
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Di kafe Malik, Maryam terlihat menunggu seseorang. Berkali-kali dia melihat arlojinya. Sudah dua puluh menit dua menunggu tapi rasanya sudah dua jam.
Dan kini dia sudah menghabiskan dua gelas lemon tea, entah karena haus atau apa? Yang jelas Maryam begitu gelisah dan pelampiasan untuk menghilangkan kegelisahannya adalah minum.
Lima menit kemudian yang ditunggu pun datang, dengan sedikit nafas yang memburu dia duduk di kursi meja Maryam.
"Sudah lama ya?" tanya Bian menyapa.
Maryam menggeleng sembari tersenyum tipis. Setelah mengatur nafasnya, Bian bertanya maksud dari apa yang ingin dibicarakan oleh Maryam di telepon.
"Begini, aku mau bertanya, apakah waktu Bapak mengantar saya pulang ada satu benda yang tertinggal di mobil Bapak?" tanya Maryam sedikit sungkan.
Bian terdiam sejenak lalu mengulas senyum. "Iya, ada satu benda dan aku yakin itu terjatuh dari tas kamu," jelas Bian.
Maryam bernafas lega dengan senyuman merekah dia menengadahkan tangannya meminta barang itu kembali.
Bian melirik tangan Maryam lalu kembali menatap wajah Maryam yang berseri. "Barangnya." Maryam menagih.
Bian terlihat ragu untuk mengambil barang yang dia bawa di saku jaketnya. Iya, barang itu selalu dia bawa kemanapun setelah mendapatkan nya.
"Ayo Pak, mana barangnya?" desak Maryam.
Bian mengambilnya dan menyerahkan pada Maryam. Tapi, saat Maryam akan mengambil alih barang itu malah Bian memeganginya seperti enggan untuk menyerahkannya.
"Pak please," mohon Maryam. Dengan berat hati Bian merelakan itu.
"Terimakasih," ucapnya senang. Bian hanya tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat.
"Tapi Maryam, boleh tidak jika aku yang menyimpan bolpoin itu?" tanya Bian meminta izin.
Maryam yang tadinya menatap senang bolpoin itupun mendongak. Tatapan nya tak terbaca. Dan sebelum Maryam menolak, Bian melanjutkan kata-katanya.
"Saya tidak punya barang atau apapun itu tentang dia. bolehkah aku menyimpannya sebagai kenangan?" kata Bian.
Ada sedikit rasa aneh di dalam hati Maryam saat mendengar kata 'dia' yang ucapkan oleh Bian yang berarti adalah sang kakak.
Maryam bingung antara memberikan dan tidak, ingin sekali dia mengatakan tidak. Tapi dilihat dari ekspresi yang diberikan oleh Bian membuat gadis itu menjadi tidak tega dan pada akhirnya barang itu pun di berikan kepada Bian.
Bian tersenyum bahagia tidak menyangka juga gadis yang di depannya itu akan memberikan bolpoin itu kepadanya.
"Terimakasih ya, dan sebagai gantinya anda minta apapun akan saya turuti asalkan aku mampu." Kata Bian dengan bahagia.
"O-oh, tidak usah mungkin bolpoin ini memang sudah waktunya untuk berpindah tangan." Maryam menutupi kekecewaannya dengan senyuman meski sedikit terpaksa.
"Tidak apa-apa, sebutkan apa maumu nanti aku akan memberikannya sebagai ucapan terima kasih saya."
"Tidak usah Pak, itu tidak perlu. Cukup dengan Bapak menyimpan dengan baik barang ini sudah cukup untuk aku."
"Benarkah?" tanya Bian lagi memastikan dan anggukan dari Maryam membuatnya lega.
Setelah pembicaraan tersebut, mereka menikmati waktu mereka dengan santai.
💢💢💢💢
Di waktu yang sama, dua anak manusia yang sedang menikmati masa bulan madunya, selalu melebarkan senyum. Raut bahagia diantara mereka tak pernah hilang.
Meski Amier tak sepenuhnya ingat, tapi itu tidak masalah untuk Ameera, karena dengan tidak ingatnya Amier bisa mengulang kembali masa-masa yang mungkin tidak bisa di alami oleh kebanyakan orang.
Dan semacam De Javu, Ameera mengalaminya lagi. Manis berkali-kali lipat manis untuk Ameera.
