
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Untuk memulai dan menerima butuh waktu yang cukup lama untuk seorang Amier, meski lisan nya mengatakan iya, tapi hati nya belum sepenuhnya mengakui dia sudah ikhlas.
Siapa yang akan ikhlas di gantikan dari sosok yang sangat dia hormati dan cintai di dalam hidup dan hatinya, dengan seseorang yang baru. Bisa di bilang bukan lagi baru tapi kembali lagi.
Amier menatap danau di hadapan nya itu bagaikan mengulang lagi masa lalu nya bersama sang ayah. Dia tersenyum jika mengingat masa indah bersama sang ayah. Meski dia masih kecil waktu itu, tapi kenangan kala itu sangat melekat di hati dan fikiran nya.
Di danau ini, tepat di tempat ini. Amier mengulang ingatan nya kembali di masa itu. "Sudah lama sekali Aku tidak kesini. Dan danau ini tetap indah sama seperti waktu itu." Amier bergumam sembari menatap lurus ke depan.
Pemuda tampan yang menuruni ketampanan dari ayah nya itu pun turun dari motor besar nya dan berjalan mendekati danau. Lalu dia berbaring di rerumputan tepi danau.
Menatap langit dengan kepala yang bertumpu di atas lengan nya. Menatap langit sore yang berwarna jingga, sangat indah mendamaikan hati.
Amier menutup mata merasakan hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tampan nya.
🕳️🕳️🕳️🕳️
"Naik kereta api tut ,,, tut ,,, tut ,,, ayah, lihat kereta aku. Nanti kalau aku sudah besar, aku mau jadi masinis."
"Wah! Benarkah? Anak ayah mau jadi masinis? Hebat sekali, kalau mau jadi masinis, harus rajin belajar, makan yang banyak biar tambah besar, dan jangan lupa berdo'a yah, semoga Allah mengabulkan semua cita-cita Amier."
"Nanti kalau aku besar seperti ayah, aku tampan tidak seperti ayah?."
"Hahaha! Pinter nya, tentu saja tampan. Kan ayah juga tampan. Bunda saja suka sama ayah."
"Wah, nanti aku mau punya kayak bunda!."
"Hahaha!."
🕳️🕳️🕳️🕳️
Amier tersenyum mengingat kenangan yang melintas di otak nya, buliran bening mengalir di sudut mata nya. Dia menangis dalam diam, betapa rindu nya dia dengan sosok sang ayah yang kini tak lagi ada di sisinya.
Melihat nya tumbuh menjadi dewasa, dan bahkan beliau tidak ada saat nanti jika dia menikah. "Aku merindukanmu ayah," lirih Amier.
Hampir dua jam Amier menghabiskan waktu untuk mengenang masa kecil nya bersama sang ayah, hingga dering telepon dari saku celana nya membuyarkan kenangan itu.
"Hallo?" sapa Amier, bangkit dari posisi nya. "Apa?! Katakan dengan jelas jangan setengah-setengah!" seru Amier dan beranjak berdiri.
"Baiklah Aku akan segera kesana." Ucap Amier dan berlari menuju motor nya.
Pemuda itu mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi, tak memperdulikan hari yang tengah gelap dan medan yang sedikit terjal. Yang di fikirkan nya adalah cepat sampai di villa.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja Amier sampai di villa. Dengan terburu-buru dia turun dan masuk tanpa permisi.
"Dimana Diba?!" tanya Amier tak sabar.
Bukan nya menjawab pertanyaan dari Amier, gadis itu malah terpesona dengan wajah tampan Amier.
"A ,,, ada di kamar nya, cepat lah!" jawab gugup salah satu teman dari Adiba dengan wajah yang khawatir.
Amier segera menuju ke kamar dan di ikuti oleh gadis tadi.
"Tadi nya Kita jalan-jalan di kebun teh. Tapi nggak tau kenapa Adiba menangis begitu saja. Dan tidak menjawab apa yang kita tanyakan." Jelas nya dengan nafas yang tak beraturan.
