Kiana Story

Kiana Story
Bab 6



"Apa lo liat-liat?! sentak Azam, saat Kiana menatap mengejek.


Kiana menggelengkan kepala. "Dasar bocah!" ejek Kiana sebelum memutus pandangan dari Azam, dan memilih memainkan handphone.


Azam mengerutkan kening dan menatap gadis itu. "Kok aneh ya?" gumam Azam, melihat tingkah gadis itu berubah drastis.


"Ck! Ngapain gue pikirin? bagus dong kalau dia lupain gue, seenggaknya hidup gue bakalan tenang." lanjut Azam pelan, dan mulai memfokuskan pandangannya pada sebuah handphone, namun tak bisa di tahan jika matanya terus saja melirik ke arah Kiana yang sekarang membuatnya penasaran.


Azam mendengus pelan, sambil meminum habis susu rasa vanilla yang diantar orang suruhan Zara.


Pemuda itu menatap tajam ke arah Kiana yang kini tengah bercermin di layar handphone, memperhatikan luka pada wajah akibat perbuatan dari Azam.


Heran, padahal Kiana hanya diam dan tidak melakukan apapun, tapi Azam seperti tidak suka dengan diamnya gadis itu.


"Gue mau pergi." ucap Azam seraya beranjak berdiri dari duduknya.


Kiana mengangkat sebelah alisnya dan mengedikan bahu acuh. "Pergi aja, pintu keluar ada di sebelah sana." jawab Kiana acuh tanpa menatap ke arah Azam.


Azam melongo mendengar jawaban dari Kiana. Kemudian ia berdeham sejenak dengan kedua tangan mengepal.


Brak!


"Anjim! Kiana terkejut saat mendengar suara gebrakan itu. Ia menatap ke arah Azam yang kini kepalan tangan sudah mendarat di atas meja. Ternyata pemuda itu memukul meja hingga menimbulkan suara.


"Kenapa lo?" tanya Kiana heran.


Azam berdecak kesal dan beranjak berdiri. Ia mengatur napas yang memburu sebelum berjalan menuju pintu keluar.


Azam memang tempramental. Ia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri. Bahkan hal yang terlihat kecil, dapat membangkitkan emosi seorang Azam.


"Fariz, lo mau keluar kan? Btw gue nitip beliin martabak dong, kayaknya di depan ada deh yang jual." ucap Kiana tiba-tiba saat Azam hendak membuka pintu.


Kiana tidak habis pikir setelah melihat postingan martabak manis di Instagram, dan hal itu membuat ia pengen ikut makan juga. Dan ia tak mempunyai pilihan lain selain menyuruh Azam untuk membelinya.


Pemuda itu mengerutkan keningnya dan menoleh pada Kiana yang kini sudah berbaring sembari bermain handphone.


"Fariz?" ulang Azam heran.


Kiana menaruh handphone di atas perut dan mulai menatap Azam dengan alis terangkat sebelah.


"Kenapa?" Kiana balik bertanya.


"Lo manggil gue Fariz?" tanya Azam heran. Selama ini semua orang selalu memanggil dirinya Azam dan tidak ada panggilan lain yang ia dapat selama hidupnya.


Kiana mengangguk. " Apa ada yang salah? Oh, atau lo mikir itu panggilan spesial dari gue ya? Idihh.... Jangan mikir terlalu jauh ya, gue ganti nama lo Faris kerena gak mau manggil Azam aja."


Azam melongo sesaat mendengar perkataan Kiana. Entahlah, menurut Azam jika sifat Kiana sangat berubah drastis.


"Aneh lo." ucap Azam, kemudian ia membuka pintu untuk segera keluar. Berada satu ruangan dengan Kiana itu adalah hal yang paling Azam tidak suka.


"Martabak gue jangan lupa!" teriak Kiana sebelum Azam menghilang di balik pintu.


