
HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗.
Hari demi hari hingga kini sudah hampir dua Minggu Ameera tidak pernah absen untuk datang ke rumah Annisa.
Dan Amier sekarang sudah tidak mempermasalahkan lagi kehadiran Ameera yang kini sudah menjadi kebiasaan nya. Jika di tanya mengapa, Amier juga tidak tahu.
Yang dia tahu, jika Ameera itu kesayangan bunda nya. Bagaimana tidak, selama gadis itu ada di rumah nya, dia selalu di asing kan dan Ameera yang akan merebut semua perhatian sang bunda. Bukan hanya bunda nya, bahkan Bian, Aditya, Asyifa, Malik, bahkan ketiga keponakan nya itu sangat menyukai kehadiran nya.
Apa lagi keponakan perempuan nya yang bernama Ciara. Dia sangat lengket dengan Ameera. Amier sampai heran kenapa bisa begitu. Tapi jika dia di bilang benci, dia tidak benci. Bahkan saat dia memperhatikan Ameera yang begitu senang dan begitu perhatian nya dengan Ciara, dia sesekali mengulas senyum entah mengapa dia juga tidak tahu.
"Woi! ngelamun saja." Malik dengan iseng nya mengagetkan Amier yang sedang sibuk dengan pikiran nya.
Amier berdecak. " Ngagetin tau nggak sih!" kesal nya.
Malik terkekeh. "Lagi mikirin apa sih? Kalau mikirin beras, nggak mungkin karena dompet Kamu tebel. Kalau mikirin warga, nggak mungkin Kamu bukan pejabat negara, kalau mikirin istri nggak mungkin juga karena belum nikah," racau Malik.
"Ah! Kamu mikirin jorok yah?!" Malik menuduh. "Bunda! Amier mikirin jorok nikahin saja Bun!" Malik teriak di akhiri dengan tawa.
Annisa yang kebetulan akan ke depan rumah pun menoleh, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja dan berlalu tanpa menggubris apa yang di katakan oleh Malik. Dia sudah tahu kebiasaan Malik, menantu nya itu.
Amier geram dan menendang kaki ipar nya itu membuat lelaki tiga anak itu mengaduh.
Amier meninggalkan Malik menuju kamar nya dan melambaikan tangan tanpa menoleh saat Malik berseru.
Malik menatap punggung Amier yang semakin tak terlihat, Asyifa menghampiri dengan segelas jus di tangan nya dan menyerahkan pada Malik. Malik langsung menerima dan meminum nya setelah mengucapkan terimakasih.
Asyifa duduk di kursi samping suami nya itu. "Kamu itu suka banget ngejailin Amier. Tobat Mas, Kamu itu sudah tua." Asyifa menasehati sembari terkekeh.
Malik yang sedang meminum jus nya itu pun hampir tersedak dengan ucapan Syifa. "Tua itu sudah takdir nya, tapi kan masih bisa buat rumah Kita nambah anggota baru Yang." Malik menaik turunkan alisnya menggoda.
Asyifa menatap horor Malik. "Maaf Saya tidak kenal Anda, dan Saya permisi." Sahut Asyifa dan berlalu. Malik tertawa, senang sekali dia menjahili istri nya itu.
💢💢💢💢
Bian sedang sibuk dengan laptop nya di kamar. Karena ini hari libur, dia tidak ke kantor dan memilih untuk bekerja dari rumah. Sebenar nya bukan itu alasan yang utama, alasan utama nya adalah bunda Annisa yang memberi peraturan bahwa hari libur adalah hari nya untuk keluarga.
Dan itu di peruntukan untuk semua nya. Dia ingin ada waktu khusus di akhir pekan untuk keluarga.
Tok ,,, tok ,,, tok ,,,.
"Masuk!" seru Bian tanpa mengalihkan fokus nya pada benda yang ada di pangkuan nya.
"Lagi apa Kak?" Amier memunculkan kepala nya mengintip sebelum dia masuk ke dalam.
"Lagi mancing Dek." Sahut nya masih fokus, tapi hal itu malah membuat Amier mencebikkan bibir nya.
