
Matahari bersinar cerah tapi tidak secerah wajah qiya, ya dia terlihat tidak seperti biasan nya... Murung dan lesu
Ketika yang lain sedang asik mengobrol di dalam kelas, namun qiya hanya diam saja berkutat dengan isi kepalanya
Memorinya mengingat kejadian kemarin, yang di mana dirinya bertemu dengan daren di sebuah danau
Flashback on
Malam hari ketika qiya hendak tidur karena telah selesai belajar tentang materi olimpiade yang di berikan oleh seorang guru, ia terganggu dengan suara dering telepon yang berbunyi pada handphone milik nya.
Kening nya mengerut kala netra matanya melihat nama si penelpon, dia Daren
Daren is calling
"Halo ren"
"Sorry sebelum nya qi, gue ganggu lo malem-malem," ujar daren merasa tidak enak," lo belum tidur kan?"
"Belum ko, santai aja... Ada apa? Tumben,"
"Besok ada acara ga?" Tanya Daren," gue mau ajak lo ketemuan... Mau?" ujar daren to the poin
"Dimana?" Tanya qiya, dalam hati nya bersorak ria
Qiya menjauhkan handphone nya sebentar seraya berteriak bahagia tanpa suara
"Danau yang deket taman itu, lo tau kan?"
"Iya ren tau ko,"
"Kita ketemuan disana aja ya? Jam setengah 7 harus stay di tempat, soalnya gue gabisa lama-lama.. temen-temen ngajakin gue buat main basket,"
"Siap, gue pasti datang tepat waktu,"
"Oh oke kalo gitu gue tutup ya telepon nya?"
"Iya ren selamat malam,"
Daren yang di seberang sana mendengar kan dengan malas, tanpa ba bi bu ia memutuskan sambungan
Tut
"Sayang, kamu mau kemana pagi-pagi begini?" Tanya sang mamah yang sedang menyiram tanaman di halaman depan
"Qiya izin keluar ya mah, mau ketemu daren,"
"Oh gitu, pantes muka nya keliatan bahagia,"goda sang mamah sambil mencolek dagu qiya
Pipi nya merah merona kala di goda oleh sang mamah
"Apasi mah," ujar nya salah tingkah," aku pamit pergi sekarang ya ?"
"Oh iya mah, kalo aku ga anter mamah sama papah ke bandara nanti sore... Gapapa kan?"
"Gapapa sayang, yaudah kamu hati-hati ya,"
~~
Setibanya di danau.. qiya belum mendapati kedatangan daren," mungkin bentar lagi," gumam nya
Dan benar saja, belum lama qiya duduk di hamparan rerumputan.. tiba-tiba saja daren datang menghampiri dan duduk di sebelah nya
"Hai ren," sapa qiya dengan senyum nya yang mengembang
"Lo udah lama?"
"Belum, gue juga baru sampe,"
"Langsung ke inti nya aja," ujar daren," semakin hari.. gue semakin merasa bersalah sama cewe gue," ucap nya depan seraya menarik nafas dalam-dalam
Qiya paham betul arah pembicaraan yang daren lontar kan, ia menyimak kata demi kata dari Daren
Qiya yang menatap ke arah daren... Sedangkan daren menatap ke arah danau
" Tanpa gue jelasin, lo pasti paham kan?"
Kepala qiya mengangguk mengiyakan
"Dia terlalu istimewa buat gue qi,"
" Di hati gue," tangan nya menunjuk ke arah tempat hati nya berada," ga akan ada tempat buat orang lain selain dia,"
"Segitu istimewa nya cewe lo, sampe gue ga pernah di lirik sama sekali... Beruntung banget dia bisa dapetin cinta lo sebesar ini," ujar qiya," gue jadi penasaran sama cewe yang lo bangga-banggain itu,"
Saat ini mereka berdua saling berhadapan
"Tetap bertahan," kekeh nya
"Meskipun bertepuk sebelah tangan?"
"Gue yakin, lambat laun.. lo pasti bakal buka hati ke gue," ucap nya dengan penuh keyakinan
"Seyakin itu?"
