
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Bian menaiki motor nya dan mulai menjalankan nya. Dia begitu lelah saat ini hingga dia menjalankan nya dengan pelan. Berkali-kali dia meregangkan otot leher nya karena merasa pegal.
Saat di perjalanan menuju pulang, Bian samar-samar melihat sesuatu yang tidak seharusnya tidak dia lihat. Bian ingin cuek dan bersikap tak peduli pada hal itu, tapi hati nya seperti menahan dia untuk melanjutkan perjalanan nya.
Mau tak mau dia memberhentikan motor nya dan menghampiri dua orang, mungkin sepasang kekasih. Tapi, dia merasa mengenal perempuan itu. Bian semakin berjalan cepat saat si laki-laki berbuat kasar pada si perempuan.
Satu tamparan mendarat di pipi mulus perempuan itu hingga yang tadi nya putih kini menjadi merah dan ada jejak tamparan di sana. Bian geram dan mencekal tangan si laki-laki saat akan mendaratkan satu tamparan lagi pada perempuan itu.
Bahkan orang-orang yang ada di sekitar serasa tak peduli dengan kejadian itu. Entah apa yang di pikirkan oleh orang-orang tersebut yang hanya menonton adegan yang menurut nya tidak pantas itu.
"Gentle dong jadi laki! Masa main kasar sama perempuan, banci tau nggak!" unar Bian kesal bercampur marah.
"Apa peduli nya Kamu!" marah orang itu. Bian hanya tersenyum sinis.
"Kamu itu laki apa banci?! Suka nya main tangan kayak gitu!" sewot Bian.
"Kamu siapa nya dia, sampai ikut campur sama urusan Kita?!" tanya sarkas lelaki itu.
Laki-laki itu menatap tajam si perempuan membuat dia beringsut takut dan sedikit menjauh. Bian menatap tak suka dengan ini. Siapa laki-laki ini sehingga membuat perempuan itu sebegitu takut nya? Apa dia kekasih nya? Atau suami nya? Pertanyaan itu yang Bian pikirkan saat ini.
Perempuan yang pernah dia tolong beberapa Minggu yang lalu, kini di depan nya dengan wajah ketakutan. Ya, dia adalah perempuan yang pernah di tolong oleh Bian, yang mencuri perhatian Bian, dan juga membuat Bian tak bisa lupa dengan wajah nya.
Perempuan yang mengaku bernama Maryam pada nya itu, yang akhir-akhir ini memenuhi pikiran nya. Tapi melihat pemandangan di depan nya itu, dia rasa harus mengubur dalam-dalam rasa penasaran nya.
"Woi! Di tanya diam saja! Budeg ya!" sewot laki-laki itu.
"Sudahlah Mas! Dia tidak ada kaitannya sama urusan Kita. Lebih baik Kita pergi saja dari sini," ucap Maryam dan menarik tangan laki-laki yang masih dengan pelototan nya pada Bian. Bian hanya menaikan alis nya dan menghembuskan nafas berat.
"Pupus sudah," gumam Bian.
Pemuda yang mungkin sedang dalam fase patah hati itu membalikkan badannya dan berjalan ke arah motor nya.
Bian melajukan lagi motor besar nya menuju ke rumah dengan hati yang campur aduk. Entah ini perasaan apa dia tak tau.
💢💢💢💢
Suara motor yang tentu nya motor Bian memasuki halaman rumah. Bian turun dari motor nya. Dan, bunda Annisa telah menunggu nya dengan wajah yang sedikit cemas.
"Assalamualaikum Bun?" sapa Bian dan menyalami nya.
"Wa'alaikumussalam, dari mana saja sih? Kok telat banget pulang nya?" tanya Annisa, ada nada khawatir di sana.
"Di tanya itu jawab dulu, malah balik tanya!" sungut Annisa. Bian tersenyum. Lucu sekali jika bunda itu sedang ngambek.
