
Seorang pria berpakaian hitam tengah duduk di depan komputer. Ia memutar sebuah video yang menampilkan adegan tak senonoh dari dua orang berbeda gender di tempat yang bisa di sebut gudang. Yang cewek menggunakan pakaian sekolah, sedangkan yang satunya terlihat menggunakan pakaian formal seperti guru.
"Gak perlu capek-capek download gue, udah dapat secara gratis, live lagi," ujarnya. Ia mengotak-atik komputernya dan kini menampilkan video baru lagi, masih dengan pemeran cewek yang sama, hanya pria yang berbeda.
"Ck! Murahan," desis cowok berwajah datar di belakang cowok berpakaian hitam itu. Kita sebut saja cowok itu sebagai Mr. X.
"Lo kan katanya suka sama dia, lo gak minat cicipin tubuh dia?" tanya si cowok berpakaian hitam pada Mr. X.
"Gue nyesel pernah suka sama dia!" umpatnya.
"Si Elsa kenapa jadi liar gini sih? Padahal dulu lugu dan polos banget, sekarang malah jadi sasimo,"
Mr. X mengedikan bahunya. "Selidiki dia, ada yang janggal dengan wanita menjijikan itu,"
"Gue lagi yang kena," ujarnya malas yang tidak di pedulikan Mr. X.
"Oh iya mengenai keluarga Wijaya gimana? Lo udah tau sesuatu?"
"Sudah, tinggal satu langkah lagi, dan yeah semuanya selesai." Bibirnya menyeringai.
"Rencana selanjutnya di mulai," ujarnya. "Siap-siap, gue udah mulai bergerak dan ikutin langkah yang udah lo susun."
"Hmm, gue selalu siap kapanpun dan di mana pun. Untuk melindungi Kiana." Ia tersenyum miring.
Dari arah belakang, seorang perempuan datang dengan belati yang ia mainkan di tangannya dengan lihai, tanpa takut jika benda tajam itu bisa melukainya.
"Hei jangan lupakan gue yang juga terlibat," ujar perempuan otu. Mereka bertiga tersenyum miring.
Banyak rencana licik yang sudah mereka siapkan. Semuanya untuk Kiana. Gadis itu tidak perlu mengotorkan tangan, karena pelindung bayangannya banyak dan siap sedia menjadi tameng untuknya.
****
Pagi ini, SMA Garuda di buat geger dengan video tak senonoh yang tersebar. Di mana salah satu guru di sekolah mereka sedang berhubungan di gudang bersama salah satu siswa yang wajahnya di blur. Hanya seragam siswi itu yang menandakan jika itu siswi di sini.
"Njir gila gak tuh?"
"Menurut kalian, tu cowok siapa ya?"
"Gak nyangka gue, Pak Soleh bisa gitu."
"Tu cewek familiar anjir! Tapi saha? Liat deh tubuhnya, kayak siapa ya?"
Bisik-bisik mulai terdengar. Dan mengenai kabar guru itu tidak di ketahui. Guru itu menghilang tiba-tiba.
"Kiana!" Alira dan Loli menghampiri Kiana yang baru saja turun dari mobil.
"Gak bareng saudara lo?" tanya Alira.
Kiana menggeleng. "Saudara gue gak pulang dari semalam. Gak tau kemana, cuma pamitan ada urusan penting," balas Kiana.
"Oh iya, lo udah liat video yang beredar?" tanya Alira.
"Udah, familiar banget ceweknya. Menurut lo siapa?" tanya Kiana balik.
"Hallo Kiana," sapa Alan yang baru datang menghampiri Kiana cs. Bukan hanya Alan, tapi ada Jeje dan Ringga.
"Saudara lo mana Ki?" tanya Ringga pada Kiana.
"Gak tau," balas Kiana memang ia tidak tahu keberadaan mereka.
Sedangkan di tempat lain, Elsa pucat di tempat setelah videonya tersebar. Gadis itu panik, ia terus menelpon Pak Soleh namun tidak bisa di hubungi.
"Sial!" maki Elsa, keringat dingin mulai bercucuran. Bagaimana bisa ini terjadi? Ini berbahaya.
Terlalu pusing dengan keadaan yang melanda, Elsa sampai tidak sadar saat ada seseorang muncul di belakangnya.
"Hai cantik," sapa cowok berpakaian serba hitam, jangan lupa topeng yang menutupi wajahnya. Suara orang itu juga di samarkan.
"Si..siapa lo?" tanya Elsa gagap. Ia takut dengan orang itu.
"Mau bekerja sama denganku hm?" tanya cowok itu. "Musuh kita sama loh."
