
HAPPY READING MAN-TEMAN π€.
Setelah proses ijab qobul tadi pagi, sore ini keluarga kedua mempelai sudah sibuk kembali. Benar-benar hari yang sangat sibuk karena sore ini di adakan nya resepsi pernikahan Nizam dan Asma, seperti biasanya, acara tersebut di adakan di hall hotel.
"Sudah siap?" tanya Nizam pada sang istri yang tengah mengepak barang ke koper.
Asma mendongak dengan memanyunkan bibirnya. "Susah banget ini Kak," keluh Asma.
Nizam menghampiri sang istri yang tengah kesusahan menutup Zipper koper nya. "Sini aku bantu," ucapnya.
"Jangan kenceng-kenceng dong Kak, nanti rusak!" seru Asma.
"Iya sabar sebentar dong, ini juga lagi berusaha pelan tapi kan sudah!" sahut Nizam yang gemas.
Sedangkan di luar kamar mereka, Amier akan mengetuk pintu kamar mereka tapi ia urungkan karena samar-samar mendengar sesuatu yang membuatnya terkekeh. Di tempelkan nya telinga laki-laki itu pada pintu kamar tersebut.
Amier hendak tertawa terbahak tapi ia tahan dengan sekuat tenaga. Bian dan Maryam yang kebetulan akan keluar bergabung dengan yang lain tapi menemukan Amier yang ada di depan kamar pengantin baru itu pun menghentikan langkah mereka dan menggelengkan kepala.
"Kamu urus adik kamu, Bi. Isengnya kumat lagi tuh," ucap Maryam yang meninggalkan Bian.
Bian mengangguk dan menghampiri adiknya itu lalu menjewer telinganya. "Aw!" pekik Amier dan menutup mulutnya supaya tak terdengar orang yang ada di dalam.
"Apaan sih Kak?!" kesal Amier yang mendapatkan jeweran dari Bian.
"Ngapain kamu di depan kamar mereka?" tanya gemas Bian dengan suara sedikit berbisik.
Amier meletakkan jari telunjuknya di bibir meminta Bian untuk diam. "Tapi ka--" ucapan Bian terhenti saat ikut mendengar samar-samar suara dari dalam.
Bian menautkan kedua alisnya dan ikut mendengarkan.
"Akhirnya!!" seru Nizam yang begitu keras terdengar dari dalam.
Bian dan Amier saling pandang kemudian tertawa dengan keras. Saat mereka tertawa, pintu kamar terbuka dan menampilkan Nizam dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Mau apa kalian?" tanya Nizam tajam.
Bian dan Amier seketika menghentikan tawa mereka dan mengulum bibir mereka masing-masing sembari menatap Nizam.
"Wah, kayaknya ada yang nggak sabar nih," ledek Bian dan di tanggapi tawa kecil Amier.
Nizam menautkan kedua alisnya menatap heran pada keduanya. Otaknya berfikir, dan melototkan matanya saat ucapan Asma mengintrupsi.
"Kak, susah jalan nih!" serunya.
Nizam memejamkan matanya mendengar itu dan dua kakak beradik itu makin tertawa. Nizam menghela nafas panjang sembari membuka pintu semakin lebar yang memperlihatkan Asma tengah menunduk memperbaiki gagang kopernya.
"Akhirnya!" lega Asma dan memandang ke depan.
"Loh, ada apa?" tanya polosnya menatap bingung pada ketiga laki-laki yang menatapnya.
Nizam membalikkan pandangan pada Amier dan Bian yang menyengir kuda. "Heheh, nikmati waktu kalian kakak ipar," ucap Amier dan menepuk pundak Bian beberapa kali memberi isyarat untuk kabur.
Mereka berlari dengan tawa yang masih terlukis di wajah mereka. Nizam menatap tak habis pikir pada keduanya.
"Mereka kenapa Kak?" tanya Asma masih tak mengerti.
Nizam menoleh pada sang istri dan tersenyum. "Nggak ada apa-apa, sudah semua kan?" tanyanya dan di angguki oleh sang istri.
