I Finally Found Love

I Finally Found Love
42.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.


AWAS TYPO BERTEBARAN ...


MASIH SABAR MENUNGGU KAN HEHE...🙏


Mata Ameera berbinar, senyuman nya mengembang melihat lelaki berstatus tunangan nya itu telah membuka mata.


Bukan hanya itu saja. Bahkan Amier tersenyum padanya, itu yang membuat hati Ameera menjadi hangat.


Ameera berpikir jika Amier sudah mengingat nya kembali. Namum senyumnya luntur saat Amier masih belum mengingat dirinya. Sebenarnya ada rasa kecewa di dalam hati, namun harus mau gimana lagi Ameera tidak bisa berbuat banyak untuk memaksa Amier mengingat nya.


"Kau masih tidak mengingatku Mier?" Ameera menunduk sedih. Amier melihat perubahan ekspresi Ameera itu pun tersenyum simpul.


"Ya sudah deh. Aku keluar dulu," kata Ameera.


Baru selangkah Ameera berjalan, ujung kemeja Ameera di tarik oleh Amier membuat gadis itu menghentikan langkah nya dan menoleh.


"Jangan pergi dulu ada sesuatu yang ingin Aku katakan sama Kamu." Kata Amier mencegah Ameera keluar.


"Ehem!" suara deheman Malik membuyarkan drama romantis mereka, mereka berdua menoleh ke sumber suara.


"Maaf ya mas, mbak, disini masih ada orang tolong di kondisikan." Sahut Malik. Lelaki itu sudah berdiri dengan melipat tangannya di depan dada.


"Ya sudah lanjutkan saja Aku keluar sebentar tapi jangan ditutup pintu nya ya. Aku enggak mau jadi tersangka yang ketiga diantara Kalian yang dimana yang ketiga itu adalah setan." Malik mulai berdrama.


Amier memutar bola matanya jengah dengan kelakuan iparnya itu. Sedangkan Ameera hanya terkekeh mendengar calon ipar nya itu yang sedikit berlebihan.


Malik keluar dari ruangan meninggalkan mereka, memberikan waktu untuk mereka berbicara.


Setelah kepergian Malik, Ameera duduk kembali di tempat semula. "Ada apa?" tanya Ameera.


"Aku mau ngomong sama Kamu. Aku tidak tau harus mulai dari mana tapi Aku mau tanya apakah kita pernah ada hubungan sebelum aku kecelakaan?" Amier mulai berbicara serius.


Ameera mengerjap-kan matanya tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut lelaki di depannya itu.


"Maksudmu?" bingung Ameera.


"Maksudku, apakah Kita pernah ada hubungan spesial sebelum Aku mengalami kecelakaan?" tanya ulang Amir


Ameera menghembuskan nafasnya dengan lelah. "Kamu tidak ingat sepenuhnya?" tanya Ameera balik.


Amir hanya menggeleng. "Aku hanya mengingat sekelebatan ingatan saja, Aku tidak sepenuh nya bisa mengingat tapi Aku sangat akrab denganmu. Dan aku minta maaf karena Aku sudah menyakitimu tempo hari."


Ameera tersenyum, "tidak apa-apa, Aku bisa maklum karena memang karakter Kamu seperti itu dan belum berubah, mungkin ke depan nya tidak akan pernah berubah."


"Tapi Aku tidak masalah, karena Aku menyukaimu dengan adanya kamu." Sambung Ameera.


Ameera menceritakan secara singkat hubungan mereka dan Amier menjadi pendengar yang baik. Sesekali lelaki itu tersenyum saat Amira dengan gemasnya menceritakan keisengan nya sewaktu dulu.


sedekat Itu kah kita tanya Amir lagi


tentu saja dan kamu lihat ini Amira menunjukkan jarinya yang tersemat cincin pertunangannya dengan Amir


Amir meneliti cincin itu seperti tidak asing. Dia pernah melihatnya di galeri foto di ponsel saat dirinya berada di toko emas.


jadi kita lebih dari teman tanya Amir


Amira jadi gemas mendengar pertanyaan Amir yang begitu polos separah itukah benturan saat dia kecelakaan membuat Dia sedikit bodoh


Ya iyalah kita ini sudah bertunangan tentu saja hubungan kita lebih dekat dari sekedar teman Kamu ini bagaimana sih kesal Amira


