
Eugh
"Eh, Qi udah bangun," ucap Bara yang tadi nya tidur, namun terbangun akibat mendengar lenguhan dari Qiya," Butuh sesuatu? Bilang aja,"
"Engga Bar, maaf udah ganggu tidur lo," balas nya dengan suara lemah
"Gapapa Qi," balas Bara dengan senyum hangat
"Tidur lagi aja, lo pasti ngantuk banget gara-gara jagain gue semaleman," titah Qiya pada Bara, terlihat jelas dari kelopak mata nya yang menghitam, Bara memang benar-benar kurang tidur.
Bara menggeleng kuat seraya meyakin Qiya bahwa dirinya tidak apa-apa." Engga Qi, tidur gue udah cukup ko, lo tenang aja," tentu saja Bara berbohong. Sudah beberapa kali cowo itu menguap, ia melakukan semua ini hanya demi sepupu nya.
"Sini Bar," Qiya menepuk di sebelah tempat tidur nya supaya Bara lebih nyaman dari pada diam di tumpuan pinggir kasur.
Bara pun menurut dengan apa yang Qiya perintah," Kenapa?" tanya nya sambil mengelus puncak kepala Qiya dengan lembut.
""Tidur disini, supaya lo lebih nyaman. Kalo disana... nanti badan lo malah pegel-pegel,"
"Gue mau jagain lo aja,"
"Jangan keras kepala, tidur cepet! mata lo ga bisa bohong Bar," titah Qiya dengan paksa
Memang benar, Bara sangat mengantuk sekali, tapi jika dirinya tidur .. malah takut Qiya butuh sesuatu.
"Tidur Bar, gue baik-baik aja dan akan disini sama lo," titah nya lagi
"Mau peluk boleh?" pinta nya pada Qiya
Dengan gemas Qiya mengacak-acak rambut Bara," Boleh Bar, boleh banget, sini."
Akhir nya ... Bara pun tertidur di pelukan Qiya dengan nyaman, nafas nya sudah terdengar sangat teratur.
Saat ini jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi," Kira-kira .. keadaan Fira gimana ya sekarang?" Qiya memikirkan Fira terlalu larut, sampai kondisi badan nya pun ambruk, mungkin memang efek ikatan batin seorang kembaran," Nanti tanya Bara aja deh, nunggu dia bangun dulu, kasian."
Karena kondisi nya memang belum stabil dengan sempurna, Qiya akhir nya kembali membaring kan tubuh nya dan ikut tertidur bersama Bara. Lagi pula ... saat ini kepalanya terasa pusing jika bersandar terlalu lama.
~~
"Pagi sayang," sapa sang Mamah yang melihat Fira sudah membuka mata
Pertama kali dirinya bangun tidur ... Fira melihat kedua orang tua nya yang sudah setia berada di kursi dekat kasur milik nya.
"Pagi Mah, Pah," balas Fira dengan lembut dan di sertai sebuah senyum hangat
Sang Papah mengusap puncak rambut Fira dengan pelan,"Sekarang .. apa yang kamu rasain nak? Apa masih ada yang sakit?"
"Fira rasa .. udah membaik Pah, sekarang aja... kerasa nya udah kaya biasa aja,"
"Syukurlah, semoga ga lama lagi kamu sembuh total ya sayang," sahut sang Mamah memberi doa
"Aaamiiin Mah, lagian aku juga udah ga betah disini, pengen cepet pulang," balas Fira dengan lesu
"Nanti Papah sama Mamah bicarakan masalah ini sama dokter ya? Kalo dokter bilang kamu udah boleh pulang ... kita langsung pulang oke?"
