
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Bian pulang dengan keadaannya sangat lelah, dia tidak menghampiri sang bunda dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Di lempar nya tas kantor yang dia jinjing ke atas ranjang beserta dirinya sendiri.
"Baru pulang Kak?" suara Amier dari sudut kamar mengagetkan Bian hingga membuat laki-laki itu langsung duduk.
"Bikin kaget saja!" kesal Bian seraya melempar bantal ke arah Amier dan dengan sigap di tangkap nya.
Amier terkekeh dan menghampiri sang kakak kemudian duduk di sebelah nya.
"Aku mau nikah." Amier mengucapkan nya dengan santai tanpa menatap lawan bicara nya.
Bian yang sedang meregangkan otot leher nya pun menoleh, "sama siapa?" tanya nya.
Amier berdecak. "Sama siapa lagi kalau bukan sama Ameera?" jawab nya.
"Oh?" jawaban Bian membuat Amier memutar bola matanya jengah. "Nggak ada respon gitu Kak?" tanya Amier.
"Nggak, biasa saja. Memang sudah seharusnya bukan?" jawab santai Bian.
"Iya juga sih, eh tapi Kakak kapan?" penasaran Amier.
"Ntah lah." Bian merebahkan tubuh nya kembali dan tangan nya terlipat di bawah kepala. Amier melakukan hal yang sama.
"Kita gede cepet banget ya Kak, kayak nya baru kemaren kakak bisa naik sepeda terus jatuh ke selokan." Ujar Amier.
Bian terkekeh mendengar hal itu. "Iya juga ya, sekarang malah sudah bisa naik motor, motor gede lagi."
"Cepet banget waktu Kita. Aku ada rasa khawatir jika Aku menikah nanti akan jauh sama bunda." Amier mulai berbicara dengan nada sedih.
Bian menoleh, "cih! Malu sama otot. Gitu saja cengeng."
"Pasti akan beda rasa nya." Sahut Amier lagi.
"Sudahlah, rumah Kamu nanti juga dekat, nggak usah berlebihan begitu. Nanti kalau kangen tinggal loncat saja sampai." Bian memberi nasihat.
"Iya sih," jawab Amier lirih.
"Aku jadi inget waktu pertama kali datang kesini dan pertama kali Aku ketemu sama Kak Syifa," Bian terkekeh merasa lucu.
"Kamu tau nggak Mier waktu Kak Syifa berantem sama teman nya dan Aku yang bantuin, tapi malah Aku yang kena pukul."
Bian tertawa kecil mengingat kejadian sewaktu kecil. Tapi tak ada respon dari Amier. "Mier, Amier?" panggil Bian.
"Ya Allah, dasar Adek nggak ada akhlak emang, Aku lagi ngomong juga malah tidur!" Bian menggerutu kesal.
Bian membenarkan posisi tidur Amier dan menyelimuti nya. "Jadi nggak ngantuk lagi."
Akhir nya Bian melepas pakaian nya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan diri.
Tiga puluh menit Bian mandi dan sudah siap. Kini Bian berjalan menuju dapur. di sana ada Anisa yang sedang mencuci piring.
"Hai Bun?" sapa Bian Anisa yang mendengar suara anak laki-lakinya pun menoleh dan tersenyum, "sudah pulang kok Bunda nggak tau?"
Bian membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air putih lalu duduk di kursi meja makan dan menuangkannya ke dalam gelas. "Iya tadi niat nya Bian mau langsung tidur tapi nggak jadi soalnya ada adek comel yang gangguin. Ya sudah Bian mandi terus ke sini, lapar juga ternyata." Kata Bian sebelum meminum air putih nya.
"Ya sudah, Bunda siapkan dulu ya." Annisa hendak mengambil piring tapi dicegah oleh Bian. "Biar biar aja Bun Bunda istirahat saja."
Annisa tersenyum dan mengangguk, tapi wanita itu tidak langsung ke kamar untuk istirahat malahan dia duduk di kursi meja makan di samping Bian.
"Bunda belum ngantuk, Bunda mau temenin kamu makan saja, lagi pula ayah kamu itu lembur."