"Bian tadi ada sedikit urusan jadi telat deh." Bian mencoba menenangkan bunda nya.
Aditya keluar. "Kamu kayak nggak tau Bunda Kamu saja, kalau belum melihat putra bandel nya itu, pasti khawatir. Bahkan nih yah, tadi Ayah sampai di interogasi sama Bunda Kamu ini gara-gara Kamu telepon nya mati," adu Aditya dan itu membuat pukulan Annisa mendarat cantik di lengan nya.
Dengan gemas Annisa memukul suami nya itu. "Tuh, Kamu lihat? Sampai sekarang saja masih ada sisa-sisa penganiayaan nya." Aditya semakin getol menggoda Annisa.
Bian terkekeh. "Ayolah Sayang, tinggalkan saja Ayah Kami ini. Kenapa pula segala ngadu-ngadu nggak jelas begitu!" sungut Annisa dan menarik Bian untuk masuk
"Selamat tidur di luar ya Yah!" seru Bian dan tertawa. Rasa capek yang dia rasakan tadi hilang dengan sekejap melihat tingkah absurd orang tua nya. Ajaib memang.
💢💢💢💢
Di tempat lain, Maryam duduk merenung di teras depan rumah nya. Pandangan kosong tapi pikiran nya masih terngiang kejadian beberapa jam yang lalu.
Kini jam menunjukkan pukul sebelas malam tapi dia masih belum merasa ngantuk karena pikiran nya sangat kalut dengan nasib yang menimpa nya. Beruntung dia kini sudah bisa kerja meski masih dalam status magang.
Tapi itu jauh lebih baik dari pad dia menjadi seorang pengangguran. Berkali-kali dia menghembuskan nafas berat. Hingga sebuah tangan menyentuh bahu nya dengan lembut membuat dia menoleh dan tersenyum.
"Ibu kenapa belum tidur?" Maryam menatap wanita paruh baya yang duduk di samping nya itu dengan tatapan yang tak menentu, ada kesedihan di dalam nya.
"Maafin Ibu ya Nak, pasti ini sangat berat buat Kamu." Ibu Maryam mengusap lembut pipi sang putri.
Maryam memegang tangan ringkih sang ibu dan mencium nya. "Maryam nggak apa-apa kok Bu, nanti kalau uang Maryam sudah terkumpul semua, Kita akan kembali hidup seperti dulu lagi. Dan Ibu nggak usah capek-capek harus mencuci lagi." Ujar Maryam pada sang ibu.
Kejadian yang menimpa keluarga nya itu membuat dia harus menelan pil pahit secara paksa. Dia tak tau jika keadaan di keluarga nya begitu menyedihkan.
Dia menimba ilmu di negeri tetangga dan setelah dia lulus, dia memutuskan untuk pulang. Dia memilih penerbangan yang lebih awal dari jadwal yang di tentukan. Niat hati ingin memberi kejutan untuk keluarga nya.
Tapi tak di sangka dia yang mendapat kejutan. Saat dia pulang, ayah nya ada di rumah sakit. Bahkan ayah nya itu sudah hampir setengah tahun di rumah sakit dan parah nya dia tak tahu sama sekali.
Kejutan demi kejutan dia terima, dari bangkrut nya perusahaan yang di bangun oleh ayah nya yang kini sudah beralih tangan. Belum sampai di situ saja, biaya dari kuliah nya dia dapat kan dari penjualan perusahaan sang ayah.
Dia tercengang dengan apa yang di ceritakan oleh ibu nya tentang kejadian sebenarnya. Dia merutuki diri nya sendiri kenapa dia sampai tak tahu apa-apa. Bahkan dia adalah anak satu-satunya di keluarga nya tapi dia bahkan tak bisa membantu keluarga nya sama sekali.
Dan sekarang, dia harus rela menggadaikan kebahagiaan masa depan nya yang harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia cintai hanya untuk melunasi hutang yang bahkan setengah nya belum dapat dia bayarkan.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.