I Love You Ketos

I Love You Ketos
part 09



...Aku tidak gagal mencintai nya...


...Hanya saja aku bukan pilihan nya...


...Alqiya julfiana Dananta...


           __________________________________


Kriiiinggggg


Bel istirahat berbunyi dengan nyaring, kantin pun di penuhi oleh semua siswa. Ada yang rela berdesak-desakan untuk mengantri ada juga yang masih berdiam diri menunggu sedikit kosong.


Setelah liburan kemarin, hari ini belajar seperti biasa tidak ada yang nama nya freeclass. Padahal semua siswa sudah mengeluh cape kepada hampir semua guru yang masuk kelas.


"Mau nunggu si qiya dulu apa kita pesenin aja sekalian?" Tanya fika


"Menurut gue si mending pesenin aja sekalian, mumpung ga terlalu ngantri juga. Kalo nunggu si qiya dulu kelamaan, gimana?" Mawar menyahut


"Dra, lo yang pesenin makanan ya? Gue yang pesenin minuman, biar ga lama." Ujar fika."Dan ga usah banyak protes ini keputusan gue, karena gue yang mesen jadi .. pesanan nya samain aja oke?" Lanjut nya


Mereka bertiga mengangguk seraya mengiyakan saran dari fika


Sedangkan fira sedang ketoilet sebentar


Di sisi lain qiya izin ke pada teman-teman nya untuk ke ruang osis sebentar karena ada perlu .


Sesampai nya di depan pintu ruang osis, qiya tak sengaja mendengar ungkapan sayang di lontarkan dari mulut daren, ya itu pasti daren dia tau betul suara khas milik daren. Dalam fikiran nya apa mungkin dia sedang menelpon kekasih nya itu. Dada nya merasa sesak, baru aja kemarin dirinya di buat melayang oleh perlakuan daren kemarin, lantas kenapa hari ini dia merasa di hempaskan kembali.


Tanpa permisi air mata lolos dari kelopak mata qiya," aku kurang apa si ren?" Gumam nya sembari memegang dadanya sakit," apa yang bikin kamu tertarik sama cewe itu?" Lanjut nya dengan lirih.


Dengan segera mungkin ia menghapus jejak air mata nya dan seolah - olah tidak tau apa-apa,


Qiya pun memberanikan diri untuk mengetuk pintu, karena memang tujuan nya ingin ke ruang osis sebab ada lembaran kertas yang tertinggal yang belum sempat ia ambil, tapi sayang nya dirinya harus mendengarkan pembicaraan yang tidak semestinya ia dengar,


Tok tok tok


Ceklek


Tangan nya memegang knop pintu seraya membukanya, dan disana ada daren sendirian duduk di kursi khusus osis, tidak lama daren memutuskan sambungan nya.


"Santai aja kali ren, gapapa kalo masih mau telponan sama cewe lo itu," dengan nada yang sebisa mungkin terlihat tenang, padahal dalam hatinya sangat ingin berkoar-koar." Gue kesini cuma mau ngambil kertas ini doang," sambil memperlihat kan kertas itu ke hadapan daren," lanjut nya


"Lo ga ke kantin ren,"


"Lo duluan aja ntar gue nyusul,"


"Oh .. yaudah," ketika hendak membalikan badan, daren memanggil kembali


"Eh qi bentar, gue pengen ngomong ," ujar nya dengan serius


"Ngomong apa," dalam fikiran nya apa mungkin dia akan meminta maaf kepadanya.


"Soal kejadian di bandara, gue ga maksud buat ngelakuin itu sama lo, dan maaf undah lancang," ujar daren dengan santai nya


Daren sangat merutuki dirinya sendiri karena saat itu tidak membedakan kekasih nya dengan qiya. Ya dia sudah tau karena fira memberi tau nya lewat telepon barusan.


Qiya hanya memalingkan wajah nya ke arah lain, karena saat ini rasanya sedang tidak ingin melihat wajah daren.


