
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Malam ini adalah malam resepsi pernikahan double A di laksanakan. Semua sudah berada dalam ballroom hotel.
Suasana begitu meriah dengan musik yang terdengar dari homeband yang telah di sediakan pihak hotel.
Dekorasi pelaminan yang mewah, hingga hidangan pun begitu mewah juga. Sepadan dengan keluarga mereka lah ya, hal ini sekaligus syukuran hari kelahiran Amier dan juga Ameera yang lahir pada bulan yang sama hanya berbeda dua Minggu.
Sungguh kebetulan bukan? Dan tamu undangan pun bukanlah hanya para kolega dan teman dekat saja. Sebelum acara malam yang di hadiri oleh tamu kelas atas, ada syukuran yang di hadiri oleh lebih dari ratusan anak yatim pada sore hari.
Semua berjalan lancar, kerjasama tim yang hebat membuat acara sukses sampai saat ini.
Maryam melihat hiruk pikuk suasana di dalam ballroom membuat nya sedikit pusing.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju taman buatan yang ada di hotel itu. Maryam melepaskan sepatu hak tingginya dan memijat tumit yang terasa sedikit pegal.
Saat memijat, ada seseorang yang menyodorkan botol obat. Maryam mendongak. "Pakai lah," ucap nya.
Maryam dengan sungkan menerima botol yang diulurkan oleh orang itu, "terima kasih," ucap Maryam kemudian.
Orang itu duduk di kursi samping kursi Maryam. "Capek?" tanya nya.
Maryam mengangguk dengan sungkan, "lumayan," katanya.
"Mau aku antar pulang?" tawar Bian.
Ya, orang yang menghampiri Maryam adalah Bian. Bian yang melihat Maryam keluar saat dirinya selepas ke toilet pun mengikuti gadis itu.
🕳️🕳️🕳️🕳️
Di jalan dia bertemu dengan sang bunda. "Kamu mau kemana?"
Bian menyengir polos. "Tadi Aku lihat Maryam yang jalan ke arah taman Bun."
Annisa menoleh dan ternyata benar, terlihat punggung Maryam yang berjalan dari kejauhan.
Annisa kembali menatap Bian yang terlihat menutupi rasa malunya dengan melihat keatas.
Annisa tersenyum. "Tunggu sebentar disini." Annisa mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
Tak berapa lama setelah menelpon, seseorang datang menghampiri mereka dan menyerahkan paper bag.
Bian membuka paper bag itu dengan ekspresi yang bingung. "Buat apa ini Bun?" tanya nya.
"Berikan ini pada menantu Bunda."
"Dia belum jadi bagian keluarga kita Bun."
"Tapi tetap saja dia akan jadi menantu Bunda."
Bian terdiam. Percuma juga dia berdebat dengan sang bunda. Berlaku nya pasal jika bunda tidak pernah salah itu berlaku saat ini.
Setelah menerima paper bag dari bundanya, Bian berjalan menuju taman menghampiri Maryam.
🕳️🕳️🕳️🕳️
"Capek banget ya?" tanya Bian sedikit mengerutkan keningnya.
"Mau aku antar pulang nggak nih?" tawar Bian lagi.
"Tidak usah, tidak enak juga kalau Aku pulang sedangkan acara masih panjang." Maryam menolak halus.
Bian mengangguk. Dia bingung mau bicara apalagi, hingga keheningan malam mendominasi dua insan yang dalam kecanggungan itu.
"Aku mau ngomong sesuatu!" ucap kedua nya bersamaan.
"Bapak duluan saja." Maryam mengalah.
"Tidak, tidak. Kamu saja lebih dulu." Bian memberi izin.
"Ngomong saja, apapun itu saya siap mendengarkan." Bian mencoba terlihat santai meski jantung nya berdegup kencang.
"Aku, aku ingin nanti jika sudah menikah kita pisah ranjang." Maryam memejamkan mata nya setelah mengucapkan itu. Takut jika Bian akan marah.
Karena tak ada suara dari lawan bicaranya, Maryam pun membuka satu mata nya.
