I Finally Found Love

I Finally Found Love
25.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Bian berjalan menuju kasir untuk membayar belanjaan nya. Setelah sampai, bukan nya si kasir menghitung belanjaan Bian, tapi dia malah menatap wajah Bian tak berkedip.


"Mbak? Saya tau Saya pesona. Tapi tolong di hitung yah, Saya masih aada pekerjaan." Sopan Bian.


"Eh! Iya Mas, maaf." Kata kasir canggung.


"Kalau boleh tau, bisa tau nama Mas siapa?" tanya nya lagi.


"Buat apa Mbak tanya nama Saya?" Bian bingung.


"Buat Saya doa'kan di sepertiga malam Saya Mas, kali saja Kita jodoh." Ucap nya lagi dan tersenyum ramah.


Bian terkekeh. "Kasihan Mbak yang di samping Mbak tuh?" tunjuk Bian pada mas-mas kasir yang mendadak salah tingkah.


Mbak kasir itu mencebikkan bibir nya lucu seraya memberikan belanjaan Bian. Bian tertawa. Saat Bian tertawa, suara ribut-ribut di luar mini market menarik perhatian nya.


Bian keluar dan menaiki motor nya, tapi rasa nya seakan berat untuk pergi meninggalkan kerumunan di dekat mini market. Karena penasaran, Bian pun akhirnya menghampiri kerumunan itu.


Mata Bian membulat saat melihat sosok yang tergeletak di jalanan itu adalah Maryam. Wanita yang dia kenal.


"Tolong permisi!" seru Bian meminta jalan.


"Maryam?!" seru Bian seraya menepuk pipi Maryam pelan.


"Tolong Carikan taksi!" pinta Bian pada salah satu orang yang ada di sana.


Dengan sigap orang itu mencoba menghentikan taksi yang lewat. Entah kebetulan atau keberuntungan, tak lama taksi lewat dan berhasil di berhentikan.


Bian mengangkat tubuh Maryam dan masuk kedalam taksi. "Ke rumah sakit terdekat Pak!" pinta Bian.


"Baik Den!" sahut supir.


Hanya menempuh perjalanan tak sampai sepuluh menit, mereka sampai di rumah sakit. Dengan sigap Bian membawa Maryam untuk mendapatkan pertolongan.


Maryam langsung mendapatkan pertolongan pertama oleh dokter. Bian menunggu di depan ruang unit gawat darurat.


Ponsel Bian bergetar. "Hallo, assalamualaikum bun?" sapa Bian.


"Bian lagi di rumah sakit bun ,,," ucapkan Bian terpotong.


"Bu ,,, bukan, dia teman Bian bun. Dia kecelakaan. Jadi Bian tolong dia. Maaf yah bun, mungkin Bian akan telat pulang." Sesal Bian.


Bian tahu bagaimana khawatir nya Annisa. Tapi bagaimana lagi, memang keadaan nya harus seperti ini. Dan Annisa tahu hal ini tidak bisa di tinggal kan begitu saja.


Hampir empat jam Bian menunggu di kursi tunggu depan ruangan UGD, karena kelelahan, akhirnya Bian tertidur dengan posisi yang meringkuk di atas kursi.


Seorang perawat membangunkan Bian. Bian terbangun lalu langsung menemui dokter setelah di beri tahu oleh perawat tersebut.


Bian bertanya bagaimana keadaan Maryam, dan dokter mengatakan jika Maryam tidak apa-apa. Bian bisa bernafas lega.


Setelah menemui dokter yang menangani Maryam, Bian masuk ke dalam ruangan Maryam karena wanita itu sudah di pindahkan ke ruang rawat.


Bian menatap wajah teduh dengan hidung yang terpasang ventilator dengan kasihan. "Kenapa saat Aku bertemu denganmu, Kamu selalu dalam masalah? Dan sekarang malah Kamu tidak sadarkan diri." Monolog Bian.


Pintu terbuka dengan sedikit kasar, seorang wanita paruh baya masuk dengan air mata yang mengalir. Tapi dia tak sendiri, dia bersama dengan laki-laki yang tak asing di mata Bian. Dia lah laki-laki yang bersama Maryam waktu itu.


Bian jadi sedikit emosi jika mengingat kejadian waktu itu. Wanita paruh baya yang menurut Bian adalah ibu dari Maryam pun menghampiri sang putri. Dengan tangan yang sedikit gemetar dia mengusap lembut kening Maryam.


