I Finally Found Love

I Finally Found Love
74.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Asyifa memasuki kamar Salim, dilihatnya anak laki-lakinya itu tengah duduk di meja belajar sembari mencoret-coret bukunya.


Asyifa duduk di ranjang dan menatap Salim dari belakang. "Kamu kenapa sih, Nak? Nggak biasanya lho kamu begitu," tanya Syifa lembut.


Tak Ada jawaban dari Salim, dia terus saja mencoret-coret bukunya. "Nggak mau jawab Bunda kah?" tanya Syifa lagi.


"Bunda jawab saja siapa yang paling Bunda sayang?" ucap Salim pada akhirnya.


Asyifa menghela nafas dan mendekati putranya, "hanya gara-gara itu? Pernahkah Bunda pilih kasih sama kalian? Hanya gara-gara temen kalian mengatakan hal itu kalian berantem?"


"Bukankah Bunda sudah bilang jika tidak boleh berlebihan, apa yang kamu butuhkan Bunda belikan sesuai dengan apa yang kamu minta, setiap barang beda harga bukan?"


Salim terdiam memikirkan kata-kata Bundanya, merasa bersalah karena sudah egois dan terpancing dengan omongan temannya yang tidak bermutu itu.


"Maaf Bun," ucap Salim


"Tapi Bunda, Bunda lebih sayang Salim apa sayang Salman?" tanyanya lagi.


Asyifa terkekeh dan merogoh kantongnya yang berisi permen yang telah dia ambil dari laci. Dia memberikan satu permen kepada putranya.


"ini ada ada permen, kamu simpan dan jangan bilang sama siapapun karena orang yang Bunda kasih permen ini adalah anak yang sangat Bunda sayangi," ujar Asyifa seraya mengulurkan permennya.


Salim tersenyum kemudian menerima uluran permen tersebut. "Jadi Bunda sangat sayang sama Salim?" tanyanya kemudian.


Asyifa mengangguk dan tertawa kecil. "Tentu saja," ucapnya masih dengan tertawa.


Salim bersorak kegirangan kemudian memeluk Asyifa dengan erat, "terima kasih Bunda, Salim juga sayang sama Bunda," ucap bocah itu kemudian mencium pipi bundanya.


"Ya sudah, Bunda keluar ya, dan jangan coret-coret buku lagi mubazir!" peringat Asyifa dan Salim hanya menyengir saja.


"Aku nggak akan lagi coret-coret Bun," ucap Salim.


"Ya sudah," ujar Syifa kemudian mengelus sayang kepalanya dan keluar kamar kemudian masuk ke dalam kamar Salman yang berada di samping kamar Salim.


Berbeda dengan Salim, anak itu jika ngambek akan berbaring di tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya.


Asyifa mendekati Salman dan mengelus sayang kepalanya. Salman membuka selimutnya dan menatap Syifa.


"Kamu ngambek begini, bagus kah?" tanya Syifa.


Salman menggeleng, "maaf Bunda," ucap Salman menyesal.


"Tapi Bunda, di antara kita siapa yang paling Bunda sayang?" tanya Salman.


Asyifa tertawa mendengar pertanyaan polos itu, pertanyaan yang sama dengan anak kembarnya yang lain.


"Emang benar-benar kalian ya," ucap Asyifa tak habis pikir.


Seperti yang dilakukannya pada Salim, dia pun merogoh kantongnya dan menyerahkan satu permen kepada sang putra.


"Terimalah, itu adalah permen buat anak Bunda yang paling Bunda sayang," ucap Syifa.


Salman tersenyum lebar dan menerima permen itu dengan senang. "Terima kasih Bun, jadi aku yang paling Bunda sayang?" tanya Salman.


Syifa menganggukan kepalanya dan tertawa kecil, "tapi ingat ya, jangan beritahu siapapun kalau Bunda ngasih kamu permen, yang artinya kamu yang paling Bunda sayang," peringatan Asyifa lagi.


Asyifa keluar dari kamar putranya kemudian tertawa kecil. "Ada-ada saja, ternyata yang bunda lakukan sama aku, Amier, dan Bian bisa aku gunakan juga," gumam Asyifa merasa lucu.


