
Sosok yang selama ini selalu menebar senyum, bahkan mereka sampai berfikir jika hidupnya cerah, secerah senyumannya.
Dia, yang di juluki the sunshine karena terkenal ramahnya kini telah pergi, tepat di hari yang seharusnya menjadi bertambah umurnya.
Mereka yang sudah menyiapkan kejutan penuh makna, namun apa? Malah dia yang memberi kejutan yang menampar hati.
Abian Satya Raksa. Cowok penebar senyum, si konyol dan narsis yang di kenal seantero sekolah kini telah kembali pada sang pencipta.
Dia pergi tanpa pamit, dia pergi sebelum memberi tahu masalah hidupnya. Dia pergi dengan semua luka yang selama ini di sembunyikan.
Lantas bagaimana kisah mereka kedepannya jika cahaya mereka telah pergi?
Tuhan... Tolong, mereka belum siap kehilangan cahaya mereka.
"BIAN!" tubuh Jeje bergetar hebat saat kakinya menapak halaman rumah sakit. Rombongan Tiger sudah memenuhi halaman Rumah sakit sebening kasih.
"Gue tau ini prank! Sialan lo Bian!" teriak Alan juga.
Petugas keamanan rumah sakit langsung mengamankan mereka, beruntung Azam dengan cepat memberi tahu identitasnya jadi mereka tidak di urus lebih lanjut.
Dari dalam bangunan besar itu, seorang laki-laki berjalan menghampiri mereka. Matanya sembab saat bertemu tatap dengan sahabat dari pasien yang satu tahun belakangan ini ia tangani.
"Mari saya antar ke ruangannya," ujar Dokter bernama Rafi.
Azam mencekal lengan Dokter Rafi. Matanya sudah merah dan berair. "Saya tidak ragu untuk membantai anda, jika anda berani berbohong," ancam Azam. Ringga menepuk pundaknya berusaha menenangkan.
Dokter Rafi menunduk menahan tangis. ia menggeleng, yang berhasil menampar hati mereka semua.
"Tangis Azam pecah. Ia mendorong tubuh Dokter Rafi dan berlari masuk diikuti anggota inti yang lain.
Loli? Gadis itu tertawa renyah. Tubuhnya di papah Kiana dan Alira untuk masuk ke dalam, mencari ruangan Bian.
"Bian gak ninggalin Loli kan, Kia? Hehe iyalah, Bian bilang dia mau nikah sama Loli, terus kita hidup bahagia. Jadi gak mungkin Bian pergi," ucap Loli.
Kiana tak bisa menahan air matanya. Ia mendekap Loli saat tiba di depan UGD.
"Gue bakalan hancurin rumah sakit ini kalau berani bohong! Sahabat gue gak mungkin pergi secepat ini!" pekik Azam lagi di depan ruangan.
Dokter Rafi kembali meneteskan air mata. Ia membuka pintu agar mereka bisa melihat sosok yang seharusnya tengah meniup lilin dan berpesta bersama mereka di markas, kini terbaring kaku dengan perban melilit pelipis.
"BIAN!"
Mereka berlari menuju brangkar. Jeje mengguncang tubuh Bian yang sudah tak bernyawa lagi.
"GAK LUCU BIAN! GAK LUCU! PRANK LO GAK LUCU BANGSAT! BANGUN LO! BANGUN hiks...Bangun Bian." Jeje mengacak rambutnya. Ia terkekeh dan menatap Alan. "Bangunin tuh temen lo, bilang dramanya gak lucu."
Alan mendekati tubuh tak bernyawa itu. Ia menyentuh lengan Bian yang penuh luka gores. Dingin dan pucat.
"Bian, seharusnya kita yang prank lo, bukan lo yang prank kita! Ayo bangun, gak lucu loh, Yan. Serius ini gak lucu hiks.... BANGUN ANJIR! JANGAN TINGGALIN KITA! GIMANA KISAH KITA KALAU LO PERGI, HAH? NANTI SIAPA YANG HAPALIN PACAR-PACAR GUE HANYA KARENA GABUT? SIAPA BIAN? SIAPA KALAU BUKAN LO! hiks...Bangun Yan."