Amier langsung menghampiri kamar yang di tunjuk oleh gadis itu, Amier menggedor-gedor pintu kamar dengan tak sabar.
"Diba buka pintu nya!" seru Amier.
Tak ada jawaban dari dalam membuat Amier khawatir. Dia tahu bagaimana sifat buruk saudara nya itu. Jika sesuatu terjadi pada Adiba, dia tidak bisa memaafkan diri nya sendiri. Meski sering kali bertengkar dengan gadis itu, tapi hal itu tidak membuat mereka saling tidak mengerti satu sama lain.
Tak ada cara lain, Amier mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu tersebut. Amier berlari dari kejauhan dan mendobrak, tapi tiba-tiba pintu itu terbuka lebar, Amier membulatkan matanya dan terjerembab ke lantai. Amier mengumpat dalam hati.
Amier segera bangkit dari terjatuh nya dan berdiri di depan Adiba. Wajah Amier memerah karena marah, maksud hati ingin mengomel. Tapi melihat mata dan hidung Adiba yang merah, Amier mengurungkan niatnya.
Amier memegang pipi Adiba dengan alis yang berkerut. "Kamu kenapa?" Amier terlihat khawatir.
"Huhu," bukan nya menjawab, Adiba malah memeluk Amier sembari menangis.
"Gantungan kunci Aku ilang, huhu,,," Amier melongo mendengar itu.
Astaga, Amier rasa nya ingin meraup wajah Adiba saat ini. Untung saudara, jika tidak. Huft, habis sudah.
Amier melepaskan pelukan Adiba dan menatap kesal gadis itu. "Cuma gantungan kunci Diba. Kamu malah nangis kayak kehilangan hal yang berharga!" kesal Amier.
"Tapi kan itu dari idola Aku Amier!" Diba balik sewot. "Kalau nanti di ambil orang bagaimana? Kan itu limited edition!" Diba semakin merengek.
"Siapa memang nya idola Kamu itu. Bila perlu Aku bawa dia ke sini!" Amier tak habis pikir dengan saudara nya itu. Bisa-bisanya dia membuat Amier senam jantung.
"Nggak bisa, dia sudah meninggal sekarang. Dan itu satu-satunya yang Aku punya. Kamu nggak bisa bilang ataupun minta sama dia lagi. Kamu ngerti nggak sih?!" omel nya.
Amier terdiam. "Siapa?" suara Amier mulai merendah.
"Ayah Kamu. Itu satu-satunya peninggalan Ayah Kamu yang Aku punya. Sekarang itu sudah nggak ada lagi. Hiks!" Adiba kembali menangis.
Amier tertegun. Dia berfikir sejenak, dan tanpa kata Amier meninggalkan Adiba yang masih menangis.
"Amier! Kamu mau kemana?!" seru Adiba.
"Tunggu di sini dan jangan menangis lagi. Kamu jelek kalau menangis!" seru Amier dan tersenyum miring.
Amier berlari menuju jalan yang di ceritakan tadi oleh teman Diba, Pemuda itu menyusuri jalan dimana Adiba lewati saat dia tinggalkan ke danau.
Hanya dengan modal lampu senter dari ponsel nya, Amier menyusuri jalan.
"Kalau gantungan kunci bisa ngomong, Aku panggil-panggil itu gantungan!" gerutu Amier.
Hari semakin malam dan Amier belum juga menemukan apa yang dia cari. Dia hampir putus asa dan kembali dengan tangan kosong. Tapi di perjalan pulang, dia melihat sesuatu yang berkelip menarik perhatian nya. Dia menghampiri karena penasaran.
Saat Amier akan meraih benda itu, ada yang menepuk bahu Amier. Amier mematung, takut-takut bukan orang yang menepuk nya, tapi makhluk dari dunia lain.
Amier juga manusiawi, yang masih ada rasa takut akan hal seperti ini.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.