I Finally Found Love

I Finally Found Love
48.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Tak jauh berbeda dengan Bian. Pemuda itu juga ada rasa tapi tak bisa mengungkapkan apa yang ia rasa. Sulit sekali mengartikan rasa apa itu. Pemuda dengan lesung pipi yang menawan itu pun hanya bisa memendamnya.


Di dalam mobil Bian berkali-kali menghembuskan nafas berat. Senyum nya terukir di wajah tampan nya.


Sudut mata nya menangkap satu benda yang tak asing namun dia lupa. Sebuah bolpoin dengan ukiran yang unik. Bian melihat spion memastikan aman sebelum memarkir mobil nya di samping bahu jalan.


Di ambil nya benda itu yang terjatuh di kolong dasbor mobil. Dia amati bolpoin itu dengan seksama mengingat dimana dia pernah melihatnya.


Mata Bian membulat saat mengingat milik siapa bolpoin itu. Senyum nya mengembang. Ada rasa rindu yang menghinggapi hati nya.


Di tempat lain, tepat nya di rumah Maryam. Gadis itu mengobrak-abrik isi dari tas selempang nya. Dia terlihat frustasi karena mencari sesuatu.


Kuku jempol nya dia gigit merasa bingung karena kehilanganmu barang itu. "Ya Allah, gimana ini," gusar Maryam mondar-mandir.


Maryam mengacak-acak kepala nya yang masih menggunakan hijab. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan," gumam Maryam frustasi.


Dia mendudukkan dirinya di atas ranjang dan memegang kepala nya yang pusing memikirkan dimana barang tersebut.


💢💢💢💢


Di waktu yang sama di sebuah kamar president suite, terlihat Ameera yang duduk di ranjang dengan meremat tangan satu sama lain dan berkali-kali. Ameera menghembuskan nafas berat dan mencoba menetralkan degup jantung nya.


Berkali-kali ia melirik pintu kamar mandi yang kini sedang digunakan oleh Amier. Dia bingung harus melakukan apa saat ini. pikirannya begitu kacau.


Dia mengusap telapak tangannya yang berkeringat. "Aku gugup banget," gumam nya.


Pakaian pengantin nya masih lengkap dia kenakan sama sekali belum di ganti. Karena merasa gugup membuat nya tidak berfikir jernih. Yang dia lakukan hanyalah menetralkan degup jantungnya saja.


Menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nya perlahan, terus saja seperti itu hingga dia terlalu fokus dan tidak menyadari kedatangan Amier sang suami.


"Lagi apa?" tanya Amier yang datang tiba-tiba.


"Aaa! Amier!" tangan Ameera memukul lengan Amier begitu gemas.


"Kok malah di pukul sih?" tanya heran Amier.


"O-oh maaf aku reflek. Lagian kamu kenapa tiba-tiba dateng tanpa suara sih?!" Ameera jadi kesal.


"Loh, aku sudah manggil-manggil kamu loh Meera, tapi nggak nyaut-nyaut." Amier membela diri.


"Oh, maaf," Ameera terkekeh dengan kekonyolan nya.


Seketika rasa canggung itu hilang entah kemana. Tapi detik kemudian saat Amier memeluknya dari belakang membuat Ameera menegang kaku seketika.


Amier yang merasakan kekakuan dari Ameera pun tersenyum. Dengan sengaja ia semakin mendekatkan wajah nya di ceruk sang istri.


"Kau takut?" tanya Amier menggoda.


"A-ak-aku," tiba-tiba Meera menjadi gagu seketika.


Amier menggenggam tangan Ameera dan menciumi punggung tangan nya bertubi-tubi.


"A-Amier," panggil nya. Amier hanya menjawab dengan gumaman.


"Kau takut?" tanya Amier lagi.


Dengan perlahan Ameera mengangguk. Amier tersenyum. "Aku tau ini akan jadi hal yang menakutkan untuk perempuan. Tapi kalau kita saling percaya Insya Allah semua nya akan baik-baik saja." Amier mencoba untuk mencairkan suasana.


"Aku masih takut." Sahut Ameera.


"Kamu takut, tapi aku masih laper," perkataan Amier membuat Ameera membulatkan mata nya.


