
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.
Di dalam kamar, Amier berdiri di balkon kamar. Ameera masuk kedalam dan menemui suaminya yang ada di balkon.
"Mas," panggil Ameera pada sang suami.
Amier menoleh dan tersenyum. "Kenapa?" tanyanya.
Ameera duduk di sofa. "Mas, ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu." Ameera menatap sendu Amier.
Amier ikut duduk di sofa samping istrinya. "Ada apa sih," Ameera menyandarkan kepalanya di bahu Amier.
"Mas, bisa tidak kita nggak usah pindah. Aku kasihan sama bunda. Kak Syifa punya timah sendiri, dan juga kalau kita pindah bunda kasihan. Dia kelihatannya sangat sedih saat denger kita mau pindah."
"Bolehkah?" tanya Ameera. Amier terdiam. Memang sedari tadi dia memikirkan hal itu. Tapi jika dia tak pindah, akankah dia akan menyusahkan sang bunda, sedangkan dia kini sudah menjadi kepala keluarga.
"Nanti aku pikirkan lagi ya." Amier mencoba untuk memikirkan cara.
Amier merangkul sang istri membawanya kedalam dekapannya. "Dek," panggil Amier dan di sahuti dengan gumaman oleh Ameera tapi Amier malah menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.
"Dek," panggilnya lagi.
"Apa?"
"Dek," panggil Amier lagi.
Ameera jadi kesal sendiri dan menegakkan duduknya. "Apa sih Mas?" sahut Ameera dengan sedikit kesal.
Amier hanya terkekeh geli mendengar sahutan sang istri. Amier mencuit hidung Ameera dengan gemas.
💢💢💢💢
Di tempat lain, Maryam tengah mendongak melihat buah yang menggelantung indah di atas pohon. Setelah memilih buah mana yang akan di ambil, Maryam langsungmengambil ancang-ancang untuk menaiki pohon itu.
Setelah di atas Maryam kembali memilih buah yang ternyata lebih banyak yang terlihat matang dari atas.
"Wah, banyaknya!" seru Maryam girang.
Dengan cekatan Maryam memetik satu persatu buah mangga itu dengan hati gembira, tapi ada hal yang aneh saat sudut matanya menangkap sosok pemuda yang tengah memandanginya dengan tak berkedip.
Maryam menelan ludah saat mengetahui orang itu adalah Bian. Iya, Bian tengah memandangi calon istrinya itu dengan ekspresi datar.
Maryam menutupi wajahnya dengan plastik kresek yang dia pegang, dan itu membuat Bian tersenyum tertahan.
"Ya Allah Maryam!" seru ibu Maryam yang datang dengan nampan di tangannya.
"Turun." Pintanya.
Maryam menurunkan plastik yang menutupi wajahnya sembari nyengir kuda.
"Habisnya mangga nya menggoda Bu, jadi naik deh." Maryam dengan santainya menjawab.
Hilang sudah kesan elegan dan kalem dari seorang Maryam. Tapi Maryam mana peduli dengan hal itu. Yang dia pedulikan adalah hal yang dia inginkan, dan mangga itu adalah salah satunya.
Setelah kena omel sang ibu, Maryam pun hendak turun tapi dia lupa jika tangannya memegang plastik yang penuh akan mangga.
"Pak," panggil Maryam sopan.
Bian mendongak. "Apa?" tanyanya.
Maryam menyengir. "Bisa tolong pegangin dulu nggak plastiknya."
Bian mengangguk dan mendekati pohon mangga. Tangan Bian terulur untuk mengambil plastik tersebut, setelah semua aman Maryam pun turun.
Perempuan itu mengambil plastiknya dan meninggalkan Bian yang masih bengong. Saat Maryam menyadari jika Bian tak mengikutinya pun menoleh dan memanggil Bian.
"Ayo Pak," Bian mengikuti Maryam.
💢💢💢💢
Tapi lama-kelamaan Maryam jadi merasa risih sendiri. Matanya menatap ke depan dan benar saja apa yang di rasakannya. Bian calon suaminya itu tengah memandangi tanpa berkedip.
"Bapak mau?" tanya Maryam. "Kan sudah aku sediakan itu di meja, kenapa pula Bapak nggak kupas sendiri?" sambungnya.
