
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Setelah di laksanakan proses lamaran dua Minggu lalu dan satu bulan lagi akan di adakan ijab qobul dan juga resepsi, Nizam dan Asma kini tengah di mall untuk memenuhi kebutuhan pernikahan mereka sekalian mengajak jalan-jalan.
"Ada yang mau di beli lagi?" tanya Nizam.
Asma membuka paper bag- nya untuk mengecek apakah ad barang yang belum ia beli. "Kayaknya sudah semua deh Kak," ucap Asma seraya menatap Nizam.
Nizam mengangguk. "Ayo," ajaknya.
Mereka memasuki restoran cepat saji di dalam mall tersebut, mereka sudah membuat janji dengan keluarga Bian dan Amier.
"Akhirnya yang di tunggu datang juga!" seru Bian yang melihat Nizam dan Asma berjalan mendekat.
Nizam dan Asma ikut duduk bergabung dengan mereka. Di atas meja sudah terdapat beberapa menu yang beragam. Mereka duduk di kursi yang panjang paling ujung dengan saling berhadapan tempat yang cukup untuk mereka makan dengan nyaman.
Setelah mencuci tangannya, Nizam dan Asma langsung memakan pesanan yang sebelumnya sudah di pesankan terlebih dahulu. Mereka begitu menikmati waktu terakhir mereka dengan status Asma dan Nizam yang single. Karena tak lama lagi semua akan benar-benar menjadi satu keluarga besar.
"Semua sudah siap kah?" tanya Maryam pada Asma sembari menyuapkan sesendok makanan pada putranya.
Gadis yang sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga itu mengangguk mengiyakan. "Tinggal souvernir saja nanti yang baru jadi seminggu lagi," sahut Asma yang di angguki oleh Maryam.
"Makan yang banyak, energi kamu udah mau habis di transfer sama cantik ku," gurau Amier seraya menyuapkan makanan pada Ameera sang istri.
Memang Ameera tengah memberikan ASi eksklusif pada putrinya, dan jam ini pula adalah jam tidur untuk putri cantiknya itu.
Ameera mengintip ke balik nursing cover yang dia pakai dan mata putrinya sudah tertutup dengan aktivitas yang sudah melemah dan tertidur.
"Nitip Aleena dulu, Mas. Aku mau ke toilet sebentar." Amerika menyerahkan Aleena pada Amier dan dengan sigap Amier menerimanya.
Wanita itu berjalan menuju kamar mandi untuk menyelesaikan hajatnya. Dan mereka melanjutkan makannya dengan sesekali bercanda untuk mengisi waktu hening.
Tak berapa lama, Ameera kembali ke meja dan hendak mengambil putrinya tapi tak di berikan oleh Amier. "Kamu suapi aku saja, biar cantik ku tetap di sini." Amier meminta.
"Ye! Modus!" sahut Nizam.
Amier melirik, "ngiri ya belum bisa suap-suapan," ledek Amier yang di timpali tawa oleh Bian dan Maryam yang seketika suasana menjadi riuh.
"Heleh, tenang saja lah, nanti kalau sudah halal juga aku di suapi bahkan lebih mesra dari kalian, iya kan Dek?" jawab kesal Nizam yang berujung pertanyaan manis pada Asma.
Tentu saja Asma jadi bersemu merah dengan panggilan baru itu. Mereka semakin tertawa melihatnya. "Sudah-sudah, nanti Asma jadi salah tingkah," timpal Ameera ikut meledek.
"Untuk sekarang manggil nya Asma dulu ya, nanti kalah sudah sah batu aku panggil kakak ipar, atau mungkin kakak biar lebih akrab." Ameera terkekeh.
"Kan kita sudah akrab dari dulu Meera," sahut Asma pada akhirnya.
"Oh iya," Ameera kembali tertawa kecil.
"Ya sudah habiskan makannya, kamu nanti kurang istirahat nya," kata Nizam.
"Lebay!!" seru mereka bersamaan.
"Sirik saja!" jawab Nizam tak mau kalah. Dan hal itu membuat Nizam begitu puas.
