
Aksi kejar-kejaran terjadi antara Loli dan Bian, itu bermula karena sebuah permen yang berada di tangan Bian membuat gadis itu badmood karena kehilangan permennya.
"Sepupu lo ya Al? Boleh dong buat gue." ucap Alan. Jiwa playboy kelas terinya berkaor-kaor saat melihat wajah menggemaskan Loli.
"Daripada lo buang-buang waktu buat deketin si Loli, mending urus tuh pacar bejibun lo. Btw, walaupun kelakuannya kayak gitu, Loli itu pilih-pilih orangnya. Tipenya kayak karakter cowok di novel yang sering dia baca." ucap Alira membuat Alan terkejut.
"Dahlah nggak jadi. Tipe anak novel tinggi-tinggi, gue bisa kalah jauh." ucap Alan.
"Mundur Lan, lo bukan tipe Loli." imbuh Kiana tertawa kecil. "Cabut Al, eh btw jagain tuh bocah ya." ucap Kiana pada Alan.
Alan hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu Kiana menarik tangan Alira untuk pergi ke kalas. Cewek itu bahkan tidak menatap Azam sama sekali. Membuat Ringga yang sedari tadi diam tiba-tiba tersenyum miring.
Saat ingin kembali ke kelas, Kiana tiba-tiba terkejut saat melewati tubuh Azam, Karena ia merasa jika jari telunjuknya di genggam walau hanya sebentar.
Kiana berhenti di ikuti Alira. Kiana menoleh, melihat Azam yang ikut menoleh ke arahnya. Sorot mata Azam penuh rasa ingin tahu dan penasaran terhadap Kiana.
Perubahan sikap gadis itu, kejadian di kantin tadi dan apa hubungannya dengan Devan, sungguh membuat Azam mati penasaran.
Kiana menarik sudut bibirnya hingga menampilkan seringai, membuat Azam terkejut. Selama ini, Angel tidak pernah memberi senyum menyeramkan seperti itu padanya. Namun kali ini, Azam melihatnya sendiri.
Wajah terkejut Azam membuat Kiana terkekeh sinis, cewek itu menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan mata terus menatap Azam, sebelum ia langsung berbalik badan pergi begitu saja menuju kelas.
Azam terkejut bukan main, sedangkan Ringga langsung menepuk pundak Azam.
"Dunianya udah bukan lo lagi, Zam. She's tired, and walking away is his last resort."
[Dia lelah, dan berjalan pergi adalah pilihan terakhirnya]. Setelah mengatakan itu, Ringga langsung masuk ke dalam kelas meninggalkan Azam yang masih menatap punggung Kiana hingga cewek itu masuk ke dalam kelasnya.
"Ringga nggak sadar, kalau dia juga lagi ngatain dirinya sendiri." ucap Azam terkekeh.
***
Kiana menutup pintu kulkas setelah mengambil puding cokelat di dalam kulkas. Kiana bersandar di wastafel dapur sambil menikmati rasa manis puding cokelat itu.
Pandangannya tertuju ke arah luar jendela, langit sudah gelap dan di hiasi ribuan bintang namun tidak ada bulan yang menyinari.
Keadaan rumah sangat sunyi, karena Papi Zain yang masih di luar kota. Sedangkan Mommy Zara tengah pergi ke rumah sahabatnya dengan membawa Ipin bersamanya. Mungkin akan balik tengah malam, karena kata Mommy Zara, sahabatnya tengah mengadakan acara ulang tahun pernikahan.
Azam sendiri dia tidak tahu dimana keberadaan cowok itu dan juga ia tidak ada niat untuk mencari tahu. Terakhir ia melihatnya saat pulang sekolah dengan membonceng Elsa, mungkin mau mengantar gadis manja itu pulang.
Saat ingin menyuapi puding ke mulut, suara mesin motor memasuki indra pendengarannya. Tidak lama kemudian, Azam muncul dan menuju arah dapur.
