
Kiana, Alira dan Loli memutuskan untuk bertemu di jalan Cempaka dekat rumah Kiana di kehidupan sebelumnya.
Ketiga gadis itu kompak menggunakan pakaian serba hitam sesuai perintah Kiana. Namun untuk Loli, gadis itu menambahkan bando telinga kucing hitam membuatnya terlihat sangat imut.
"Kita ngapain sih, dateng ke rumah orang yang gak ada hubungan apa-apa sama kita?" tanya Alira malas. Gadis itu tengah berkacak pinggang, menatap jalanan kompleks yang sunyi.
"Mulai pikun mbak? Perasaan waktu di kafe gue udah jelasin tujuan kita ke sini buat nyari bukti kejahatannya si dua medusa itu," ujar Kiana sedikit kesal. Mengapa temannya sekarang menjadi pelupa.
"Emang iya, pernah bilang?'' tanya Alira balik.
"Udah, Loli aja masih inget," imbuh Loli. Gadis itu habis membalas pesan dari Jeje yang menanyakan keberadaan dirinya. Dan tentu saja Loli balas dengan berbohong, sesuai perintah Kiana.
Alira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kayaknya gue perlu liburan deh. Banyak pikiran sampe lupa sama rencana kita," ujar Alira.
"Kita hancurin Ningsih dulu, habis itu kita liburan." ucap Kiana. "Gue yang bayar," lanjutnya sungguh-sungguh.
"Beneran?" tanya Alira.
"Heem," Ia sudah memikirkan rencana untuk mengambil alih perusahaan Wijaya dan tentu saja ia membutuhkan bantuan Papanya.
"Gak sabar gue," ujar Alira.
Kiana tersenyum menggandeng bahu kedua sahabatnya. "Makanya, kita tuntaskan rencana kita, buat jatuhin Ningsih. Dan setelahnya, waktu kita untuk bersenang-senang." ujar Kiana dengan mempercepat langkahnya.
Kiana lupa jika sekarang adalah malam misa Natal, sehingga kediamannya tidak ketat penjaganya. Karena kebanyakan orang yang bekerja di rumahnya beragama non muslim. Dan untuk Ningsih sendiri. Kiana tidak tahu apakah wanita itu pindah agama atau bagaimana setelah menikah dengan Papanya.
"Apa keberuntungan tengah memihak pada kita?" tanya Alira.
Kiana tengah memperhatikan bangunan besar di depannya. Saat ini, mereka bertiga sudah berada di halaman belakang. Beruntung Kiana ingat, jika ada pintu kecil rahasia di tembok belakang sehingga memudahkan mereka masuk.
"Ayo masuk," perintah Kiana pada Alira dan Loli. Mereka melewati pintu belakang dengan waspada.
"Ini kayaknya gak ada penjaga sama sekali deh," ujar Alira. Ia mengamati sekitar yang sangat sunyi.
Sedangkan Loli, gadis itu mulai memutar handle pintu belakang dan langsung terbuka, hal itu membuatnya terkejut. "Gak di kunci," ujarnya.
Kiana terdiam. Ningsih tidak mungkin gegabah dengan membiarkan rumah ini sunyi tanpa penjagaan. "Gak mungkin ini jebakan kan?" gumam Kiana.
Ia terdiam sejenak, sebelum berjalan lebih dulu masuk di ikuti Alira dan Loli di belakang. Mereka berjalan dengan waspada dan mengamati keadaan sekitar.
"Ruang cctv di mana Ki? Lo tau gak?" tanya Alira pada Kiana.
"Gue tahu." Ruang cctv ada di kamar orang tuanya. Ruangan rahasia, dan kemungkinan Ningsih sendiri tidak tahu tempat itu. Kiana menuntun mereka ke ruangan itu. Sekali lagi, mereka di buat bingung karena tidak ada penjaga sama sekali.
Kiana tahu sebagian penjaga mungkin sedang beribadah, tapi pasti Ningsih memerintahkan sebagian penjaga untuk memantau rumah ini.
"Aneh gak sih ini?" tanya Alira.
Kiana juga bingung, namun hal ini sangat baik untuk mereka. Dengan cepat, Kiana masuk ke kamar orang tuanya yang sekali lagi tidak di kunci. Bukankah ini terlalu mudah?
