I Finally Found Love

I Finally Found Love
72



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Pulang dari rumah Annisa, sepanjang perjalanan, Maryam terus saja diam tanpa mengeluarkan kata-kata apapun.


Pikirannya berkecamuk mengingat apa yang kakak iparnya itu ucapkan, ada rasa takut yang mendalam di setiap kata-kata yang perempuan itu ucapkan. Bisa dibilang seperti sebuah ancaman, yang tanpa sadar Maryam tidak suka dengan ancaman tersebut.


Bian yang melihat istrinya terus diam dan menggigiti kukunya pun menoleh dan melihatnya dengan heran.


"Kamu kenapa?" tanya Bian.


Tapi tak ada sahutan dari istrinya. Dia masih fokus dengan pandangan yang kosong.


"Maryam, kamu kenapa?" tanya Bian lagi tangannya menyentuh bahu istrinya itu hingga membuat dia terlonjak kaget.


"Eh! Iya, apa?" sahutnya gagap.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Bian khawatir.


Maryam menggeleng tapi matanya penuh dengan kekhawatiran. "Em, Bian," panggil Maryam yang disahuti dengan gumaman oleh Bian.


"Nggak jadi deh," ucapnya kemudian lalu menghela nafas panjang.


"Kamu lelah ya? Ya sudah tidur saja," kata Bian.


Maryam tak menjawab, dia tetap saja diam. Ingin mengungkapkan tapi bingung mulai dari mana dan pada akhirnya dia diam hingga sampai di rumah.


Mereka masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar masing-masing.


Bian merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan hendak memejamkan mata, namun beberapa saat ponselnya berdering.


Nama Asyifa tertera di layar ponselnya, Bian tersenyum kemudian menerimanya.


"Halo assalamualaikum, Kak? Kenapa, kangen kah? Baru saja ditinggal belum ada satu jam," ucap Bian menggoda.


Terdengar gerutuan dari seberang telepon dan hal itu membuat Bian tertawa.


"........."


"Iya, emang isinya apa?" tanya Bian penasaran.


"......."


"Iya-iya isi nya apa, aku pengen tau?" tanya Bian lagi dengan gemas karena sang kakak tidak memberitahukannya apa isi dari paperbag yang dibawa oleh Maryam.


"......."


"Haissh! Iya-iya-iya, iya aku ke sana, sudah aku tutup dulu teleponnya." Bian menutup teleponnya.


Lelaki itu menghembuskan nafas kasar, "ada-ada saja sih," gumamnya kemudian melangkah ke kamar Maryam.


Bian mengetuk pintu kamar Maryam tapi tak ada sahutan, saat akan memutar gagang pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya.


Bian masuk perlahan dan akan bertanya pada Maryam, namun ia urungkan karena terdengar gerutuan Maryam.


Bian semakin mendekat dan sekilas dia melihat suatu barang yang di lebarkan oleh Maryam hingga membuat pipinya terasa panas.


Dia rasa tahu apa maksud dari kakaknya memberikan barang tersebut, dia berdehem pelan untuk menetralkan suaranya dan juga menetralkan ekspresinya yang memerah karena malu.


"Maryam," panggilnya seraya menepuk pelan bahu sang istri.


Maryam terlonjak kaget dan membalikkan tubuhnya seraya menyembunyikan barang itu di punggungnya.


Mereka terlibat perbincangan sebelum akhirnya Maryam meminta Bian untuk menunggunya di kamar.


Bian menutup pintu kamar Maryam dan masuk ke dalam kamarnya sendiri, dia duduk di tepi tempat tidur dan mengambil ponselnya.


"Maksudnya apa kak?" isi pesan Bian yang dikirimkan kepada Asyifa.


Bian tertawa sendiri melihat balasan dari sang kakak. "Ya nggak tau, emang apa itu?" tanya Bian menggoda.


Bian main sok polos, menanggapi hal ini Bian merasa canggung sebenarnya, tapi melihat niat dari kakaknya, Bian rasa sudah saatnya untuk dirinya bertindak.


"Oke-oke, aku akan lihat gimana, makasih kak bantuannya," ucap Bian sebelum mengakhiri pesannya dengan Asyifa.