Tidak ada pergerakan. Alan menunduk sambil mencengkram lengan Bian.
"KAMERANYA MANA HAH? KELUARIN ANJIR! JANGAN SAMPE PETUGAS RS INI GUE PECAT! GAK MUNGKIN SAHABAT GUE PERGI SECEPAT INI SIALAN!" teriak Azam murka.
Bugh!
"Arggg! BIAN BANGUN LO, JANGAN SAMPE GUE GEBUKIN LO BIAR HANCUR TU MUKA!"
Loli mendekati Bian. Ia tersenyum walaupun air matanya mengalir deras. "Bian bangun yuk, Loli sama teman-teman udah buat kejutan buat Bian. Bian punya banyak hadiah sama kue, jadi bangun yuk. Bian jelek kalau tidur kayak gini," ujar Loli berusaha menyangkal kejadian ini.
Tak ada respon dari Bian. Kiana memeluk Loli dan mengusap bahunya agar membuatnya tenang.
"Kiana kan galak, tuh marahin Bian. Suruh bangun dong, dia jelek banget tidur kayak gitu," ujar Loli pada Kiana.
Kiana tak bisa membendung air matanya. Ia memeluk Loli dengan erat. "Ikhlaskan Loli, Bian udah gak ada."
"Bian ada kok. Tuh, cuman lagi tidur aja. Mungkin Bian cape, jadi butuh istirahat. Tadi aja Bian masih chat Loli."
Dokter Rafi mendekat dengan sebuah ponsel dan laptop di tangannya.
"Ini handphone milik Bian," ujar Rafi, memberikan hp yang sudah retak dan penuh noda darah itu pada Ringga.
Ringga menekan tombol power, hp cowok itu tidak terkunci. Ringga langsung menggeser lock screen yang langsung menampilkan room chat Mamanya. Ada pesan yang sudah Bian ketik namun belum terkirim.
"Mama Bian pulang. Maaf, belum bisa jadi anak yang baik. Bilang sama Papa juga, buat beli samsak tinju aja, soalnya samsak hidup dia udah gak bisa bertahan.." itu adalah kalimat yang Bian ketik, namun belum sempat terkirim.
Mata Ringga memanas. Ia mengusap rambut Bian. "Kenapa secepat ini hm? Kenapa lo pergi di hari yang seharusnya jadi hari bahagia lo?" Tak ada jawaban. Tangis Ringga pecah. "KENAPA BIAN?! ARGHH!''
Loli memukul lengan Ringga. "Jangan ribut, nanti Bian terganggu. Bian capek, jadi lagi istirahat," ujar Loli, ia mengusap wajah tenang Bian dan mencium pelipisnya. "Jangan lama-lama tidurnya, nanti Loli rindu."
"Kapan dia kecelakaan Dok?" tanta Azam pada Dokter Rafi.
"Dari saksi mata, kecelakaan itu terjadi saat pukul 14:00 Bian mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, tiba-tiba motornya oleng dan menabrak pembatas jalan," jelas Rafi.
Azam mengepalkan tangannya. Kecelakaan terjadi dua jam setelah mereka masih sempat berbicara.
"KENAPA GUE GAK NAHAN BIAN BIAR GAK PERGI TADI? KENAPA GUE MALAH NYURUH DIA PULANG! ARGHHH! INI SALAH GUE! SALAH GUE! HIKS." tubuh Azam luruh ke lantai dan memukul lantai tak peduli tangannya yang sudah berdarah.
"Kecelakaan gak mungkin sampe kayak gini! Orang yang kecelakaan lebih parah lagi masih bisa selamat! Gak mungkin sahabat gue gak bisa selamat!" pekik Jeje yang belum bisa menerima kenyataan. "Bangun Yan! Lo mau liat gue jadi cowok tulen kan? Oke gue bakalan berubah jadi cowok sesungguhnya, lihat nih, gue gak bakalan letoy lagi hiks....Tapi lo harus bangun." Dengan air mata mengalir, Jeje merobek bajunya hingga menampilkan tubuh atletisnya.
