
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Amier dan Ameera saling terdiam. Amier yang merasa canggung pun menoleh pada istrinya dan mengusap sayang pucuk kepala Ameera yang terbalut hijab.
"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" tanya Amier.
Ameera menggeleng kemudian menatap ke arah luar jendela kembali. Amier terdiam, dia merasa mungkin mood istrinya sedang tidak bagus saat ini, ingin mengajak bercanda tapi dia kini tengah mengemudi dan tak mau ambil resiko.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Amier pada akhirnya.
"Nggak mau apa-apa, oh iya Mas. Kamu nanti kerjanya hati-hati ya, dan juga nanti makannya yang teratur, dan juga selalu jaga kesehatan juga." Kata Ameera.
"Iyalah, lagi pula kan ada kamu nanti yang selalu ngurusin aku dan juga akan mengingatkan aku. Lagian kamu juga suka ngomel kalau aku bandel." Amier menyahuti.
Ameera hanya tersenyum menanggapi.
Sesampainya di rumah, mereka turun dan masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah sangat sepi karena Annisa tengah menengok cucunya dari Maryam dan Bian.
"Kayaknya aku nggak usah ke bengkel lagi deh, soalnya kan bunda lagi nggak di rumah." Amier mengatakan sembari duduk di sofa.
"Terserah kamu sih, aku pengin bermanja-manja sama kamu boleh nggak?" tanya Ameera meminta izin.
Amier tertawa kecil. "Kenapa harus minta izin, lagian kamu juga selalu begitu kan," sahut Amier seraya mencuit hidung Ameera.
Ameera tersenyum dan bergelayut manja di lengan suaminya. "Mas, maafin aku kalau aku banyak salah ya," ucap Ameera.
Amier mengernyitkan keningnya. "Kenapa kamu setelah pulang dari rumah sakit jadi aneh begini sih, Sayang?" heran Amier.
Ameera menggeleng. "Nggak apa-apa, cuma pengin aja," sahut wanita hamil itu.
Sejurus dengan itu Annisa pulang. "Sudah pulang, Sayang?" sapa Annisa.
Ameera melepaskan pelukannya pada sang suami dan beralih memeluk Annisa. "Bunda mau masak apa hari ini, Meera bantuin ya," kata Ameera.
Annisa terkekeh. "Bunda hari ini mau masakin kalian semur daging," jawab Annisa.
"Ameera bantuin ya, Bun." Ameera menawarkan.
Annisa mengangguk. "Boleh, ayo."
Mereka berdua menuju dapur dan memulai memasak, "oh iya. Sayang, gimana kabar cucu Bunda?" tanya Annisa mengusap perut Ameera.
Ameera yang tengah mengupas bawang pun menghentikan aktivitasnya tapi masih menunduk. "Dia baik-baik saja Bun. Dia sangat sehat." Ameera tersenyum.
Annisa ikut tersenyum, tapi detik kemudian senyumannya luntur dan berubah menjadi khawatir. "Kamu kenapa nangis, Sayang?"
Ameera mendongak dan tersenyum. "Ameera nggak apa-apa kok Bun, mata Ameera perih karena kupas bawang jadi gini deh," ucap Ameera.
Annisa menghela nafas lega. "Oh, alhamdulillah kalau gitu, kalau kamu punya masalah atau apapun itu cerita sama Bunda ya, nggak baik ibu hamil kalau banyak fikiran begitu," saran Annisa dan di angguki oleh Ameera.
💢💢💢💢
Setelah makan malam selesai, Ameera tertidur setelah membersihkan diri. Amier yang melihat istrinya begitu kelelahan pun hanya diam dan melanjutkan kerjaan yang sempat tertunda siang tadi.
Satu jam lebih Amier sibuk dengan layar laptop yang ada di pangkuannya. Setelah selesai dan merasa penat, Amier menyudahi pekerjaan nya dan meletakkan laptop nya sebelum dia berbaring.
Di ciumnya kening dan perut istrinya itu dengan sayang, "maafin Ayah, Sayang, Ayah janji akan menemukan caranya." Amier berbisik.