"Oke Pah, makasi," balas Fira sambil memeluk kedua orang tua nya," Pah, Mah, maafin Fira ya udah sempet bentak kalian," sesal nya
"Gapapa sayang, Mamah sama Papah ngerti, jadi kamu jangan merasa bersalah kaya gitu,"
"Liat kamu yang sekarang aja ... udah bikin kita seneng nak, jangan di ulangi lagi ya? Kita semua khawatir sama kamu,"
Fira mengangguk pelan,"Fira seneng bisa dapetin orang tua sehebat kalian," puji nya
"Kami juga seneng bisa mempunyai anak sehebat kamu dan Qiya,"
"Sudah membaik sayang, biasanya si jam segini Bara suka telepon Mamah buat ngasih tau perkembangan kondisi Qiya, tapi sekarang Mamah belum dapet kabar Dari Bara,"
"Masih tidur mungkin Mah, nanti juga dia telepon," sahut sang Suami
"Hmm, iya mungkin,"
"Bara ga sekolah emang nya?"
"Engga nak, katanya ... Bara ga tega ninggalin Qiya sendirian di rumah, ya meskipun memang ada Art ... tetap saja Bara ingin menjaga nya,"
"Bara baik banget ya? Aku beruntung punya sepupu kaya Bara," Fira sagat bangga sekali dengan sepupu nya itu, akan dirinya pastikan .. jika Fira tidak akan menemukan lelaki seperti Bara lagi di luaran sana.
"Jaga persaudaraan kalian dengan baik, dan kalo ada apa-apa tolong di bicarakan dulu, jangan sampai ada kesalahpahaman di antara kalian,"
"Pasti Mah, jika Bara aja bisa sesayang ini sama aku dan Qiya ... maka aku juga bakalan lebih sayang sama dia,"
"Anak Mamah bikin bangga aja," puji nya dengan terdengar haru
"Mmmmmmm,"
"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya sang Mamah yang terlihat khawatir
"Itu..."
"Itu apa?'
"Kalian ga marah? Kalo aku sama Daren ...."
"Kami ga marah sama sekali, justru disini Papah yang merasa bersalah, maaf ya?" sesal sang Papah yang terlihat jelas dari raut wajah nya
"Jika kami tau dari awala ... kalo kamu punya hubungan sama Daren .. mungkin kejadian nya ga akan seperti ini,"
"Engga, kalian ga salah, justru disini yang salah adalah Fira sendiri yang udah ga publish hubungan Fira sama Daren, alhasil kejadian nya jadi kaya gini,"
"Kamu memang anak baik Fir, Mamah bangga sama kamu," tatapan nya sangat sendu kala mendengar penuturan kata yang Fira lontarkan, ternyata anak nya sebaik ini.
~~
"Kangen banget gue sama si Fira," celetuk Mahendra tanpa tersadar dengan keadaan
Ekhem
Mahendra menoleh ke arah Daren yang berdehem kuat," Kenapa? Kemarau tenggorokan lo?"
Sedangkan Tiko hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, rupanya .. Mahendra tidak menyadari dengan ucapan nya tadi.
"Lo naksir Ren sma gue? Liatin gue sampe segitu nya," Mahendra melihat jelas jika Daren sedari tadi menatap nya dengan tajam, bahkan tidak mengedip sekalipun," Lo kenapa si? Gue ada salah?" Mahendra melirik ke arah Tiko untuk membantu nya, dan sial nya Tiko malah mengangkat bahu nya dengan acuh.
"Sekali lagi lo ngomong kangen sama Fira ... gue tonjok juga muka lo!" desis nya tak terima. Meskipun Mahendra adalah teman nya .. tetap saja Daren tidak suka jika kekasih nya di kangeni oleh teman nya.
"Buset dah Ren ... jadi cuma karena itu lo marah sama gue?" Mahendra tidak percaya jika Daren seposessif ini
"Cuma lo bilang? Heh asal lo tau ya .. gue ga terima kalo cewe gue lo kangenin! Paham?!"
"Iya elah maaf Ren, masa sama temen sendiri cemburu? Lagian juga si Fira ga bakal doyan sama gue."
"Cemburu gue ga pandang bulu!" sarkas nya
Aksi obrolan mereka terhenti kala seorang guru sudah memasuki kelas.