Bian mengangguk, disuap nya satu sendok makanan ke dalam mulutnya. "Amier sebentar lagi mau menikah, jadi Bian kapan?" pertanyaan Anisa membuat Bian terbatuk karena tersedak.
Annisa menepuk pelan punggung Bian mencoba untuk merendahkan rasa tersedak nya. "pelan-pelan makanya," nasihat Annisa.
Bian dengan terburu-buru meminum sisa air yang tinggal setengah, "nanti saja Bun, Bian belum menemukan yang pas." Jawab nya setelah menarik nafas dalam.
"Apa perlu Bunda kenalkan sama anak teman Bunda?" Bian menghentikan suapan nya kembali.
"Nggak usah Bun, Bian bisa cari sendiri kok. Nanti kalau sudah ketemu pasti bakalan Bian kebawa ke rumah, Bunda tenang saja." Bian menolak halus.
"Begitu ya, ya sudahlah nggak apa-apa. Tapi Bunda kasihan sama teman Bunda deh Bian, perusahaan nya itu bangkrut dan anak nya itu bisa dibilang jadi sebuah jaminan untuk di nikahkan sama anak orang yang telah membeli perusahaan suami nya itu." Annisa mulai bercerita.
"Tapi yang Bunda lihat anaknya itu tidak bahagia dan kayak terpaksa gitu, niatnya sih Bunda mau kenalin ke Kamu, ya kali saja jodoh nanti kan Kamu bisa bantuin perusahaan yang telah di beli sama orang itu paling tidak dia bisa lepas dari jeratan hutang. Soalnya dia tidak mau Bunda bantu secara cuma-cuma." Annisa melanjutkan cerita nya.
Bian hanya menjadi pendengar yang baik sembari menghabiskan makan nya. "Jadi mau Bunda itu apa?" tanya biar lembut.
"Tidak minta apa-apa sih cuma mau bantu saja sekaligus biar kamu dapat istri. Anak nya baik loh, dia lulusan luar negeri dan juga yang paling penting dia itu akhlak nya baik." Annisa tersenyum.
"Tapi Bunda nggak maksa kok, Bunda cuma menawarkan sama Kamu, kalau Kamu nggak mau juga nggak apa-apa." Sangkal Annisa. Takut jika Bian berfikir hanya memanfaatkan saja.
"Siapa namanya?" tanya Bian.
Bian seperti tertarik untuk mengenal gadis yang dibicarakan oleh sang bunda. Annisa tersenyum.
"Nama nya Maryam." Jawab Annisa.
Bian sedikit kaget karena nama itu sangat familiar di telinga nya. Annisa menceritakan secara detail tentang keluarga gadis itu, Bian mendengarkan dengan baik.
💢💢💢💢
Bian duduk di kursi kebesaran nya sembari memainkan bolpoin yang ada di tangan nya.
Cerita dari sang bunda semalam kini terngiang lagi di dalam pikiran Bian. Tebakan nya memang benar, itu adalah Maryam adik dari Anita.
Gadis SMA yang pernah meminta tanda tangan nya sewaktu dulu, gadis yang telah mencuri perhatian dan juga telah mengisi sedikit ruang didalam hati pemuda itu.
"Aku harus lakukan apa?" tanya nya pada diri sendiri.
Bian mengusap wajah nya kasar. Tak lama kemudian, suara dari ponsel nya mengalihkan pikiran Bian tentang Maryam.
Satu notifikasi dari bunda Annisa membuat nya penasaran.
"Jam lima sore temui Maryam di restoran bunda."
Bian menghembuskan nafas kasar. "Kenapa pula Aku setuju." Gerutu Bian.
Bukan apa-apa, dia hanya bingung saja menghadapi Maryam, dia tak tahu harus berbuat apa pada gadis itu.
Setelah perbincangan semalam dengan bunda nya, bahwa Bian setuju untuk mengenal, lebih tepat nya membantu Maryam yang dalam kesusahan, kini malah membuat nya jadi terjebak dengan omongan nya sendiri.
"Bagaimana ini? Arrgghhh! Mending debat sama klien dari pada ngomong sama perempuan!" gerutu Bian yang kesal sendiri.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.