah dan mulai menangis. Ia melirik ke arah Kiana di atas sana dan pura-pura memejamkan mata, seolah-seolah ia ketakutan dan berakhir membuat Kiana tertuduh sesuai rencana.
"Kiana?" tanya Azam memastikan.
"Jangan asal nuduh lo," Damar tidak terima begitu saja sang adik di salahkan.
"Tapi Kiana yang ada di sana! Bisa jadi dia yang dorong Elsa hingga jatuh. Lo tau sendiri kayak gimana kelakuan Kiana!" balas Azam.
"Lo dorong dia Ki?" tanya Alira. Bukannya tidak percaya, ia hanya penasaran apa yang terjadi.
"Lo pikir gue bo***?" Kiana membalas sinis. Membuat Alira terdiam.
"Drama lo murahan njir! Udah pasaran," ujar Kiana. Telinganya sudah panas saat mereka mulai menuduh dirinya yang tidak-tidak.
Kiana menuruni anak tangga menghampiri mereka. Ia menatap wajah mereka tajam.
"Kia." panggil Damar.
"Bang lo percaya gue kan? Gue gak mungkin dorong dia!" ucap Kiana pada Damar.
Damar mengangguk. "Iya, gue percaya sama lo dek." ucap Damar sambil mengusap punggung Kiana.
"Bangun lo, drama murahan lo gak bakalan di lirik produser film."
"KIANA!" tegur Azam kesal. Menurutnya Kiana sudah lewat batas.
Kiana terkekeh sinis. "Diem lo!" sentak Kiana.
"Kenapa lo dorong Elsa hah? Kalau ada masalah bicara baik-baik, jangan main celakain anak orang! Atau lo dendam sama Elsa karena gue lebih milih dia dari pada lo!" ujar Azam.
"Gue hajar lo Zam! Jangan bentak adek gue!" maki Damar.
"Emang lo liat gue dorong dia hah?" tanya Kiana pada Azam.
"Tapi lo yang ada di situ! Banyak saksi, lo gak usah ngelak!" ucap Azam tidak mau kalah.
Kiana gemas ingin menampol wajah cowok di depannya. "Sumpah gob***nya natural," ujar Kiana malas.
"U..udah Zam, Kiana mungkin g..gak sengaja dorong aku," ujar Elsa lirih.
"Dih fitnah lo, awas kena azab," sinis Alira.
"Oke, lo mau fitnah gue kan? Sekarang kita lihat, siapa yang hancur." Kiana tersenyum miring. Ia berjongkok dan menarik rambut Elsa agar berdiri.
Azam menahannya, namun Alira menampar wajah cowok itu dan menyuruhnya menjauh dan tidak ikut campur. Elsa nampak sangat lemah, mereka melotot menyaksikan apa yang Kiana perbuat.
"Lo udah kelewat batas Kiana," ujar salah satu murid di situ.
"Lo diem dan gak usah ngomong!" sinis Kiana. Mereka bungkam.
"Lo bilang, gue dorong lo kan?'' tanya Kiana, Elsa mengangguk lemah.
"S..sakit hiks...." Elsa menangis lagi.
"Gatal tangan gue pengen cakar muka lo ini!" amuk Kiana. "Oke, karena gue lagi malas berlama-lama, jadi gue mulai meluruskan fitnah ini!"
Kiana membalikkan tubuh Elsa ke hadapan mereka semua. Ia sengaja memegang di rambut, agar tangannya yang masih kotor tidak mengotori seragam Elsa.
"Tangan gue kotor sama lumeran cokelat, kalau gue dorong dia, kemungkinan ada bekas cokelat di baju dia," ujar Kiana, Elsa mulai tegang di tempat. "Lo sini, periksa kalau ada bekas telapak tangan gue di baju dia!"
Kiana menyuruh salah satu cowok untuk memeriksa seragam depan Elsa. "Gak ada bekas cokelat, hanya ada bekas debu aja," jawabnya.
Kiana menyeringai. Ia menempelkan tangannya di seragam depan Elsa hingga kotor dengan cokelat. "Kalau gue dorong dia, otomatis ada bekasnya di sini. Sedangkan seragam dia gak ada bekas cokelat sama sekali."
Mereka bungkam dan mulai membicarakan Elsa. Elsa emosi di tempat. Jangan bilang ia gagal lagi.
Azam juga ikut diam tidak berkutik.
"Mungkin aja lo dorong dia pake kaki, bisa aja kan?" Azam menuduh lagi.
Rasanya Kiana ingin merobek mulut Azam, namun ia harus membalasnya dengan santai. "Subuh tadi hujan, lapangan becek dan sepatu gue kotor tentunya. Kalau gue dorong dia pakai kaki, bisa aja ada bekas sepatu gue di kaki dia, periksa lagi, kalau ada."
Cowok itu kembali memeriksanya, namun tidak ada bekas apa-apa. Kiana menyeringai, ia melepaskan jambakannya di rambut Elsa, dan menendang betis gadis itu hingga terjatuh.
"Itu baru berbekas. Kalian kalau nuduh mending siapin bukti," ujar Kiana malas. "Belum puas? Atau kalian berfikir gue dorong dia pakai lutut biar gak ada bekas? Kalau gitu gue bo*** dong? Bisa aja jatuhnya bareng gue juga."
Kiana memasang wajah malas. "Dan buat lo Elsa, kalau mau fitnah gue pake cara berkelas biar gue terkesan. Bukan dengan cara murahan kayak gini, malu-maluin lo yang ada."
Kiana menendang Elsa lagi hingga gadis itu benar-benar lemah tak berdaya. Apalagi ia habis jatuh.
"Cewek yang di sana, gue tau lo lagu buat video dan kameranya nangkap kejadian tadi sebelum dia jatuh menggelinding. Kalau masih nuduh gue, mending liat video di kamera cewek itu, sebelum dia hapus karena di ancam," lanjut Kiana. Mereka menatap cewek yang membawa kamera itu. Beruntung Kiana melihatnya tadi, jadi sedikit membantu.
"Makanya pintar dikit, malu sendiri kan akhirnya?" Kiana tersenyum miring dan menginjak tulang kering Elsa hingga patah. "Sekalian gue patahin, nanggung lo bela-belain jatuh dari tangga tapi kaki gak patah," lanjut Kiana, setelahnya ia pergi dari sana untuk mencari toilet.
Murid yang lain melihat video di kamera cewek tadi, ternyata benar Elsa menjatuhkan diri sendiri.
"Gak nyangka gue Elsa kayak gitu."
"Dia fitnah Kiana sampai segitunya."
"Ku pikir cewek baik, ternyata cewek sesat."
Mereka mulai bisik-bisik mengenai Elsa. Azam terdiam kaku di tempat. Sedangkan Elsa sudah lemah tak berdaya, bahkan meringis menahan sakit saja sudah tak mampu.
Damar memukul bahu Azam. "Untungnya di sekolah, kalau tidak, habis lo," ujar Damar, ia pergi dari sana dan tersenyum miring.
Tak jauh dari tempat mereka, Davian bersedekap dada dan menggeleng pelan. "The real of Dangerous Man."