
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Wah! Seru banget kayaknya!" seru Aditya setelah menutup pintu.
"Ayah duduk sini Yah, Sari bawain bekal tadi. Enak deh Yah, ikut makan yuk?" ajak Bian dan mengulas senyum yang diikuti oleh Sari.
"Istri kamu," jawab Aditya santai namun penuh penekanan.
Bian langsung menghentikan aktivitas makannya dan menatap Aditya minta penjelasan.
"Ayah rasa dia tadi mau ke sini, cuman kayaknya takut mengganggu," sindir Aditya.
"Terus dia sekarang di mana?" panik Bian.
"Kayaknya bentar lagi sampai parkiran sih," kata Aditya memberitahu.
Bian yang mendengar itu pun langsung beranjak berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Aditya dan Sari menatap punggung Bian yang semakin hilang ditelan pintu yang tertutup.
Sari kembali mengarahkan pandangannya ke depan dan melihat Aditya yang menatapnya dengan intens yang membuatnya begitu canggung.
"Hehe! Ya sudah Om, aku keluar dulu," ucap Sari dan di angguki oleh Aditya.
Sedangkan di tempat lain, Bian terus saja berlari menuju lift. Setelah lift terbuka cepat-cepat Bian masuk ke dalamnya. Untung saja lift tersebut hanya digunakan untuk dirinya dan keluarganya saja, hingga tidak memakan waktu yang lama untuk dia sampai ke lobi.
"Maryam!" seru Bian memanggil sang istri tapi tak didengarkan karena terlalu jauh.
Bian mengumpat kemudian kembali berlari mengejar Maryam, Maryam yang sudah di parkiran pun tengah menyalakan mesin motornya.
Kemudian Maryam mulai menjalankan kendaraannya. Tapi disaat dia akan keluar dari parkiran, Bian menghadangnya.
"Maryam-Maryam tunggu!" ucap Bian dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kamu itu apa apaan sih! kesal Maryam.
"Kamu datang ke sini mau mengantarkan bekal untuk aku kah?" tanya Bian masih dengan nafas yang memburu
"Tidak!" jawab Maryam seraya memalingkan wajahnya.
"Masa sih?" bingung Bian.
"Tapi tadi kata ayah--"
"Oh gitu memang buat Ayah kok enggak buat kamu, lagian kamu itu aku rasa sudah kenyang," sahut Maryam dengan tidak ramah.
"Maksud kamu? tanya Bian tidak mengerti, tapi tidak ada jawaban dari Maryam.
Bian sedikit berfikir dan dia rasa tahu jawabannya, "kau melihat aku tengah makan dengan Sari?" tanya Bian hati-hati.
Tidak ada jawaban dari Maryam, tapi ekspresinya seketika berubah ketika mendengar nama Sari disebut. Bian mengangguk-anggukan kepala kemudian tersenyum.
"Maafin aku ya, gara-gara ini kamu jadi cemburu." Kata Bian dengan percaya diri.
"Cih! Percaya diri banget kamu, mana ada aku cemburu? Yang ada aku malah bersyukur!" ketus Maryam.
"Mulut berbicara lain tapi hati bicara lain, dasar perempuan!" Bian mencuit bibir meriam dengan gemasnya.
Tangan Bian ditampik, "apaan sih! Awas minggir aku mau kembali ke hotel, jam istirahat sudah habis gara-gara kamu! kesal Maryam.
Tanpa pikir panjang Bian mengambil ponselnya yang berada di saku celana dan menelpon seseorang.
"Saya izin untuk istri saya, dia tidak kembali lagi setelah jam istirahat karena saya yang meminta." Bian berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Maryam hendak protes tapi tangan Bian terangkat mengisyaratkan Maryam untuk diam dan juga menempelkan jarinya di depan bibirnya.
"Baiklah makasih ya," final Bian sebelum menutup teleponnya.
"Sdah cepetan masuk, aku yakin kamu belum makan kan? Kita masuk, kita makan bareng. Ada Ayah juga di sana," ucap Bian seraya tangannya menggenggam tangan sang istri kemudian menariknya untuk mengikuti langkahnya.
