
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Sore hari ini Bian dan juga Sari pergi ke pantai, mereka menikmati tenangnya air laut dan sinar senja yang begitu cantik bersama para teman yang lainnya.
Ya, hari ini Bian bertemu dengan para teman-temannya. Sari sengaja menginfokan kepada teman-temannya untuk datang.
Sari adalah arsitek pengganti yang di tunjuk oleh perusahaan. Dan Bian ikut terjun ke lapangan untuk meninjau pembangunan.
Di sini, di tempat ini Bian, Sari dan yang lainnya berkumpul. Mereka saling bercanda dan melepas rindu satu sama lain.
"Guys, kita naik kapal yuk, kita sudah lama nggak have fun bareng kan," ucap salah satu teman Bian.
"Iya nih, ayolah. Lagi pula aku sudah nyewa kapalnya, ayo kita nikmati senja sama-sama di tengah laut," timpal yang lain.
"Tapi, aku nggak bisa naik kendaraan laut, aku bisa mabok laut." Bian menginterupsi.
"Ya elah, bentaran doang kok, lagian sudah lama banget kali Bi, kamu harusnya sudah sembuh!" seru temannya dan mereka bersorak semuanya meminta Bian untuk ikut serta.
Mereka memaksa tak terkecuali Sari. Dia begitu senang karena bisa berlibur dengan Bian, teman masa sekolahnya. Dan juga, laki-laki yang pernah dia sukai sejak dulu.
Mereka menuju dermaga dan satu persatu dari mereka menaiki kapal tersebut.
"Ayolah Bian, ini aman kok. Mereka juga nggak ada yang keberatan." Sari berseru mengajak Bian dari atas kapal.
Bian dengan ragu menaiki kapal itu karena merasa tidak enak. Dan benar saja, Bian tak kuat dengan perjalanan laut. Dia sedari tadi menahan mual dan hendak muntah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sari.
Bian menggeleng, tubuhnya sudah sangat lemas. Teman-temannya begitu menikmati waktu mereka tapi tidak dengan Bian.
Sekitar satu jam mereka berlayar, selam itulah Bian menahan rasa mualnya.
"Aku antar pulang ya," tawar Sari. Bian mengangguk mengiyakan.
Namun bukan rumah yang di tuju, tapi hotel dekat pantai tersebut adalah tujuan dari Sari.
Sari membawa Bian yang mabuk laut itu ke hotel tempat di mana Maryam bekerja, memang kebetulan pantai itu dekat dengan hotel tempat kerja Maryam.
"Selamat datang," sapa Maryam dengan ramah. Senyumnya mengembang, namun setelah melihat siapa yang datang senyumnya tiba-tiba memudar.
Sari dengan susah payah nya menopang tubuh Bian yang hampir tidak sadarkan diri karena mabuk laut.
"Mbak, cek in ya Mbak, yang single room saja," kata Sari
Maryam masih mengulas senyum, profesional dalam pekerjaannya cukup diacungi jempol, dia mencoba menahan diri untuk tidak emosi atau apapun yang memicu keributan.
Maryam membantu check in Sari, saat akan menyerahkan key card kamar dengan sedikit gemetar Maryam menahan key card tersebut.
"Mbak, cepetan dong! sudah keberatan ini kasihan teman saya!" seru Sari tidak sabaran.
Sari merebut paksa kartu itu dari tangan Maryam. Maryam sedikit tersentak, dengan sekuat tenaga dia menahan amarahnya.
"Kamar 206," ucap Maryam sedikit bergetar.
"Baiklah, terima kasih," sahut Sari.
Sari membawa tubuh Bian yang lemah itu ke kamar yang sudah di beri tahu oleh Maryam, dengan sedikit susah Sari menopang tubuh Bian mencoba untuk masuk ke dalam lift.
"Ya ampun Bian, kamiu makannya apa sih , berat banget," gerutu Sari.
Sedangkan Maryam yang melihat pemandangan itu pun mengepalkan tangannya begitu kuat dan matanya terpejam.
Maryam meninggalkan meja resepsionis menghampiri lift dimana Sari berada, dengan langkah yang begitu cepat Maryam menghampiri.
