
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Bian menatap intens Maryam membuat siempunya jadi salah tingkah karena tengah di tatap macam itu.
"Bo-boleh lepaskan aku?" tanya Maryam.
Bian tak bergeming, tatapannya mengarah pada kimono handuk yang di kenakan Maryam melorot hingga menampakkan bahu Maryam.
Bian mengerjap-ngerjapkan matanya menetralkan hasrat yang dengan sekuat tenaga ia tahan. Tak lama dari perhatiannya Bian langsung melepaskan pelukannya dan membantu Maryam berdiri tegak.
"Terimakasih," ucap Maryam seraya membetulkan kimono-nya.
"Ada yang perlu di bicarakan kah?" tanya Bian.
Maryam menunduk. "Aku-aku-aku mau-mau--"
"Mau apa?" Bian terus saja memberikan pertanyaan yang membuat Maryam sedikit kesal.
Tidak tahukah dia jika detak jantungnya semakin ribut saat hendak mengatakan intinya? Apa dia tidak bisa membantu untuk Maryam bisa lebih relaks paling tidak ada inisiatif gitu? Astaga, Maryam ingin menjerit rasanya.
"Maryam--"
"Bian--"
Mereka memanggil nama satu sama lain bersamaan dan hal itu membuat mereka saling terkekeh.
"Kau duluan," ucap Maryam.
"Baiklah, aku laki-laki maka aku yang dulu mengatakan dalam hal ini." Bian mencoba mencairkan suasana.
"Aku sudah tau dari kak Syifa dan barang yang kau sembunyikan di tanganmu saat di kamar, emm--" perkataan Bian menggantung dan mendekati Maryam hingga mengikis jarak antara mereka.
Bian menyentuh pucuk kepala, turun ke pipi dan berakhir di dagu Maryam. Maryam tak menolak perlakuan Bian dan bahkan sangat menikmatinya.
Dia sudah siap kali ini. Dia sudah ikhlas kali ini, dan semoga ini awal dari sebuah hubungan pernikahan mereka yang baik kedepannya.
Bian semakin mendekat dan wajahnya dengan wajah Maryam sudah menempel. Bian berbisik di telinga Maryam.
"Kita sholat dulu." Bian tersenyum.
Maryam yang tadinya memejamkan mata kini terbuka pelan dan langsung terkekeh seraya tersenyum.
"Ayo," ucap Maryam.
Bian ikut tersenyum melihat lucunya Maryam dengan nada yang lembut seperti ini.
Mereka mengambil wudhu dan kemudian sholat berjamaah. Setelah itu, Maryam dan Bian saling menyatukan hati dan juga raga mereka.
Berharap akan ada kabar baik, dan juga akan membuat rumah tangga mereka lebih dan semakin bahagia.
Di waktu yang bersamaan, Syifa senyum-senyum sendiri. Malik yang melihat itu pun jadi heran dan memegang kening istrinya.
Asyifa memutar bola matanya jengah. "Aku nggak demam Mas," sahut Syifa.
"Ada apa sih senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Malik.
Asyifa makin melebarkan senyumnya. "Nggak ada apa-apa, hanya permainan kecil yang bisa membuat keluarga bahagia dan harmonis." Syifa memberi tahu tanpa menjelaskan apa maksud sebenarnya.
Malik memicing matanya. "Permainan apa?" tanya Malik.
"Ada deh, yang jelas aku rasa semua berjalan baik, bahkan sangat baik," kilah Syifa.
Malik hanya menghela nafas panjang. "Sudahlah kalau nggak mau ngasih tau," Malik merebahkan tubuhnya dan menarik selimut kemudian memunggungi Syifa.
"Dih ngambek, yakin nih ngambek? Padahal hari ini aku sudah suci loh," Syifa meledek.
Malik yang awalnya memejamkan mata kini terbuka lebar dan langsung mengubah posisi menghadap Syifa.
"Beneran?" tanyanya dengan mata berbinar.
Syifa mengangguk. "Jadi, mau ngambek lagi?" ledek Syifa.
Malik menggeleng cepat dan langsung menunaikan apa yang dia tunda dari seminggu yang lalu.
💢💢💢💢
Di rumah Shinta. Ibu hamil itu masih saja belum tertidur bahkan memejamkan matanya saja tidak bisa. Shinta begitu gusar dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Vano yang merasa tempat tidurnya bergerak pun ikut terjaga. Di lihatnya sang istri yang tengah membolak-balikkan tubuhnya dengan gusar.
