Kiana Story

Kiana Story
Bab 23



Jika saja Loli bukan sepupunya mungkin saja sudah menjadi korban bully Alira selanjutnya.


"Lo pulang sama siapa? Gimana kalo gue yang anterin?" tanya Alira.


"Nggak usah, gue udah pesan taksi." Kiana menggeleng sambil mengecek handphonenya. "Nah udah di depan. Gue duluan ya." pamit Kiana pada kedua sahabatnya.


Kiana berlari ke depan gerbang sekolah dan masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan. Sopir taksi mulai mengendarai ke arah tujuan yang sudah pasti adalah rumahnya.


"Lelah sekali hari ini, ingin ku segera sampai rumah dan tidur." gumam Kiana.


Selama perjalanan, Kiana menyumpal kedua telinganya dengan earphone. Tak lama setelah itu, mobil yang ditumpangi Kiana tiba-tiba berhenti.


"Maaf Mbak, sepertinya di depan sedang ada tawuran antar geng." ucap sang supir memberitahu.


Kiana langsung menatap ke arah depan dengan mata sedikit memicing.


"Kita putar balik aja, ya Mbak. Mungkin akan sedikit jauh, dari pada nungguin mereka kelar pasti sangat lama. Apalagi polisi belum datang." ucap supir taksi lagi.


Kiana menggelengkan kepala dan mengamati sekitar, ternyata akibat tawuran itu menyebabkan banyak kendaraan yang putar balik. Kiana membuang napasnya secara kasar saat mengetahui jaket dari dua kubu yang sedang baku hantam. Mereka adalah Tiger dan Srigala.


"Bentar ya Pak. Kayaknya mereka perlu siraman rohani, biar nyadar kalau jalan ini bukan punya nenek moyang mereka," ucap Kiana sambil mengikat rambutnya secara asal dan keluar dari mobil taksi.


Hal itu membuat sang supir membelalakkan matanya. Hendak menahan, namun gadis itu sudah berjalan ke perkumpulan perkelahian antar geng.


Suara bogeman terdengar memasuki pendengaran. Gadis itu berdecak kesal sebelum pandangannya tertuju pada satu titik. Azam dan Devan sedang baku hantam.


"Mati aja lo, biar beban dunia berkurang," sentak Azam sambil menendang perut Devan hingga tersungkur ke aspal.


Devan berdecak kesal. Cowok itu kembali bangun dan memberi bogeman di pipi Azam. "Mending lo aja deh. Nggak sudi gue hirup udara yang sama dengan titisan setan kayak lo!" ucap Devan.


Melihat Devan membuat dada Kiana kembali mengingat pengkhianatan yang dilakukan oleh Devan. Dada Kiana terasa sakit dan sesak dan hal itu membuat ia emosi. Padahal ia sudah meyakinkan diri untuk tidak menangis lagi karena seorang penghianat. Namun sialnya dia lemah!


"STOP!" teriak Kiana kencang. Membuat pergerakan dua geng itu terhenti dan menoleh ke arah Kiana.


Azam begitu terkejut melihat kehadiran Kiana. "Pergi, Ki! Disini bahaya buat lo!" peringat Azam yang tidak dihiraukan Kiana.


Gadis itu terus saja berjalan menghampiri Azam dan Devan. Napasnya memburu saat netranya bertubrukan dengan Devan orang yang dulu sangat dicintainya.


Plak!


Tanpa di duga oleh semua orang, Kiana menampar pipi Devan di depan semua anggota geng Tiger dan Srigala.


"Penghianat," desis Kiana. Ternyata, rasa cintanya terhadap Devan membuat emosinya meluap sekarang, hingga dirinya tidak bisa mengontrol diri.


"Lo penghianat Van! Kenapa lo jahat banget hah?" murka Kiana, ia mendorong dada Devan yang diam mematung dengan raut wajah bingung.


Hening. Semuanya menatap Kiana penuh dengan tanda tanya, apalagi saat melihat gadis itu yang kini tengah menangis.


"Ki....," panggil Azam yang di balas ucapan pedas oleh Kiana.


"Diam bangsat! Gue nggak ada urusan sama lo." ucap Kiana dengan penuh penekanan. Matanya yang di basahi cairan bening kembali menatap Devan lagi.


"Selama ini gue udah percaya sama lo, Devan! Percaya banget, tapi kenapa lo malah hianatin gue? Lo nggak tau betapa hancurnya gue saat tau lo malah tunangan sama Sari! Gue hancur Dev!" ucap Kiana dengan emosi yang tidak terkontrol. Kiana tidak sadar dengan tatapan heran semua orang.


Devan menatap manik hitam itu dengan kening berkerut sesaat. "Lo.... Siapa?"


