
"Fira mau sendiri mah,"
Derap langkah terdengar semakin mendekat, tidak ada minat sedikitpun untuk menoleh, tatapan nya hanya fokus lurus kedepan.
"Mamah kamu bilang .. kamu susah makan, kenapa?" tanya Daren yang kini sudah berada di samping Fira
Ternyata yang memasuki ruangan nya bukanlah sang Mamah, melainkan Daren kekasih nya.
Pertanyaan Daren pun tidak Fira indahkan, terus saja menutup rapat-rapat mulut nya, hanya helaan nafas yang terus saja terdengar oleh Daren.
"Makan ya? Aku yang suapin," tangan Daren bergerak membawa nampan yang berisi makanan ke dalam pangkuan nya.
Satu sendok makanan berada tepat di depan mulut Fira, namun gadis itu tidak juga kunjung membuka mulut.
Daren menarik kembali sendok nya, dan ia letakan kembali di atas piring." Ga kasian liat Papah sama Mamah kamu yang tiap hari nangis? Bahkan Qiya sampai demam karena terus- menerus mikirin kamu,"
"Kamu ga ada niatan mau sembuh Fir?" tanya nya dengan nada intimidasi," Jawab aku! Apa kamu ga mau sembuh? hmm?"
"Apa yang kamu lakuin sekarang ini udah bikin orang-orang yang sayang sama kamu nangis Fir! Tolong jangan kaya gini! "
"Kamu ga kasian sama Berlyn?"
Fira menoleh ke arah Daren kala kekasih nya itu menyebut nama Berlyn, dan tanpa di duga air mata nya turun kembali.
Dengan sigap Daren mengusap air mata Fira yang terus-menerus mengalir dengan lembut.
Tatapan mata nya menyiratkan kesedihan," Apa kalian semua ga kasihan sama aku? Aku dihantui rasa bersalah Ren. Berlyn meninggal gara-gara aku!," ucap nya di sela-sela tangisan
"Kamu salah Fir, Berlyn meninggal bukan karena salah kamu, tapi .. memang udah takdir nya,"
"Andai kalo Berlyn ga donorin ginjal nya buat aku ... dia pasti masih hidup sampai sekarang,"
"Kamu salah, meskipun Berlyn ga donorin ginjal nya buat kamu ... dia akan tetap meninggal, sebab ... hidup dia memang udah ga bisa bertahan lama lagi dengan kondisi penyakit nya yang semakin menggerogoti tubuh Berlyn saat itu,"
"Dia ngelakuin semua ini karena gamau hidup nya sia-sia tanpa melakukan kebaikan,"
"Aku yakin .. Berlyn pasti kecewa di atas sana melihat kondisi kamu yang terpuruk kaya gini," ucap Daren dengan pelan," Dia pasti ngerasa pengorbanan nya sia-sia,"
"Dengan cara kamu menyalahkan diri sendiri ga akan bisa buat Berlyn kembali ke dunia ini Fir, dan harus nya kamu bangkit! bukan nya malah kaya gini,"
Yang dikatakan Daren memang benar, dirinya terlalu larut dalam kesedihan dan lebih menyalahkan diri sendiri atas kematian Berlyn. Tapi ... dirinya belum bisa menerima kenyataan ini sepenuh nya.
"Apa kamu mau liat orang-orang yang sayang sama kamu kecewa gara-gara sikap kamu yang seperti ini,"
Fira menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu Daren memeluk Fira dari samping dan menyandarkan kepala Fira ke dada bidang nya, tak lupa sebelah tangan Daren mengusap rambut Fira dengan pelan.
"Kamu sayang kan sama aku?" tanya Daren pada Fira
Fira mengangguk pelan," Makannya kamu harus cepet sembuh, kasian orang tua kamu yang tidur nya ga nyenyak gara-gara mikirin anak gadis cantik nya ini," ujar Daren sambil mengelus pipi Fira dengan sayang.
"Jangan kaya gini lagi ya? Aku gamau pacar aku yang cantik ini sakit, aku gamau liat kamu kaya gini lagi, cukup ini pertama dan terakhir,"
"Mau kan janji sama aku?" ucap nya sambil mengarahkan jari kelingking pada Fira, dan seketika Fira menyatukan jari kelingking mereka berdua.