Bian mengangguk. "Saya pulang dulu, permisi." Kata Bian sebelum pergi.


"Tunggu Nak. Saya sangat berterimakasih sudah menolong putri Saya, maaf merepotkan."


Bian menoleh ke belakang. Dia tersenyum sopan. "Tidak apa-apa kok Tante, ini kewajiban Saya sebagai teman." Ucap Bian.


"Oh, Kamu teman Maryam, sekali lagi maaf dan terimakasih." Sahut ibu Maryam menggenggam tangan Bian.


Bian tersenyum. "Sama-sama Tante, ya sudah Saya pamit ya Tante" Ucap nya lagi, Bian melirik laki-laki yang berdiri di samping Maryam. Laki-laki itu membalas lirikan Bian dengan menatap tajam Bian.


💢💢💢💢


"Assalamualaikum?" sapa Bian.


Tak ada siapapun yang terlihat di dalam rumah, lampu saja sudah padam dan suasana sangat sepi karena memang sudah sangat larut, jam sudah menunjukkan pukul satu pagi.


Bian duduk di sofa dan melepaskan sepatu yang dia kenakan. Bersandar ke belakang dan mengusap wajah nya. Rasa lelah hari ini berlipat ganda.


Setelah mengantar dan menunggu Maryam sampai ibu nya datang lalu harus kembali lagi ke kantor nya karena pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga. Dan al-hasil waktu lembur nya jadi bertambah.


Hampir-hampir dia tertidur di sofa jika saja lampu yang tiba-tiba terang itu tidak mengganggu pejaman mata nya. Seketika Bian membuka mata dan mendapati sang bunda yang berdiri di samping tembok yang terdapat saklar lampu.


Bian bangkit dan menghampiri Annisa. "Kenapa Bunda belum tidur?" tanya nya.


"Bunda nggak bisa tidur kalau anak Bunda belum pada pulang, dan Kamu kenapa begitu telat pulang nya?" tanya Annisa sedikit mengomel.


Bian terkekeh, masih saja bawel bunda nya itu meski sudah di jelaskan keadaan nya seperti apa.


"Bunda memang the best kalau ngomel."


Bukan nya Bian takut ataupun itu, dia malah tersenyum merasa di perhatikan. Beruntung nya dia punya bunda yang sangat pengertian dan juga perhatian. Sampai-sampai menunggu hingga selarut ini.


Dia jadi merasa bersalah. Tapi di balik itu semua, dia bahagia. "Maafin Aku yah Bun," ucap nya.


Annisa menghela nafas, " ya sudah Kamu bersih-bersih lalu tidur yah, sudah makan belum?" tanya nya dan di angguki oleh Bian.


Annisa mengangguk dan Bian meninggalkan Annisa yang diam menatap putra nya menaiki tangga.


Melihat kepergian Bian, Annisa jadi teringat Amier, apa kabar nya putra nakal nya itu. Huft! Baru dua hari di tinggal saja rindu nya sampai seperti ini, bagaimana jika dia sudah menikah nanti, pasti akan sangat rindu.


Tak menyangka jika putra-putri nya semua sudah dewasa, dia rasa baru kemarin mereka bertengkar saling merebutkan es krim, dan kini mereka sudah tak lagi melakukan hal itu.


Tak dapat di pungkiri jika dai kini sudah tua.


"Jangan melamun, ayo tidur lagi. Putramu sudah masuk kamar sedari tadi, dan Kamu ngapain masih bengong di sini?" Aditya merangkul Annisa dari belakang membuat wanita itu terlonjak kaget.


Annisa sedikit senyum dan mengangguk. Aditya menggandeng tangan Annisa dan membawa nya masuk untuk beristirahat.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.


Setelah sampai dan turun dari motor nya, Amier langsung berlari dan mengetuk pintu dengan tidak sabar. Bel rumah pun dia pencet beberapa kali hingga bibi asisten rumah tangga Ameera keluar.


"Den Amier?" sapa nya ramah, meski sebenarnya kesal karena bel yang berbunyi terus menerus karena di pencet berulang-ulang oleh pemuda di hadapannya itu.


"Ameera ada Bi?" tanya nya dengan sedikit nafas yang memburu.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.