
Ajar mengajar seperti biasa di lakukan oleh semua murid setiap hari nya tidak ada yang mengganggu sedikit pun
kriiiiingggg
"baik anak-anak, kita sudahi materi hari ini, minggu depan kita lanjut kan kembali,"
"baik buuu,"
"kantin guys," ujar Mawar dengan semangat
"semangat banget War," Qiya terkikik geli melihat tingkah teman nya," ayo ah, keburu ngantri banget, ntar makin lama dapet makan nya,"
"lets go!" sahut Fika
sedang kan Fira diam menanggapi, begitu pun dengan Bara, lelaki itu juga hanya diam saja sedari tadi, bahkan sedari pagi pun konsentrasi nya seperti sedang terganggu
di depan kelas mereka di hadapi dengan ketiga lelaki yang tak lain Daren dkk
Daren melihat tatapan Bara yang sulit di artikan, lelaki itu menatap nya dengan lekat, detik berikut nya Bara memutuskan pandangan kemudian menarik Fira lebih dulu agar berjalan bersama
Qiya hanya acuh melihat Daren, benar saja.. dirinya belum bisa melepas kan Daren sepenuh nya, namun ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja
Suasana kantin terlihat sangat ramai seperti biasa nya tidak ada yang berubah, saat ini mereka sedang menunggu pesanan datang sambil bercanda ria
"gue ga liat si Berlyn dari tadi, kemana itu anak?" tanya Daren basa-basi
"Bara bilang nya dia izin ada urusan keluarga, katanya si sampe Seminggu," jelas Mawar
"seminggu? lama bener izin nya, padahal baru masuk ajaran baru," timpal Mahendra
"penting banget mungkin, kalo ga penting mah gabakal selama itu izin nya," sahut Fika
"urusan nya sepenting itu ya Bar?"Mahendra bertanya pada Bara
"hmm,"
Perasaan Bara kali ini ingin sekali cepat pulang dan menemui Berlyn, seraya melihat kondisi terbaru nya, ia berharap semoga saja ada keajaiban untuk sahabat nya, dan persahabatan kami lengkap tanpa ada yang kurang satu pun.
makanan yang di tunggu-tunggu telah tiba, kini mereka menyantap makanan nya masing- masing, tapi... tidak dengan Bara, dia sibuk mengaduk-ngaduk makanan nya tanpa menyentuh nya sedikit pun
"makan Bar, jangan di aduk terus ntar keburu dingin ga enak," tegur Fira sembari memberi perhatian pada sepupu nya
"iya Fir,"
"gue perhatiin... lo kaya lagi mikirin sesuatu? apa?" tanya Qiya yang ikut menimpali
"ga ada apa-apa,"
Bahkan sikap Bara terlihat cuek tidak seperti biasanya yang akan bersikap hangat pada si kembar, namun kali ini... dia seperti bukan Bara
~~
Bara jalan tergesa-gesa menuju ruang inap Berlyn, bahkan sepulang sekolah dengan tanpa pamit Bara pergi begitu saja dari parkiran dan meninggal kan si kembar
"orang tua lo mana Ber?" tanya Bara yang baru sampai, dan ia tidak mendapati orang tua Berlyn di dalam nya
"eh Bar, lo ga pulang dulu? sampe masih pake seragam kesini nya?"
"males ah, mending langsung ke sini aja," ucap nya sambil cengengesan
"mau pake baju gue aja ga? kalo mau ambil aja di loker," tawar nya
"gausah gapapa, pake ini aja,"
"ntar kekotoran," peringat nya
"tenang, aman, eh iya orang tua lo mana," tanya nya lagi, sebab Berlyn belum menjawab pertanyaan nya
"mereka ke kantin dulu, cari makan, lo juga makan dulu sana,"
"masih kenyang gue mah," ujar nya berbohong, padahal sedari di sekolah dirinya hanya memakan makana milik nya sedikit," gimana perkembangan kondisi lo? oke kan?"
"gue kangen sama Fira Bar," ucap nya dengan pelan
Bara menatap Berlyn sambil menampilkan senyuman," habis lo keluar dari rumah sakit... lo bisa sepuas nya ketemu sama Fira,"
"gamau ah, kalo cowo nya tau.. pasti akan salah paham," ucap nya dengan menghela nafas, dipikir-pikir ... ini tidak akan lama, dirinya yakin hanya dalam hitungan bulan saja semuanya akan berakhir. Dengan berpura-pura kuat di depan Bara membuat nya merasa bersalah, sebab lelaki itu terlalu berekspektasi tinggi pada nya.
