
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Amier menghentikan motornya di depan rumah, masa honey moon sudah selesai dan kini mereka akan kembali melakukan aktivitas mereka yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.
Ameera menatap rumah di depannya dengan sedikit gugup, dia tidak percaya saat berkunjung kembali ke rumah itu statusnya sudah berubah menjadi seorang istri dari Amier dan menantu dari keluarga itu.
Amier menoleh ke belakang melihat sang istri yang berdiam diri saja. "Ada apa? Ayo masuk." Ucapnya.
Amier mengulurkan tangannya untuk Ameera genggam, Ameera meraihnya dan menggenggamnya dengan erat. Amier merasakan hawa dingin dari tangan Ameera, Amier tersenyum.
"Ceritanya grogi nih?" ledek Amier.
Sontak hal itu membuat Ameera cemberut dan memukul bahunya dengan gemas. "Jangan diledek begitu dong, jahat banget sih! Nggak tau nerveus apa!?" keluh Ameera.
Amier terkekeh. "Masa sih nervous, padahal kan kamu suka sering bolak-balik ke sini bahkan tanpa diminta." Amier menyindir.
Ameera menganga kemudian mengatupkan bibirnya rapat seraya meremat tangannya sendiri sembari menggeram menahan emosi. "Iya, emang aku kesini itu bolak-balik. Tapi itu kan karena bunda kamu yang minta aku kesini!" kata Ameera dengan menggertakkan giginya.
"Sudahlah, ayo nggak perlu nervous lagi, kamu itu sudah menjadi istriku. Nggak mungkin juga kan kamu aku tinggal di sini dan aku masuk sendiri," ucap Amier enteng.
Ameera kembali cemberut. "Jahat banget sih!" seru Ameera sedikit kesal.
Amier kembali terkekeh, "apa perlu aku gendong biar romantis gitu," tawar Amier.
"Nggak perlu! Aku bisa sendiri!" kata Ameera menghempaskan genggaman Amier dan masuk ke dalam rumah dengan kaki yang di hentakkan ke lantai.
Amier hanya menggelengkan kepalanya, dia bukan marah tapi dia malah gemas dengan kelakuan sang istri.
"Assalamualaikum," sapa Ameera dengan sedikit tidak ramah.
"Pengantin baru sudah pulang? Cepatnya, nanti gak jadi dong?" tanya Asyifa setelah menjawab salam dari adik iparnya.
Ameera hanya tersenyum. "Iya Kak, kita bisa ke sana kapan aja, tapi pekerjaan kita nggak bisa ditunda kapan aja kan," sahut Ameera.
"Tapi kayaknya kesel gitu, kenapa?" tanya Asyifa. Bahkan wanita itu sampai mendekati adik iparnya dan memutari seperti mencari pelaku pencurian.
"Nggak apa-apa kok Kak, cuman agak kesel aja." Ameera mengadu.
"Siapa?" tanya Syifa, sudut mata Asyifa menangkap sosok Amier yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Adik comel ya yang buat kamu kesal?" tebak Asyifa.
Tidak ada jawaban dari Ameera, tapi dari ekspresi yang diberikan oleh Ameera, Asyifa sudah menebak bahwa hal itu adalah benar.
"Kamu apakan istri kamu? Pulang honeymoon masa udah berantem?" tanya Asyifa penasaran
"Nggak loh Kak, itu masalah--"
"Siapa yang berantem?!" sebelum Amier menyelesaikan perkataannya, Annisa ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.
"Anak bujang Bunda tuh, buat menantu Bunda sebel. Liat wajahnya tuh, macam anak nggak dikasih uang jajan."
Ameera tersenyum tertahan dengan apa yang di ucapkan oleh Asyifa.
"Kamu itu ya!" kesal Annisa seraya menjewer telinga Amier dengan gemas.
"Aw-aw-aw! Sakit Bun!" seru Amier mengaduh.
Annisa melepaskan tangannya. "Jangan suka nyakitin perempuan apalagi istri kamu. Awas kalau Bunda denger kamu sakiti Ameera, Bunda coret dari KK!" peringat Annisa.
"Kan emang sudah di coret Bun, sudah nggak lagi di KK," ucap Amier yang masih mengelus telinganya yang masih panas.