"Ayo," ajak Nizam.
π’π’π’π’
"Ramai nya," ucap Amier yang melihat begitu banyaknya tamu undangan yang datang.
"Ini lebih ramai dari tamu kita ya Yang," kekeh Amier pada sang istri dan Ameera ikut terkekeh.
"Kayaknya Kak Nizam kayaknya ngundang seluruh London dan Indonesia deh Meera." Amier menimpali.
"Lebay kamu, Mas. Nggak segitu banyak itu juga."
"Ya habisnya, tamunya nggak habis-habis dari lepas Maghrib tadi," ucap Amier.
"Aku rasa mereka akan tepar lepas ini," kata Amier di ikuti tawanya karena mengingat kejadian waktu sore tadi.
"Kamu kenapa ketawa mulu sih, Mas?" tanya heran Ameera.
"Pengin denger cerita lucu nggak?" tanya balik Amier.
"Apa?"
Amier berdiri ke arah panggung pelaminan dan mengambil alih mikrofon dari panitia.
"Ehem!" ucap Amier yang mengalihkan perhatian para tamu undangan tak terkecuali kedua mempelai.
"Maaf, permisi Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya saya minta waktu dan perhatiannya sebentar."
Semua mata tertuju para Amier. "Oke, maaf sebelumnya, saya disini ingin mengatakan jika aku sangat mencintai istriku!" ucap Amier yang menggema di seluruh ruangan.
"Khusus untuk istriku, terimakasih atas segala cinta yang kamu berikan untuk aku, kini aku menemukan cinta sejati ku yang yang mengembalikan senyumku setelah meninggal nya almarhum ayahku," ucapnya yang kemudian membuat Annisa sang bunda sedih dan juga bahagia.
Semua terdiam menyimak. "I finally found my love and happiness, thank you for coming into my life, "
Ameera meneteskan air mata, Amier mengangkat tangan kanannya meminta Ameera untuk menghampiri, melihat itu Annisa menghampiri menantunya dan mengambil alih Aleena, cucunya.
Ameera berjalan mendekat setelah menyerahkan putrinya pada sang mertua. Amier tersenyum, semua mata tertuju pada gerak Ameera yang naik ke atas panggung.
Amier membantu istrinya untuk naik dan merendahkan tubuhnya. "Selamat hari jadi untuk kamu, Sayang," ucapnya dengan mikrofon.
Suasana menjadi riuh mendengar perkataan Amier. Ameera mengusap air matanya, dia bahkan sampai lupa hari jadinya itu adalah hari ini bertepatan dengan hari resepsi pernikahan sang kakak.
"Terimakasih sudah Sudi menjadi istriku, terimakasih, Sayang." Ameera memegang lengan Amier memintanya untuk berdiri kembali.
Ameera memeluk suaminya penuh cinta. "Terimakasih sudah mencintai aku, terimakasih, Mas, terimakasih." Isakan tangis Ameera membuat semua orang terharu.
Suara tepukan dari Bian mengawali tepukan tangan para tamu undangan. Setelah beberapa waktu berpelukan, Amier kemudian melepas nya.
Amier mendekatkan mikrofonnya kembali dan mencari sosok Aditya, "untuk laki-laki yang berdiri di samping Bundaku," ucap Amier.
Suara Amier yang di tunjukkan pada Aditya pun membuat mereka memusatkan pandangan pada siempunya.
Aditya tersenyum. "Terimakasih," kata Amier.
"Terimakasih telah menemani Bundaku, terimakasih sudah mau menjadi orang yang bisa jadi teman Bundaku, Ayah," ucap Amier tersenyum.
Aditya yang tadinya menunduk pun mendongak dan menatap lekat Amier. Akhirnya, sekian lama baru dia dengar seorang Amier memanggilnya 'ayah'.
Hati nya menghangat mendengarnya. Dia bahagia, anak yang selama ini dia sayang akhirnya memanggilnya dengan sebutan 'ayah'.