Kiana mengamati kamar itu yang sudah banyak terpampang foto Ningsih. Hal itu membuat ia berdecih. Ia harus segera mengambil alih rumah ini dan menghempaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita menjijikkan itu.
"Ki, kok lo bisa tau tempatnya?" tanya Alira saat Kiana mengajak mereka ke sudut ruangan yang banyak tertera komputer.
"Ha?" Kiana tercengang. "Bagaimana bisa ada komputer di sini?" Dengan cepat ia mendekati vas bunga di samping nakas, ia membalik vas iyu dan memencet tombol kecil yang tidak ketara di situ. Beruntung Kiana masih ingat letaknya, karena pernah di beri tahu oleh ayahnya. Dan beruntung juga vas bunga itu tidak di buang oleh Ningsih.
Tak lama kemudian, lantai yang ia pijak bergetar dan bergerak sendiri hingga menampilkan tangga yang menuju ruang bawah tanah.
Alira dan Loli tentu terkejut. Bagaimana bisa Kiana mengetahui hal ini?
Kiana langsung berjalan ke bawah dengan cepat, ruangan itu sangat terang namun mencekam. "Sejak kapan lampu di sini jadi merah?" gumam Kiana heran. Ia berlari kecil menuju pintu yang ada di depan matanya. Kiana membuka dengan cepat, namun yang ia dapati adalah ruangan kosong. Tidak ada komputer yang terpasang di situ lagi.
Kiana menggeleng pusing. Ia kembali ke kamar dan mendapati Alira yang tengah mengotak-atik komputer disudut ruangan itu.
"Kosong, gak ada informasi yang kita cari," ujar Alira.
Kiana memijat pangkal hidungnya. "Kita di jebak kah? Apa Ningsih sudah mengetahui rencananya? Tapi bagaimana bisa?" gumam Kiana. Sedangkan Alira dan loli sudah berada di sebelahnya.
"Dapat permen dari mana lo?" tanya Alira pada Loli.
"Loli bawa permen tadi dari rumah," ucap Loli membuat Alira menggeleng tak habis pikir.
"Lo kenapa?" tanya Alira pada Kiana.
"Kayaknya kita di jebak Al," ucap Kiana. Setelah mengatakan itu, mereka di buat terkejut dengan suara tembakan dari arah ruang tengah.
Alira dan Loli langsung memeluk Kiana. "Sial, pantas aja dari awal sudah sangat aneh," batin Kiana.
"Keberanian yang sangat memukau."
Mereka bertiga terkejut dengan suara itu.
"Tidak perlu bersusah payah mencari bukti, karena bukti yang kau inginkan akan segera kau dapatkan."
Suara pria. Namun mereka tidak bisa mengenali suara tersebut karena di samarkan.
"Siapa?" tanya Kiana berteriak.
Tak ada balasan. Suara ponsel Kiana berbunyi, tertera nama Abang di layar. Buru-buru Kiana mengangkatnya.
"Di mana? Kok gak ada di rumah?" tanya Damar di seberang sana.
Kiana berdehem. A..Alira. Gue di rumah Alira, bentar lagi gue pulang," ujar Kiana.
"Beneran? Gak bohong kan?"
"Enggak, udah dulu gue mau makan," Kiana berbohong dan langsung mematikan panggilan sepihak.
"Kia," panggil Alira pelan. Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. "Serius nih, gue takut," gumam Alira.
"Loli juga," Gadis itu sudah pucat.
"Maafin gue, Ini salah gue udah libatin kalian," ucap Kiana merasa bersalah. Mereka sepertinya dalam bahaya.
"Pulang my girl, bukti kejahatan Ningsih udah aku dapatkan. Kau tinggal duduk diam dan menunggu kehancurannya."
Suara itu terdengar lagi. Kiana mengamati sekitar untuk mencari tahu asal suara.
"Seharusnya kau tidak perlu mengotorkan tangan untuk turun langsung mencari bukti. Itu hanya akan membuatmu kelelahan saja. Sekarang pulang, orang suruhanku sudah tiba dan akan mengantar kalian pulang."
Setelah mengatakan itu, pintu terbuka menampilkan lima orang berpakaian serba hitam. Mereka membungkuk hormat pada Kiana.
"Kami akan mengantar kalian pulang dengan selamat."
