
Kiana segera pergi keluar rumah dan melihat Azam yang sedang duduk di kursi sambil mengatur napas. Cowok itu terlihat mandi keringat, bahkan kaos polosnya sudah basah dan tercetak di badan, hingga tubuh atletisnya terpampang jelas.
"Mau kemana, Kia? Bukannya lo masih sakit?"
Kiana yang awalnya ingin pergi begitu saja, harus mengurungkan niatnya saat mendengar suara Azam. Ia menoleh dan mendapati Azam yang sedang menatapnya.
"Mau keluar bentar, ada urusan. Lagian gue cuman demam biasa, dan itu nggak akan buat gue lemah dengan harus mengurung diri di rumah terus."
"Ya tapi tetap aja Kia. Lagian urusan apa yang penting banget sampe lo harus keluar rumah segala?" Azam bertanya lagi.
"Kepo amat hidup lo,"
Azam menghela napas, menghadapi Kiana harus ekstra sabar. Istrinya sungguh keras kepala.
"Gue pergi," lanjut Kiana namun dengan sigap Azam mencekal lengannya.
"Biasakan mulai sekarang kalau mau kemana-mana izin sama suami dulu, Kia. Jangan main pergi gitu aja, nggak sopan namanya," ucap Azam dengan suara beratnya.
Kiana menghela napas panjang. "Gue mau keluar sama Alira dulu," ucap Kiana. "Udah izin kan? Jadi lepasin tangan gue."
Kiana hendak menyentak tangan Azam namun hal itu tak kunjung membuat ia terlepas, genggaman Azam yang sangat kuat. Jika saja tidak berada di rumah, mungkin ia akan menginjak kaki Azam saat ini juga. Cowok itu selalu membuatnya kesal.
"Gue belum kasih izin, Kia. Jangan main pergi gitu aja," ucap Azam lagi, ia menarik lengan Kiana hingga gadis itu berada di antara kakinya.
"Jangan mancing emosi gue deh, Zam. Alira udah di depan dari tadi nungguin gue. Lepas ah!" Kiana berusaha melepas pegangan Azam, namun usahanya sia-sia.
"Salim dulu, restu suami itu penting loh, biar selamat selama perjalanan," ucap Azam membuat Kiana menggeram.
"Azam! Jangan buat gue kesel deh, Alira udah nungguin," decak Kiana. Ia menatap Azam dengan tajam.
Azam tetap kekeuh. Cowok itu menggelengkan kepala tanda jika tidak mau menuruti keinginan Kiana. "Salim dulu, baru gue lepas," titah Azam membuat Kiana memejamkan mata menahan emosi yang ingin meluap.
"Yaudah iya, nih gue salim." Dengan perasaan dongkol, Kiana mencium tangan Azam dan langsung menyentaknya setelah selesai.
Azam terkekeh dan berdiri hingga ia bisa menjangkau Kiana yang hanya sampai di pundaknya.
"Hati-hati di jalan, kabarin gue kalau ada apa-apa ya," ucap Azam lembut sambil menepuk-nepuk pucuk kepala Kiana.
Kiana membalasnya dengan berdeham malas dan berlalu pergi keluar menghampiri mobil Alira, meninggalkan Asam yang sedang cengar-cengir tidak jelas.
"Njir tangan gue di cium sama dia," ucap Azam bangga. Sudah dua kali punggung tangannya di cium oleh istrinya, pertama saat selesai ijab kabul dan kedua saat Kiana sedang pamitan tadi. Walau dengan paksaan.
Namun Azam baru merasakan sensasinya tadi, untuk yang lalu ia tidak merasakan apa-apa. Bagaimana mau merasakan sensasi bapernya, orang saat ijab kabul dulu Azam masih membenci seorang Angelina. Kini semua sudah berbeda, Azam sudah mulai merasakan bucin, bahkan tanpa ia sadari, jika gengsinya telah lenyap jika sudah berhadapan dengan Kiana.
****
"Lama banget sih," decak Alira. "Apa jangan-jangan terjadi sesuatu sama dia? Wah nggak bisa dibiarin nih, gue harus masuk ke dalam," Alira berucap sambil menoleh ke arah rumah yang Kiana tempati.
Alira sudah membuka pintu mobil dan baru menurunkan satu kakinya, dan diwaktu yang bersamaan Kiana sudah tiba di depan mobil.
"Al, sorry lama." ucap Kiana.
"Lo nggak papa kan? Masih ada yang sakit?" tanya Alira panik.
"Gue udah mendingan kok, lo tenang aja." ucap Kiana membuat Alira bernapas dengan lega.
"Terus tadi lama ngapain?" tanya Alira penasaran.
"Itu tadi sebelum gue kesini ketemu sama Azam!" ucap Kiana. "Yaudah yuk kita jalan sekarang." lanjut Kiana sambil membuka pintu mobil.
Alira mengikuti keinginan sahabatnya dan mulai menjalankan mobilnya. Saat ini, mereka berdua ingin menuju rumah seseorang.
"Lo punya urusan apaan sih, sampe ngajak gue nyari rumah ustadz?" tanya Alira pada Kiana yang tengah asik mendengarkan musik.
"Urusan agama. Mau balik ke jalan yang benar gue," jawab Kiana di akhiri kekehan kecil.
Tujuan Kiana menemui ustadz, ia ingin masuk agama Islam. Walaupun memang tubuh yang ia tempati seorang muslim, namun tetap saja jiwa yang di dalamnya tidak.
Kiana sudah memikirkan hal ini beberapa hari belakangan, dan akhirnya ia mengambil keputusan jika ia ingin masuk Islam. Keputusan ini murni dari dalam hatinya, bukan karena ikut-ikutan atau paksaan dari pihak lain.
Karena Kiana tahu, ini tentang keyakinan bukan mainan. Jujur saja, Kiana sudah la ingin menjadi seorang muslim, hal itu terjadi saat mendengar ceramah dan juga lantunan ayat suci Al-Qur'an dari teman sekelasnya sewaktu di SMA Pancasila lalu yang membuat hatinya tersentuh.
"Mau tobat nih ceritanya?" tanya Alira dengan terkekeh renyah.
"Hu'um. Baru sekarang nyadarnya hahaha."
Tidak butuh waktu lama mobil Alira berhenti di sebuah rumah dengan desain minimalis yang sangat elegan. Kemudian keduanya beranjak turun untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum," ucap Alira sambil menekan bel. Belum ada sahutan, jadi Alira mengucapkan salam terus hingga akhirnya pintu bercat putih itu terbuka, menampilkan seorang wanita paruh baya dengan pakaian gamis berwarna hitam bercorak abu-abu gelap lengkap dengan hijabnya.
"Wa'alaikumsalam, Alira ya?" ucap wanita paruh baya itu dengan senyumannya.
Alira tersenyum. "Iya Tante. Pasti Papi udah kabarin ya, kedatangan aku ke sini," balas Alira. Ia memang meminta bantuan pada Papinya untuk memberi kabar jika ia ingin datang kesini, tujuannya hanya agar mereka tahu saja.
Terlebih ini pertama kalinya Alira datang ke sini, alamat rumah saja dapatnya dari sang Papi.
****