💢💢💢💢
"Calon pengantin sudah pulang, Nizam tak mampir kah?" tanya Mama Asma yang menghampiri putri semata wayangnya.
Asma menoleh pada sang Mama. "Dia langsung pulang Ma, pas mau masuk ada telpon dari bawahannya. Dan aku minta dia langsung pulang saja. Dan kak Nizam nitip salam buat Mama dan Ayah." Ucap Asma yang matanya beralih pada sang Ayah yang ikut menghampiri.
"Oh, ya sudah," jawab Ayah Asma seraya duduk dan menyeruput kopi di tangannya.
Asma menegakkan tubuhnya dan kembali merebahkan tubuhnya dengan kepala yang dia tempatkan di pangkuan sang Mama lalu menghirup dalam-dalam aroma Mamanya.
"Ya ampun anak ini, sudah mau menikah tapi kelakuan masih seperti anak kecil tak berubah," kekeh Mama Asma.
Asma yang tadinya menenggelamkan wajahnya di perut Mama, kini mendongak dan menatap wajah yang sudah sedikit berkeriput namun tetap cantik.
"Kan kata Mama, sebesar apapun, sedewasa apapun, dan bagaimana keadaannya seorang anak, tetap akan di anggap anak kecil sama orangtuanya bukan?" ucap Asma.
Mama tersenyum dan mengangguk. "Kau benar, bagaimanapun keadaannya pasti akan kembali menjadi anak kecil saat sudah sama ibunya," raut wajah Mama menjadi murung dan butiran bening hampir menetes jika tak dia usap segera.
Asma menegakkan tubuhnya dan duduk menghadap sang Mama. "Mama kenapa nangis?" tanya Asma ikut sedih.
Mama tersenyum dan menatap lembut putrinya. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Asma. "Kamu sudah dewasa sekarang, Mama harap jangan pernah berubah dan menjadi putri kecil Mama ya, kalau sudah menikah."
"Dan tolong jadi istri yang baik untuk suami kamu, apapun masalahnya harus di selesaikan dengan kepala dingin. Karena istri itu adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri."
"Jangan membicarakan pohon di dalam rumah kaca, kamu tidak boleh membuka aib suami kamu sendiri dan harus menjaga martabat suami kamu nanti."
Mama Asma menasehati. Mendengar itu Asma meneteskan air matanya. "Pasti, Asma akan jadi istri seperti Mama," jawabnya dan memeluk sang Mama.
"Ayah nggak di peluk juga nih, aduh... cemburunya," ucap Ayah tidak mau kalah.
Asma kembali melepaskan pelukannya dan beranjak untuk memeluk Papanya yang tengah merasa iri. "Tentu Asma juga sayang sama Ayah, Ayah adalah ayah terbaik di dunia!" semangat Asma.
Ayah tersenyum. "Putri Ayah sudah sangat besar sekarang, hah... jadi kangen kamu kecil lagi," sahut Ayah.
"Nanti Asma kasih cucu yang lucu buat kita Yah," timpal Mama dan tertawa kecil.
"Ih... Mama, kok sudah ngomongin anak sih, kan malu," rengek Asma.
Hal itu tentunya membuat mereka tertawa bahagia.
💢💢💢💢
Dan hati yang di tunggu-tunggu oleh kedua mempelai pun akhirnya tiba. Nizam begitu gugup di depan meja penghulu dengan wali yang akan jadi ayah mertuanya kelak.
Benar kata mereka, hal ini adalah hal yang lebih mendebarkan dari lamaran waktu itu. Bahkan berkali-kali lipat.
"Sudah siap, saudara Nizam?" tanya penghulu dan dengan tarikan nafas Nizam menjawab dengan lantang jika dia siap.
Tentunya hal itu menjadi lelucon di antara tamu undangan yang hanya di hadiri oleh keluarga.
"Semangat Bro!" Amier memberikan semangat.
Dengan membaca bismillah, Nizam dengan lancar meng-qobul ijab yang di katakan oleh ayah Ameera.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.