I Finally Found Love

I Finally Found Love
34.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


Ketukan pintu membuat Amier mendengus kesal. Kini bunda nya tidak di rumah, dan Bian sedang keluar, Aditya sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, tinggallah Amier sendiri di rumah dengan tangan yang sibuk mengotak-atik laptop nya.


Dua bulan dia tak memegang laptop nya dan tugas dari dosen rasa nya begitu sepi untuk hari-hari nya saat ini, dan ketukan itu mengganggu konsentrasi nya saat ini.


Amier dengan langkah lebar menghampiri pintu dan membuka nya dengan kasar. Mata nya menelisik siapa yang mengetuk pintu, seorang perempuan berhijab memunggungi nya saat ini.


"Cari siapa?" tanya Amier dingin.


Seseorang itu menoleh, wajah nya sedikit tegang dan bicara nya sedikit gagap karena gugup.


"Bunda Annisa ada?" tanya nya kemudian.


"Siapa yang bunda nya Kamu? Memang nya bunda Aku punya anak lagi di luar? Jangan sembarang manggil-manggil bunda!" pertanyaan Amier yang dingin tapi membuat Ameera terkekeh.


Perempuan itu memang Ameera. Ameera jadi flashback pada jaman nya SMP, Amier sekarang sama seperti waktu itu.


"Di tanya malah cengengesan!" kesal nya. Ameera berhenti terkekeh lalu berdehem untuk menetralkan suara nya.


"Ya kan bunda Annisa sendiri yang minta Aku buat manggil dia sebutan itu, lagi pula apa salah nya?" Ameera menjawab dengan santai nya.


"Kamu itu--"


"Eh? Ada apa ini? Ameera, Kamu datang Nak?" sapa Annisa dan di balas senyuman oleh Ameera.


Annisa memeluk nya dan menuntun Meera untuk masuk. "Minggir," ucap Annisa pada Amier yang berdiri di depan pintu menghalangi jalan.


Amier menggeser posisi nya dan membiarkan mereka masuk meski dengan menggerutu.


Amier setia mengikuti dua wanita berbeda usia itu hingga masuk ke dalam dapur dan mengamati gerakan mereka yang begitu asik dengan peralatan dapur.


Memang lah tujuan dari Ameera ke rumah Annisa adalah memasak bersama untuk makan siang ini.


Amier duduk di kursi meja makan sembari mengunyah apel yang dia ambil di lemari es tadi. Mata nya tak lepas mengamati bunda dan gadis di samping nya yang dengan ceria mengobrol menyahuti apa yang di tanyakan oleh bunda nya itu.


Mereka seakan tidak terganggu dan mungkin saja tak menganggap dia ada. Karena merasa tidak di anggap ada, Amier meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamar nya.


Annisa melirik Amier, dia tersenyum simpul.


Amier menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia merasa begitu lelah padahal dia tidak melakukan apapun seharian kecuali dengan laptop nya. Mungkin efek samping dari obat yang dia konsumsi.


Lama-kelamaan, Amier merasa bosan dan memejamkan mata nya bersiap untuk tidur. Tapi belum sempat nyenyak dia tidur, indera pendengaran nya menangkap suara yang menurut nya begitu tak asing tapi dia tidak tahu suara siapa itu.


Seseorang masuk ke dalam kamar nya dengan jalan perlahan dan meletakkan nampan yang berisi jus dan juga dua potong roti di atas nya. Amier masih memejamkan mata berpura-pura tertidur.


Seseorang itu tidak langsung pergi tapi malah memandangi wajah damai Amier yang terlelap dengan tatapan sendu. Setelah di rasa sudah puas memandangi nya, dia beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya untuk pergi.


Namun, baru dua langkah dia berjalan, pergelangan tangan nya di tarik oleh Amier membuat orang itu menjerit dan terjatuh di atas ranjang dengan Amier mengunci kedua tangan nya.