Qiya mengangguk mantap
"Setelah lo tau nanti siapa cewe gue yang sebenar nya... Tanggapan lo akan bagaimana?"
"Ntahlah gue sendiri juga bingung.. kalo nanti nya ketemu sama cewe lo, mungkin... Mengatakan kata selamat buat dia karena beruntung bisa di cintai sama lo ren, tanpa harus berjuang kaya gue,"
"Gue ga akan pernah jatuh cinta sama lo qi,"
Pertahanan yang qiya jaga sedari tadi, kini runtuh.. ia berhasil meneteskan air mata, karena menahan sesak yang melanda hati nya.
Telapak tangan nya menutupi wajah qiya, supaya daren tidak melihat tangisan qiya yang di sembunyikan di balik telapak tangan nya itu.
Pagi hari yang cerah seperti ini harus nya di awali dengan kabar bahagia
Tapi.. yang qiya dapat kan malah sebalik nya
"Gue bakal turuti kemauan lo, asal kita bisa sama-sama ren,"pinta nya
"Termasuk keperawanan lo?"
"Ren," ujar nya tak percaya dengan ucapan yang barusan daren lontarkan
"Becanda,"
"Oke kalo lo emang mau, gue bakal kasih.. demi lo," qiya rela memberikan seluruh tubuh nya demi mendapat kan daren, kalo nanti nya perut datar nya itu terdapat janin... Bukan kah itu bagus? Secara tidak langsung daren akan menjadi milik nya dengan utuh
Hahahahahahaaaa
Daren tertawa renyah dengan tatapan sinis ke arah qiya," semurah itu? Lo rela merendahkan diri?" Ujar daren tak habis fikir dengan jalan yang qiya ambil
Qiya merasa harga diri nya telah direndahkan saat ini. Malu? Tentu saja ia malu
"Secara ga langsung.. gue bisa menyimpulkan bahwa lo ... cewe dengan harga diri yang murah," ucap daren merendahkan
" Ternyata keputusan gue ga meleset, kalo lo emang ga pantes bersanding sama gue, dan lo... Ga sebanding dengan cewe gue yang memegang teguh menjaga harga diri nya,"
Ucapan daren sangat menusuk ke ulu hati nya, ia sangat menyesal sudah terburu-buru menjawab tanpa berfikir ujung nya akan bagaimana
Flashback off
"Qi?hello?" Ucap mawar sambil melambai-lambai kan tangan nya yang mengarah di depan wajah qiya
"Qiya," sahut fika
"Lo oke qi?" Tanya bara
"Qiyaaaaaaaaaaaa," teriak fika sambil menggoyang kan bahu qiya
"Eh, kenapa fik," qiya yang baru sadar dengan lamunan nya
" Lo kesambet apaan? Sampe bengong pagi-pagi," ujar fika
"Ada masalah?"tanya mawar
"Ga ada, cuma lagi kepikiran buat lomba nanti," alibi qiya dengan berbohong,
Ia tidak mungkin menceritakan masalah nya itu kepada teman-teman nya. Yang qiya percaya saat ini hanya fira sang adik, dan soal bara... Ia takut kalo dia akan marah dan berujung pertengkaran , lebih baik hanya fira saja yang tahu tentang masalah ini
"Jangan terlalu di pikirin, gue yakin tim lo pasti menang," sahut bara menyemangati sepupu nya itu
"Makasi bar," jawab qiya dengan menampilkan senyuman
"Iya nih, kita pasti jadi pendukung lo yang setia hingga akhir qi, tenang aja," ujar fika
"Apalagi di lomba nya se tim sama ayang," goda mawar," pasti tambah semangat,"
"Bisa aja lo war," qiya pura-pura terkikik geli, supaya teman-teman nya tidak curiga
Fira yakin, sebenar nya yang membuat qiya seperti ini bukanlah tentang perlombaan.. melain kan hal lain, karena sejauh ini qiya tidak pernah memikirkan masalah perlombaan sampai terbawa melamun seperti tadi