
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
"Mau apalagi sih Kamu itu?!" tanya kesal Amier.
Pemuda jangkung itu berhenti di tengah jalan, karena siapa lagi kalau bukan karena gadis yang di depan nya itu. Dengan merekahnya dia senyum, bagi pemuda lain pasti nya terpesona. Tapi tidak dengan Amier.
"Nggak bosan kah Kamu gangguin Aku!" ucap datar Amier tapi ada nada sedikit marah di dalam nya.
"Nggak!" seru Shinta merasa tak bersalah lengkap dengan cengirannya.
"Mau Kamu apa sih sebenarnya?!" ucap Amier mulai tersulut emosi.
"Aku mau ajak Kamu makan siang, itu doang kok!" jawab polos nya.
"Maaf Aku nggak tertarik!" tolak Amier.
Dia melewati Shinta namun tertahan karena jaket nya di tarik oleh Shinta. Gadis itu seakan tak rela jika harus di tinggalkan lagi oleh pemuda itu.
"Aku menyukaimu!" seru Shinta. Amier berbalik dengan malas dan menatap jengah gadis di depan nya.
"Arti dari kata menyukai banyak, Kamu sama makanan atau sama benda bisa bilang suka. Kenapa Kamu nggak bilang sama mereka saja?" kata Amier ngelantur.
"Aku mencintaimu!" seru Shinta kembali.
"Maaf Aku nggak terima, permisi!" ucap Amier lalu berlalu pergi.
"Jangan pergi!" panggil Shinta dan berlari mengejar Amier yang sudah sedikit menjauh. Dengan lancang nya Shinta memeluk Amier dari belakang.
Amier mengepal erat tangan nya dan menghentakkan tangan Shinta dengan kasar lalu berbalik. "Jangan pernah menyentuh Aku lagi!" marah Amier.
Marah nya Amier membuat gadis itu beringsut menjauh beberapa langkah.
"Maaf," hanya kata itu yang dia ucapkan. Takut, itu yang dia rasa. Bahkan mata nya mulai berkaca-kaca.
"Sudah lah!" ucap Amier dan meninggalkan gadis itu sendiri dalam wajah yang tertunduk.
Banyak pasang mata yang menyaksikan hal itu. Dan mereka sudah tidak asing dengan pemandangan itu. Itu lah Amier. kata-kata nya begitu tajam namun tidak pernah main tangan dengan perempuan.
"Jahat," gumam Shinta lirih. Hati nya begitu sakit saat mendengar kata-kata yang menyakiti hati nya.
Belum pernah dia di bentak ataupun di kasari. Mendengar perkataan Amier yang begitu keras pada nya. Membuat Shinta merasa sedikit takut dan juga bersalah.
Dia berdiri mematung dengan air mata yang keluar membasahi wajah nya, menatap punggung Amier yang pergi, dia merasa terbuang. Tapi entah mengapa dia tidak benci pada pemuda itu.
💢💢💢💢
Amier masuk ke dalam rumah dan menghampiri sang bunda yang berada di dapur.
Sekarang Amnisa tak lagi harus bolak-balik ke restoran nya. Dia lebih banyak di rumah dan hanya sesekali dia menengok restoran nya. Restoran yang dia bangun dari nol kini di percayakan pada karyawan kepercayaan nya.
Alasan nya tentu tak hanya satu. Dari ibu nya yang kini tak lagi dapat berjalan, Aditya yang meminta dirinya untuk di rumah, putra-putri nya dan juga cucu kecil nya.
Tapi memang sudah waktunya untuk dia beristirahat. Menikmati hari tua nya dan juga kini dia tidak lagi sendiri. Ada suami yang harus di urus.
"Bunda?" panggil Amier yang memeluk nya dari belakang.
Annisa tersenyum dan mengusap sayang wajah tampan putra nya. "Kenapa?" tanya Annisa. Amier menggelengkan kepalanya.
"Mau makan?" tanya nya lagi. Amier mengangguk dan melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi meja makan.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Annisa sembari tangan nya sibuk menyiapkan makanan di atas piring putra nya.
