Kiana Story

Kiana Story
Bab 30



Kiana mencuci tangan di wastafel toilet untuk menghilangkan bau darah yang membuatnya tidak tahan, apalagi setelah ini ia mau makan.


Setelah selesai, ia mengambil tisu untuk mengelap sisa air sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. Keningnya mengerut saat melihat sosok Wulan yang sedang bersedekap dada di belakangnya, saat ia melihat dari pantulan cermin.


"Udah punya suami, masih aja gatal sama cowok lain," ucap Wulan menyindir Kiana. "Bahkan nggak malu, terang-terangan menggoda kakak kelas di tempat umum. Murahan banget sih jadi cewek." Wulan menatap Kiana rendah, dan Kiana menyadari hal itu dari pantulan cermin.


Kiana tersenyum miring sambil berbalik badan hingga berhadapan dengan Wulan. Ia melempar tisu bekasnya ke arah tong sampah yang ada di sebelah kiri dari saudara kembarnya Damar sebelum akhirnya bersedekap dada.


"Ngegoda? Eum... Tolong di perjelas, di bagian mana ya, gue ngegoda kakak kelas? Emang lo liat gue nempel-nempel di tubuh dia?" ucap Kiana.


Wulan berdecih sinis. "Pura-pura lupa ya sama kejadian di kantin tadi. Nggak malu lo godain Davian kayak tadi? Kenapa hmm, kurang belaian dari suami?"


Kiana tertawa mendengar ucapan Wulan. "Godain Davian ya? Emang gue tadi godain dia? Perasaan gue cuman minta nomor sama minta suap sekali aja, itupun nggak masang wajah sok imut biar dia turutin. Lagian ya, kejadian di kantin tadi juga karena terpaksa. Kalau bukan paksaan dari sahabat gue, yakali gue buang waktu berharga gue buat hal nggak penting kayak gitu." Kiana menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dan menatap Wulan mengejek.


"Bilang aja lo iri sama gue, iya kan? Karena selama ini nggak ada perempuan yang bisa deketin kak Davian selain gue." Kiana terkekeh lagi. Rumor yang beredar dengan fakta jika Davian tidak pernah berdekatan dengan cewek selama di SMA Garuda ini.


Wulan mengepalkan tangannya kuat, emosinya tersulut dengan kalimat Kiana. Lantas cewek itu berdecih sinis.


"Banyak omong lo! Udah murahan, pembunuh juga. Nggak guna banget hidup lo," sentak Wulan. Beruntung keadaan toilet yang sepi hanya ada kedua saudara itu, jadi tidak ada yang menyaksikan pertengkaran mereka.


Kiana hanya menanggapinya dengan senyuman. "Murahan? Lo lagi ngatain diri sendiri? Lagian gue nggak murahan kok. Gue tuh limited edition, yakali murahan orang sekali menengadah tangan mertua gue langsung kasih black card." Kiana sengaja berucap kalimat yang terdengar gak jelas, tujuannya sih membuat Wulan kesal saja, terbukti dengan wajah Wulan yang sudah memerah karena emosi.


"Dan lo ngatain gue pembunuh? Boleh di perjelas lagi, emangnya gue bunuh siapa? Kalau lo bilang bunuh nyamuk sama semut gue nggak bakalan ngelak. Soalnya udah banyak nyawa mereka yang gue renggut." Kiana bersandar di wastafel dengan menatap Wulan lekat.


Wulan mengepalkan tangannya. Matanya menyorot penuh kebencian. "Lo pembunuh Bunda sialan! Lo yang udah buat bunda pergi ninggalin gue dan semua orang!" teriak Wulan emosi. Jika hal menyangkut bundanya, Wulan gampang tersulut emosi.


Kata itu lagi. Kiana menggeleng tak habis pikir dengan saudaranya ini. Sepertinya pas pembagian otak mereka tidak kebagian, makanya jadi kayak gini.


"Gue yang bunuh Bunda? Woah, hebat banget dong gue, ngalahin pembunuh bayaran yang udah terlatih. Gue masih bayi, belum tau bagaimana kejamnya dunia, tapi udah dicap sebagai pembunuh. Hebat!" Kiana bertepuk tangan, mengundang kekesalan Wulan.


"MATI AJA LO BANGSAT!" teriak Wulan setelah menampar pipi Kiana hingga wajah gadis itu terbuang kesamping.


Lagi-lagi Kiana menanggapinya dengan santai. "Bunda menangis melihat ini." Kiana kembali menatap Wulan sambil mengusap pelan bekas tamparan di pipinya.


"Gue yakin, Bunda pasti kecewa sama kalian. Dia rela berkorban nyawa buat gue tetap hidup, tapi kalian malah mau gue mati dan berusaha jatuhin mental gue? Woyy sadar! Bunda pasti sedih liat sikap kalian ke gue. Dia pasti merasa pengorbanan dia malah sia-sia." Kiana mendekat ke arah Wulan yang masih tersulut emosi. Ia menepuk pelan pipi kakaknya yang bahunya naik turun karena menahan gejolak amarah.


"Jangan salah kak. Gue bukannya mau ngemis perhatian sama kalian, tapi gue cuma mau kalian sadar atas sikap dan pemikiran kalian selama ini tentang gue. Coba pikir-pikir lagi, kenapa Bunda rela mati demi gue? Itu karena dia seorang Ibu, nggak ada Ibu yang mau anaknya pergi begitu saja sebelum melihat dunia."


"Dan setelah ia rela berkorban, kalian malah nuduh gue pembunuh. Aneh banget tau nggak, lo pikir gue bayi super hingga bisa bunuh orang?" Kiana terkekeh dan menunjuk pelipis Wulan yang terdiam kaku.


"Otaknya dipake Mbak. Kasian Tuhan udah ciptain otak tapi nggak di gunakan dengan benar."


***


...Bagaimana Bab ini? Kalian ada di tim siapa nih:...


Kiana-Azam


Kiana-Devan


Kiana-Davian


><


Babay mau ngilang lagi. Jaga kesehatan ya buat kalian🤗