
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Annisa datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri putra-putrinya bersama Aditya.
Annisa mencoba tenang tapi tetap saja rasa panik masih bersemayam di dalam hatinya meskipun dia sudah berpengalaman.
"Gimana keadaannya?" tanya panik Annisa.
"Mereka ada di dalam, Bun." Amier memberi tahu.
Annisa kemudian duduk di samping Ameera dan Aditya di samping Amier. "Kamu nggak apa-apa kan, sayang?" tanya Annisa ikut menghawatirkan.
Ameera menggeleng. "Nggak kok, Bun." Ameera tersenyum.
"Syukurlah, kita doakan kakak kalian ya," ujar Annisa.
Tak lama dari ucapan Annisa, samar-samar terdengar suara tangisan bayi yang melengking dari dalam.
Raut wajah mereka seketika cerah. Awan mendung yang menyelimuti wajah mereka terkikis dengan suara itu.
"Anggota keluarga kita bertambah! Alhamdulillah," syukur Annisa dan di ikuti yang lainnya.
Bian keluar dari dalam ruangan dengan pandangan kosong dan menatap kedua tangannya. Aditya menghampiri sang putra dan memegang bahunya.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Aditya yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya melihat Bian yang terdiam tanpa ekspresi.
Bian mendongak dan seketika air matanya menetes. Annisa ikut menghampiri.
"Nak, kamu kenapa?" tanya Annisa lagi.
Saat melihat Annisa, Bian semakin terisak. "Bian, jangan menakuti Bunda!" tegas Annisa.
"A-aku, aku sudah jadi seorang ayah, Bun, Yah," ucapnya dalam isakan.
Annisa dan Aditya merasa lega, pikiran buruk sempat menghampiri mereka karena melihat ekspresi wajah Bian.
Annisa mengangguk dan tangannya mengulur mengusap wajah Bian. "Selamat, Nak. Selamat," ujar Annisa.
Bian semakin terisak dan memeluk Bundanya. Aditya ikut mengusap punggung Bian memberikan rasa nyaman untuk putranya.
Bian melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Aditya. "Selamat, Nak. Jadilah ayah yang terbaik untuk anakmu kelak." Aditya memberi nasihat.
Amier yang melihat itu pun terharu dan tangannya mengusap lembut perut Ameera yang kini sudah mulai membesar karena memang kandungan nya sudah memasuki bulan ke lima.
Tangan Ameera mengusap punggung tangan suaminya dan tersenyum lalu di balas senyum oleh Amier.
💢💢💢💢
Maryam sudah di pindahkan di ruang rawat. Karena melahirkan normal, Maryam sudah bisa mengobrol dengan yang lainnya.
Bayi laki-laki yang kini tertidur dengan pulas nya di boks bayi di samping ranjang Maryam pun jadi perhatian. Begitu lucu dan imut.
Bian tak henti-hentinya tersenyum. "Fotokopi kamu banget ya, Kak?" kata Amier yang ikut gemas dengan keponakannya itu.
"Terbukti anak aku ya, Dek." Bian terkekeh.
Amier menatap jengah. "Kalau bukan terus anak siapa," Amier menanggapi dengan kesal, memang kakaknya itu terkadang rada-rada.
"Dia juga ada miripnya sama Ayah," celetuk Aditya melihat cucu ke-empatnya.
"Nggak lama lagi juga aku bakalan punya sendiri yang mirip sama aku dan Ameera." Amier tak mau kalah.
Bian dan Aditya tertawa kecil mendengar ucapan Amier. "Iya deh iya," sahut Bian dan Aditya bersamaan.
Annisa yang melihat itu ikut tersenyum dan menggenggam tangan menantunya. "Terimakasih sayang, sudah memberikan kebahagiaan di keluarga kami," Annisa mengusap lembut pipi Maryam.
Kemudian Annisa juga menggenggam tangan Ameera dengan tangan kirinya. "Kamu juga, terimakasih sudah hadir di kehidupan Amier dan sebentar lagi juga akan memberinya kebahagiaan berlimpah."
"Aku juga bahagia bisa jadi bagian anggota keluarga Bunda dan Mas Amier." Ameera menjawab dengan tersenyum.