🕳️🕳️🕳️🕳️


Hari makin larut, tapi Ameera tak bisa tidur sedikit pun, di lihatnya Amier yang tengah tertidur pulas membuat Ameera tidak tega. Dan akhirnya dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke dapur.


"Laper," gumamnya setelah tiba di depan lemari pendingin.


Dia membuka dan mencari bahan makanan yang akan di olah menjadi masakan untuk memuaskan perutnya.


"Wah, kayaknya enak ini makan mie instan," gumam Ameera berbinar setelah melihat sayuran dan telur.


Ameera mengambil sayuran dan juga dua telur yang ada di lemari pendingin dan beralih ke lemari tempat dimana mie instan itu di simpan.


Ameera langsung memasak mie instan tersebut hingga matang, aroma dari mie tersebut menambah nafsu makannya. "Eemm... sedapnya," gumam Ameera seraya mencium dalam-dalam aroma yang keluar dari mie instan tersebut.


Ameera langsung duduk di kursi dan menyantapnya hingga tandas tak tersisa. "Alhamdulillah," ucapnya seraya mengusap perutnya yang merasa kenyang.


Tak lama dari itu, Ameera menutup mulutnya karena menguap. Dia mengucek matanya karena berair dan mengantuk.


Wanita hamil itu sudah tidak kuat dengan matanya untuk tidak dia pejamkan. Dia menekuk dan menumpu kedua tangan untuk jadi penopang kepalanya. Tak lama, dia langsung tertidur dalam posisi duduk.


Sedangkan di dalam kamar, Amier kelimpungan mencari Ameera. Dia tersadar istrinya tak lagi di sampingnya saat dia meraba tempat dimana sang istri tidur.


Amier mencari di kamar mandi dan balkon, tapi tak ada tanda-tanda adanya Ameera hingga membuat dirinya cemas.


"Sayang, kamu dimana!?" panggil Amier tidak sabar.


"Sayang, ayo keluar jangan main-main, jangan buat aku khawatir gini!" seru Amier.


"Kemana dia?" gumamnya pada diri sendiri dengan tangan yang dia tolakkan ke pinggang.


Amier keluar dari kamar dan mencarinya. Dia susuri tiap ruang yang ada di rumahnya dengan pikirannya yang cemas.


Tapi saat melewati dapur, lampu masih dalam keadaan menyala. Amier berfikir itu adalah bundanya. Dan dia langsung menghampiri dapur guna menanyakannya pada sang bunda, yang mungkin saja akan tahu dimana Ameera berada.


Amier melemaskan bahunya dan bernafas lega. Ternyata sang istri tengah tertidur di kursi. Amier menggelengkan kepalanya saja dan dan menghampirinya.


Dia lihat bekas mangkuk dan panci yang di perkirakan Amier baru saja di gunakan Ameera. "Kenapa kamu nggak bangunin aku saja, Sayang," ucapnya pelan seraya menatap wajah Ameera yang begitu damai dalam tidurnya.


Amier membereskan mangkuk dan panci lalu meletakkannya di wastafel. Kemudian Amier menghampiri Ameera kembali untuk menggendongnya.


"Jangan lakukan ini lagi, Sayang, aku khawatir tau nggak," lirih Amier yang tangannya tengah menggendong Ameera menuju kamar mereka.


Entah sadar atau tidak, Ameera tersenyum dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Ameera bangun dan duduk di tepi tempat tidur, tapi pipinya tiba-tiba menggembung karena menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam tenggorokannya.


Ameera langsung berlari menuju kamar mandi. Perutnya tak enak, rasanya dia mau muntah sekarang.


Suara dari kamar mandi membangunkan Amier. Jam menunjukkan pukul empat pagi, dan Ameera sudah terbangun karena terserang morning sickness.


Amier langsung menghampiri karena khawatir. Dia langsung masuk karena pintu tak di tutup.


Lelaki itu memijat tengkuk Ameera, mencoba membantu supaya cepat lega. Ameera mencuci mulutnya setelah di rasa sudah selesai. Tapi wajahnya begitu pucat dan tubuhnya lemah.


"Kamu nggak apa-apa Sayang?" tanya Amier begitu khawatir. Ameera menggeleng dan meminta Amier untuk menggendongnya.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.