"Siapa yang mengizinkan Kamu datang ke kamarKu?!" ucapan tegas Amier membuat Ameera sedikit gugup, apalagi dengan posisi yang seperti ini tentu nya siapapun akan gugup.


"Emm, itu ,,, itu, maaf tolong lepaskan Aku dulu bisa?" bukan nya menjawab tapi Ameera malah bernegosiasi.


Amier tak bergeming masih saja menatap mata teduh Ameera hingga dia seperti hanyut ke dalam manik mata nya.


Annisa yang mendengar jeritan Ameera pun segera menghampiri, tapi, "ada apa Ameera, Kamu tid--" ucapan Annisa terpotong melihat pemandangan di depan mata nya.


"Ya Allah Kalian ngapain?!" seru Annisa terkejut.


Amier yang mendengar seruan sang bunda tersadar dari lamunan nya dan segera melepaskan cengkraman nya.


Amier beranjak dari posisi nya dari atas tubuh Ameera, dia berdehem merasa canggung. Ameera menyengir polos, canggung dengan keadaan ini. Dia menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.


"Bu ,,, bukan seperti Bunda pikirkan, sungguh!" seru Amier seraya mengangkat dua jari nya membentuk huruf V.


Annisa memicingkan mata menyelidik. Wanita paruh baya itu menghampiri putra nya itu dengan tatapan tajam.


"Apa yang Kamu lakukan pada anak gadis orang?!" hardik Annisa.


Amier semakin gugup, bukan seperti itu kejadian nya. "Bunda, please. Bunda tau gimana Amier, pasti nya Bunda tau Amier nggak akan melakukan hal yang buat Bunda marah. Dan itu ,,, itu adalah kecelakaan Bunda, itu tidak di sengaja." Amier mencoba menjelaskan.


Annisa memicingkan mata nya. Amier mengatupkan kedua tangan memohon untuk percaya pada nya. Annisa menghela nafas panjang, "minggir!" usir Annisa menyingkirkan Amier dari hadapan nya dan merangkul Ameera dan mengajak nya keluar dari kamar sang putra.


Amier tercengang saja melihat tingkah bunda nya. Seakan tak terjadi apa-apa, Annisa dan Ameera kembali berkutat di dapur menyelesaikan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.


Tak lama, makanan sudah siap tersaji di atas meja makan. Amier yang melihat itu pun menelan ludah. Semua adalah makanan kesukaan nya, Amier tersenyum puas.


Tapi ada satu hidangan yang asing bagi nya tapi membuat nya penasaran. "Menu baru ya Bun?" tanya Amier yang melihat satu piring kerang pedas hasil masakan Ameera sendiri.


Annisa hanya tersenyum lalu mengangguk, "tapi bukan Bunda yang masak, tapi Ameera."


Ekspresi Amier yang tadi nya senang, berubah menjadi datar dan tangan nya menggantung di udara karena tidak jadi mengambil kerang tersebut.


Ameera terlihat kecewa dengan sikap Amier. Annisa yang melihat perubahan ekspresi wajah calon menantu nya itu pun jadi kasihan.


"Kenapa tak jadi ambil?" tanya Annisa. Amier mendengus. "Amier nggak selera lagi Bun, Amier makan masakan Bunda saja lah."


Annisa mengambil sendok dan menyendok-kan kerang tersebut lalu menuangkan nya di piring putra nya seraya mengatakan, "nggak boleh pilih-pilih makanan, dan cepat habiskan." Annisa begitu gemas.


Bibir manyun Amier membuat Ameera terkekeh, dia lah kekasih nya, dia lah calon suami nya. Sifat nya memang keras dengan mulut nya yang tajam, tapi akan takluk jika sang bunda yang berbicara.


Tapi di balik sifat buruk nya itu, dia orang yang penyayang, dan satu lagi, dialah yang membuat seorang Ameera jatuh cinta hingga sedalam ini, belum pernah dia merasakan hal itu selain dengan Amier.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.