
Seorang remaja lelaki nampak termenung di bilik kamar nya, hanya ada keheningan yang melanda, tidak ada suara apa pun kecuali detak jarum jam
Fikiran nya masih tertuju dengan apa yang baru saja ia alami, hari demi hari kondisi tubuh nya semakin melemah, tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah
Sedari kecil dirinya selalu berangan-angan akan hidup bahagia dengan seorang pendamping yang ia cintai nanti nya
Namun.. harapan itu harus pupus dan di buang jauh-jauh, sebab sebaik apa pun keinginan nya.. kematian lah yang akan lebih dulu menjemput nya
"gue pengen menghabiskan waktu sama lo Fir orang yang gue cinta sedari dulu," gumam nya," sebelum... kematian menjemput gue," terdengar sangat menyakit kan memang bahwa orang yang dirinya cintai selama ini akan menjadi milik orang nantinya secara utuh
"Tuhan..," lirih nya," pengen banget rasa nya egois untuk kali ini," isakan tangis tak terbendung kan, tangan nya yang memegang dada sakit," gu-gue pengen bahagia, pengen hidup normal kaya orang lain tanpa terbebani dengan adanya penyakit ini," tunjuk nya ke arah bagian kiri kepalanya
"sakit.... sakiitt,"
Tidak bisa di jabar kan bagaimana tersiksanya di gerogoti penyakit yang ganas mematikan seperti kanker. Siapa pun tidak ingin merasakan seperti apa yang di rasakan Berlyn, remaja 18 tahun harus mengidap penyakit mematikan ini dari sejak dini
"kenapa harus gue! kenapa harus gue!! aaaarrgghh," frustasi, pikiran nya sudah buntu tak tentu arah," menyedihkan," desis nya
"Berlyn!! kamu kenapa nak," melihat sang anak menangis tersendu-sendu, "jangan terlalu banyak fikiran.. nanti kondisi kamu makin parah,"
"udah parah mah,"
hati seorang ibu teriris kala melihat putra kesayangan nya menderita, jika tuhan mengijin kan lebih baik dirinya yang menerima penyakit yang anak nya derita, masa depan anak nya masih panjang, banyak kebahagian, banyak keinginan yang masih ingin di capai oleh nya.
Tak kuasa melihat putra nya menangis, ia pun ikut menangis di pelukan sang anak," mamah yakin, kamu pasti sembuh," ujar nya dengan lembut sembari merapikan rambut nya yang berantakan," makan nya kita kemo lagi ya? supaya penyakit nya ilang,"
"mamah lupa dokter bilang apa? hanya keajaiban mah ,"
"jangan percaya sama omongan dokter! dia bukan tuhan,"
"tapi..."
Berlyn mengangguk mengiyakan keinginan mamah nya, karena sejujur nya... ia masih ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat nya
~~
"ih Baraaaaaaaaa, gue kan mau ketemu Berlyn, kenapa malah di suruh pulang sii," gerutu nya dengan sebal, sudah lama- lama ia menunggu di ruang tamu, eh... malah di gusur sama kampret Bara, dasar nyebelin memang
"lo kan denger sendiri Fir, Berlyn lagi kurang sehat,"
"ya seenggak nya gue nengok dia dulu lah, bukan nya malah ngajak balik kaya gini," tentu saja Fira tidak terima dengan kelakuan Bara yang seenak nya
"ga perlu nengok-nengok segala, ntar si Berlyn tambah sakit di tengok sama lo!"
"ngadi-ngadi lo! di pikir gue pembawa penyakit apa?!"
"iya mungkin," dengan acuh nya Bara berucap seperti itu, sedangkan Fira di buat dongkol sedari tadi
"huft, tenang Fir tenang... lo hadapi sekarang adalah SETAN!" menekan akhir dari kalimat nya
"berarti lo juga setan dong Fir?"
"mana ada setan secantik gue ini,"sewot nya
"lah, gue kan sepupu lo kalo lupa, berarti kita sama-sama setan ya kan? ga salah dong gue?"alis nya yang di naik turun kan
"tau ah nyebelin," mood nya sangat hancur gara-gara itu sepupu luknut
"lah ngamok dia. Eh mau kemana ?" melihat sepupu nya pergi dengan langkah cepat
"kamar!!"dengan ogah-ogahan menjawab pertanyaan Bara