Cowok itu berjalan ke arah kulkas dan mengambil air dingin, setelah itu ia duduk di kursi makan sambil meneguk air.
"Pergi ke rumah temennya." jawab Kiana seadanya.
Azam mengangguk saja. "Tadi nggak ada gangguan di jalan pas pulang?" tanya Azam lagi, membuat kerutan di kening Kiana.
"Enggak ada." Kiana mengangkat bahunya sambil menaruh cup puding yang sudah kosong di tempat piring kotor. Setelah itu ia duduk di kursi sebrang untuk meneguk air.
Azam mengamati gerak-gerik Kiana sambil melipat tangan di atas meja. Kiana yang menyadari itu hanya mengangkat bahunya acuh.
Merasa jika tidak ada yang ia lakukan di dapur lagi, Kiana kembali berdiri untuk kembali ke kamar. Namun saat melewati Azam, tiba-tiba jari telunjuknya di genggam seperti saat di sekolah tadi, tetapi bedanya saat ini di genggam sangat lama.
"Apaan?" tanya Kiana tanpa basa-basi.
Azam berdehem sejenak untuk menetralkan rasa gugupnya dan mulai melepaskan jari telunjuk Kiana. "Buatin gue susu, gue udah mau tidur." ucap Azam membuat Kiana tercengang.
"Ada tangan kan? Jadi gunain buat bikin sendiri. Gue bukan babu lo." jawab Kiana ketus.
"Tapi lo istri gue..eh." Azam berdehem lagi sambil menggaruk pelipisnya. "Maksud gue, gue nggak bisa nyalain kompor dan buat susu sendiri. Biasanya Mommy yang buatin, tapi ya karena Mommy nggak ada, terpaksa gue nyuruh lo."
Azam tidak berbohong, Ia memang tidak bisa menyalakan kompor sendiri. Dia sama sekali tidak mengerti cara masak, berbeda dengan mendiang kembarannya yang sangat menguasai semua alat dapur. Bahkan saat dia masih ada, setiap hari yang masak adalah saudara kembarnya.
Namun sayangnya, adiknya telah meninggal tiga tahun yang lalu karena penyakit jantung, dan kematian Azka menjadi awal dari terusiknya hidup Azam oleh seorang cewek bernama Angelina Kiana Putri. Cewek yang kini sudah menjadi istri sahnya sesuai agama dan negara.
Kiana menghela napas kasar. "Yaudah nggak usah minum susu, lagian lo udah besar juga, bukan anak kecil lagi." ucap Kiana yang tak habis pikir dengan sifat Azam.
"Gue nggak bisa tidur kalau belum minum susu. Gue yakin lo udah tau mengenai itu." ucap Azam yang mengingat jika Zara sudah mengatakan kebiasaan Azam pada Kiana sewaktu di rumah sakit.
"Bukan urusan gue." jawab Kiana acuh dan hendak pergi, namun Azam menahan belakang bajunya.
Hal itu membuat Kiana kesal. Ia mendelik ke arah Azam yang masih duduk di kursi. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Azam, sangat langka sekali cowok itu mau bicara padanya, bahkan mau menyuruhnya seperti ini.
Kiana masih ingat memori mengenai Angel, di mana Azam paling tidak suka berbicara dengannya, bahkan menyebut nama Angel saja dia tidak mau.
"Kalau lo nggak buatin, gue bilang sama Mommy." ancam Azam yang mengangkat hpnya. "Gue telepon Mommy nih." ucap Azam lagi membuat Kiana geram dengan terpaksa membuatkan susu untuk cowok itu.
"Gue campur sianida juga ni susu, biar mampus lo." gerutu Kiana yang tengah mengaduk susu cokelat di gelas.
"Campur aja, lagian kalau gue mati lo langsung di penjara. Jangan lupa, gue pewaris keluarga Nugraha loh." ucap Azam santai, ia terus mengamati wajah kesal Kiana.
"Gue nggak takut."
****