Elsa mengerjap. "Siapa lo, jangan main-main sama gue," ancam Elsa berusaha tidak takut.
Orang itu memperhatikan jari-jarinya yang tertutupi oleh kaus tangan hitam. Ia menatap ke arah Elsa dan menyeringai sebelum akhirnya berujar, "Angelina Kiana Putri, mau menghancurkan gadis itu bersama denganku?"
Elsa menatap pria di depannya dengan bingung. Tatapannya memicing waspada.
"Siapa kamu sebenarnya?'' tanya Elsa lagi. "Kamu sedang tidak menjebak ku kan?''
Pria itu tertawa sangat menyeramkan di telinga kala terdengar. "Calm Baby. Gue cuman mau kerja sama bareng lo aja. Gimana? Musuh kita sama loh," ujar pria itu.
Elsa masih belum percaya begitu saja. "Alasannya. Gue gak bisa percaya gitu aja kalau lo mau bantuin gue buat hancurin Kiana. Gue butuh alasan, kenapa lo mau Kiana hancur juga," ujar Elsa.
Pria itu memiringkan kepalanya. Jarinya ia gerakkan dengan pelan. "Simpel, karena dia udah gangguin lo. Dan yang gangguin lo harus hancur," balas pria itu membuat Elsa terkejut, hingga tubuhnya mundur ke belakang.
"Alasannya gue? Bentar, siapa lo sebenarnya? Elsa memicing tajam dan menunjuk pria itu. "Lo kenal gue?"
Lagi-lagi pria itu tertawa kecil. Ia menurunkan telunjuk Elsa. "Gue sangat mengenal perempuan bernama Elsa Safira. Soo, mau terima tawaran gue atau tidak? Lo untung banyak loh. Kapan lagi ada yang bantuin lo seperti sekarang ini," ujar pria itu. Ia mendekati Elsa sambil mengitari tubuh wanita itu. "Jadi gimana hm?"
Elsa terdiam sejenak. "Apa pria misterius ini benar-benar ingin membantunya menghancurkan Kiana? Tapi siapa pria ini? Apa dia salah satu orang yang suka padanya?" Pikir Elsa.
Pada akhirnya Elsa mengangguk. Sepertinya tidak buruk mempunyai teman untuk menghancurkan musuh.
"Oke, gue terima. Mulai sekarang kita kerja sama buat hancurin Kiana." Elsa menyeringai setelahnya. "Dan kalau berhasil, lo boleh minta apa aja dari gue. Bahkan jika lo minta gue puasin juga boleh."
****
Alira dan Loli mengambil duduk di depan Kiana. Saat ini mereka ada di kantin untuk menemani Kiana makan. Sedangkan Alira hanya minum jus saja, begitu juga dengan Loli yang hanya minum susu kotak rasa strawberry yang di belikan Jeje tadi.
"Pipi lo makin bulat Ki," ujar Alira pada Kiana. Ia heran porsi makan sahabatnya itu meningkat. Ia tidak mempedulikan penampilannya lagi seperti dulu.
"Makin imut dong gue." Kiana tertawa kecil dengan mulut yang tengah terisi batagor.
"Makin imut dan cantik kayak Loli." imbuh Loli tertawa. Alira memutar bola matanya jengah.
"Sebentar lagi tahun baru, kita gak ada niatan liburan gitu?" tanya Alira pada sahabatnya.
"Bentar lagi januari ya? Hehe Loli gak sabar tanggal 11. Jangan lupain ya, ultah Loli. "Loli mengedipkan matanya sangat menggemaskan.
"Gue borong se truk permen buat lo," balas Alira membuat Loli berbinar mendengarnya.
"Kalau Kiana apa?'' tanya Loli.
"Beliin pabriknya. Orang tua gue kan kaya." gadis itu tersenyum bangga.
"Jangan boong ya kalian," ucap Loli.
"Enggak bakalan." ujar keduanya kompak.
"Hay," sapa Davian yang tiba-tiba datang dan ambil duduk di sebelah Kiana.
Cowok yang hanya memakai kaos hitam dengan gambar tengkorak di depan itu tersenyum pada Kiana.
"Lama gak berjumpa, jadi rindu." Davian tertawa, memamerkan deretan giginya yang putih.
Kiana mendengus malas. "Ngapain di sini?" tanya Kiana malas.
"Duduk aja sih," balas Davian dengan tampang menjengkelkan.
Alira hanya diam mengamati sebelum akhirnya berdiri. "Gue balik kelas dulu sama Loli." pamitnya pada Kiana.
"Gue ikut," Kiana ikut berdiri dan berjalan mengikuti sahabatnya meninggalkan Davian sendirian disana.
***