Amir terkekeh melihat kekesalan Amira. iya maaf aku tidak bermaksud seperti itu Aku hanya memastikan saja


sejenak suasana di ruangan itu menjadi hening mereka pada pikirannya masing-masing.


hhmm, boleh aku minta sesuatu? Amira yang tadinya menunduk mendongak melihat Amir


boleh kamu bantu aku untuk mengingat kenangan yang dulu seperti yang kamu ceritakan tadi


Amira mengerjap kemudian tersenyum lalu dia mengangguk mengiyakan. baiklah aku akan membantumu jawab Amira


tak disadari mereka maling di balik pintu mendengarkan setiap percakapan kan yang mereka lakukan lelaki tiga anak itu tersenyum kemudian meninggalkan tempatnya berdiri


"Akhirnya, huft! Lapar sekali, pulang ah sudah kangen sama sayang sayangku," gumam Malik seraya menggeliat sembari berjalan dengan posisi tangan ke atas.


💢💢💢💢


Malik menghentikan mobil nya di garansi rumah. Lelaki itu turun dan masuk ke dalam dengan suara lantang nya memberikan salam.


Salam dari Malik membuat ketiga anak nya berlarian menyambut. Tak hanya itu, bidadari nya juga ikut menyambut.


"Ayah kenapa baru pulang? Memang nya Ayah dari mana? Aku semalam nyariin Ayah tahu? Tapi Ayah nggak ada!" adu Ciara.


Malik yang di berondong pertanyaan itu pun menggaruk tengkuknya. "Ayah habis nemenin om Amier, kan om Amier lagi di rumah sakit jadi Ayah yang nemenin."


"Oh begitu, terus om Amier sudah sembuh belum Yah? Ciara pengen ketemu sama om Amier." Ciara berbicara dengan mengendus badan Malik.


"Kita doain om Amier ya biar cepat sembuh, tapi om Amier sudah sadar kok nanti siang Kita jenguk ya sama-sama." Malik memberi pengertian.


"Oke. Yah. Tapi Ayah belum mandi ya? Ayah bau." Ciara menutup hidung nya.


Malik yang mendengar itu pun tertawa.


"Gimana Mas keadaan Amier sekarang?" tanya Asyifa, wajah nya mengekspresikan kepanikan.


"Dia sudah tidak apa-apa, Kita berdoa saja biar dia cepat pulih, Aku rasa sebentar lagi Kita akan menambah anggota baru di keluarga Kita." Malik mengerlingkan mata nya.


"Benarkah? Apakah ini kabar baik?" mata Asyifa berbinar.


"Semoga saja." Sahut Malik. "Hari ini masak apa Yang? Aku laper nih belum makan dari semalam," sambung Malik bertanya seraya memegang perut nya.


Asyifa terkekeh, "sesuai dengan request Kamu kemarin."


"Benarkah? Wah, istriku memang yang terbaik!" ucap Malik seraya mencium kening Syifa.


"Ayah Aku mau di cium juga seperti Bunda!" Ciara berseru karena merasa iri dengan Syifa. Dirinya tidak di perhatikan seperti ayah nya memperhatikan sang bunda.


"Hoho! Putri Ayah iri nih ceritanya? sini-sini Sayang." Malik menggendong tubuh mungil Ciara dan menghujani wajah bocah itu dengan ciuman membuat Ciara tertawa geli.


Asyifa berdehem. Malik yang mendengar pun mengalihkan perhatian pada sang istri. Asyifa memberi kode pada Malik dengan mata nya yang mengarah ke- kedua putra mereka.


Malik melirik ke sofa. Laki-laki itu terkekeh dan menyerahkan Ciara pada Syifa kemudian duduk di tengah-tengah putra nya.


Tangan ia rentangkan dan memeluk ke-dua nya. Pipi kedua putar nya di cium nya satu persatu. Masih tak ada respon.


"Ya Allah, anak-anakku tak ada yang mau tersenyum kepadaku!" seru Malik mendramatisir.


"Nggak usah lebay!" seru kedua nya


Malik tertawa melihat ekspresi wajah putra-putra nya. "Friend?" Malik mengacungkan dua jari kelingking nya dan di sambut oleh kedua nya.


Se-simple itu lah membujuk putra nya, hanya kesabaran yang bisa membuat kedua nya menurut dan mengerti satu sama lain.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.