
"kejar gue kalo bisa wle," titah Fira pada Berlyn yang sudah ngos-ngosan sambil menumpukkan kedua tangan di bagian dengkul.
"cape ah Fir, sini duduk dulu," ucap Berlyn yang sedang mengatur nafas nya dan kemudian duduk di atas rerumputan halus
"yaaaahh cemen lo mah," meskipun begitu, Fira tetap saja mengikuti perintah Berlyn dan duduk di samping nya
Berlyn menyandarkan kepalanya di bahu Fira, hal itu pun membuat tangan Fira refleks mengusap rambut Berlyn secara perlahan.
Usapan yang di berikan Fira membuat Berlyn merasa nyaman hingga menutup kedua mata nya
"menurut lo disini ada yang aneh ga si Ber? "tanya Fira yang merasa aneh dengan suasana di sini
"aneh nya?" bukan nya menjawab, Berlyn justru balik bertanya
"aneh Ber, liat deh di sekeliling kita," mata Fira menelisik ke berbagai arah
Berlyn pun ikut melakukan hal sama seperti yang Fira lakukan
"banyak asap putih, dan disini juga ga ada orang satu pun kecuali kita berdua," lanjut Fira memberi tahu Berlyn
"disini kan memang beda Fir, ga kaya di sana," ujar Berlyn sambil menunjuk ke arah bawah
"sebenar nya kita ini di mana si Ber? kenapa temen-temen ga ikut sama kita?"
"bukan kita Fir, tapi cuma aku yang disini,"
"hmm? maksud nya?" Fira terheran dengan ucapan Berlyn, ia sama sekali tidak mengerti
"lo kesini cuma berkunjung doang buat jenguk gue," Berlyn terkekeh melihat raut wajah Fira yang terlihat kebingungan," karena tempat lo .. ," Berlyn men jeda ucapan nya sambil membenarkan rambut Fira yang terkena hamparan angin," disana," tunjuk nya ke arah bawah
"disana?" tunjuk nya ke arah bawah
"iya Fir, tempat lo disana, kan gue udah bilang, lo cuma berkunjung ada kesini buat jenguk gue,"
"gue masih ga ngerti, eh iya Ber .. setelah gue sadar dari koma, kenapa lo ga pernah datang jenguk gue?" tanya Fira penasaran
"karena gue ga bisa jenguk lo Fir,"
"kenapa ga bisa?"
"tempat gue udah beda sama lo, sekarang kita udah di pisahkan oleh semesta,"
"maksud lo ... "
"nanti lo tau sendiri, yang terpenting sekarang adalah lo harus cepet sembuh ya? jangan sakit lagi dan inget kalo nanti lo udah tau suatu kebenaran ... jangan pernah nyakitin diri lo oke? gue ga mau usaha gue buat bikin lo sembuh jadi sia-sia,"
"kebenaran?" gumam Fira, Fira semakin di buat bingung dengan penjelasan Berlyn
"lo tau ga? gue seneng banget bisa di jenguk sama lo," ujar Berlyn sambil memeluk Fira dari samping
"gue juga seneng Ber akhirnya bisa ketemu sama lo," balas Fira yang ikut memeluk Berlyn
"lo adalah cinta pertama dan terakhir gue Fir, sampai-sampai gue bawa cinta ini ke alam semesta yang gue tempatin sekarang,"
"lo ga marah? karena gue ga bisa balas cinta lo?"
"engga sama sekali, karena gue sadar, kalo lo sama gue ga bisa bersama dan gue ga bisa jagain lo, makan nya lo lebih pantas sama Daren yang bisa jaga lo di jarak yang dekat,"
"memang nya kita sejauh ini ya? sampai lo ga bisa jagain gue?
"jauh banget Fir, bukan cuma lo yang ga bisa menggapai gue, tapi juga yang lain nya, maka dari itu ... cuma waktu yang bisa menjawab semuanya,"
Perlahan tapi pasti, tubuh Berlyn semakin menghilang dari dekapan nya," Ber, tubuh kamu..."