Bagaimana tidak lucu, kejadian ini sama halnya seperti waktu dulu dia kecil, dan dia baru menyadari saat dia lulus kuliah karena waktu itu Asyifa, Amier dan Bian saling menceritakan satu sama lain.


Dan mereka saling tertawa karena merasa konyol, tapi sangat cerdas bundanya itu dalam menyikapi kekonyolan mereka bertiga.


Setelah menyelesaikan masalah antara kedua anaknya, kemudian Asyifa ke dapur untuk memasak makan malam. Meskipun tak sehebat Malik, sang suami. Sedikit demi sedikit dia bisa. Dan semua keluarganya menyukai masakannya.


****


Jam makan malam sudah tiba dan semua sudah siap di atas meja makan. Salim dan Salman keluar dari kamarnya masing-masing, mereka saling bertatapan lalu membuang muka dan berjalan menuju meja makan.


Di sana sudah ada Malik dan juga Ciara yang menunggu mereka berdua, dan Syifa tengah menyendokkan nasi ke atas piring suaminya.


Mereka berdua duduk saling berhadapan. Asyifa masih terkekeh melihat tingkah kedua bocah itu. "Kalian tumben, biasanya samping-sampingan," ucap Malik heran.


"Jadi, tadi siang ada yang ngambek, terus nanya siapa yang paling di sayang sama Bunda, dan Bunda ngasih permen sama anak yang sangat Bunda sayang," jelas Syifa mengedipkan sebelah matanya pada Malik dan memberi kode dengan matanya.


Salim dan Salman mengulas senyum merasa menang masing-masing, bahkan bukan hanya mereka berdua saja, Ciara juga seperti itu karena dia juga mendapatkan permen yang sama.


Mereka tak tahu apa yang sebenarnya, tapi dengan begini mereka merasa di cintai dan di sayangi secara khusus. Dan Malik tertawa kecil apa maksud dari sang istri.


💢💢💢💢


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Masa-masa hamilnya Maryam begitu sangat membahagiakan.


Sama seperti orang hamil yang lainnya, dia sangat menikmati dengan rasa syukur. Meski terkadang merasa bersalah karena sangat suka mengganggu sang suami hampir setiap malam.


Mau ini, mau itu, minta ini, minta itu, semua dia mau, bahkan saat tengah malam Maryam minta beli martabak pun Bian dengan segera mencarinya. Sungguh sangat sayang bukan?


Tapi suaminya itu tak pernah merasa keberatan. Bahkan tanpa meminta pun dia akan menanyakan ia mau apa dan sebagainya. Dia merasa begitu, bahkan sangat beruntung.


Dan hari ini, Maryam tengah memeriksakan kandungannya untuk yang terakhir sebelum hari dia melahirkan. Perutnya yang sudah membesar sangat menyulitkan Maryam untuk berjalan lama, tapi dia tetap memilih jalan ketimbang harus duduk diam tak melakukan apapun.


Jenis kelamin bayi Maryam dan Bian belum di ketahui, lebih tepatnya di sembunyikan karena mereka ingin menjadi kejutan saja.


"Bi, laper," ucap Maryam seraya mendusal di ketek Bian.


Entahlah wanita hamil itu semenjak menginjak kehamilan trimester kedua sangat suka menciumi bau badan sang suami.


Bahkan dia meminta Bian untuk tidak memakai baju saat dirinya tidur dan harus mendekapnya.


Dan akhirnya, Bian tidur dalam keadaan memakai celana pendek saja. Namun tetap menggunakan selimut tebal dan mendekap sang istri tentunya.


Aneh memang, tapi itulah ibu hamil, terkadang sangat tidak masuk akal. Mulai dari makanan, hobi yang berubah, dan hidung ibu hamil yang sangat tajam, membuat segala bau-bauan akan sangat mengganggunya.


"Kita ke kantin yuk," ajak Bian menggandeng tangan Maryam.


Maryam mengangguk. Mereka berdua ke kantin untuk makan, tapi saat duduk, mereka bertemu Sari. Sari meminta duduk di meja mereka dan kebetulan meja sudah penuh semua karena tepat pada jam istirahat.


Maryam terdiam, hatinya merasa terusik karena kehadiran perempuan itu. Meski begitu, dia tetap tersenyum meski tak nyaman.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.