"Makasih Bunda," kata Maryam merasa bersyukur.
Annisa mengangguk. "Oh iya, ibu kamu sudah di kabari kan?" tanya Annisa yang baru saja teringat.
"Sudah, Bun. Dan mungkin lagi di perjalanan kesini. Soalnya tadi nungguin paman dulu baru kesini." Maryam menjelaskan.
Annisa mengangguk mengerti. "Ya sudah, Bunda tinggal dulu, assalamualaikum," pamit wanita paruh baya itu.
"Wa'alaikumusalam," jawab mereka serempak.
"Mas, ayo." Annisa memanggil Aditya yang tengah asyik bercanda.
Aditya mengangguk mengerti karena sebelumnya sudah dia bicarakan. Mereka berdua kembali pamit dan pulang.
Tinggallah mereka ber-empat dengan obrolan masing-masing.
"Rasanya gimana, Kak?" tanya Ameera yang begitu penasaran.
Maryam terkekeh mendapat pertanyaan seperti itu. "Rasanya luar biasa, Dek. Nanti kamu akan merasakan juga."
"Ngeri Nggak sih, Kak?" semakin ingin tahu Ameera, semakin dia merasa takut dengan persalinan.
"Enggak." Maryam menjawab dengan singkat.
Maryam terkekeh melihat reaksi Ameera. Mungkin di pikirannya sangat menyakitkan. Memanglah sangat menyakitkan, tapi saat mendengar suara tangis dari sang buah hati seketika rasa itu menghilang dan terganti dengan rasa bahagia.
"Setiap ibu pasti kuat, Dek. Dan kamu tau itu bukan?" ucap Maryam dan di angguki oleh Ameera.
"Jadi jangan takut dan banyak-banyak do'a ya," Ameera mengangguk lagi.
"Sehat terus ya sayang," ujar Maryam seraya mengusap perut Ameera, Ameera tersenyum.
Pintu terbuka dan menampilkan keluarga Asyifa dan juga ibu dari Maryam, perhatian semua orang di dalam teralihkan dengan kedatangan mereka.
Ibu Maryam menghampiri ranjang putrinya. Maryam sudah tak bisa menyembunyikan air matanya. "Ibu," lirih Maryam.
Ibu Maryam memeluk putrinya dengan bahagia. "Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, Sayang."
"Maafin Maryam ya, Bu. Maryam banyak salah sama Ibu. Maryam baru tau rasanya melahirkan seperti apa dan itu buat Maryam sadar kalau Ibu sangat kesakitan waktu itu." Maryam meracau.
"Iya, Nak. Maafin Ibu juga yang nggak ada di saat kamu seperti ini."
Orang-orang yang ada di ruangan itu ikut terhanyut dalam haru, apalagi Ameera yang sudah ikut menangis karena merasakan hal yang sesak di dada mengingat mamanya tak lagi bisa melihat dia bahkan ikut mendampingi saat bersalin nanti.
Amier yang melihat Ameera mengusap air mata pun mendekati dan memeluknya dari samping lalu mengusap-usap memberi rasa aman padanya. Dia merasa tahu jika istrinya itu tengah sedih.
Ameera mendongak dan tersenyum. "Kita ke pulang yuk," ajak Amier dan di angguki Ameera.
Mereka berdua pamit dan pulang. Di sepanjang perjalanan Ameera menatap jendela dan merenung.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Amier yang sedikit khawatir.
Ameera menoleh. "Kangen mama sama papa, Mas," ujarnya.
"Kita mampir kesana dulu yuk," ajak Amier. Ameera mengangguk senang.
Setibanya di area makam, Ameera menghela nafas panjang. Tangan Amier untuk kepala Ameera yang terbalut hijab. "Ayo," ajaknya.
Ameera keluar dan mengambil bunga yang ada bagasi kemudian menggenggam tangan sang suami. Mereka berjalan berdampingan menelusuri jalan setapak sebelum sampai di gundukan tanah yang tertera batu nisan.
"Mama, aku kangen." Ameera duduk di antara pusara sang mama dan papanya di ikuti Amier.
Ameera meluapkan apa yang ada di hatinya dan pikirannya. Amier setia mendampingi istrinya hingga puas dia meluapkan rasa rindunya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.