"Kita belum siap kehilangan lo Bian!"
"Kenapa kepergian lo tiba-tiba hah?"
Kiana ikut menangis sambil menatap Bian. Baru kemarin ia berbicara dengannya di atap sekolah, dan kemarin juga pelukan terakhir Kiana dan Bian. Kini cowok sok tegar itu telah tenang di sisi Tuhan.
"Kalian harus ikhlasin Bian. Jangan kayak gini, kasihan dia." ucap Kiana dengan menatap semua orang yang berada di ruangan itu.
"Yang dikatakan Kiana benar, birkan Bian istirahat dengan tenang." ucap Alira.
"Sudah saya duga, Bian menyembunyikan penyakitnya pada kalian semua," ucap Dokter Rafi yang sudah lama terdiam.
"Penyakit?'' tanya Kiana dengan kening berkerut.
Dokter Rafi membuka laptopnya yang menampilkan sebuah video berdurasi enam menit. Di dalam video itu, ada Bian yang sudah berbaring di ranjang dengan penuh luka, tak lupa berbagai alat penopang hidup menempel di tubuhnya. Bunyi mesin di samping juga terus berbunyi.
"Video ini di ambil tadi sebelum Bian menghembuskan napas terakhirnya. Di dalam video ini, kalian akan tahu siapa Bian sebenarnya," jelas Dokter Rafi. Ia memejamkan matanya hingga kristal bening itu mengalir.
Ia kembali teringat saat Bian menceritakan kisah pilunya saat berobat sebulan yang lalu. Di saat Rafi bertanya," Bagaimana bisa kamu mendapat kasih sayang yang tulus dari teman-temanmu?" Bian menjawab dengan lirih. "Aku menipu semua orang. Karena jika tidak begitu, aku tidak mampu menampakkan wajahku pada mereka."
Bian yang ia tangani satu tahun belakangan ini, kini tidak merasakan sakit lagi.
Video mulai di putar. Mereka berkumpul melihat apa yang Bian katakan di dalam video itu.
"H..hai guys uhuk-uhuk, kalau kalian udah lihat video ini, berarti gue udah gan ada bareng kalian lagi. Awalnya gue mau tulis aja, tapi keadaan gue sekarang gak memungkinkan." Sudah sangat jelas jika Bian tidak mempunyai tenaga bahkan saat mengucapkan satu kata saja. Namun ia terlihat memaksanya.
"Ma..maaf dan terima kasih u..untuk waktunya. Maaf karena kalian udah capek-capek bu..buat kejutan ta...tapi gue gak ada di sana," Air mata Bian terlihat mengalir dan terbatuk hingga darah mengalir di hidungnya yang terpasang selang oksigen.
Bian terkekeh kecil. "Gue udah gak kuat.. Gue mau bertahan dan menua bersama bareng kalian, itu harapan terbesar gue. Tapi, raga dan jiwa gue udah nyerah, maaf tidak bisa bertahan hingga akhir."
"Gue udah sering bohong sama kalian semua. Jadi di sini, gue mau bongkar semua rahasia yang gue pendam selama ini. Setidaknya, ini bisa ngurangin beban hati gue sebelum gue pergi." Bian tersenyum lagi setelah batuknya mereda. Dia sedang mencengkram rambutnya sendiri. "Gue udah bohongi kalian semua. Gue adalah pembohong terbesar di circle kita. Setiap hari yang kalian lihat dari senyuman gue itu palsu."
"Gue gak sebahagia yang kalian kira. Julukan sunshine gak cocok buat hidup gue yang dark." Bian menangis di video itu.
"Gue nutupin semua dengan topeng yang selama ini jadi bagian hidup gue. Karena apa? Karena gue gak mau di pandang menyedihkan, walaupun gue tau sebenernya kalian gak bakalan pandang gue kayak gitu."