Dia tau jika Amier sedang ada masalah, dari gelagat yang tak biasa itu.
"Bunda, Amier mau tanya boleh?" Annisa mendongak dan mengernyitkan keningnya.
"Tumben pake nanya? Biasa nya langsung bilang." Curiga Annisa. "Ada apa sih?" lanjut nya.
"Kenapa memang nya?" Amier yang tadi nya mendongak menatap bunda nya, kini menunduk.
Dia mengambil nafas sebelum bercerita. "Itu, tadi Aku menghempas kasar tangan temen Amier yang meluk Amier dari belakang, dan dia itu perempuan. Kan Bunda tau sendiri kalau Amier nggak suka di gituin apalagi ini perempuan." Cerita Amier.
Annisa terkekeh. "Kok Bunda ketawa sih?" kesal Amier.
"Bunda tau apa yang di maksud Amier, dan Kamu tak salah jika menolak itu, dan salah Amier, pasti Amier berkata keras sama dia, betul?" tanya Annisa dan Amier mengangguk membenarkan.
"Sayang, apapun alasannya, itu tidak baik berkata kasar ataupun membentak apa lagi sampai main tangan pada perempuan. Setelah ini, Kamu minta maaf sama dia. Dan bilang sama dia jangan mengulang lagi hal itu." Nasihat Annisa.
"Bunda yakin Kamu tau apa yang Bunda maksud kan Sayang," Annisa tersenyum. Amier berfikir sejenak dan mengangguk paham.
"Ya sudah, makan sekarang yah?" ucap Annisa.
"Kakak kemana Bun?" tanya Amier celingukan mencari sosok kakak nya.
"Kan hari ini kakak Kamu lagi nginep di rumah mertuanya." Sahut Annisa.
"Oh iya, Amier lupa. Tapi Bun, apa nggak apa-apa kakak tinggal di sana?" Amier merasa khawatir.
Annisa lagi-lagi terkekeh. "Kamu kayak nggak tau kakak Kamu saja. Kalau barang yang dia miliki di rebut orang itu akan jadi apa orang yang merebut itu?" kata Annisa yang berujung pertanyaan.
Amier tertawa. "Iya juga yah Bun, kak Syifa memang keren!" Amier mengerti apa maksud dari kata-kata Annisa.
"Sudah-sudah, habiskan makanan Kamu." Kata Annisa. Amier mengangguk.
Mereka pun melanjutkan makan siang mereka.
💢💢💢💢
"Kita sampai!" seru Malik saat sudah sampai di depan rumah mama nya.
Malik membuka seltbelt- nya, namun tidak dengan Asyifa. Dia masih dalam lamunannya. Bahkan seruan dari putra kembar nya dia abaikan.
"Sayang?" panggil Malik membuyarkan lamunan perempuan itu.
"Kamu nggak apa-apa kah?" tanya Malik khawatir.
Asyifa yang tersadar langsung tersenyum. "Nggak apa-apa kok, hanya sedikit berpikir saja." Jawab Asyifa coba tenang.
"Apa sebaiknya Kita pulang lagi saja?" Malik merasa tak enak pada istri nya tersebut.
"Jangan, kan sudah ngomong sama mama, Kita masuk saja. Aku nggak mau mama Kamu kecewa." Tolak Asyifa.
"Yakin?" Malik memastikan. Asyifa mengangguk dan tersenyum.
"Huft! Baiklah, Kita turun." Malik menggendong si kecil dan keluar. Di ikuti Asyifa dan kedua jagoannya.
"Assalamualaikum," sapa mereka setelah masuk.
"Wa'alaikumussalam!" seru dari arah dapur.
"Kak Malik!" seru seorang gadis dari lantai atas dan berlari menuruni tangga.
Dia hendak menerjang Malik dan memeluk nya. Tapi Malik langsung menghindar.
"Pelit nya!" gerutu Fira.
Iya, gadis itu bernama Fira. Dia lima tahun lebih muda dari Malik.
"Tante nggak boleh peluk-peluk sembarangan! Tante tau kan kalau Tante bukan mahram Ayah!" seru Salim dan Salman bergantian.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.