"Senyum nya mana?"
Fira tersenyum tulus ke arah Daren, benar kata Daren, dirinya harus bangkit dari keterpurukan, jangan sampai Berlyn kecewa pada dirinya dan membuat lelaki itu merasa sia-sia telah mengorbankan nyawanya untuk Fira.
"Jangan di ulangi lagi,"
"Sekarang makan, perut kamu makin gepeng karena ga di kasih makan," celetuk Daren seraya menghibur Fira
Mendengar itu pun Fira langsung cemberut dan menoleh ke arah perut nya yang semakin kerempeng.
"Sakit ya? Maaf," sesal Fira pada Daren yang terlihat kesakitan
"Becanda, wle,"
"Ish nyebeliiiinnnn," teriak nya
Kedua nya kini tertawa bersama dan tidak lupa Daren sambil menyuapi Fira dengan telaten.
"Kaya gini terus ya sayang, aku suka liat kamu ketawa,"
"Maaf, udah bikin kalian kecewa sama sikap aku selama ini,"
"Gaperlu minta maaf, asal jangan di ulangi aja,"
"Makasi udah mau bertahan sama aku Ren,"
"Bagaimana pun kondisi kamu .. aku tetap cinta sama kamu Fir, perlu kamu ketahui .. cinta aku cuma buat kamu, dan cinta ini udah abis di kamu,"
Fira memeluk Daren dengan erat sambil menangis di dekapan nya.
"Kamu ga ilfill liat aku yang dekil begini?" tanya Fira dengan hati-hati, Fira sadar betul jika dirinya belum mandi selama beberapa hari ini
"Mana ada dekil, kamu tetap cantik seperti biasa," balas Daren dengan jujur. Di mata Daren ... Fira tetap cantik dalam kondisi apa pun, ini bukan gombal, tapi .. gombal si hehe.
Kedua orang tua Fira merasa bahagia, ternyata Daren berhasil membujuk Fira dan sekarang anak nya mau makan, terlebih lagi .. Fira bisa kembali tersenyum.
Meskipun hanya melihat di balik kaca jendela, mereka berdua bisa merasakan kebahagiaan itu.
Tidak lupa teman-teman Fira pun sedari tadi sudah ada di luar ruangan Fira dan menonton aksi Daren yang berusaha membujuk nya.
Tiko mendorong kuat tubuh Mahendra yang menempel pada nya.
"Asem lo!," ujar Mahendra yang kaget mendapat dorongan dari Tiko
"Ngapain peluk-peluk gue! kalo orang-orang ngiranya gue homo .. gue cincang lo!" ancam Tiko pada Mahendra
"Abis nya gue terharu ko liat mereka berdua," ucap nya sambil pura-pura menghapus air mata
"Ya ga usah peluk-peluk gue juga!"
"Iya iya maaf, gitu aja marah,"cibir Mahendra
Tiko hanya memutar bola mata nya jengah, kemudian sedikit menjauh dari Mahendra, untuk jaga-jaga takut nya cowo itu khilaf lagi dan memeluk nya kembali. Memikirkan nya saja sudah membuat nya ngeri.
Melihat Tiko yang menjaga jarak dengan nya membuat Mahendra sebal," Ko, harus nya lo beruntung dapet pelukan dari gue yang unlimited ini, nih ya gue kasih tau .. pelukan gue masih suci belum di sentuh sama siapa-siapa,"
"Bacot!"
"Berisik deh! merusak suasana aja," sahut Fika
"Iya nih, ganggu tau ga," timpah Mawar
"Ya gausah di dengarlah," balas Mahendra dengan enteng
"Heh, kuping gue sehat sentosa, jadi omongan lo udah jelas ke denger sama gue!" balas Mawar tak mau kalah
"Derita lo,"
"Nyebelin banget si jadi orang,"
"Diem!' Tiko memerintahkan mereka untuk diam, meskipun tak terima ... tetap saja mereka patuhi, sebab raut wajah Tiko terlihat dingin dan tatapan nya pun menajam.