
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Malam telah larut, tapi dua insan beda gender ini belum juga memejamkan mata mereka.
Segala posisi tidak ada yang buat mereka nyaman untuk memejamkan mata.
Maryam membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman. Tapi tak bisa dia dapatkan juga.
Ponselnya menyala terang tanda ada notifikasi masuk. "Maryam, sudah tidur kah?" tanya seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Bian.
Maryam langsung membalasnya. "Belum, aku belum ngantuk dan nggak bisa tidur." Ungkapnya.
"Mau saya nyanyikan?" tawar Bian.
Maryam terkekeh. "Bisa kah?" balas Maryam terlihat tak percaya.
"Sedikit mungkin saya bisa," jawab Bian.
"Baiklah, silahkan." Maryam memberi izin.
Bian beralih ke panggilan telepon dan dengan segera Maryam menerimanya.
"Sudah siap mendengarkan?" tanya Bian.
Maryam mengangguk dan jawaban 'iya' mengikuti.
Sebuah lagu dari Wali mengawali nyanyian dari Bian.
Kau mau apa, pasti 'kan 'ku beri
Kau minta apa, akan 'ku turuti
Walau harus aku terlelah dan letih
Ini demi kamu, sayang.
Maryam terkekeh. "Mau mencoba menggodaku?" tanya Maryam.
Nyanyian Bian terhenti. "Tidak, hanya mau nyanyi ini saja."
Maryam kembali terkekeh. Tapi lirik yang di nyanyikan Bian selanjutnya membuat ia bungkam.
Aku 'tak akan berhenti menemani dan menyayangimu
Hingga matahari 'tak terbit lagi
Bahkan bila aku mati, 'ku 'kan berdoa pada Ilahi
'Tuk satukan kami di Surga nanti
Bian terus saja menyanyikan lagu itu hingga lirik terakhir. Maryam masih tertegun, hatinya bergejolak menahan sesak. Apakah lagu ini menyampaikan maksud dari hati Bian sendiri?
Maryam jadi merasa bersalah, dia merasa telah mempermainkan hati laki-laki itu.
Tak ada protes lagi dari Maryam hingga Bian memanggil namanya berulang kali.
"Kamu sudah tidur?" tanya Bian.
"Belum," jawab Maryam dengan suara purau.
Bian jadi khawatir. "Kamu menangis? Apa sebegitu indahnya hingga kami tak bisa berkata-kata?"
Kata-kata dari Bian membuat Maryam tertawa. "Kok malah tertawa sih," heran Bian.
"Habisnya, bapak dengan nada khawatir tapi narsis, kan jadi lucu," sahut Maryam.
"Tapi memang begitu kan, jujurlah." Ucap Bian.
"Enggak! Yang ada hancur suaranya, makanya dari tadi aku tutup telinga." Kata Maryam.
"Iya kah, sayang sekali," sesal Bian, dan itu malah membuat Maryam tertawa lepas.
"Maryam," panggil Bian.
Maryam menghentikan tawanya. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Boleh tidak kamu panggil saya dengan sebutan nama saja tanpa ada embel-embel bapak?" pinta Bian.
Maryam terdiam sejenak, "apakah hal itu mengganggumu?" tanya Maryam lagi.
"Emm, sejujurnya tidak, tapi bagaimanapun juga nantinya kamu akan jadi istri saya, paling tidak kamu bisa kan mengubah panggilan itu, masa iya suami istri manggil nya bapak?" protes Bian.
"Ayolah Maryam," rengek Bian.
Entahlah, mengapa laki-laki itu berbicara dengan suara yang manja seperti ini, Maryam jadi bingung juga. Tapi di balik semua itu, hati Maryam terasa hangat karena tidak ada rasa canggung di antaranya.
"Baiklah-baiklah, aku bakal panggil nama saja ya."
Di seberang sana Bian tersenyum bahagia. "Terserah asal jangan bapak. Saya nggak menikah sama ibu kamu."
Maryam terkekeh. Setelah hampir tiga puluh menit mereka mengobrol, Maryam terus saja menguap. Bian yang mendengar itu pun menyudahi obrolan nya.