Ameera menoleh dan pandangan mereka bertemu. "Kamu nggak mau mandi kah? bathtub- nya sudah aku isi nanti ke itu dingin."


Tanpa di duga Amier akan mengatakan hal itu. Mata Ameera mengerjap beberapa kali untuk menyadarkan dirinya. Dengan cepat Ameera berdiri. "Iya aku mau mandi sekarang!" jawab cepat Ameera dan berjalan dengan tergesa ke kamar mandi.


Ameera menoleh. "Jangan buru-buru. Nikmati waktumu." Ameera mengangguk dan berjalan kembali.


"Meera," panggil Amier lagi.


Ameera menghentikan langkahnya dan menoleh lagi. "Aku menunggumu," ucap Amier sambil tersenyum.


Pipi Ameera bersemu merah. Dia rasa dia tahu apa yang di maksudkan oleh Amier, suami nya. Suami? Ya ampun Ameera bahkan tidak percaya dia sudah menikah sekarang.


Setelah itu Ameera kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


💢💢💢💢


Asyifa melihat Bian begitu aneh. Adik laki-laki nya itu seperti orang yang kurang waras, senyum-senyum sendiri bahkan sapaan nya tak ia balas. Bian langsung menaiki tangga menuju kamar nya.


"Kenapa Yang?" tanya Malik yang berjalan dari arah belakang.


Syifa melirik lalu kembali fokus pada sang adik yang kian tinggi menaiki tangga. "Ada yang aneh sama Bian Mas, kira-kira kenapa ya Mas?" heran Syifa.


Malik mengikuti arah pandang sang istri dan tersenyum. "Paling lagi kasmaran," sahut Malik dengan entengnya.


"Iya kah?" tanya Syifa lagi.


"Sudah jangan di pikirkan, ini sudah larut loh Yang, anak-anak sudah tidur dari tadi, enak nya kita ngapain ya Yang?" Malik tersenyum penuh arti.


Syifa melirik ke arah suami nya dan menyipitkan matanya. "Maaf tuan, anda harus puasa dulu karena ada tamu spesial." Syifa membalas dendam senyum puas.


Tangan Syifa yang tadinya terlipat di depan dada, kini berpindah ke pipinya dengan senyuman genit. Malik menatap Syifa dengan ekspresi yang frustasi.


"Jangan di imut-imutin gitu dong Yang, kamu mau nyiksa aku kah?!" kesal Malik.


Asyifa tertawa puas. "Selamat malam dan tidur suamiku sayang," Syifa mengelus sayang pipi Malik dengan gemas lalu meninggalkan nya. Sedangkan Malik mengacak rambutnya dengan kesal.


 


Sinar matahari sudah meninggi, tapi sepasang insan anak manusia ini masih setia dengan tubuh yang rapat tertutup selimut.


Setelah kejadian beberapa jam yang lalu selepas sholat subuh yang menyebabkan mereka kelelahan. Apalagi jika bukan hal yang Sunnah namun mampu menyatukan dua hati dan juga mengubah status mereka.


Ya, kini Ameera sudah resmi bahkan sangat resmi menjadi seorang istri dari Amier. Dia sudah tak lagi mengemban status gadis tapi kini menjadi seorang wanita.


Ameera menggeliat dan merasakan tubuhnya sakit. Bahkan area inti juga membuatnya mengernyitkan dahinya.


Di liat nya sekeliling dan menemukan sosok yang dia cintai berada di sampingnya dan memeluk dengan erat membuatnya susah untuk bergerak.


Dan yang utama adalah memory- nya tentang kejadian itu membuatnya bersemu malu. Di tatap nya wajah tampan dengan rahang yang tegas penuh karisma sang suami.


Ameera mengulurkan tangannya menyentuh pipi suaminya itu dan menunjuk-nunjuk dengan jarinya.


"Tampan ya?" suara Amier tanpa membuka mata mengagetkan Ameera.


Ameera langsung memundurkan jarinya namun Amier dengan sigap menggenggamnya.


Mata Amier terbuka. "Pagi," sapa Amier.


Ameera melirik jam yang ada di dinding dan mengernyitkan dahinya. "Sudah siang Mier." Ameera meralat, Amier hanya terkekeh geli.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


1.) FABIAN PUTRA MALIK



2.)MARYAM ASHALIN