Lelaki itu kembali pada posisinya dan mulai memejamkan matanya yang begitu lelah.
Keesokan harinya, Ameera bangun lebih awal. Setelah menunaikan ibadah sebagai seorang muslim, wanita hamil yang tengah menunggu hari kelahiran anaknya pun tak lagi tidur, dia malah mempersiapkan sarapan dan juga baju ganti yang akan suaminya itu pakai.
Ameera masuk ke dalam kamarnya setelah selesai memasaka dan membangunkan sang suami.
"Mas, bangun sudah siang," ujar Ameera menggoyangkan lengan Amier.
"Mas, ayo cepat nanti keburu telat loh. Katanya lagi banyak kerjaan di bengkel?" peringat Ameera.
Amier membuka dan duduk dengan mata yang berat. "Masih ngantuk tau. Yang." Ujar Amier malas.
"Cepetan sana mandi biar seger," ucap sang istri.
"Iya-iya, tapi kiss dulu dong biar semangat," ucap Amier.
Ameera menggeleng dan tersenyum. Wanita itu mencium dari mulai kening kemudian di pipinya. "Kok berhenti, yang ini belum," rengek Amier mengetuk-ngetuk bibirnya.
Ameera memutar bola matanya jengah. "Nanti kalau sudah mandi baru aku cium."
Amier tertawa kecil. "Iya deh," setelah mengucapkan itu Amier beranjak dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
******
Saat sarapan Ameera mengambilkan apa yang di perlukan suaminya, ibu mertua, dan ayah mertuanya. Amier sampai menegur karena dia tak henti-hentinya bergerak kesana-kemari.
"Kamu duduk saja nanti aku yang akan mengambilnya." Amier meminta Ameera untuk duduk kembali di kursi saat telur mata sapi yang dia goreng tertinggal di dekat kompor.
"Nggak usah, Mas. Biarkan aku saja yang ambil." Ameera menolak.
Amier memejamkan matanya erat. "Ameera duduk!" tegas Amier.
"Tapi aku mau ambil telurnya, Mas." Ameera protes.
"Ameera duduk!!" Amier menaikkan nada bicaranya membuat Ameera bungkam dan kembali duduk lalu menunduk.
"Maaf, Mas."
Annisa dan Aditya hanya diam karena tidak ingin ikut campur. Annisa sudah menawarkan bantuan, tapi Ameera bersikukuh untuk menyiapkan sarapan itu sendiri, karena tidak ingin membuat menantunya canggung, jadi Annisa dan bibik yang membantu di rumah hanya diam dan membantu ala kadarnya.
Semenjak Ameera hamil, mereka mempunyai asisten rumah tangga yang membantu mengurus rumah.
Amier bangkit dari duduknya dan mengambil telur tersebut. Amier mengambilkan telur itu dan meletakkan nya di piring sang istri.
"Makanlah," Amier menurunkan nada bicaranya.
Ameera mendongak dan membuka mulutnya saat Amier menyuapkan sesendok makanan pada Ameera.
Mereka makan dengan tenang, dan setelah makan mereka kembali pada aktivitas masing-masing.
Aditya yang pergi ke kantor, Amier yang pergi ke bengkel karena banyak pekerjaan yang menanti, bibik yang pergi ke pasar.
Tinggal lah Annisa dan Ameera di rumah. "Bunda," panggil Ameera saat Annisa tengah duduk di teras belakang.
"Iya, Sayang."
"Aku mau buah alpukat, tapi di rumah nggak ada aku mau izin keluar ya," pinta Ameera.
"Kamu di rumah saja, biar Bunda yang belikan di minimarket depan, bibik kayaknya nggak bawa ponsel deh."
"Memang nya nggak apa-apa, Bun?"
"Nggak apa-apa dong, ya sudah Bunda pergi dulu ya," final Annisa dan di angguki Ameera.
Setelah kepergian Annisa, tak lama dari itu Ameera keluar dari kamar dan menggeret koper kecil dan tas nya.
"Maafin aku, Mas." Ameera bergumam seraya menatap rumah yang sudah sangat membuatnya nyaman.
Dia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Aku mau pulang, Kak."
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