Sebuah tangan memakaikan jaket dari belakang seraya memeluk Ameera. Ameera sempat kaget tapi berakhir senyuman saat tahu siapa yang memeluknya.
Amier mengambil tangan Ameera kemudian ia ciumi berkali-kali, Ameera terkekeh geli melihat kelakuan suaminya itu. Sangat manis, dia merasa dicintai dan juga merasa disayangi.
"Kamu senang?" tanya Amier. Amira hanya mengangguk mengiyakan.
"Sangat senang, berada di sampingmu saja sudah membuatku bahagia apalagi dengan status kita yang sudah halal, aku merasa Allah begitu mencintaiku, terimakasih kamu sudah bertahan untuk tetap bernafas dan sekarang sudah memilihku kembali untuk menjadi istrimu." Ameera meneteskan air matanya.
Tangan Amir yang sedang memeluk Ameera merasakan tetesan air pun sedikit terperanjat. Amier langsung melepas pelukannya dan membalikan tubuh Ameera untuk menghadapnya kemudian menatap sang istri.
"Kamu kenapa?" tanyanya khawatir.
Ameera hanya menggeleng saja kemudian mengulas senyum, "tidak apa-apa, aku hanya terharu dan juga begitu senang jadi aku menangis, ini adalah ungkapan rasa yang ada di hatiku. Ini bukan tangisan sedih tapi tangisan bahagia."
Ibu jari Amier pun mengusap lelehan air mata dari pipi sang istri. "Jangan menangis, kedepannya aku tidak akan membuat kamu meneteskan air mata lagi. Jika hal itu kebahagiaan, kau akan tersenyum dan tertawa bukan air mata yang keluar dari mata cantikmu ini." Jelas Amier yang berujung dengan pujian membuat Ameera tersenyum.
"Kita kembali ke hotel sekarang?" tanya Amier dan diangguki oleh Ameera.
Tapi selangkah mereka berjalan, Amier berjongkok di depan Ameera membuat wanita itu heran.
"Naiklah," perintah Amier dengan menepuk pundaknya.
Ameera terkekeh kemudian menaiki punggung Amier. Setelah dirasa Ameera sudah nyaman dengan posisinya, Amier berdiri dan mulai berjalan menyusuri bibir pantai.
"Bagaimana, apakah aku sudah seperti karakter novel yang sering kamu baca?" tanya Amier dengan sedikit menoleh ke belakang.
Ameera tertawa, "mirip bahkan lebih manis," ungkap Ameera.
"Lebih manis? Oh ya tentu, bahkan karakter dari novel yang kamu baca tidak ada yang setampan aku." Amier membanggakan diri
Ameera kembali tertawa. "Iya-ya-ya-ya Amier Yusuf Al Husein itu memang paling tampan sejagat raya dan tentunya istri orang itu juga sangat manis." Ameera tak mau kalah.
Amier terkekeh. "Narsis," ledeknya.
"Ini bicara kenyataan ya Pak bukan narsis." Ameera membela diri.
"Iya-iya nyonya Amier, baiklah lapar tidak?"
Ameera mengangguk.
"Ada yang di mau dimakan?" tanyanya lagi.
"Ada, aku mau makan seafood." Ameera menjawab dengan riang.
"Ini bukan ngidam kan? Kita baru semalam---"
Mulut Amier di bekap oleh Ameera. "Amier pelankan suaramu! Malu tau!" seru Ameera, karena dia tahu arah dari ucapan Amier, Amier hanya tertawa.
Dan sepanjang bibir pantai Amier berjalan, mereka saling tertawa dan saling cerita hal yang lucu.
💢💢💢💢
Maryam duduk di meja kasir dengan tatapan kosong. Pikirannya kemana-mana, ia masih teringat dengan ucapan Bian beberapa jam lalu.
Berkali-kali dia menghela nafas. "Ada apa dengan aku ya Allah? Ada rasa yang tak rela di dalam hatiku, apa aku cemburu dengan kakakku sendiri?" gumam Maryam lirih.
"Jagalah hatiku dari kedengkian ya Allah, aku tau pernikahan ini bukan dari hasil antara suka satu sama lain. Ya Allah semoga ini yang terbaik untukku darimu." Maryam berdoa di dalam hati.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.