"Dan soal hubungan kita," daren menjeda ucapan nya yang membuat qiya semakin penasaran." Lo mau kan kita kerja sama buat batalin pertunangan kita ini, lo bicarain masalah ini sama orang tua lo, dan begitu pun gue" sambung nya


"Apa yang bikin lo tertarik sama cewe lo itu? Dan apa yang kurang dari diri gue? " Bukan nya menjawab, qiya justru bertanya


" Ga ada alasan buat gue untuk jatuh cinta sama cewe gue," ujar nya," gue tegasin sama lo .. kalo lo itu cuma orang baru yang udah buat hubungan gue makin rumit," jelas nya," gue yakin lo itu cewe baik qi, dan gue rasa lo sesama cewe ga mungkin mau ngerusak hubungan orang lain,"lanjut nya


"Gue ga mau putusin pertunangan kita titik!!, Gue ga peduli sama cewe lo itu" Dengan nada tidak bersahabat seraya pergi meninggal kan daren sendirian di ruang osis


Aargggghhh


Daren mengacak-ngacak rambut nya dengan frustasi.


"Lah dimaatiin lagi. Apa jangan-jangan .. ada orang lain dateng ya?" Fikir fira yang berada di dalam bilik toilet. " Bodo ah mending balik kantin , takut mereka nunggu lama,"


Kedatangan fira dan qiya secara bersamaan namun dari arah yang berbeda,


"Tinggal satu orang lagi nih si ketos ,lama amat dateng nya udah laper juga ini perut gue minta di isi," ucap mawar


Srupuuutt sruuupuuuuttt


"Tinggal makan aja ngapain harus nunggu si ketos," ujar mahendra sembaru menyeruput kuah bakso


"Gue mah setia kawan, ya meski pun bukan temen gue si," jelas nya dengan bangga" tapi .. iya juga si makan aja ah laper," dengan menampilkan deretan gigi nya


Fika yang duduk di sebelah fira, siku tangan nya menyenggol pinggang fira.


"Hmmm?"gumam fira seraya bertanya apa


Mata fika tertuju ke pada qiya yang terlihat sedang bad mood, fira pun ikut menoleh ke arah depan yang memperlihat kan kakak nya seperti sedang tidak baik-baik aja.


"Kenapa lo qi? Kusut amat itu muka kaya lap pel yang ga pernah di cuci," celetuk mawar tanpa dosa.


Kedua lelaki yang ada berada di sana juga ikut menoleh ke arah qiya, " iya qi lo sedikit beda, ada masalah?" Tanya mahendra


"Barusan lo abis dari ruang osis kan? Apa ada yang gangguin lo ?" Fika yang penasaran akhirnya ikut juga bertanya


Qiya melipat kedua tangan nya di atas meja sembari melirik satu per satu teman-teman nya, ketika hendak ingin mengutarakan unek-unek yang ada di dalam hati nya, al hasil ia urung kan karena melihat daren yang baru datang bergabung.


"Lah qi, lo ga jadi mau cerita? Penasaran nih gue,"ujar fika dengan nada nya yang lesu.


"Ngeliat lo yang murung kaya gini, gue jadi ga tega qi ," ucap mawar ," cerita sama kita-kita, kali aja bisa bantu yakan guys," lanjut nya seraya meminta persetujuan dari teman-teman nya.


"Ga pantes banget bu ketos murung ,kaya orang kemasukan arwah," celetuk mahendra mencairkan suasana ," aawww," mahendra merasakan sakit di lengan nya karena terkena cubitan yang sangat keras hingga menimbulkan bekas merah. ," Ga kira-kira lo fir, sakit banget ini tangan gue sampe membekas," lanjut nya mengaduh kesakitan


Fira melotot ke arah mahendra karena ucapan nya itu.


" Iya iya fir maaf ," ketika mendapat tatapan tajam dari fira , seketika nyalira menciut.


"Lanjutin makannya bentar lagi masuk," ujar fira dengan cuek.


            _______________________________


"Gue sama mawar balik duluan ya guys? Byeee ,"ujar fika


Mereka memang satu arah, bahkan satu komplek jadi sudah tidak aneh lagi jika melihat mereka berdua pergi dan pulang sekolah bersamaan.


"Duluan yaa," ucap mawar


Si kembar hanya menunjukan senyuman sebagai jawaban.


