
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Bian datang ke kantor dengan wajah yang kusut tak seperti biasanya. Para karyawannya terheran-heran.
"Pak Bian kenapa ya, dateng-dateng mukanya sudah kusut banget?" bisik-bisik para karyawan Bian yang melihat Bian begitu lesu.
Bian membuka pintu ruangannya. Dia masuk dan duduk di kursi kebesarannya sembari menghela nafas berat.
"Lesu banget kak, nggak dapat jatah kah?!" seru Amier mengagetkan Bian.
"Ya Allah Amier! Kaget aku!" seru Bian kesal.
Amier bukannya merasa bersalah malah ia tertawa, "lagian tuh ya, itu muka macam orang yang habis putus cinta, kusut belum digosok kayaknya sama kakak ipar," ledek Amier lagi.
"Berisik kamu! Kenapa kamu pagi-pagi ke sini?!" tanya Bian dengan nada ketus.
Amier mengernyitkan dahi seraya mengangkat tangan kiri dan melihat arlojinya. "Pagi? Wah parah nih. Ini sudah jam berapa kak?" heran Amier.
Bian refleks melihat arlojinya kemudian menatap sang adik sembari menyengir, "oh iya, sudah siang ya," canggung Bian.
"Eh, ngomong-ngomong kamu kesini ngapain, tumben-tumbenan?" tanya Bian yang mengalihkan pembicaraan.
"Gimana ya ngomongnya," guman Amier tapi masih terdengar oleh Bian.
"Ngomong saja, biasanya juga main ceplos kamu," kata Bian.
"Hehehe... gini, aku mau nanya tentang semalam, bener nggak sih kalian itu pisah ranjang?" tanya Amier hati-hati.
Bian sedikit menunduk. "Iya," jawabnya singkat.
Amier menghela nafas, "sebenarnya apa sih yang kalian sembunyikan dari kita?" tanya Amier yang mengubah nada bicaranya menjadi serius.
"Kamu nggak perlu tau, semua bisa aku atasi kok," tolak Bian halus.
"Ayolah Kak, kita ini keluarga. Aku bukannya mau mengomentari aib keluargamu, tapi kalau aku bisa membantu aku akan bantu," pinta Amier.
Sejenak Bian berpikir, mungkin sudah saatnya dia terbuka. Dia tidak bisa memikul bebannya sendiri, mungkin saja Amier bisa membantu memberikan solusi paling tidak, pikir Bian.
Bian mulai mencaritakan asal hubungannya dengan Maryam dan juga Anita kakak Maryam.
Amier mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Jadi kakaknya kak Maryam itu orang yang pernah minta tanda tangan waktu itu ya?" Amier. memperjelas.
"Jadi keputusan kak Bian sekarang gimana?" tanya Amier
"Gimana apanya maksudnya? Keputusan aku ya nggak gimana-gimana, begitu-begitu ay.ja Aku nggak bisa memaksakan orang untuk mencintaiku kan? Aku enggak berpengalaman dengan hal ini Amier, kau tahu sendiri."
"Iya juga ya, kak Bian kan jomblo akut. Padahal banyak yang ngantri tapi malah nggak mau," Amier terkekeh.
"Bukannya aku nggak mau, aku sebenarnya juga mau, ya tapi belum ada yang sreg saja dan juga waktu itu kan aku masih nyari keberadaan Anita." Bian memberi alasan.
Amier sejenak berpikir dan menjentikkan jarinya saat mendapatkan ide, "aku rasa aku tau solusinya!" seru Amier.
Bian mengerutkan alisnya. "Apa?" bingung Bian.
💢💢💢💢
Di saat yang sama, situasinya tak jauh beda dengan Maryam sekarang. Semenjak dia datang sampai jam ini pun dia tetap murung, hanya sesekali tersenyum saat ada tamu datang check in dan check out.
Teman-teman Maryam pun merasa heran, tak biasanya Maryam itu berperilaku seperti itu. Yang mereka tahu Maryam adalah tipe orang yang ceria.
"Kamu kenapa sih Mar, enggak biasanya kamu begini?"
Maryam yang ditanya pun menoleh, dia menggeleng dan tersenyum. "Nggak apa-apa kok, aku baik-baik saja. Mungkin lagi datang bulan jadi sedikit ya taulah," Maryam memberi alasan.