"Pak, parkirkan motor istri saya ya," perintah Bian pada security yang berjaga.
"Bian, lepasin! Malu dilihatin sama orang!" seru Maryam dengan geregetan.
"Kenapa harus malu? Kamu kan istri aku, kenapa juga itu berat untuk mereka, harusnya mereka itu iri sama kita soalnya kan kita bisa romantis-romantis kan, meskipun hanya tarik-tarikan tangan seperti ini," goda Bian sambil berjalan.
Tak ada jawaban lagi dari Maryam, percuma juga. Dia akan kalah jika berdebat dengan suaminya. Bian sedikit melirik dan tersenyum simpul.
Setelah sampai di ruangan Bian, dengan wajah cemberut Maryam duduk. Dan di ruangan itu masih ada Aditya.
"Hoho! Jangan bikin Ayah ngiri sama kalian ya," ucap Aditya yang melihat mereka berdua.
"Ayah keluar dulu ya, kalian nikmati waktu kalian." Aditya mengatakan sembari berdiri.
"Ayah nggak mau ikutan makan bareng kita?" tanya Bian
"Ayah bisa makan diluar, lagipula Ayah nggak mau ya ngelihat kemesraan kalian dan Ayah nanti buru-buru pulang nemuin bunda kamu." Ucap Aditya.
"Ya sudah Ayah keluar dulu ya, dan selamat makan," final Aditya dan mengedipkan kan satu matanya sebelum melangkah pergi.
Setelah kepergian Aditya, suasana sedikit canggung tapi dengan cepat Bian mencairkannya dengan menggoda sang istri.
Bian kini tak lagi canggung untuk menggoda Maryam ataupun mengajak bicara. Karena dia tahu sedikit demi sedikit Maryam ada rasa yang sama yang ia rasakan kepada dirinya.
Bian menyodorkan sendok kepada Maryam, Maryam hanya meliriknya saja. "Makanlah, apa mau aku suapi?" tanya Bian.
"Aku bisa sendiri!" ucap Maryam seraya berebut sendok di tangan Bian, Bian hanya tersenyum saja.
Maryam mulai menikmati makanannya tapi Bian bukannya ikut makan malahan dia menopang dagu dan menikmati wajah Maryam yang tengah lahap memakan makanannya.
"Kenapa nggak makan?" tanya Maryam setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.
Bian menggeleng, "cukup menikmati wajah kamu saja aku sudah terlalu kenyang," ucapnya dan jangan lupakan senyuman manis dari lelaki itu.
Maryam menatap jengah Bian, entah kenapa suaminya itu sangat suka menggombal akhir-akhir ini.
"Sudahlah makan, wajah aku bukan makanan yang bisa kamu nikmati!" ketus Maryam.
"Suapi," manja Bian.
Maryam akan menolak. Tapi ucapan Bian selanjutnya membuat dia bungkam dan mengikuti apa kata Bian, sang suami.
"Nolak suami dosa loh," ucap Bian.
mau tidak mau, suka tidak suka Maryam akhirnya menyuapi Bian dengan begitu telaten. Meski kesal dengan Bian, tapi sedikit-sedikit Maryam tersenyum dengan apa yang Bian ceritakan.
Suatu yang baik untuk hubungan mereka, dan tanpa disadari ada sepasang mata yang mengintip dan melihat semua aktivitas mereka.
Orang itu menghela nafas panjang dan mencoba tersenyum. "Jika kamu bahagia, aku akan ikut bahagia. Aku dulu pernah mencintaimu dan bahkan ingin memilikimu, tapi ternyata Tuhan tidak berpihak kepadaku, dan melihat kamu tersenyum begitu bahagianya aku rasa aku rela." Gumamnya.
"Om yakin akan ada seseorang yang akan mencintaimu dengan tulus dan bahkan melebihi cinta kamu kepada anak Om," sahut Aditya.
Sari terhenyak dan menoleh, dia tersenyum canggung melihat Aditya berada disampingnya.
"Om," sapanya.
Aditya mengusap lembut pucuk kepala Sari. "Semoga selalu bahagia Nak," ucapnya mendoakan.
Sari tersenyum mendengar ucapan Aditya.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