Di lihat nya Bian yang diam menatap diri nya dengan ekspresi yang tak terbaca. Dia jadi sedikit takut jika Bian akan marah.
Tapi ketakutan nya hilang setelah Bian mengulas senyum. "Tidak apa-apa, itu adalah hakmu. Bukankah kita menikah untuk tujuan lain?" kata Bian mencoba untuk lebih santai menanggapi.
Maryam mengerjap beberapa kali sebelum senyuman nya terukir manis di wajah nya. Senyuman Maryam membuat darah di dalam tubuh Bian berdesir. Ada rasa aneh yang menjalar di seluruh tubuh nya.
"Ayo kedalam nanti di cariin bunda." Bian mengajak Maryam masuk kembali, tapi sebelum itu, Bian memberi Maryam sendal jepit sebagai pengganti nya.
"Pakai ini," ucap Bian seraya menyodorkan sendal yang dia bawa sebelumnya.
Maryam sedikit aneh melihat tingkah Bian. "Kok Kamu bawa sendal?" Bian hanya menggaruk kepalanya saja, bingung harus menjawab apa.
"Tadi bunda yang ngasih saran," akunya.
Maryam terkekeh. "Ajaib nya." Maryam tak percaya jika calon mertua nya bisa menyarankan itu.
"Saya juga nggak tau kenapa bunda bisa tau kondisi kamu."
"Mungkin saja tante Annisa sering seperti ini."
"Mungkin saja."
Mereka mengobrol sambil berjalan. Tak sedikit tawa juga mengikuti. Mereka serasa sudah sangat akrab dengan satu sama lain.
💢💢💢💢
Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang ke kediaman masing-masing. Tak terkecuali keluarga besar dan juga para sahabat.
Bian mengantar Maryam sampai ke rumah nya. Di perjalanan pulang hanya ada kecanggungan di antara mereka.
"Aku masuk dulu, terimakasih atas tumpangan nya. Dan hati-hati di jalan." Ucap Maryam sebelum membuka pintu mobil Bian.
Bian hanya tersenyum tipis lalu mengangguk.
Maryam melambaikan tangannya saat mobil Bian melaju meninggalkan pekarangan rumah nya.
"Baik banget calon menantu Ibu?" kata sang ibu yang berdiri di teras depan.
Maryam menoleh dan tersenyum. "Ibu belum tidur?" sapa Maryam seraya meraih tangan sang ibu dan mencium nya.
Maryam menuntun ibu nya untuk masuk. "Bagaimana?" tanya sang ibu yang penasaran dengan perkembangan hubungan putrinya.
"Bagaimana apa nya Bu?" Maryam balik bertanya.
"Ist! Jangan bodoh, bagaimana perasaan kamu setelah jalan sama Bian?" ibu begitu gemas dengan putri nya itu. Entah dia benar-benar tak tahu atau menolak untuk tahu.
"Maryam belum tau Bu," ucap Maryam seraya duduk di kursi. "Maryam bingung harus seperti apa nanggapi nya. Lagi pula kan Maryam sama pak Bian baru kenal dekat beberapa Minggu saja, dan Maryam belum tau selebihnya."
"Ya sudah kamu istirahat saja, nanti juga tau gimana. Ibu harap kamu bisa ikhlas menerimanya sayang. Ibu yakin dengan Bian." Sang ibu mencoba meyakinkan Maryam.
Maryam hanya terdiam lalu tersenyum. " Ya sudah Maryam ke kamar dulu ya Bu. Ibu langsung tidur jangan kemalaman." Maryam pamit dan di angguki oleh ibu nya.
Maryam melempar tas nya dan juga paper bag ke atas ranjang dan sebagian isi dari paper bag itu pun keluar.
Dan di lihat nya barang pemberian Bian yang tak lain adalah minyak yang ia gunakan saat di taman hotel. Maryam tersenyum, rasa nya dia malu dengan kejadian itu.
Saat senyuman nya mengembang, tiba-tiba ekspresi nya kembali dingin dan senyum nya luntur. Menolak pikiran bahwa dia telah nyaman.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.