Mereka mengangguk paham.
****
"Aku pulang duluan ya, bye," pamit Maryam kepada kedua temannya, Maryam melambaikan tangan dan dibalas oleh mereka.
Maryam berjalan menuju ke parkiran tapi sudut matanya menangkap sesosok orang yang sangat dia kenal bahkan sangat kenal. Dia adalah Bian, dan tunggu, mata Maryam menyipit menelisik siapa yang ada di samping sang suami.
"Siapa dia?" tanya Maryam pada diri sendiri. "Ah, biarkanlah urusan dia pun, lebih baik aku pulang mandi dan tidur, uuhh.... lelahnya hari ini." lenguh Maryam.
Maryam melanjutkan niatnya untuk pulang, setelah sampai di rumah Maryam sedikit merasa sepi dan juga bayangan sang suami yang berada di dalam mobil bersama seorang wanita pun menghampirinya kembali.
"Kok aku jadi penasaran ya?" gumam Maryam.
"Aduh.... Maryam! Sudahlah urusi urusan kamu sendiri, ingat niat awal kita menikah itu apa? Ingat Maryam, ingat!" rutuk Maryam.
Maryam pun memutuskan mandi untuk menyegarkan diri, setelah mandi dia memasak. Seperti biasanya, dia memasak dua porsi untuk dirinya dan sang suami.
Setelah selesai, Maryam meletakkan hasil kerjanya di atas meja makan. Dia menengok jam dinding yang menunjukkan pukul jam tujuh malam.
"Sudah jam segini Bian belum pulang, kemana ya? Apa aku tinggal makan sendiri saja ya, ah.. sudahlah aku makan saja," monolog Maryam.
Maryam pun makan malam sediri tanpa menunggu Bian. Setelah makan dan membereskan wadah kotornya, Maryam masuk kedalam kamar dan istirahat.
Tengah malam, Bian membuka pintu rumah dengan sedikit hati-hati. Dia tidak mau membangunkan istrinya yang mungkin saja sudah tertidur.
Perlahan Bian membuka pintu kamar, tapi saat dia akan masuk, pintu kamar Maryam terbuka.
"Kau baru pulang?" tanya Maryam.
Bian mengangguk, "iya," jawab singkat Bian. Maryam mengangguk mengerti.
"Apa mau ku buatkan teh?" tanya Maryam lagi.
"Tidak usah, aku sudah ngantuk, sampai jumpa besok, selamat tidur." Bian menolak halus sebelum masuk kedalam.
Maryam menatap pintu kamar yang tertutup itu dengan perasaan sedih. Mungkin kebiasaan Bian yang berubah setelah kejadian kemarin, atau apa dia tak tahu.
💢💢💢💢
"Iya pak, saya segera kesana, baik!" ucap Bian sembari tangannya sibuk memakai jasnya.
Maryam yang tengah menata sarapan pun menoleh.
"Nggak sarapan dulu?" tanya Maryam yang melihat Bian hendak keluar rumah.
Bian menoleh ke belakang, "enggak, nanti di jalan saja, aku ada meeting mendadak soalnya, di penting banget. Aku pergi dulu ya," pamit Bian.
Maryam tersenyum, tangannya melambai namun tak mendapat balasan dari Bian, bukan tak mendapat balasan hanya saja bertepatan dengan pintu tertutup sehingga Bian tidak menyadari itu.
Maryam kembali ke meja makan menikmati sarapannya sendiri 'lagi'.
*****
Di sebuah tanah yang sangat luas yang tengah dibangun sebuah apartemen Bian menghentikan mobilnya. Dia turun untuk menemui client- nya.
"Bian," sapa seorang perempuan. Bian yang merasa dipanggil namanya pun membalikkan badannya dan mengerutkan alis.
"Siapa ya?" tanya Bian.
"Aku Sari, teman satu SMA dulu. Kau tidak mengingatnya, aku ketua OSIS." Ujarnya memberi tahu.
Bian terdiam berpikir. "Oh, Sari anaknya pak Kepsek kah?!" seru Bian yang akhirnya mengingat perempuan tersebut.
"Nah, ingat juga akhirnya." Senang perempuan itu dan dibalas kekehan dari Bian.
SALAM HANGAT DARI AUTO KECE 😊.