Maryam tersenyum dalam tidurnya, sedangkan Bian, dia masih malu-malu mengakui kenapa bisa dia berperilaku seperti itu.
"Arrgghhh! Sudahlah, aku emang aneh. Bisa-bisanya aku seperti itu," rutuk Bian heran.
Bian merebahkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya, dia kembali terkekeh. "Aku rasa, aku sudah gila."
💢💢💢💢
Paginya, Bian sudah rapih dengan tas kantor di tangannya. Annisa menoleh saat anak bujangnya itu duduk di sebelahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Annisa.
"Kerja lah Bun, memangnya mau ngapain lagi?" ucap Bian seraya mengambil nasi goreng.
Annisa menatap tajam Aditya yang asik memakan rotinya. "Kenapa?" tanyanya bingung karena sang istri menatapnya seperti akan memakannya.
"Kamu tidak bisakah kasih libur buat Bian?!" ketus Annisa.
Bian terkekeh begitupun dengan Amier dan Ameera. Aditya mengedarkan pandangannya pada mereka dengan pandangan mata yang tajam juga.
"Dia itu mau menikah, kamu nggak bisa kah kasih libur! Kerja terus!" ketus Annisa.
"Nggak gitu Nis, aku sudah bilang sama dia kok. Tapi kamu tau sendiri Bian seperti apa?" bujuk Aditya.
Tatapan Annisa mengarah pada Bian. Bian menyengir polos. "Kamu juga!" kesal Annisa.
"Ayolah Bun, cuma ketemu klien doang kok. nggak lebih." Bian memberi alasan.
"Bian janji lepas ketemu klien Bian bakalan langsung pulang," sambungnya.
Annisa menghela nafas panjang. "Ya sudah, lepas meeting langsung pulang nggak ada tapi-tapian!" peringat Annisa. Bian mengangguk patuh.
💢💢💢💢
"Wah, kamu cocok banget tau pake pakaian ini Mar, coba saja aku punya badan macam kamu ini," keluh Hilda teman Maryam.
Maryam terkekeh. "Nggak boleh gitu, kamu juga cantik kok. Jangan minder nanti ayam tetangga pada setres." Maryam menyahuti membuat temannya itu cemberut.
Maryam kini tengah di hotel tepatnya di tempat kerjanya yang baru. Dia baru kemarin di terima dan sudah mulai bekerja di hari ini.
Bagian resepsionis adalah kerjaannya sekarang. Kerjaannya sekarang lebih santai dari pada kerjaan yang dulu. Tak ada masalah untuk seorang Maryam untuk pekerjaan apapun yang penting itu baik. Itu jauh lebih baik bukan dari pada harus menganggur?
Maryam kembali ke meja resepsionis untuk melaksanakan tugasnya.
****
Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh pagi, hari itu ramai pengunjung untuk cek in dan cek out. Sayup-sayup Maryam mendengar teman satu sift- nya yang membicarakan tentang Manager hotel itu yang terkenal cantik dan sangat baik.
Maryam menggelengkan kepalanya, merasa mereka membicarakannya yang un-faedah.
"Wah mereka lewat sini," bisik temannya pada teman di sebelah Maryam.
Mereka saling bisik dan mengagumi mereka yang di tujukan pada manager dan, Maryam mendongak, penasaran juga dia. Tapi, apa yang di lihatnya begitu membuat hati Maryam tercubit.
"Ya ampun, apa ini. Kenapa dia disini?" gumam lirih Maryam seraya menatap lurus ke depan.
Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat mata si lelaki itu bertemu dengan mata Maryam hingga langkahnya terhenti. Ekspresi wajah mereka berdua tak terbaca.
"Pak Bian, ayo," panggil sang manager dan Bian pun memutus tatapannya dan mengikutinya.
Iya, dia adalah Bian. Bian ke hotel itu untuk membicarakan bisnis, dan tak sengaja pula bertemu dengan Maryam calon istrinya.
Maryam tersadar dan tersenyum saat rekan kerjanya menggoyangkan lengannya dan masih ribut dengan rasa kagum mereka.
Maryam kembali mengikuti arah jalan Bian dan sang manajer tersebut dengan menghela nafas berat.
"Ya Allah, jaga hatiku." Maryam berdoa dalam hati.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