"Boleh tidak makan dari tangan kamu?" tanya Bian tanpa sadar.
"Apa?" pekik Maryam bingung.
Bian seketika tersadar. "Ah, tidak-tidak." Bian menggaruk tengkuknya.
Maryam mengangguk-angguk saja dan kembali mengupas mangga nya.
"A--" ucap Maryam menyodorkan mangga yang telah di potong kecil-kecil.
Bian terdiam menatap buah itu dan Maryam bergantian. Maryam mengangguk memaksa Bian untuk membuka mulutnya.
Dengan sedikit ragu Bian membuka mulutnya dan merasakan manisnya buah mangga dari suapan Maryam. "Manis?" tanyanya.
Bian mengangguk kemudian Maryam tersenyum lalu kembali fokus memotong, "seperti kamu." Kata Bian.
"Hah!?" kaget Maryam, keduanya saling pandang dan suara deheman dari belakang yang tak lain adalah dari sang ibu memutus kontak mata keduanya hingga mereka salah tingkah.
"Ibu sepertinya duduk disini saja biar aman," sahut sang ibu yang duduk di kursi tak jauh dari mereka duduk. Bian dan Maryam jadi malu.
"Oh iya, besok bunda kamu mau ajak Maryam ke boutique buat coba baju pengantin. Bak Bian ikut juga kan?" tanya ibu.
Bian mengangguk. "Iya Bu, nanti Bian yang akan jemput kalian buat ke boutique tante Bian." Jawab Bian. Ibu mengangguk paham.
Bian dam ibu saling mengobrol dengan seru dan santai. Tapi Maryam terdiam dengan tangan dan mata yang fokus dengan pekerjaannya. Tapi tidak dengan telinganya.
Sesekali Bian mencuri pandang pada Maryam, hal itu tidak terlepas dari pengamatan sang ibu. Dan diam-diam ibu Maryam mengulas senyum pada apa yang Bian lakukan.
Dia percaya dengan pemuda di depannya itu, dia percaya masa depan sang putri akan lebih baik.
Entah mengapa dia jadi sedih mendengar kata pernikahan. Sebuah gambaran masa depan yang terlintas di benak Maryam bukanlah hal yang membahagiakan, tapi gambaran tentang kehampaan tanpa cinta.
Dari pada dengan calon yang sebelumnya, ini lebih baik dan lebih membuat dia nyaman meski kenyataan tak berpihak dengan kebahagiaan.
Paling tidak dia punya gambaran tindak kekerasan yang nantinya akan menimpa dia tak ada, paling tidak hal itu yang membuat ibunya bahagia. Apa mungkin dia sudah mulai percaya dengan Bian, Maryam juga tidak tahu, yang dia tahu sekarang adalah dia lebih nyaman dengan lelaki di hadapannya itu di banding dengan lelaki yang lalu.
"Sudah sore, saya pamit dulu ya Bu, Maryam, dan terimakasih hidangannya." Bian berpamitan.
Ibu mengangguk. "Nanti main sini lagi ya, jangan bosan-bosan."
"Pasti Bu," Bian melirik Maryam. "Ya sudah Bian pamit, assalamualaikum." Bian mencium tangan ibu Maryam sebelum meninggalkan mereka dan masuk kedalam mobil.
Maryam menatap kepergian Bian dengan rasa yang sedikit tidak rela. Sang ibu yang melihat anak gadisnya itu melamun pun memegang lengannya.
"Jangan melamun, nanti ada saatnya kamu akan merasa lebih tak rela jika jauh dari dia. Sekarang tahan dulu rasa itu sebelum halal ya," nasihat sang ibu.
"Apaan sih ibu," sangkal Maryam, tapi entah kenapa wajahnya menjadi panas.
"Tuh kan, apa Ibu bilang, Ibu rasa sebentar lagi akan ada yang kangen," ledek ibu.
"Apaan sih Bu, suka nggak jelas deh." Maryam membalikkan badannya dan melangkah kedalam rumah dengan memegang pipinya yang terasa panas.
"Ayolah sayang, jangan malu!" seru ibu meledek.
"Ibu!!" seru Maryam dari dalam rumah. Tentu hal itu membuat sang ibu tertawa.
"Anak kita sudah besar mas," gumam ibu lirih.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.