"cantik nya Berlyn jangan nangis,"
"itu suara Berlyn," gumam Fira, tapi sayang nya sosok Berlyn tidak ada hanya ada suaranya saja," lo dimana Berlyn?" panggil Fira yang masih dengan berteriak," lo dimana,"
"waktu gue udah habis buat nemenin lo, sekarang gue udah kembali ke tempat semula,"
"Berlyn," lirih Fira yang masih tidak bisa menemukan Berlyn
"I Love You Fira, sampai bertemu di kehidupan selanjut nya," itu kalimat terakhir yang Berlyn ucapkan , setelah nya tidak ada lagi.
"Berlyn, jangan pergi," ujar Fira dengan suara yang mulai melemah
"Berlyn,"
"Berlyn," teriak Fira yang terbangun dari tidur nya, keringat meluncur dari kening, badan nya juga basahi oleh keringat, nafas nya tersenggal-senggal , mata nya melirik ke berbagai arah untuk mencari sosok Berlyn, namun sosok yang Fira cari tidak ada
"lo kenapa Fir? " tanya Bara dengan khawatir. Bara yang nyenyak dalam tidur nya pun terlonjak kaget mendengar teriakan Fira
"lo okey?" Qiya juga ikut bertanya, karena malam ini Qiya meminta untuk ikut menjaga Fira di rumah sakit kepada kedua orang tua nya.
Fira yang masih syok dan berusaha menetralkan pernafasan nya yang memburu.
"minum dulu," satu gelas berisi air telah Bara berikan kepada Fira untuk meminum nya." tenangkan diri lo,"
"Bar, Qi, Berlyn dimana? gue mau ketemu dia," ujar Fira meminta ingin bertemu dengan Berlyn, sudah beberapa hari ini Fira di buat penasaran oleh cowo itu, " dia baik-baik aja kan selama gue disini?"
Deg
Tubuh Bara mau pun Qiya terasa mati rasa kala Fira mulai bertanya perihal Berlyn, Bara dan Qiya pun saling pandang satu sama lain, mereka bingung harus menjawab pertanyaan Fira mulai dari mana.
"kenapa diem? Berlyn baik-baik aja kan selama gue di rawat?" tanya nya lagi karena sedari tadi belum juga mendapat jawaban
"mmm Fir,"
"anter gue ke ruangan Berlyn sekarang," pinta nya
"kondisi lo belum stabil buat di bawa gerak Fir," ucap Qiya memberitahu
"ga peduli,"
"tapi gue peduli! seenggak nya lo hargai gue sama Bara yang udah berusaha jagain lo dengan baik, semua ini demi kebaikan lo,"
"tapi gue mau ketemu Berlyn Qi," lirih Fira yang sambil tertunduk menahan tangis
Bara lebih mendekatkan tubuh nya kepada Fira, tangan nya mengusap puncak rambut milik Fira dengan lembut." nanti kita jenguk Berlyn nya ya? sekarang udah malam, Berlyn juga pasti lagi istirahat," Benar saja, sekarang memang sudah larut malam, jam dinding pun menunjukkan pukul 1 malam.
Qiya berusaha menahan tangis nya supaya tidak meledak, sekuat tenaga Qiya mengigit bibir bawah nya yang mulai mengeluarkan sedikit darah.
"janji ya nanti kita jenguk Berlyn? gue udah kangen banget," lirih nya
"nanti kita sama-sama jenguk Berlyn, asalkan... lo harus sehat dulu,"balas Bara dengan pelan
Fira mengangguk lemah menuruti perkataan Bara.
"tidur lagi, masih malam," titah Bara pada Fira, kemudian Bara membantu Fira untuk berbaring kembali untuk tidur.
Setelah melihat Fira sudah tidur kembali barulah Bara melangkah menuju Qiya dan memeluk nya dengan erat," sstt, jangan nangis, nanti Fira denger," Bara berusaha menenangkan Qiya, sedangkan diri nya juga sedang tidak baik-baik aja.
"gue takut Bar," Qiya terisak dalam pelukan Berlyn," takut,"
"semua akan baik-baik aja, percaya sama gue,"