Kiana tercengang. "Apa ini jebakan untuk penculikan mereka?'' pikirnya.
"Jangan takut, mereka tidak akan menyakitimu. Bahkan mereka tak akan sanggup menatap mata indah mu itu. Sekarang pulang dan tidur dengan nyenyak."
Lima orang itu langsung menuntun Kiana untuk pergi. Kiana awalnya ragu, namun lima orang ini terlihat tidak mencurigakan.
Akhirnya dengan pelan mereka berjalan keluar, namun pandangan Kiana tertuju pada figura di meja televisi yang menampilkan foto kedua orang tuanya beserta dirinya.
Apa ia mengetahui rencana Kiana?
"Tunggu," ucap Kiana membuat langkah mereka terhenti, Kiana menatap pintu putih di depannya. Itu adalah kamarnya.
Kiana ingin masuk, namun ia urungkan niatnya, saat ini ada Loli dan Alira. Kiana belum mempunyai waktu untuk menjelaskan segalanya pada mereka. Kejadian ini saja Kiana yakin, jika akan ada pertanyaan beruntun dari Alira.
"Ayo," Kiana menggandeng lengan sahabatnya dan membawa mereka keluar lewat pintu utama.
Saat membuka pintu. Kiana di buat kaget saat ada penjaga yang diikat dengan tali dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Fiks, semua sudah di rencanakan oleh sosok misterius itu. Kiana harus mencari tahu siapa dia sebenarnya.
Tanpa Kiana sadari, jika di atas pohon ada pria yang mengawasi mereka. Ia tersenyum kecil saat melihat wajah kebingungan Kiana.
"Menggemaskan," gumamnya.
Kiana tiba di rumah dengan perasaan berkecamuk. Ia masih penasaran dengan siapa di balik semua ini yang membantunya. Gadis itu menghela napas gusar, saat ingin membuka pintu rumah, ia dikagetkan dengan tepukan seseorang dari belakang.
"Dari mana aja?" tanya Damar.
"Dari rumah Alira, kan gue numpang makan banyak di sana." bohong Kiana. Damar hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Lo sendiri dari mana?" tanya Kiana balik.
"Beli somay di depan. Yaudah tidur sana gih udah malem," ucap Damar.
"Ok, gue ke kamar dulu bye Bang," Kiana pamit dan melambaikan tangannya.
"Bye, berdoa dulu biar mimpi indah."
"Siap,"
****
Ke esokan harinya di kediaman Wijaya, Ningsih sedang cemas karena videonya sudah tersebar di medsos. Posisinya sekarang kini sudah tidak aman.
Ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Ningsih melihatnya sejenak, pesan dari nomor yang selalu menerornya.
"Game over, kau sudah kalah."
Ningsih merasakan kakinya gemetar.
Video yang tersebar adalah saat dirinya meracuni istri Wijaya dan membayar dokter agar mengatakan jika wanita itu meninggal akibat serangan jantung setelah mengetahui suaminya selingkuh.
Kemudian, video dirinya yang ikut meracuni Wijaya dan saat itu masih menjadi suaminya, juga melakukan tindakan prostitusi online agar mendapatkan banyak uang. Juga, di mana Ningsih dengan jahatnya menyuruh Wijaya menandatangani surat peralihan seluruh aset atas nama dirinya di saat pria tua itu sudah sekarat.
Semuanya kini sudah berakhir.
Dari arah depan, seorang pembantu mengabari jika ada polisi yang datang. Polisi langsung menerobos masuk dan menangkap Ningsih.
Tak ada yang bisa menolong Ningsih yang sudah di bawa pergi polisi. Ningsih terus memberontak agar terbebas. Namun usahanya gagal.
Salah satu polisi itu menyeringai saat tiba di teras rumah. Ia mengambil ponsel dan memberi kabar pada seseorang.
"Sesuai rencana Bos," ujarnya. Di seberang sana, orang yang di panggil Bos itu menyeringai.
"Bawa ke markas dan tempatkan di ruang bawah tanah. Siksa wanita itu, tapi jangan sampai dia mati."
"Baik Bos." Tidak ada yang tahu, jika sebenarnya mereka bukan polisi asli, melainkan polisi bohongan yang sedang menyamar untuk menjalankan suatu perintah.
