I Finally Found Love

I Finally Found Love
65.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Ameera membuka mata, di lihatnya Amier tengah memandangi wajahnya dengan begitu intens. Bahkan matanya tak berkedip dengan waktu yang begitu lama.


"Kenapa?" tanya Ameera tak berdosa.


"Apa kau mau membuat aku gila?" tanya Amier masih dengan nada yang santai.


Ameera menggeleng. "Nggak, karena kamu sudah cukup gila." Ameera menyahuti.


Amier memejamkan matanya. "Bisa serius sedikit tidak?" Amier menaikkan sedikit nada suaranya.


Ameera menunduk merasa bersalah. Dia tahu apa yang akan di bicarakan oleh suaminya. Dia tahu itu.


"Apakah kamu nggak mikirin aku? Apa kamu nggak mikirin kakak kamu?!" tegas Amier.


"Maaf," ucap Ameera menyesal.


Amier menghela nafas panjang mencoba menahan amarahnya. Meski dia amat sangat ingin meluapkan emosi karena sang istri melakukan hal yang bodoh seperti itu.


"Jangan lakuin itu lagi, kau buat aku takut!" ucap Amier seraya memeluk tubuh Ameera.


"Mas," panggil Ameera manja dan di jawab gumaman oleh Amier.


"Laper," lanjut Meera.


Amier terkekeh. "Iya kah? Kita mau makan apa?" tanyanya.


"Yang enak apa ya Mas?" tanya balik Ameera.


Amier berfikir sejenak, "yang enak makan kamu Dek," kekeh Amier.


Ameera memukul pelan lengan suaminya itu. "Mesum!" ucap Ameera.


Amier tertawa. "Ayo kita ke dapur," ajaknya.


Mereka beranjak dari tempat tidur untuk menuju dapur. Amier berjongkok di depan istrinya dan menepuk punggungnya. "Naiklah," pintanya.


Ameera terkekeh dan menaiki punggung Amier. "Sudah."


"Wah, makin berat ya," ledek Amier dan pada akhirnya Amier mendapatkan hadiah spesial pukulan di pundaknya. Amier tertawa sembari menuruni tangga.


Annisa yang melihat itu pun tersenyum, dia berharap semua keindahan yang dia lihat ini tak hanya sementara tapi untuk selamanya.


"Jaga rumah tangga semua anak-anakku ya Allah, jagalah mereka, berkahi rumah tangga mereka, jauhkan dari hal buruk ya Allah," dia Annisa lirih.


Amier menurunkan Ameera di depan kursi. Dia mengambil apron dan mengenakannya.


"Hari ini ratuku mau makan apa?" tanya Amier layaknya seorang pelayan.


Ameera mengetuk-ngetuk dagunya seraya berfikir. "Ah! Aku mau nasi goreng sama atasnya omelette sayur," ucap Ameera setelah menemukan apa yang ingin dia makan.


"Baiklah, sesuai request ratuku, pelayanmu ini akan membuatkan apa yang ingin ratuku makan." Amier terkekeh.


Amier segera menyiapkan bahan yang akan dia olah. Dan dia memasak dengan sesekali melirik ke arah sang istri dan tersenyum manis.


"Om bewok tampan, mau juga dong!" seru dua bocah kecil hampir bersamaan yang tak lain adalah Salim dan Salman.


Mereka berdua pun langsung duduk di samping Ameera dengan antengnya. Amier dan Ameera menoleh bersamaan.


Tangan mereka memegang sendok dan garpu yang di ambilnya dari atas meja. Amier menggelengkan kepalanya.


"Ayah kalian suruh masak saja, Om mau masakin buat tante Ameera. Lagian ayah kalian kemana?" tanya Amier dengan tangan yang sibuk mengaduk nasi.


"Apa nyari-nyari? Kangen ya?" kata Malik yang ikut bergabung dengan mereka.


Ini adalah hari weekend, jadi semua keluarga berkumpul dari Asyifa dan Malik beserta ke-tiga anak mereka, dan juga Bian dan Maryam, tapi Bian dan Maryam belum datang.


"Nggak boleh begitu, nanti kalau kangen berabe loh. Obatnya susah, mumpung aku disini jadi puas-puasin menatap ketampanan aku ini," Malik meledek.