Ameera dan Asyifa terkekeh begitupun dengan Annisa. "Ya makanya Bunda berani ngomong. Sudahlah, ayo makan." Annisa menggandeng Ameera menuju meja makan.
Asyifa melihat kepergian sang bunda dan iparnya pun menggeleng-gelengkan kepalan. Sudut matanya melirik sang adik.
"Ayo, mau berdiri disini sampai kapan?"
"Iya-iya." Amier Asyifa ikut bergabung di meja makan yang terlihat Annisa begitu antusias dengan melayani menantunya.
Ameera yang di perlakukan seperti itu pun merasa terharu, meski dia tahu jika mertuanya itu penyayang dari dulu, tapi hal ini terasa berbeda.
Banyak orang bilang jika ibu mertua itu jahat, tapi dia tidak menemukannya di diri mertuanya itu. Dia berharap selalu akan seperti ini sampai nanti.
"Kak, si kembar kemana?" tanya Ameera mencari dua bocah kembar menggemaskan itu.
"Mereka lagi ikut ayahnya, mungkin sebentar lagi juga pulang." Asyifa menyahut.
Ameera mengangguk paham. "Biar aku saja Bun, Bunda duduk cantik saja ya." Ameera mengambil alih sendok nasi dari tangan mertuanya saat Annisa sedang me-nyendokkan nasi keatas piring Amier.
Annisa tersenyum dan menyerahkannya. "Terimakasih," ucap Annisa dan di balas senyuman oleh Ameera.
"Wah, mantu Bunda pengertian sekali ya Bun," ledek Asyifa.
"Sayang," panggil Annisa. Seperti biasanya, Asyifa hanya tersenyum saja.
Ameera terkekeh. Dia tahu apa yang di maksudkan oleh Asyifa, kakak iparnya itu. Tapi dia tak tersinggung dengan ucapannya karena dia tahu jika Asyifa hanya bercanda meski dengan sedikit meledek.
"Emm, sebentar lagi akan ada mantu kedua nih, Bunda nggak usah repot-repot masak, ada yang mijitin, ada yang buatin teh buat Bunda, senangnya," ucap Asyifa seperti mengatur tugas pada bawahannya.
"Sayang, kamu itu ya suka sekali meledek adik-adikmu. Ingat ya, meski mereka bukan anak kandung Bunda, tapi Bunda akan bersikap adil sama kalian. Dan jangan merasa salah satu dari kalian yang di spesialkan. Semua sama rata dan tak ada pilihkasih. Mengerti!?" tegas Annisa.
"Ya jelaslah Bun, aku tau kok Bunda itu nggak akan pilih kasih. Aku tau itu." Asyifa menyahuti.
"Sudahlah, kalian itu nggak bisa kah adu argumennya nanti, keburu dingin tau." Amier melerai seraya menyuapkan sesendok makanan kedalam mulutnya.
Mereka saling terdiam. Ameera tersenyum tipis. Selalu saja seperti itu. Tapi di balik semua itu, dia tahu bagaimana sifat masing-masing. Dia sangat paham itu, jadi tak ada rasa tersinggung atau apapun itu.
Setelah makan siang, Amier masuk kedalam kamarnya, sedangkan Ameera dan Annisa mencuci piring dan tempat kotor bekas mereka makan. Asyifa menidurkan sang putri karena memang sudah waktunya untuk bocah itu tidur.
Ameera membereskan meja dan membawa piring bekas lalu meletakkan di wastafel. Tapi ada yang aneh dari mertuanya itu. Annisa terlihat begitu murung. Wajah yang kini sudah sedikit memiliki keriput itu basah karena matanya mengeluarkan air mata.
Ameera menepuk bahu Annisa. Annisa refleks mengusap air matanya. Ameera terlihat khawatir namun Annisa mengulas senyum.
"Bunda kenapa?" tanya Ameera. Annisa menggelengkan kepalanya.
Ameera menuntun ibu mertuanya untuk duduk. "Bunda kenapa?" tanya Ameera sekali lagi.
"Bunda cuma sedih, kalian tidak bisa tinggal disini kah? Bunda nggak mau pisah sama kalian." Annisa mulai mengeluh. Ameera melihatnya jadi tidak tega.
Di balik tembok pembatas, Amier melihat dua wanita yang dia cintai dengan tatapan sedih. Dia begitu tak tega melihatnya. Bingung akan keputusan yang akan dia ambil setelah ini.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.