"Ngarep banget gue beliin. Dia pikir gue babunya apa?" Azam misuh-misuh dan terus melangkah keluar dari bangunan rumah sakit.


Masa bodoh jika Zara marah karena ia meninggalkan Kiana sendiri di ruangan, pikiran Azam saat ini hanya harus menjauh dari gadis itu.


Elsa


Online


"Azam lo dimana? Boleh jemput aku gak sekarang? Aku lagi pengen makan sate ayam :) Mau ya? aku udah lapar banget nih."


Azam melihat pada arloji yang melingkar di pergelangan tangan dan sekarang baru pukul 19:00 malam. Setelah itu, Azam mengetik balasan pada Elsa.


Azam


"Siap" aja gue otw."


Selepas mengirim balasan, Azam memasukkan benda pipih itu ke saku celana dan kembali melangkah menuju parkiran.


Tiba di parkiran, Azam langsung menaiki motor sport warna merah miliknya dan tidak lupa memakai helm full face.


Azam bergegas menyalakan mesin motor dan mulai mengendara, membelah jalanan kota yang sangat padat di jam-jam seperti ini.


Apalagi sekarang adalah malam minggu, banyak pasangan yang berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama.


Setelah lama mengendara, motor merah itu berhenti di depan rumah bertingkat dua dengan desain minimalis. Didepan gerbang telah berdiri seorang gadis dengan rambut terurai tengah tersenyum lebar kearah Azam.


"Ayo kita pergi, aku lapar banget." ucap Elsa pada Azam yang baru saja tiba di depannya.


Azam melepaskan helm dan tersenyum tipis pada Elsa. "Emangnya bibi nggak masak?" tanya Azam sambil menyugar rambut hitamnya.


"Masak sih, tapi aku lagi pengen makan sate ayam." ucap Elsa.


Azam terkekeh gemas dan mengacak rambut panjang Elsa. "Ayo naik." perintah Azam.


Elsa mengangguk antusias dan mulai naik di jok belakang dengan memegang pundak Azam agar memudahkan ia menaiki motor.


"Pegangan." peringat Azam yang kembali memakai helmnya.


"Siap pak Bos!" Elsa memegang jaket Azam sesuai perintah pemuda itu.


><


"Kamu nggak ikut makan?" tanya Elsa pada Azam yang tengah bermain ponsel.


Mereka berdua sekarang tengah berada di tempat penjual sate ayam yang ada di depan taman kota. Tempat ini terlihat sangat ramai dengan beberapa penjual di sepanjang jalan. Apalagi malam Minggu seperti ini, suasana taman sangat ramai dengan para remaja yang tengah berpacaran.


"Gak, gue udah kenyang." jawab Azam, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah membaca deret chat dari Zara yang marah-marah karena Azam meninggalkan Kiana sendiri.


"Ya udah, kalau gitu aku makan lagi." Elsa mengangguk dan kembali asik memakan sate ayam kesukaannya. "Oh iya, kabar Angel gimana? Udah mendingan? Aduh maaf banget ya, pasti kamu lagi jagain dia dan aku malah manggil kami buat nemenin aku makan, tadi udah manggil Ringga sih, cuman katanya dia lagi sibuk, jadi aku terpaksa manggil kamu." ucap Elsa tampak merasa tidak enak.


"Udah mendingan. Besok mungkin udah bisa pulang." jawab Azam seadanya. Kemudian ia menjulurkan tangan dan mengusap sambal kacang yang belepotan di bibir Elsa. "Gak usah bahas cewek itu, lo tau kan kalau gue malas banget bicara soal dia."


Elsa menggeleng pelan. " Dia istri kamu loh, jangan gitu lah." ucap Elsa, kembali memakan sate ayamnya.


Azam hanya mengedikan bahunya acuh. Ia sangat malas membahas soal Kiana, tapi walaupun begitu, rasa penasaran terhadap sikap gadis itu selalu memenuhi pikirannya. Sikap Kiana yang begitu aneh.


***