"Keluarga gue hancur karena keluarga cewek yang ketua sama bendahara selalu jaga. Bos, lo pasti penasaran kenapa gue benci Elsa kan? Ini jawabannya, Elsa termasuk sumber kehancuran gue."
"Orang tua gue sibuk dengan dunia mereka masing-masing, termasuk Elsa. Mereka gak pedulikan gue dari gue napas pertama kali di dunia ini. Mereka gak anggap kehadiran gue, padahal sosok mereka yang gue inginkan di dunia ini."
Bian terkekeh. "Gue selalu dapat pukulan saat pulang ke rumah, dan bodohnya saat kalian tanya, gue malah bohong. Ingat waktu pas gue cerita tentang gue jadi maling? Itu semua bohong! Lebam yang kalian lihat di wajah gue itu karena ulah Papa dan Mama gue. Mereka mukul gue saat gue ngatain Elsa dengan kata-kata kasar."
"Haha mereka lebih sayang Elsa dibanding gue. Mereka bahkan dengan terang-terangan berharap gue mati, tanpa peduli perasaan gue yang terluka," Tawa miris Bian kini sungguh mengiris hati.
"Gue gak ada artinya di hidup mereka. Padahal mereka adalah figur terpenting dalam hidup gue. Bahkan sekarang pada saat-saat terakhir gue, mereka gak ada ke sini... Uhuk-uhuk... Mereka lebih milih ke luar negeri buat liburan hahaha. Padahal Dokter Rafi udah kabarin kalau gue kecelakaan, tapi mereka malah bilang gak peduli. Sakit banget hati gue."
"Dan buat kalian, maaf udah rahasiakan masalah keluarga gue. Gue berfikir, ini masalah pribadi yang gak penting buat kalian tahu. Gue selalu berfikir kayak gitu, padahal hati gue selalu mendorong buat cerita ke kalian biar bisa lega. Tapi gue gak mampu dan gak kuat.
"Maafi gue ya. Maaf karena gak pernah cerita mengenai penderitaan gue selama ini. Dan, gue harap kalian gak bendi sama orang tua gue ya, walaupun kalian udah tau kelakuan mereka sama gue. Tapi gue sayang banget sama mereka, karena kalau bukan mereka, gue gak bisa lahir di dunia ini, dan ketemu sama kalian. Jangan dendam sama mereka, gue gak bakalan suka."
"Itu rahasia gue mengenai keluarga gue. Dan yang kedua, mengenai penyakit yang gue derita dari dua tahun yang lalu, tapi gue gak pernah bilang sama kalian."
"Gue di diagnosa mengidap kanker otak. Maaf gak pernah cerita, gue cuman gak mau buat kalian khawatir aja. Dan setahun belakangan ini, kanker di otak gue semakin menyebar dan udah stadium dua akibat gue malas berobat."
Alan dan Jeje saling lempar pandang.
"Kangker otak stadium dua? Jangan bilang kertas di markas waktu itu.." Alan tidak bisa meneruskan ucapannya.
"Abiaksa. Kertas yang Tara temukan di markas waktu itu punya gue. Familiar dengan nama Abiaksa? Loli pasti tau banget karena ini adalah karakter favoritnya." Bian tersenyum. "Rahasia gue banyak ya? Haha jadi gue bakalan bongkar semuanya lewat video ini uhuk-uhuk."
"Abi," lirih Loli. Ia menangis di dalam dekapan Kiana.
"Abiaksa atau singkatan dari Abian Satya Raksa. Abiaksa sering Loli bilang itu adalah gue yang sebenarnya. Gue adalah penulis dari kisah gue sendiri."
"Kalau kalian mau tau, Bian yang bareng kalian selama ini adalah palsu. Dan Bian yang asli adalah Abiaksa itu sendiri. Gue buat cerita sebagai media curhat gue. Cerita yang gue buat, yang alurnya adalah kisah hidup gue sendiri. Loli pasti udah kenal dengan karakter Abiaksa."