"Kamu kenapa sayang?" tanyanya seraya mengucek matanya.
"Aku nggak bisa tidur," sahutnya Shinta.
"Kenapa nggak bisa tidur? Apa ada sesuatu yang buat kamu nggak bisa tidur?"
Shinta mengangguk. "Aku mau rendang buatan kak Malik lagi," rengek Shinta.
Vano menoleh dan melihat jam yang tertempel di dinding. Vano membulatkan matanya dan menoleh ke sang istri.
"Jam tiga pagi Yang!" ucap Vano sedikit terkejut.
"Maka dari itu aku bingung harus apa, dan aku mau itu sekarang, gimana dong," rengek Shinta.
Air matanya tiba-tiba keluar begitu saja tanpa ada aba-aba. Dia merasa sedih hingga menangis.
"Cup-cup-cup, kamu nggak boleh nangis gitu sayang, nanti baby- nya ikut sedih." Vano menarik tubuh Shinta kedalam pelukannya.
Hormon ibu hamil begitu cepat berubah, dan Shinta merasakannya sekarang. Dia bahkan tidak tahu kenapa begitu sensitif dan sampai menangis hanya karena hal seperti itu.
"Besok saja ya, kak Malim sudah tidur kasian. Dan besok aku janji akan minta kak Malik buatin yang banyak khusus buat kamu." Vano mencoba menghibur.
Shinta mengangguk paham. Dan tak lama dia tertidur pulas di dekapan suaminya.
💢💢💢💢
Pagi telah tiba, Shinta sudah rapi padahal ini masih pukul 07.15. Shinta menunggu di meja makan menunggu suaminya turun untuk mengantarnya ke rumah Asyifa.
Dan setelah Vano turun, Shinta dengan tidak sabarnya menarik lengan suaminya itu untuk ke mobil.
"Cepatlah!" seru Shinta semangat.
Vano menggelengkan kepalanya saja
Untung saja sudah lebih dulu menelpon Malik pas Shinta tengah terlelap. Dan untungnya juga Malik masih terjaga hingga mengikis rasa bersalahnya karena menggangu malam-malam. Dan Vano di kabari oleh Malik jika pesanan Shinta tengah di buatkan.
Sepanjang perjalanan Shinta tak melunturkan senyumnya dan terus saja mengusap-usap perutnya yang masih rata. Vano ikut bahagia melihat sang istri juga bahagia.
Setelah sampai di kediaman Syifa, Shinta turun dengan tidak sabar.
"Hati-hati!" peringat Vano saat Shinta hendak berlari.
Shinta langsung memelankan langkahnya. Dan berjalan dengan santai. Vano mengikuti Shinta dari belakang.
Shinta mengetuk pintu dan tak lama pintu itu terbuka dengan menampilkan Syifa. Syifa menyambut hangat kedatangan calon ibu itu dan mempersilahkanya untuk masuk.
Shinta tentu tak lagi sungkan untuk itu, karena dia sudah sangat sering main ke rumah mereka dan tak jarang juga akan menginap saat dia masih belum menikah.
Mereka menuju dapur untuk menemui Malik. Dan Malik ternyata sedang memindahkan rendang tersebut kedalam piring.
"Hai, Nona cantik," sapa Malik tersenyum.
"Hai, Kak," sapa balik Shinta.
"Silahkan duduk dan menikmati hasil masakan chef Malik ini. Dan ingat ya, jangan berlebihan. Karena yang berlebihan nggak akan baik. oke!" ucap Malik.
Shinta menyengir dan mengangguk. "Siap bos!" sahut Shinta.
Mereka duduk dan mulai menikmati sarapan mereka.
"Jadi nggak enak nih kak, kita numpang sarapan di rumah kalian," ujar Vano tak enak.
"Oh tidak masalah, yang penting calon ibu itu bahagia dan membahagiakan seorang ibu hamil itu pahalanya berlimpah loh," ucap Malik.
Vano mengangguk, " makasih kak."
"Eit, jangan makasih dulu, ini bill- nya Tuan!" ucap Malik bercanda.
Syifa menyikut Malik dan itu mengundang tawa semua yang ada di meja makan.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.