Amier masuk dan mendudukkan dirinya di sofa di mana sang kakak duduk. Amier menyangga dagu nya dan memiringkan kepala nya manatap Bian yang masih fokus.
Bian menoleh dan di sambut senyuman manis dari Amier. Bian meringis ngeri. "Sehat Dek?" Bian bertanya seraya menyentuh kening adik nya.
Amier mencebikkan bibir dan dengan sigap melepaskan telapak tangan Bian dengan sedikit kasar. "Apaan sih Kak, Aku tuh nggak demam."
"Nggak demam kok tingkah nya aneh. Tidur sana, Kamu harus banyak istirahat."
"Tadi nya mau tidur, tapi malah nggak bisa. Ya sudah dateng ke sini kalo saja Kak Bian bisa di gangguin."Amier tersenyum jahil.
"Enak saja Kamu. Sana cari kesibukan sendiri kenapa, Aku lagi banyak kerjaan ini." Sahut Bian dan kembali berkutat dengan laptop nya.
Amier menghembuskan nafas lelah nya. "Sudahlah, Aku ke bengkel saja kalau begitu." Pemuda jangkung itu pun berjalan keluar dari kamar kakak nya.
"Eh, Kamu kan nggak boleh keluar rumah dulu!" seru Bian.
"Nggak apa-apa, Bunda pasti ngizinin."
Bian menggelengkan kepalanya saja. Sejak di nyatakan amnesia oleh dokter. Amier kini tingkah nya menjadi seperti anak SMA yang labil.
Amnesia Lakunar, itulah yang di alami Amier sekarang ini. Dia hanya mengingat keluarga nya saja dan orang-orang di masa lalu nya. Tapi dia tak ingat pada Ameera dan juga Shinta. Memori nya seakan menolak untuk mengingat mereka.
(Amnesia Lakunar adalah hilangnya ingatan tentang peristiwa tertentu. Amnesia ini disebabkan karena kerusakan otak di sistem limbik yang bertanggung jawab atas ingatan dan emosi kita. Ketika kerusakan terjadi, ia meninggalkan kekosongan , atau celah, dalam catatan memori di dalam wilayah korteks otak).
"Bun, ayolah Bun, Amier bosan di rumah terus. Cuma sebentar kok Bun," rajuk Amier.
Annisa menghentikan tangan nya yang tengah mencuci piring dan menatap ke putra nya tampan nya itu. "Nggak!" putus nya.
"Kamu tolong ngertiin Bunda dong Sayang, Kamu baru saja sehat, dan Kamu mau main di bengkel? Nggak yah!" sungut Annisa.
Amier menghembuskan nafas lelah. Lelah karena sang bunda tidak bisa di bujuk. Al hasil, Amier meninggalkan bunda nya dan ke ruangan TV, Annisa menggelengkan kepalanya, seperti anak kecil putra nya itu.
Amier mendudukkan dirinya di sofa depan TV yang ada dua keponakan nya yang sedang bermain PlayStation. Salim dan Salman menoleh dan berekspresi geli dengan om nya itu.
"Kak Salim!" panggil Salman. "Hum, apa?" sahut Salim.
"Masa ada orang sudah gede kelakuan nya kayak anak kecil gitu, tampan sih, tapi tak setampan Kita. Apa lagi wajah manyun nya itu, nambah ilang tampan lah." Salim melanjutkan ucapan nya tanpa menoleh pada layar besar di depan nya dan tangan yang tak diam memainkan stik PlayStation.
Salman mengatakan nya dengan begitu lantang. Salim yang tahu apa maksud nya pun tertawa. Amier melirik tajam tapi tak di hiraukan oleh kedua bocah itu.
"Heh! kembar yang kata nya tampan! Kalian nggak bisa yah jangan bicara pedas begitu!" kesal Amier.
Lagi-lagi mereka tak menghiraukan nya. Amier jadi kesal sendiri. "Ada yang ngomong tapi siapa ya Dek? Emang nya rumah nenek berhantu ya Dek?" Salim menyikut lengan Salman dengan mata yang masih fokus.
Salman terkekeh. " Ada Kak, bahkan hantu nya brewokan, sudah setahun kayak nya nggak di cukur." Salman dan Salim tertawa terbahak membuat Amier semakin kesal saja.
SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