
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Maryam sudah mengganti pakaiannya di kamar mandi dan kini giliran Bian yang masuk. Tatapan mereka bertemu saat Maryam keluar dan Bian hendak masuk.
"Mau mandi ya?" tanya Maryam.
"Iya," jawab singkat Bian.
"Oh, iya silahkan." Maryam memberi jalan.
Bian mengangguk dan masuk melewati Maryam. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Bian dan Maryam menyandarkan punggungnya ke kedua sisi pintu secara bersamaan dan tangan mereka memegangi dada mereka masing-masing.
"Ya ampun, canggungnya." Ucap mereka bersamaan.
"Aaaa!" teriak mereka bersamaan.
Maryam dan Bian kaget seketika saat mendengar ada suara lain dari suara mereka.
Telinga keduanya di tempelkan secara bersamaan.
"Bian/Maryam, apa kalian baik-baik saja?!" seru mereka bersama.
Keduanya terdiam sejenak. "Kau tak apa-apa?" tanya Bian lebih dulu.
"Tidak-tidak, aku tidak apa-apa," jawab Maryam cepat.
💢💢💢💢
Malam semakin larut bahkan sudah tidak bisa di bilang malam karena sudah lewat dari jam dua pagi. Tapi, dua insan beda gender itu hanya bolak balik saja mencari posisi yang nyaman.
"Sudah tidur kah?" tanya Bian yang berada di sofa.
Maryam melongok, "belum," jawab Maryam.
"Sama, aku juga." Bian menyahuti.
"Emm, boleh tidak aku bertanya?" Maryam memulai pembicaraan.
Bian memposisikan dirinya menghadap ranjang yang dimana ada Maryam sedang menatapnya juga. "Apa?" tanyanya kemudian.
"Boleh tidak kamu menceritakan tentang masa lalu kamu saat ketemu sama kak Anita?" tanya Maryam.
Maryam sedikit canggung untuk menanyakan hal ini. Tapi jika tidak dia lakukan pastinya akan terus penasaran sampai kapanpun. Jadi Maryam memberanikan diri untuk bertanya.
Dia tahu, dia tidak sehari menanyakan hal itu. Tapi, rasa penasarannya tak dapat di bendung lagi. Terserah Bian mau menanggapi apa yang penting dia sudah menanyakan nya.
Tapi, respon dari Bian cukup membuat Maryam terkejut, Bian bukannya marah tapi malah dia terkekeh. Maryam sempat bingung dengan Bian.
"Kenapa ketawa?" tanya Maryam bingung.
"Pertanyaan kamu buat aku ketawa, jujur saja jika aku ceritakan tentang itu mungkin kamu juga akan ketawa. Tapi, aku rasa tidak perlu aku ceritakan tentang itu." Bian menjawab.
Maryam langsung duduk. "Kenapa?" tanya nya penasaran.
Bian melirik. "Nggak usah terlalu kepo, mending kamu tidur." Bian menyahuti.
Maryam memanyunkan bibirnya lucu. Bian terkekeh. Lucu juga istrinya itu, bisa-bisanya memanyunkan bibir macam itu buat dia gemas di buatnya.
"Ceritalah, aku beneran penasaran banget deh," paksa Maryam.
Bian bangkit dan duduk. "Beneran kamu pengin tau?" tanyanya dan di angguki Maryam dengan cepat.
"Emm, jangan deh." Bian menjawab dengan meledek Maryam.
Maryam yang sangat semangat ingin mendengarkan tapi di ledek oleh Bian pun kesal dan melempar bantal ke arah Bian.
Bian menghentikan tawanya dan menatap sang istri lalu tersenyum. "Aku bukan tak mau bercerita, tapi ada hati yang perlu di jaga. Dan almarhumah kakak kamu itu hanya kenangan manis dan juga masa laluku, dan sekarang kamu lah masa depanku." Jelas Bian.
Maryam yang mendengar itu diam-diam tersenyum namun ia tak membalikkan badannya menghadap sang suami. Bian yang melihat Maryam diam saja pun memanggil namanya tapi tak ada sahutan.
Bian tersenyum dan membenarkan posisinya menghadap langit-langit. Lama kelamaan karena di tinggal sang istri yang tertidur pulas, akhirnya Bian ikut tertidur juga.