Kabar yang menimpa Ningsih sudah sampai di telinga Kiana, ada perasaan senang yang melingkupi hati. Ningsih selesai, apa semua ini juga berkat pria misterius itu.
"Siapapun lo, gue mau ucapin terima kasih banyak. Kehancuran wanita itu adalah kebahagiaan terbesar bagi gue. Gue harap kita bisa bertemu, dan gue bakalan ucapin terima kasih lagi secara langsung." gumam Kiana.
****
Elsa saling mengaitkan tangannya dan berjalan kesana kemari. Wajahnya pucat akibat panik saat tahu kejahatan Tantenya telah terbongkar dan di bawa ke kantor polisi.
Tapi anehnya, Elsa tidak tahu tantenya di tahan di mana, ia sudah mendatangi beberapa kantor polisi namun tidak menemukan tahanan bernama Ningsih.
"Sial, kalau kayak gini, gue dalam bahaya besar," gumamnya panik.
Di rumah sekarang hanya ada ia sendiri. Orang tuanya sedang mengurus pekerjaan di luar negeri, sedangkan pembantu sedang berbelanja.
"Gue harus hubungi cowok misterius itu, yah, gue harus hubungi dia." Dengan segera Elsa mengambil ponselnya, mencari kontak cowok yang katanya ingin membantunya.
Elsa menelpon nomor itu, sudah lima panggilan tidak di jawab. Akhirnya ia memilih mengirim pesan, sambil menunggu di balas, Elsa memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, ia mengecek hpnya lagi, ternyata pesannya sudah di balas. Dan cowok itu mengatakan sudah berada di depan.
Elsa bergegas turun dan menghampiri cowok itu. Di dapatinya sosok berpakaian hitam dengan penampilan misterius. Sama seperti penampilan yang kemarin saat menemuinya.
"Bisa gak topengnya di lepas?" tanya Elsa yang sedikit risih.
Cowok itu menggeleng. "Gak bisa," ujarnya dengan suara yang di samarkan. "Mau bahas soal apa?" tanyanya.
Elsa duduk di samping cowok itu dan menghela napas sejenak. "Kita harus susun rencana buat hancurin Kiana secepatnya." Elsa mendengus kesal, ia harus hidup enak dan menjadi ratu oleh semua orang. Juga menyingkirkan orang yang paling ia benci. Kiana.
"Lo suka sama Azam?" tanya cowok itu.
Elsa yang menyadari jika sepertinya cowok itu cemburu, seperti yang ia katakan lalu jika ia akan melakukan apapun untuk dirinya.
"Gue suka hartanya," ujar Elsa tersenyum miring. "Tapi lo gak usah khawatir, gue tau lo suka sama gue, jadi kalau mau apa-apa datang aja, gue bakalan siap sedia untuk lo."
Cowok itu ikut tersenyum miring di balik topengnya. Keduanya terdiam untuk memikirkan rencana, hingga suara benda jatuh terdengar dari salah satu ruangan di rumah itu.
"Apa itu?" tanya cowok itu.
Elsa menggeleng. "Gak usah pedulikan itu, mungkin kucing atau apa."
Cowok itu mengangguk saja. "Jadi rencana kita apa?"
"Gue mau buat Kiana hancur. Emh, bagaimana kalau kita culik dia? Dengan gitu, gue bisa siksa dia sesuka hati. Gimana? Lo mau bantu gue kan?"
"Culik Kiana gak semudah itu, dia banyak yang jagain. Kalau lo mau siksa dia secara langsung, gimana kalau kita buat kecelakaan aja? Gue bakalan atur semuanya besok, dan lo ikutin semua instruksi dari gue, gimana?" Cowok itu meminta pendapat.
"Boleh juga sih, tapi gimana caranya buat Kiana keluar dan menuju tempat perangkap kita?" tanya Elsa lagi.
"Udah gue bilang, gue yang atur semuanya. Lo tinggal stand by di lokasi yang nantinya gue infoin."
"Oke, gue gak mau rencana ini gagal."
"Kalaupun gagal, kita coba rencana baru. Playing victim, itu bakat lo kan?"
Elsa tersenyum. "Benar juga, itu bakat gue. Oke, rencana kita mulai besok." Elsa menyeringai licik. "Siap-siap hancur! Dan gue yang bakalan jadi pusat perhatian semua orang termasuk Azam.
****