
pikiran nya tertuju kepada Fira, bagaimana dirinya membujuk sepupu nya itu supaya dia ingin selalu berdekatan dengan Berlyn tanpa harus terhalang oleh kekasih nya? ia yakin Daren tidak akan menyukai hal ini, terlebih lagi.. saat ini lelaki itu sangat sensitif mengenai Berlyn, akibat acara pelukan yang dilihat nya ketika di dapur saat itu. Ya dirinya tau karena Fira menceritakan nya
"rumit juga ya," gumam Bara," berarti... Daren ga boleh tau masalah ini, supaya Berlyn bisa leluasa dengan Fira dan tentunya Berlyn bisa leluasa merasakan kebahagian,"lanjutnya, terlebih lagi dirinya yakin kondisi Berlyn akan perlahan-lahan membaik jika di beri semangat oleh orang tersayang nya
"Bar? lo oke?" tanya Berlyn yang melihat sahabat nya itu seperti tampak berfikir, tatapan juga kosong mengarah ke depan
"i-iya gue oke Ber," sambil menampilkan senyuman
Sesuai keinginan Bara sejak di sekolah, mereka berdua sekarang berada di Rumah Sakit ternama yang berada di Jakarta
"semangat Ber," ucap Bara menyemangati Berlyn dengan tangan yang mengepal yang di angkat ke atas
Berlyn terkekeh melihat tingkah Bara yang konyol, " semangat ini juga Bar," beruntung sekali dirinya memiliki sahabat seperti Berlyn , ia tidak akan menemui sosok lelaki terbaik seperti Berlyn di mana pun
"nah gitu dong Ber, gue seneng liat lo ketawa kaya gini,"
"gue ketawa karena ada hal lucu, kalo ga ada yang lucu mah ngapain ketawa? dikira orang gila ntar,"
tawa kedua nya sama-sama pecah, namun terhenti karena ada seorang dokter yang masuk ke dalam ruangan Berlyn
"kenapa kamu jarang cek up akhir-akhir ini? kamu tau sendiri kan bagaimana kondisi kamu sekarang? itu akan memperburuk masa penyembuhan Berlyn, " jelas nya," saya harap untuk seminggu ke depan... kamu harus menginap di rumah sakit, supaya kondisi kamu bisa kami kontrol dengan baik,"
"apa itu tidak terlalu lama dok? saya ga mau menginap disini!"tolak nya mentah-mentah
"Ber!"tegur Bara," lakukan yang terbaik buat sahabat saya dok, asal jaminan nya dia bisa sembuh seperti sedia kala,"
"saya akan berusaha sebaik mungkin, kalo gitu saya ambil darah kamu terlebih dahulu, setelah nya kita lanjutkan kemo,"
"huft,"Berlyn menghela nafas lelah, karena ia akan memulai kembali pengobatan nya dari awal
" lo kuat Ber, gue akan selalu ada disini buat lo," Bara berucap dengan sungguh-sungguh
jarum suntik sudah tertanam di lengan Berlyn, dan begitupun dengan darah nya yang terlihat mengalir ke arah kantong putih yang terisi darah yang baru sedikit
Bara menatap ngeri," sakit ga Ber di ambil darah begitu,"
"kalo awal-awal si iya sakit Ber,"ucap nya dengan sedikit rintihan karena ingin mengubah posisi tidur nya," cuma sekarang mah udah biasa,"
"ga kebayang.. lo ngelakuin pengobatan selama ini tanpa ada dukungan dari sahabat-sahabat lo, maaf ya Ber," sesal Bara
"gapapa Bar, gue cuma ga mau kalian tau penyakit gue, dan ini bukan salah lo, bukan juga salah yang lain nya.. ini semua kemauan gue sendiri," Berlyn memberikan pengertian kepada sahabat nya agar tidak merasa bersalah terhadap nya," oh iya, mamah sama papah gue udah lo kasi tau?"
"uda Ber, kata nya nanti sore mereka kesini,"
"kalo mau pulang gapapa Bar, lo ganti baju, mandi terus makan dulu,"
"nanti aja deh, gue mau nemenin lo,"
"ck, pulang dulu aja Bar, gue sendiri juga bisa.. lagian kalo butuh apa-apa juga gampang ada dokter,"
"nunggu orang tua lo datang, baru gue pulang tapi nanti kesini lagi,"
"terserah,"
Tidak ada obrolan lagi setelah nya, hanya keheningan yang mendominasi kedua nya
Merasa tidak ada pergerakan dari Berlyn, ternyata dia sudah tertidur.. mungkin akibat kelelahan
Kasian sekali nasib sahabat nya itu, dirinya sangat bersyukur di beri kesehatan seperti ini