💢💢💢💢
Siang harinya, Bian membawa Maryam untuk melihat rumah yang akan mereka tinggali. Rumah bergaya minimalis namun punya halaman yang lapang.
Maryam yang melihat rumah itu pun tersenyum bahagia. Pasalnya gadis itu sangat suka berkebun. Dan adanya halaman yang luas membuat otak cantiknya menyusun rencana untuk bisa memenuhi halaman tersebut dengan bnyak pohon dan bunga.
"Kau suka?" tanya Bian.
Maryam mengangguk tanpa menoleh. Bian tersenyum.
"Ayo masuk," ajak Bian. Maryam kembali mengangguk dan mengikuti Bian seraya matanya menelisik setiap sudut halaman.
Gadis yang aneh memang, biasanya orang akan melihat bangunan cantik di depannya, tapi tidak dengan dia yang begitu bahagianya dengan halaman yang luas.
Maryam pikir hanya perumahan yang biasa atau macam rumahnya dulu waktu masih dengan status kaya, atau juga apartemen yang akan jadi tempat tinggal mereka. Tak di sangka Bian membangun rumah dengan halaman yang luas. Hobinya akan tersalurkan dengan adanya ini.
"Kamar kamu di sebelah kiri, dan punya aku sebelah kanan. Dan di tengah pembatas kamar kita, aku sengaja memberi pintu yang bisa kamu buka jika sewaktu-waktu ada keluarga yang main dan kita bisa bekerjasama buat mindahin barang-barang kita." Kata Bian.
Maryam mengangguk. "Terimakasih. Tapi, dari mana kamu bisa punya ide seperti itu?" Maryam terheran.
"Dari internet." Bian menjawab santai.aryam hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.
"Oh, ya sudah. Aku masuk kamar dulu ya. Bye, " ucap Maryam meninggalkan Bian sendiri yang berdiri mematung.
Bian menghembuskan nafas berat. "Entah apa yang terjadi nanti aku serahkan padamu ya Allah, engkaulah pemilik hati dan engkaulah yang bisa membolak-balikkan hati setiap hambamu." Bian berdoa di dalam hati seraya menatap pintu kamar Maryam yang tertutup.
Selepas itu, Bian masuk ke dalam kamarnya sendiri dan untuk istirahat. Rumah itu sudah siap huni karena sebelumnya sudah di bersihkan dan segala perabotan sudah lengkap semua.
💢💢💢💢
Dua hari setelah mereka masa libur, mereka kembali pada aktivitas mereka kembali. Seperti hari ini.
Maryam kembali kerja di hotel. Dan dia berangkat menggunakan motor. Sebenarnya Bian menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi Maryam menolak karena tidak mau merepotkan Bian.
Sebenarnya Bian mereka kecewa, tapi bagaimanapun dia tetap harus mengharu apa keputusan Maryam. Karena sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk tidak terlalu dekat.
Karena Maryam berfikir tidak bisa terlalu jauh, jika suatu saat Bian atau bahkan dirinya menemukan cinta yang sesungguhnya, mereka tidak akan merasa kehilangan satu sama lain.
"Pagi," sapa Maryam pada teman satu profesi dengannya.
"Pagi Maryam," sapa balik mereka. "Oh iya, ku katanya cuti buat nikah ya? Wah, jahat kamu Mar nggak undang-undang kita." Sambung temannya yang bernama Lili.
Maryam tersenyum canggung. "Iya maaf," ucap Maryam.
"Siapa sih yang jadi suami kamu Mar, kayaknya ganteng ya?" tanya Lili.
"Ya iyalah ganteng, secara kan Maryam itu cantik, bukan kayak kamu buluk!" ledek Isya teman satunya lagi.
"Eh tapi kalau suami Maryam gantengnya sama kayak pak Bian, aku juga mau! Jadi istri keduanya juga nggak apa-apa!" seru Isya membayangkan sosok Bian.
"Ye! ngarep!" sahut Lili seraya meraup wajah Isya gemas.
Maryam tersenyum miris. " Dia memang suami aku untuk sekarang." Maryam berbicara lirih, sangat lirih hingga hanya dia saja yang tahu.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