Amier memutar bola matanya jengah dengan ke-narsisan kakak iparnya. "Mending memandang cantiknya istri aku yang bak bidadari ini," Amier tak mau kalah.


"Om cepetan kita sudah lapar!" ribut dua bocah itu.


"Minta Ayah kalian bikinin aja," ucap Amier.


Amier meletakkan piring yang berisi nasi goreng dan omelette di atasnya di depan sang istri lalu tersenyum.


Ke-dua bocah itu menatap ayah mereka dengan tatapan puppy eyes- nya. Malik mengusap lembut kepala putranya.


"Baiklah, biarkan chef Malik mengatasi rasa lapar kalian." Malik mengambil apron juga dan siap untuk memasak.


Tak lama Bian datang menghampiri mereka bersama Maryam. "Hoho! Lagi lomba masak kah?" seru Bian mendekati.


Malik dan Amier menoleh. "Nah! Satu lagi tuh." Malik melempar apron untuk Bian dan dengan sigap lelaki itu tangkap.


Ameera berdiri menyambut Maryam dan mereka melakukan salam pertemuan dengan menempelkan pipi masing-masing dan bertanya kabar.


"Gimana kalau makan siang hari ini kita yang masak?" usul Malik.


"Emm, ide bagus." Amier dan Bian menyahut kompak.


Ke-tiga laki-laki itu sudah siap dengan alat-alat yang akan mereka gunakan.


Mendengar keributan di dapur, Annisa dan Asyifa serta putri cantiknya itu menghampiri dan saling pandang saat melihat ke-tiga nya memasak.


"Wah, Bun. Kayaknya chef keluarga kita lagi adu kepiawaian." Asyifa terkekeh.


Annisa memegang kepalanya. "Berantakan lagi pasti." Annisa mengeluh.


Asyifa kembali terkekeh. "Tenang Bun, kalau berantakan mereka saja yang beresin."


Annisa mengangguk. "Iya deh, pasrah saja."


Tiga wanita beda usia itu menghampiri mereka yang tengah memasak dan ribut dengan tangan yang sibuk dengan tugas masing-masing.


"Bunda nggak mau kalau sampai berantakan ya!" petuah Annisa.


Mereka kompak menoleh. "Siap komandan!" jawab serempak mereka.


💢💢💢💢


Di tempat lain, Shinta tengah menunggu di depan ruangan dokter. Dengan harap cemas dia menunggu kabar.


Tangannya di genggam oleh seseorang yang tak lain adalah suaminya. Sang suami tersenyum melihat istrinya begitu gugup.


"Tenanglah," ucapnya.


"Kalau beneran hasilnya, gimana?" tanya Shinta cemas.


"Loh, kok gimana? Kan emang sudah sewajarnya. Lagipula kamu punya suami bukan lajang." Sambungnya.


"Iya, aku tahu. Tapi rasanya--"


"Sudahlah, tenangkan diri kamu. Ada aku disini."


Semenjak pernikahan mereka lima bulan yang lalu, kini Shinta dan suaminya tengah memeriksakan diri. Karna di dapati gejala seperti hal nya orang yang tengah mengandung.


Shinta sebenarnya takut untuk hal itu, tapi memang sudah sewajarnya dan seharusnya juga dia akan mengalami fase dimana ada nyawa lain di dalam dirinya.


Pernikahan mereka memang hasil dari perjodohan, namun mereka mencoba membuka dan menerima satu sama lain untuk menjalani kehidupan berumahtangga.


Dan mereka berhasil, mereka sudah saling membuka hati dan bahkan sekarang lebih mesra layaknya orang yang menikah dengan cinta di dalam hati masing-masing.


Shinta sebenarnya bahagia, tapi ada rasa khawatir yang menyerangnya tiba-tiba. Dan beruntungnya dia ada sang suami yang selalu menemani dan mendukungnya.


Meski perbedaan umur Shinta dan Vano yang terlampau cukup jauh, tapi Vano bisa mengimbangi sifat Shinta yang masih manja.


Dengan sabar Vano membimbing dan memberi kasih sayang dan cinta. Kini Shinta punya orang yang dengan tulus mencintainya seperti dia mencintai Amier dulu, bahkan mungkin lebih besar dari pada cinta dia pada Amier.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