
"Qiya sama Fira kemana Bar?" tanya mamah Berlyn yang tidak mendapati si kembar
"syukurlah om sama tante udah dateng, Bara izin keluar bentar ya mau nyusul Qiya sama Fira," raut wajah Bara nampak panik, tanpa menunggu jawaban dari orang tua Berlyn, Bara segera menyusul kepergian si kembar
"Bara," panggil mamah Berlyn, sayang nya Bara sudah keburu keluar dan mungkin tidak mendengar dirinya panggil," pah, perasaan mamah jadi ga enak gini," perasaan resah kini melanda hati mamah Berlyn," semoga ga terjadi apa-apa ya pah,"
"ga akan terjadi apa-apa mah, itu cuma perasaan mamah aja yang terlalu kecapean, makan nya jadi nething gini kan? mamah duduk dulu istirahat bentar lagi juga mereka balik lagi," sebagai suami dirinya memberikan ketenangan untuk istri tercinta nya
"mungkin iya ya pah, mamah terlalu banyak pikiran juga akhir-akhir ini,"
"mamah ga boleh banyak pikiran kaya gitu ah, kesehatan mamah harus di jaga demi Berlyn, kalo bukan kita siapa lagi,"
"iya pah, maafin mamah ya?" dengan sigap suami nya itu pun langsung membawa istrinya ke dalam pelukan
"haus," suara lirihan itu terlontar dari mulut Berlyn
"Berlyn, anak mamah udah sadar sayang," sang mamah dengan heboh nya melihat putra tercinta nya kini sudah melewati masa kritis nya.
"ada yang sakit nak? bilang sama papah," papah nya pun tidak bisa menghilangkan rasa bahagia yang terdapat dari raut wajah nya kala melihat Berlyn terbangun dari koma.
Mereka terlalu larut dalam kebahagiaan hingga lupa jika Berlyn ingin minum," haus," ucap nya lagi
"oh iya sayang ini, ini minum dulu," dengan telaten mamah nya memberikan minum pada Berlyn dengan hati-hati
"papah seneng nak liat kamu kembali membuka mata,"
Berlyn terharu dengan kedua orang tua nya yang begitu tulus merawat dirinya," makasi mah, pah, Berlyn sayang kalian," lirih Berlyn dengan mengurai air mata
"mamah sama papah juga sayang sama kamu, cepet sembuh ya sayang? jangan buat mamah sama papah khawatir ," pinta sang mamah ," tadi juga ada Qiya, Fira sama Bara, cuma .. mereka keluar dulu, mungkin bentar lagi mereka kesini lagi," jelas sang mamah memberitahu
~~
"Qiyaaaaaaa," tidak henti-henti nya Fira berteriak memanggil nama Qiya, agar kakak nya itu berhenti berlari, sudah di penghujung jalan pun Qiya terus saja tidak henti-henti nya berlari, Fira tidak akan menyerah untuk mengejar Qiya
Netra mata nya melihat jika Qiya sedang berancang-ancang untuk menyebrang jalan, namun di arah sebelah kiri terdapat mobil sedan hitam sedang melaju kencang, bahkan bunyi klakson nya pun terdengar nyaring karena jarak antara kedua nya cukup dekat
"Qiyaaaaa awaaaaassss," teriak Fira memberi tahu Qiya
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa," Qiya berteriak sangat kencang, bahkan kencang sekali
Braakkk
Tabrakan itu pun tidak dapat di hindari oleh pengemudi mobil mau pun oleh korban, darah berceceran kemana-mana, aspal jalanan yang semula hitam.. kini berubah menjadi lautan darah. Tubuh nya menggelinding serta terpental sangat jauh
Jalanan disini memang tidak begitu ramai orang, bahkan kendaraan pun masih bisa di bilang dengan hitungan jari.
Qiya berusaha membuka mata karena sebelum tabrakan tiba tubuh Qiya mendapat dorongan, dirinya merasa tidak merasakan sakit yang begitu parah, hanya lecet sedikit. Qiya tersadar dirinya berada di pinggir jalan dan tergeletak disana, mata nya melotot ketika melihat siapa yang menolong nya tadi
Qiya berusaha untuk meraih adik nya yang sudah tergeletak lemah, ia membantu kepala Fira agar tertidur di paha nya," Fiiirrr, " lirih nya," bertahan Fir, aku cari bantuan ya,"
"k-ka," panggil Fira dengan suara tertahan menahan sakit di sekujur tubuh nya
"Firaaa," tangis nya semakin kencang tidak bisa di tahan
" ma-afin Fi-ra k-ka ud-ah bu-at ka-ka ke-cewa," Fira berucap dengan terbata-bata, namun Qiya masih jelas bisa mendengar nya
"engga Fir kamu ga salah, ini salah kakak, kamu bertahan sebentar ya? kakak mau cari pertolongan,"
"tolooooonggg,"
"toloooooongg,"
"ngan-tuk," ucap nya dengan lirih
Qiya menggeleng kepalanya dengan kuat,"jangan!! jangan tidur dulu Fir, kakak mohon jangan!"
"aku sayang ka-ka, tolong ucap-kan ma-af aku bu-at ma-mah sa-ma pa-pah," ucapan Fira melemah dan akhirnya Fira pun tidak sadarkan diri di pangkuan Qiya sang kakak
"engga Fir, jangan tidur dulu aku mohon Fir, Firaaaaaaaa,"
"toloooooongg,"
Bara yang mendengar suara teriakan itu pun segera menghampiri sumber suara itu, Bara berlari sekuat tenaga hingga keringat nya pun ada di sekujur tubuh nya
Sekujur tubuh Bara kaku serasa mati rasa saat itu juga,"Firaaaaaaaaa," teriak Bara memanggil nama Fira yang tak berdaya dengan darah yang berceceran di mana-mana memenuhi jalanan," kenapa bisa gini Qi!" bentak Berlyn
Qiya hanya mampu menangis, dirinya tidak bisa berkata-kata lagi, seakan-akan lidah nya kelu
Tanpa basa-basi lagi Bara memangku Fira ala bridal style yang di susul oleh Qiya di belakang nya
"bertahan Fir, gue mohon," tidak henti-henti nya Bara terus saja merapalkan doa untuk Fira yang di iringi dengan air mata
"dokteeeeeeerrrr, susteeeeeerrr toloong," Bara seperti orang kesetanan, pikiran nya kalang kabut tidak bisa berpikir jernih, saat ini hanya ada nama Fira yang memenuhi isi kepala nya
Fira di bawa menuju ruang UGD untuk mendapatkan penanganan lebih serius
"tunggu disini saja," ujar sang dokter memberi tahu
Qiya terduduk lemas di lantai rumah sakit, tangis nya terdengar sangat pilu dan terdengar menyakitkan
"aarrggghhh," teriak Bara frustasi dengan beberapa kali menjambak rambut nya sendiri, bahkan tembok rumah sakit pun menjadi sasaran samsak nya