
Malam yang di hiasi dengan deras nya air hujan serta kilatan-kilatan putih yang menyambar terlihat dengan jelas
Seorang perempuan yang berada di bilik kamar bernuansa hijau mint itu sedang termenung memikir kan satu nama, yang akhir-akhir ini bersarang di dalam kepalanya. Dia Zafira Auliana Dananta
"Ko gue ngerasa... Kalo Beryl kaya kurang sehat ya?" Ujar nya bermonolog sendiri
" Apa dia sakit?"
"Kemaren aja muka nya sampe pucat begitu," sembari membayang kan wajah Beryl
"Telepon Beryl ah" Fira sudah memiliki nomor Beryl kemarin, karena ia meminta nya untuk sekedar tukar kabar
Nomor yang anda tuju tidak dapat menjawab panggilan ini cobalah bebera...
Tut
Sudah kesekian kali nya Beryl tidak menjawab panggilan Fira
"Sekali lagi," final nya
Nomor yang anda tuj...
Tut
"Nyebelin banget si lo," gerutunya," sibuk banget, seleb juga bukan"
"Kenapa lo,"
"Astaghfirullah," Fira terkaget dengan kedatangan Bara yang tiba-tiba ada di dalam kamar nya
"Ngetuk pintu dulu Baaaarrr , kaget gue jadi nya,"
"Udah beberapa kali gue ketuk pintu Fira cantiiiiikkkk, cuma lo ga nyahut-nyahut, jadi nya gue masuk aja.," Ujar nya dengan santai
"Kenapa lo tiba-tiba budeg begitu?"
"Enak aja ngatain gue budeg," ucap nya tak terima
"Lah ngamok dia,"
"Gue cuma ga denger aja bukan budeg,"jelas nya
"Apa bedanya," gumam Bara
"Jelas beda dong, nih ya gue kasih tau. Kalo budeg itu penyakit dan kalo ga denger itu ya ga di sengaja,"
"Ga di sengaja apa nya?"
"Ya itu nya,"
"Apa nya? Gue ga ngerti,"
"Ah pokonya itu nya deh, lo gausah ngomong lagi! Males gue jawab nya,"
Memang ya perempuan gamau di salah kan, mau nya menang terus
"Iya iya ga ngomong lagi gue," pasrah nya
"Ngapain kesini?" Tanya Fira
"Mau minta nomor si Beryl, kemaren kelupaan hehe,"
"Barusan gue telponin udah beberapa kali ga di angkat-angkat," ujar nya dengan lesu," baru aja kita ketemu lagi, eh malah so narsis begini," gerutunya
"Nih nomor nya," Bara pun memasukan nomor Beryl ke handphone nya," makasi Fir,"
"Hm,"
"Lagi ga megang hp kali, makan nya ga dia angkat," pikir Bara
"Ga masuk akal banget, lagian nih ya jaman sekarang mana bisa berjauhan sama handphone?"
"Ga semua orang bergantung sama handphone Fir,"
"Ck,"
"Gue kesini cuma mau minta nomor Beryl doang, kalo gitu gue balik kamar,"
"Tunggu Bar,"
Melihat Bara hendak membuka pintu, Fira buru-buru menahan nya
"Kenapa?"
"Ngapain?"
"Yaelah ketemu si Beryl lah, apalagi coba,"
"Kabarin dulu itu anak kalo kita bakal ke sana,"
"Aman itu mah gampang.... Jadi deal ya minggu berangkat?"
Bara mengangguk mengiyakan"gue balik kamar,"
"Oke,"
~~
Di sisi lain di kediaman rumah Daren sedang kumpul bersama seraya menonton acara televisi.
Pikir Daren seperti nya ini waktu yang tepat, setelah beberapa waktu lalu ia selalu gagal," bun, yah,"
Kedua nya menoleh ke arah Daren
"Kenapa nak," tanya bunda nya
Sedangkan ayah nya kembali fokus menatap lurus ke depan tv
"Daren gamau lanjutin pertunangan ini," ucap nya dengan mantap serta penuh ke hati-hatian
Ayah nya yang sedang fokus itu pun merasa kaget dengan penuturan anak nya
"Apa-apaan kamu ini," ujar sang bunda
"Bun... Aku juga pengen bahagia sama pilihan aku sendiri,"jawab Daren dengan lirihan," emang nya bunda sama ayah yakin kalo aku bakalan bahagia sama pilihan kalian?"
Putranya kini sudah beranjak dewasa " ayah ngerti.. kamu ga suka dengan cara yang kami lakukan, karena ayah pikir ini demi kebahagiaan kamu juga,"
"Qiya perempuan baik dan dari keturunan yang baik juga, apa yang membuat kamu ga suka sama dia?" Tanya sang bunda
"Daren .... Udah punya pacar," ujar nya dengan pelan," sebener nya udah lama aku pacaran sama dia, udah setahun ,"
"Kenapa ga pernah cerita?"
"Dia minta buat ga di publish, bun,"
"Siapa perempuan itu?" Tanya sang ayah
"Kalian janji tidak akan marah dengan jawaban Daren?"
"Kenapa harus marah nak?" Ujar ayah nya
"Janji dulu jangan marah,"
"Janji, kita ga akan marah,"
"Fira, Zafira Auliana Dananta,"
"Hah?"
"Daren? Yang benar saja?"
"Ya ampun, bunda merasa bersalah sekali telah menyakiti Fira," ujar nya menyesal," pasti dia kecewa ,"
"Itu benar Daren?"tanya ayah nya
"Iya ayah, aku juga bingung harus bersikap seperti apa sekarang. Menyembunyikan masalah ini dari Qiya juga tidak baik nanti nya, apalagi mereka saudari kembar,"
"Maaf kan ayah nak, yang asal menjodoh kan saja,"
"Aku ga nyalahin kalian, sama sekali engga... Mungkin ini memang sudah takdir nya,"
"Ayah dan bunda akan bicarakan ini dengan keluarga haris,"
"Tapi jangan bilang masalah ini ya? Daren takut yah, bun,"
"Iya kita ga akan bocorin masalah ini, biar kamu aja yang melurus kan. Tapi... Kalo butuh bantuan jangan sungkan bilang sama ayah atau bunda,"
"Siap, makasi udah ngertiin aku.. dan maaf belum bisa jadi anak yang ayah sama bunda ingin kan,"
"Sayang gaboleh berbicara seperti itu, bunda sama ayah justru bangga sama kamu... Kamu mengorbankan segala nya demi kami, maaf ya nak,"
"Gapapa, aku malah bangga punya orang tua yang selalu ngertiin anak nya lebih dari apa pun,"