"Kamu itu apaan sih, enggak tau apa saya buru-buru!" seru Sari kesal.
"Maaf, tapi boleh saya membawa tuan ini ke kamarnya," izin Maryam dengan nafas yang sedikit memburu.
"Memang kamu siapa berani-beraninya campuri urusan saya!" nyolot Sari.
Maryam mengepalkan tangannya menahan emosi. "Sepertinya anda kurang kuat untuk membawa tubuh bapak ini, biar saya bantu untuk mengantarnya." Maryam mencoba bernegosiasi.
"Hah! Wah, apa-apaan ini," tanya Sari.
Sari meletakkan tubuh Bian untuk bersandar di dinding lift, karena dia merasa akan panjang urusannya dan jika dia terus menopang tubuh Bian, dia akan merasa pegal tentunya.
"Selama yang saya tau, hotel ini tuh salah satu hotel yang terbaik di kota ini, tapi kenapa pelayanannya begitu buruk dengan adanya kamu sebagai resepsionis yang ikut campur urusan tamunya," ucap Sari menyindir.
Orang-orang yang berlalu lalang melihat keributan itu pun mengerumuni mereka. Maryam melirik kanan dan kiri merasa tidak enak apalagi statusnya yang hanya sebagai resepsionis.
"Saya meminta baik-baik mbak, bukan untuk ribut," ucap Maryam mencoba damai.
"Hah! minta baik-baik, memangnya semua tamu di sini diminta seperti itukah oleh kamu! Dasar kurang kerjaan!" ketus Sari.
Maryam ingin sekali meraup mulut Sari, tapi mengingat banyaknya orang dia mencoba menahan emosinya.
"Lagian dia itu pacar saya, mau diapakan dia juga terserah saya lah, apa urusannya dengan kamu!"
Salah Sari, salah dengan ucapan yang keluar dari mulut Sari telah memporak-porandakan benteng kesabaran Maryam.
"Maksud anda apa dengan kata pacar anda? Nggak ada hak anda mengatakan hal itu!" tegas Maryam.
"Nggak ada hak, kamu pikir kamu siapa? Apa hak kamu melarang saya jika pacaran dengannya, memangnya kamu istrinya? Memangnya kamu babysitter nya? Memangnya kamu mamanya? Memangnya kamu kakaknya hingga kamu melarangku bahkan mencegah saya untuk membawanya ke kamar? Siapa ka--"
"Saya itu istrinya! Dan dia itu suami saya!" seru Maryam.
Sari terdiam mendengar jawaban dari Maryam.
"Apa jawaban ini sudah bisa membungkam mulut anda nona?!" tegas Maryam dengan mata yang tersulut emosi.
Semua orang yang ada di tempat itu pun berbisik-bisik, Maryam tidak lagi memperdulikan orang di sekitarnya. Yang dia pedulikan hanya suaminya, martabat suaminya hanya itu.
Teman-teman Maryam yang mendengar itu pun tak kalah kagetnya. Mereka saling berbisik mempertanyakan benar tidaknya dengan apa yang diucapkan oleh Maryam.
Banyaknya pertanyaan dari Sari membuat Maryam tak bisa sabar lagi. Dan setelah mengatakan hal itu Maryam sedikit mendorong Sari dan merebut key card kamar.
"Bisa anda keluar nona?" pinta Maryam.
Dengan gampangnya Sari mengikuti apa kata Maryam, saat pintu lift tertutup sebuah senyum tipis terpantri di bibir Sari.
💢💢💢💢
Maryam membaringkan Bian di ranjang, nafasnya ngos-ngosan.
Di tatapnya wajah damai Bian yang terlelap, dia tak menyangga akan mengatakan semua itu pada perempuan yang entah siapa dia tak tahu.
"Haissh! Gara-gara kamu nih! Ntah apa yang akan aku jelaskan sama mereka," pasrah Maryam.
Mungkin setelah ini dia akan pengang dengan pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut teman-temannya.
"Huft! Semoga aku bisa hadapi semua ini," lenguh Maryam.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.