Sedari tadi ia sungguh menahan rasa sakit yang di sembunyikan dari Bara, ia tidak ingin sahabat nya itu khawatir, cukup! dirinya tidak ingin merepotkan siapa pun di sini, penyakit nya terlalu mengundang orang-orang tersayang nya menatap iba, dirinya tidak ingin di anggap lemah oleh siapa pun.
keringat dingin mulai bercucuran tak tentu arah, wajah nya semakin terlihat pucat
huek huek
Darah segar keluar dari mulut Berlyn cukup banyak dan mengotori baju, selimut serta seprai yang di kenakan nya sekarang
"Ber!!" pekik Bara yang syok melihat Berlyn memuntahkan banyak darah
Bara segera memencet tombol pemanggil dokter," tahan Ber tahan... gue mohon," lirih nya
"dokter!! dokteeeeerr!!" panggil nya menggema di lorong rumah sakit ketika melihat kedatangan dokter," cepetan dok! "
Berlyn terlihat sangat terkulai lemas tak berdaya, " sembuhkan sahabat saya tuhan, Bara mohon..," lirih nya sembari merapalkan doa terbaik
Saat ini Bara berada di luar ruangan Berlyn, karena dokter menyuruh nya untuk keluar terlebih dahulu.
"gimana keadaan Berlyn Bar?" mamah Berlyn histeris, menangis sejadi-jadi nya di pelukan papah Berlyn
semenjak kejadian Berlyn memuntahkan kan darah, Bara langsung segera menghubungi kedua orang tua Berlyn
"Berlyn kenapa lagi Bar?"tanya papah Berlyn
"Dokter belum keluar om, tan, jadi Bara gatau kondisi Berlyn sekarang,"
Di ujung lorong ada sepasang mata yang mengamati Bara dari kejauhan dan kedua orang yang mungkin ia pikir.. itu orang tua Bara, bukan kah kedua orang tua nya berada di Jerman? pikir nya. Kaki nya melangkah mendekat ke arah tiga orang itu
"Bara," sapa Tiko, ya.. dia Tiko, dia sedang menemani sang adik yang sedang demam sedari malam," om,tan," sambil menyalimi kedua orang tua itu
ketiga menoleh ke sumber suara," Tiko," gumam nya," lo ngapain disini?"
"harus nya gue yang nanya, kenapa lo disini? dan..mereka orang tua lo?"
Bara menoleh ke arah orang tua Berlyn, kemudian menggeleng pelan. Bara berjongkok menekuk kedua kaki nya yang menjadi tumpuan
"kami orang tua Berlyn, apa kalian satu sekolah?"
"Berlyn?" beo nya," e-iya om saya teman Berlyn juga," jawab nya yang masih terlihat bingung. Tak sengaja matanya menatap ke arah ruang inap di depan nya, sebab gorden nya tidak tertutup sempurna hanya setengah saja," Berlyn," gumam nya, ia tidak salah liat kan? yang di depan nya itu... Berlyn? bukan kah Bara bilang jika lelaki itu ada urusan keluarga? namun kenapa berada di rumah sakit?
Tiko ikut berjongkok dan merangkul Bara yang terlihat sedih, dan ia pastikan jika saat ini Bara sedang menangis," dia sakit apa Bar? kenapa lo ga pernah cerita masalah ini?"
Tidak ada jawaban dari Bara, membuat Tiko berdiri dan menghampiri kedua orang tua Berlyn," maaf om, tan, kalo saya boleh tau... Berlyn sakit apa?" tanya nya dengan hati-hati agar orang tua Berlyn tidak tersinggung
"kanker otak," lirih mamah Berlyn
"itu beneran tan?" apa katanya? kanker otak, sungguh kabar yang sangat mengejutkan, kemudian Tiko kembali menuju Bara sambil merangkul nya," sabar Bar, gue yakin Berlyn akan sembuh,"
ceklek
"gimana keadaan anak saya dok?" tanpa basa-basi mamah Berlyn langsung menanyakan keadaan anak nya
"Berlyn kritis, dan kami akan membawa nya ke ruang ICU,"
"dok..." tangis nya semakin pecah, sang suami pun dengan sigap memeluk sang istri seraya menenangkan nya," udah mah, kita doain Berlyn untuk kesembuhan nya,"
tangis Bara semakin tersedu-sedu mendengar perkataan sang dokter
Brangkar yang Berlyn kenakan kini sudah di bawa ke ruang ICU supaya memberikan perawatan yang lebih ekstra
"Berlyn ga bakal suka liat lo nangis begini Bar, doain dia supaya cepet sembuh,"
"lo ga ngerti perasaan gue ko!"
"gue ngerti sangat ngerti, lo terpukul kan? apa dengan lo nangis... bisa bikin Berlyn berubah jadi sembuh? engga kan, makan nya kasi dia doa dari sahabat-sahabat nya,"
"kenapa lo ada di sini?" tanya Bara
"adek gue demam, dan di rawat disini,"jelas nya
"jadi.. tentang Berlyn yang lagi ada urusan keluarga itu.. bohong? kenapa lo sembunyiin masalah besar ini dari sahabat-sahabat lo? kita ini di anggap apa?"
"berisik lo! biasanya juga ga pernah cerewet,"cibir Bara," bukan nya gue ga anggap kalian sebagai sahabat ko, tapi.. Berlyn sendiri yang ngasih amanat ini sama gue. Dan gue mohon... lo juga jangan sampai bocorin masalah ini,"
Tiko hanya menuruti saja, karena tidak mau terlalu ikut campur