Dia peluk Annisa yang ada di sampingnya dengan rasa bahagia. "Selamat sudah di panggil ayah," ucap Annisa yang terdengar sedikit seperti ledekan.
π’π’π’π’
Setelah acara selesai, Amier mengajak Ameera menaiki motor menuju tempat tertinggi di tempat itu. Ameera begitu takjub dengan pemandangan dari atas. Mata berbinar menatap lampu di rumah-rumah yang menyala terang di bawah sana.
Amier memeluk Ameera dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak. "Kau suka?" tanya Amier dan di angguki Ameera.
"Aku jadi kangen waktu awal kita ketemu lagi di lapangan basket," gumam Amier yang masih terdengar oleh Ameera.
Ameera menautkan kedua alisnya. "Kamu sudah ingat, Mas?" kaget Ameera.
Amier hanya menyengir polos. Ameera melepaskan pelukan sang suami dengan kasar. "Jahat! Nggak ngasih tau sama aku!" kesal Ameera.
"Hehe, aku baru ingat juga belum lama, waktu aku kepentok ranjang kamu waktu aku bangun itu." Jelas Amier.
Ameera mengingat-ingat kejadian itu dan melototkan matanya. Amier mengangguk. Laki-laki satu anak itu membalikkan tubuh sang istri untuk menghadap ke arah depan dan memeluknya.
"Ada berkahnya juga aku kepentok ranjang waktu itu." Amier tertawa.
"Sudah saatnya," ucap Amier dan melihat arloji di tangannya lalu mulai menghitung. "Satu, dua, tiga!" seru Amier dan suara letupan mengagetkan Ameera.
Kembang api yang bertuliskan 'i love you' terlukis cantik di udara bersamaan suara letupan kembang api lainnya.
"Selamat hari jadi, Sayang," bisik Amier.
Ameera membalikkan tubuhnya dan memeluk erat suaminya. "Terimakasih," ucapnya kemudian dia kecup bibir Amier lembut, Amier yang mendapatkan serangan dari istrinya pun tak membiarkan tautan itu terlepas begitu saja, dia tekan tengkuk Ameera dan mereka menikmati waktu mereka berdua.
Seperti Siti Fatimah yang mencintai Ali dalam diam, seperti nabi Zakaria yang menanti begitu lama kehadiran seorang anak, bagai rahasia di balik rahasia, semua berjalan atas kehendaknya. Kita manusia hanyalah seperti obyek yang sudah di tuliskan takdirnya sebelum di lahirkan. Yang sudah tercatat di Lauhul Mahfudz- nya. Tetap semangat buat kalian semoga di tahun baru nanti semua cita-cita dan harapan bisa di capai dan di dapat, aamiin π€².
ALHAMDULILLAH SUDAH SELESAI CERITA AMIER DAN BIAN, SEMUA MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN NYA MASING-MASING, TERIMAKASIH SUDAH MAU BERSABAR DENGAN UP YANG KADANG LAMBAT, DAN JUGA SELALU SUPORT AKU, SEMOGA KEBAIKAN KALIAN DI BALAS OLEH ALLAH, DAN JANGAN LUPA UNTUK RAMAIKAN KARYA-KARYA AKU YANG LAINπ€π€.
OH YA SATU LAGI, NANTI SETELAH NOVEL 'HATI YANG TERIKAT' HAMPIR END, ADA SATU NOVEL LAGI NANTI YANG AKAN AKU UP, TAPI NGGAK TAU MAU DI UP DI SINI ATAU DI SEBELAH π. KITA LIHAT NANTI SAJA YA, JANGAN UNFAVORIT DULU, NANTI MUNGKIN AKAN ADA SEQUEL DAN CUPLIKAN NOVEL BARU NYA. HEHE.
AMBIL BAIKNYA BUANG BURUKNYA, WOKEH... TERIMAKASIH π€
WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WA BARAKATUH.πππβ€οΈβ€οΈ