
Di rooftop Kiana di buat kaget saat Azam tiba-tiba berjongkok di depannya dan memasang wajah kesal. Matanya terlihat berkaca-kaca, hal itu membuat Kiana di buat semakin heran.
"Pengen bunuh Devan sama Davian... Berani banget mereka minta izin kayak gitu," ujar Azam, bibirnya memberengut kesal membuat semua orang terheran-heran dengan tingkahnya.
Hello kerasukan Jin jenis apa orang ini barusan? Sangat mengherankan sekali tingkahnya kali ini. Apa karena sudah terlanjur bucin atau apa, entahlah.
"Lihat nih, wajah ganteng aku sampe babak belur. Sakit tahu," adunya semakin menjadi-jadi pada Kiana, hal itu membuat Kiana tersedak ludahnya sendiri. Demi apapun, Kiana tidak habis pikir dengan sikap Azam saat ini.
"Dulu benci sekarang bucin. Bukan maen." celetuk Bian, ia bertepuk tangan dengan kepala menggeleng. Ikut terkejut dengan perubahan sikap sahabatnya.
"Kurma is real," timpal Jeje, cowok setengah cewek itu masih setia melingkarkan tangannya di lengan kekar Bian. Jangan salah paham, sikap Bian dan Jeje memang begitu.
"Karma ogeb, bukan Kurma." Bian menggeplak kepala Jeje membuat Jeje kesal dan membalas menonjok wajah Bian, entah terlalu kuat atau memang Bian yang lemah, hingga ia terlihat sampai mimisan.
Sebelum di sadari oleh teman-temannya, Bian langsung menyekanya, beruntung darah yang keluar tidak terlalu banyak jadi Bian masih aman. Ia hanya tidak ingin di ejek oleh teman-temannya hanya karena mimisan akibat di tonjok Jeje.
Loli yang melihat kehadiran Bian dan Jeje, lantas mendekat dan memisahkan kedua cowok itu. Loli berdiri di tengah dan menggandeng tangan Bian, membuat Jeje melotot tidak terima.
"Heh! Mau jadi pelakor lo hah! Berani banget deketin suami Inces!" ujar Jeje sambil menggulung lengan bajunya dan berkacak pinggang.
Loli dibuat meringis. Ia menjulurkan permen kaki yang ia makan ke arah Jeje. "Loli juga mau ikut jejaknya double D deh. Loli izin jadi pelakor di hubungan inces ya, nih Loli kasih perman aja, soalnya Loli males nulis surat," celetuk Loli.
Jeje memasang wajah garang. "Mas, Inces gorok lo yah!" Jeje menunjuk Bian.
Bian tertawa di buatnya. Kemudian ia berputar dan menggandeng bahu Jeje. Kini ia yang berada di tengah.
"Gue pergi dulu ya, istri sama selingkuhan gue lagi pengen di manja," ujar Bian bercanda, ia membawa pergi Loli dan Jeje dari rooftop.
"Manja dengkulmu!" Jeje memukul belakang kepala Bian, membuat Bian dan Loli tertawa terbahak-bahak.
"Zam, lo kesambet Jin jenis apaan?" tanya Kiana heran.
"Hiks... Sakit nih. Mereka buat wajah ganteng aku jadi lecet. Sakit tahu, pokoknya Kia gak boleh dekat-dekat sama mereka lagi. Aku nggak suka!" ujar Azam lagi. Demi apapun, Azam ingin menangis dan juga mengamuk karena kelakuan Devan dan Davian yang dengan berani tetang-terangan mau mendekati istrinya.
Kiana menatap ke arah Alira untuk bertanya mengenai hal langka ini. Namun Alira hanya mengedikkan bahunya dan menggeleng. Alira pun sama terkejutnya dengan tingkah Azam yang berubah drastis.
"Ayo aku bantu obati di UKS. Luka kamu banyak banget, itu memarnya juga perlu di kompres." Elsa menatap ke arah Kiana yang tengah menatap datar dirinya. "Angel....ehh, maksudku Kiana, aku boleh izin obati Azam? Aku khawatir banget sama dia, gimanapun Azam sahabat aku dan aku gak tega banget liat dia luka kayak gini. Dari pada kamu cuman liatin dia dan gak ada rasa khawatirnya, padahal kamu istrinya. Jadi biar aku aja ya?"
Wajah Kiana semakin datar saat mendengar ucapan terakhir Elsa. Kalimat cewek itu tersirat nada sindiran untuknya.
Kiana terkekeh. "Lo mau caper sama Azam? Lagian luka kayak gini udah biasa badi dia. Kalau lo lupa, biar gue ingetin, Azam itu ketua Geng. Jadi masalah luka, lebam, atau cuman goresan udah biasa bagi dia."
Elsa mengerjap. "Tapi Azam juga manusia, Ki. Pasti luka kayak gini sakit juga. Kalau kamu gak mau obati Azam, gak papa, masih ada aku. Ayo Zam, kita ke UKS sekarang." Elsa menarik lembut bahu Azam agar mau berdiri.
Azam mulai berdiri dan menatap Kiana dengan kecewa. Ia mengira ada sedikit rasa kasihan terhadap dirinya untuk sekarang ini. Tapi kenyataan justru menamparnya untuk kembali sadar bahwa Kiana tidak peduli dengan dirinya.
Elsa tersenyum senang saat melihat Azam menurut dan mau diobati olehnya, rencananya tidak boleh sampai gagal, jangan sampai ia kehilangan kesempatan buat dekat dengan Azam.
"Lo kelewatan Ki, Elsa lebih baik ketimbang lo." ucap Azam sambil menatap wajah Kiana tajam.
Kiana hanya diam tanpa membalas perkataan Azam sama sekali. Dirinya sedang malas berdebat sebenarnya.
"Ayo Sa, kita pergi dari sini!" Azam berucap dan memeluk Elsa di depan Kiana.
Kiana tersenyum miring melihat itu. Ia sudah menduga, sifat Azam yang merengek manja tadi hanya kepura-puraan.
Kiana berdecih, ingin muntah saja melihat adegan di depannya. "Cepat sana kalian pergi. Jangan sampai tangan gue sendiri yang buat nyeret kalian pergi. Hush sana-sana. Bisa mual beneran gue lama-lama liat kalian." ujar Kiana malas.
"Kiana!" Azam berseru pelan namun dingin.
"Nggak terima ya?"
Memejamkan mata sejenak untuk menahan emosi. Azam langsung berbalik pergi dan menarik tangan Elsa dengan lembut.
"Gue selingkuhin balik baru tau rasa lo, Zam," gumam Kiana pelan.
****