"Wes wes wes, tumben kalian belum balik? Jemputan nya belum dateng? " Tanya mahendra yang baru sampai parkiran dengan di temani oleh daren dan tiko


" Masih lama fir jemputan nya?" Tanya tiko


"Gatau ko, tadi bilang nya lagi ke bengkel dulu, soalnya tiba-tiba mogok. Dan sampe sekarang belum ngabarin lagi," jelas nya


"Bareng gue aja, biar si qiya sama daren," ujar tiko berpendapat


"Enak lo berdua punya gandengan, sedangkan gue ?" Mahendra mendelik ta suka ke arah ke dua teman nya


"Lo tinggal pilih aja antara mawar sama si fika," sahut tiko sekena nya


"Ogah anjrot, lo kalo ngasih saran ga ada bagus-bagus nya banget heran samaa temen sendiri," gerutu nya


"Mereka ga jelek-jelek amat kali dra, boleh lah kalo sama lo," sahut daren


"Sama aja lo berdua, menjerumuskan teman nya sendiri,"


Tiko hanya mengedik kan bahu nya acuh


Sedangkan daren tertawa puas


"Ga ada yang bener punya temen, cuma gue doang yang waras,"ucap mahendra


"Setressss," ucap daren dan tiko bersamaan


Mahendra yang mendengar itu pun mengelus dada nya seraya bersabar.


Fira dan qiya hanya menatap heran ke pada ketiga nya.


"Jadi? Mau ga fir?" Tiko menanyakan tawaran nya kembali


"Boleh deh, tapi bentar mau ngabarin supir gue dulu biar ga jadi jemput." Ujar fira ," mmmm ka? Gue bareng tiko aja ya balik nya


"Adek gue jangan sampe lecet ya," ancam qiya kepada tiko


Sedangkan yang di ancam hanya memutar bola mata nya malas, kemudian mereka pergi keluar area sekolah, di susul mahendra yang ikut pamit pergi.


Kini hanya ada daren dan juga qiya


"Gue ga akan maksa buat lo anterin pulang," ujar qiya ," duluan," kemudian berjalan kaki menuju halte sekolah untuk mencari taxi.


Ketika sedang fokus mencari taxi lewat, malah terdapat motor besar berhenti di depan nya.


"Naik," perintah daren," gue ga mau kena amukan adek lo,"


"Gausah, nanti biar gue aja yang ngomong supaya dia ga marah sama lo,"


"Naik!!" Perintah nya lagi ," gausah keras kepala gue ga suka ngeliat kelakuan lo yang kaya bocah,"


Dengan terpaksa dia menaiki motor besar milik daren yang berwarna hitam. Ucapan daren lagi dan lagi menggores kan luka di hati nya, apakah dirinya akan mampu bertahan lama dengan daren? Sedangkan dirinya tidak pernah di perlakukan dengan baik.


Apa yang harus ia lakukan supaya daren bisa menjadi milik nya . Mungkin dengan cara menemui kekasih daren misal nya?, Tapi di mana ia bisa menemui cewe itu? Sedang kan daren tidak pernah mempublis hubungan mereka. Itulah yang ada di fikiran qiya sekarang ini


"Qi? Lo oke kan?" Tanya daren degan cukup keras


"Eh iya ren kenapa?"


"Turun!! udah nyampe," ucap nya dengan ketus


"Oh iya udah sampe," ujar nya dengan linglung


"Lemot," dengan mendelik kan matanya, "dari tadi gue panggilin ga nyahut-nyahut," lanjut nya ," kalo mau bengong jangan di motor gue!! Gue ga mau ya tanggung jawab kalo lo kenapa- napa,"


Qiya hanya memutar bola mata nya dengan malas," lebay lo! Gue ingetin ya,"kaki nya melangkah ke depan agar badan nya lebih dekat dengan daren," meskipun sikap lo ga meng enakan ke gue. Bukan berarti gue bakal nyerah .. karena udah gue bilang itu ga akan pernah terjadi ren, paham?" Setelah mengucapkan itu qiya langsung pergi melangkah kan kaki nya ke dalam rumah tanpa mengucap kan sepatah kata pun.


"Gue ga per du li ,"  teriak nya dengan penuh tekanan