Kiana tersentak dengan mata berkilat semakin tajam. "Setelah lo hianatin gue, lo pura-pura lupa...." Napas Kiana tercekat saat ia tidak sengaja melihat pantulan wajahnya di kaca helm yang di gunakan salah satu anggota Srigala yang sedang berdiri di sebelah Devan.


"Ki...." Azam memanggil Kiana lagi.


Gadis itu tidak merespon sama sekali panggilan Azam, dengan segera ia menyeka air matanya dengan kasar. "Takdir sialan!" gumamnya.


"Bubar," ucap Kiana pelan. "BUBAR SEKARANG JUGA GUE BILANG!"


Masih hening dengan menatap Kiana dengan heran. Baru kali ini ada yang menghentikan perkelahian Tiger dan Srigala kecuali polisi.


Melihat tidak ada pergerakan membuat Kiana kembali kesal. Gadis itu mencabut sepatunya dan menatap mereka tajam. "BUBAR! JANGAN SAMPE SEPATU MAHAL GUE MELAYANG KENA MUKA JELEK KALIAN SEMUA!" teriaknya kesal.


"CEPAT BUBAR!" Kiana melotot dengan garang.


PRAKK!


Mereka tersentak saat sepatu hitam mahal itu di banting keras ke aspal. Azam memberi kode kepada anggotanya untuk pergi menyisakan anggota inti saja, begitu juga dengan Devan.


"Lo kenal gue?" tanya Devan, matanya menelisik iris mata hitam Kiana yang masih berkaca-kaca. Pandangan itu sangat terasa familiar bagi Devan.


Pandangan mereka bertemu lama. Tanpa di pikir, sebuah tamparan keras melayang di pipi Devan lagi.


"Bajingan kayak lo pantes dapat tamparan dari gue!" ucap Kiana ketus.


"Pulang sekarang, Zam." Kiana menarik tangan Azam untuk pergi dari hadapan Devan dan teman-temannya. "Gue pulang bareng lo," lanjut Kiana sambil berjalan dengan kaki kiri yang hanya di lapisi kaos kaki saja. Sepatunya ia biarkan dan tidak dia ambil kembali. Biarlah dengan sepatu itu, lagipula mertuanya kaya raya jadi Kiana tinggal minta yang baru lagi.


Azam hanya menurut saja dan menaiki motornya begitu juga dengan Kiana yang sudah duduk di jok belakang. Pemandangan yang sangat langka, untuk pertama kalinya Azam membonceng cewek selain Elsa.


Rasa penasaran Azam terhadap hubungan Kiana dan Devan semakin membuncah dengan kejadian tidak terduga barusan.


Azam menyalakan motornya. Kiana dan Devan saling tatap dengan pandangan Devan yang menyimpan sebuah kerinduan.


"Gila, untuk pertama kalinya ada yang hentikan tawuran geng kita selain polisi." ucap Bima, cowok berambut ikal salah satu inti Srigala. "Eh Bos, lo kenal sama cewek tadi?" imbuh Bima.


Devan tidak menjawab. Ia terdiam dengan pikirannya sendiri. Dirinya sangat bingung dengan yang terjadi barusan, siapa gadis itu sebenarnya itulah yang ada di pikiran Devan saat ini.


"Dia kan istrinya Azam, kalau nggak salah namanya Angelina Kiana." ucap Adit.


Mendengar nama Kiana membuat Devan menoleh pada Adit. "Kiana?" ulangnya membuat teman-temannya bungkam.


Mereka semua sangat yakin bahwa saat ini Devan kembali mengingat mendiang pacarnya yang baru saja meninggal.


"Lo harus ikhlas, Van. Kia udah tenang sekarang." ucap Bale si cowok pendiam dan penggali informasi dari geng membuka suara.


Tangan Devan terkepal dengan kuat.


"Btw cewek tadi ngingetin gue sama Bu Boe. Ingat nggak, waktu Bu Bos pergoki kita lagi minum di Club? Sama persis kayak cewek tadi marah-marahnya." ucap Bima yang tiba-tiba mengingat mendiang Bu Bos nya yang sudah pasti adalah Kiana.


"Iya, dia hampir lempar sendal ke gue juga." imbuh Adit.


Devan menunduk sedih, ia begitu merindukan pacarnya juga. Dan cewek bernama Angelina tadi membuat Devan melihat kepribadian pacarnya. Tatapan matanya tadi, menyiratkan kekecewaan yang mendalam dan Devan menyadari itu. Namun ia bingung juga, kenapa bisa cewek itu mengenal dirinya?


****


... Satu kata buat part ini, mau bilang apa sama Kiana, Azam, Devan....ditunggu like dan komentarnya kakak......