I Finally Found Love

I Finally Found Love
78.



HAPPY READING MAN-TEMAN 🤗


Bian menggenggam tangan Maryam dan senyuman nya terus saja tak pudar. Dua hari sudah berlalu dan kini mereka sudah di rumah.


Maryam tak tinggal di rumah Annisa karena sang ibu yang membantu di rumahnya sendiri. Annisa tak mempersoalkan hal itu.


Tak hanya ibu dari Maryam saja, Bian juga menjadi suami siaga yang akan menimang sang buah hati saat terbangun di malam hari.


Bian duduk di single sofa sembari memeluk putra kecilnya yang ia beri nama AFNAN DZAKI AL-FATIH.


Maryam terbangun saat merasakan sakit di dadanya. Dia tengok ke samping dan tak menemukan sang suami. Lalu Maryam menoleh ke belakang dan menemukan sosok yang ia cari.


Tapi bukan hanya suaminya saja, tapi buah hatinya juga ada di sana. Dia tersenyum dan turun lalu berjalan menghampiri Banyak an yang terlelap.


Maryam hendak mengambil alih Afnan, tapi tangan Bian refleks memeluk erat putranya. "Eh, Ummah." Bian terjaga.


"Abi kenapa nggak bangunin aku?" ujar Maryam.


Bian tersenyum, "kelihatan nya kamu lelah banget jadi aku ambil alih, mau ngasih ASI ya?" tanya balik Bian.


Maryam mengangguk dan Bian menyerahkan Afnan pada Maryam kemudian Bian mendudukkan Maryam di sofa bergantian dengannya.


Maryam memberikan ASI pada Afnan dengan hati-hati. Bian ikut membantu. "Lahapnya," ujar Bian.


"Sudah haus ya, Nak?" sahut Maryam tersenyum.


Bian berkali-kali menciumi kening Maryam dan mengusap sayang kening putranya. "Sehat terus ya sayang," ucapnya kemudian.


"Terimakasih," ucap Bian yang terus saja mencium pipi Maryam hingga membuat istrinya itu kegelian.


"Sudah dong, Bi. Geli tau," keluhnya.


Bian tertawa kecil. "Habisnya kamu imut gemesin banget. Pipinya tambah chubby jadi gemes pengin gigit." Bian tertawa.


"Ya kali di gigit, Bi." Maryam tak terima.


"Iyalah, jangankan pipi, yang lain juga mau aku gigit kalau di izinkan." Bian menggoda.


Maryam memutar bola matanya jengah melihat ke-ubsurt-an suaminya. "Nggak usah mulai deh," peringat Maryam.


"Nggak apa-apa dong, ayolah Yang."


"Bi!" kesal Maryam.


Mendengar suara keras Maryam membuat putranya terbangun dan menangis. "Ssstt, Sayang." Maryam menenangkan.


"Kamu sih, Bi!" Maryam bertambah kesal.


Bian malah tertawa. "Kamu nggak bisa liat orang tua lagi mesra-mesraan ya," ujar Bian menoel pipi chubby Afnan.


"Mesra apanya, orang bikin kesel kok. Pantes lah anakku nangis." Maryam menyahuti.


"Anak kita," ralat Bian.


"Masa, bukan. Ini milik aku," Maryam tak mau kalah.


Maryam berdiri dan meletakkan putranya di boks bayi karena sudah tertidur kembali. Setelah itu dia akan berbaring di ranjang, tapi Bian mendekapnya dari belakang hingga keduanya terjatuh ke kasur dan Bian dengan posisi di atas.


"Ayo bilang lagi," kata Bian.


Tak ada suara dari Maryam, tapi ringisan yang jadi jawaban. Bian segera melepaskan pelukannya dan meneliti setiap tubuh istrinya dengan rasa khawatir.


"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Bian yang khawatir.


"Masih sakit, Bi." Maryam mengeluh.


"Maaf ya, ya sudah kamu berbaring saja." Bian membenarkan posisi Maryam dan dia juga ikut berbaring di samping istrinya lalu menyelimuti tubuh mereka.


"Tidurlah," Bian menutup mata Maryam dengan tangannya dan memeluknya.


💢💢💢💢


Hari-hari mereka penuh dengan warna, tangisan dari sang buah hati menambah ramai suasana di rumah kecil Bian dan Maryam.


Bian selalu membatalkan kerjanya jika lewat dari jam empat atau mengundur harinya. Bian tak mau kehilangan momen-momen penting dengan putranya dan sang istri.


Semakin hari Afnan semakin menggemaskan hingga Bian tak rela untuk meninggalkannya. Maryam sampai mengomel saat Bian tak ingin berangkat kerja padahal perusahaan sedang dalam sibuk-sibuknya.


Bahkan Aditya sampai meminta Maryam untuk membujuk putranya itu supaya mau menemui client dari luar negeri karena hanya Bian yang bisa meng-handle client tersebut.


Dan saat di kantor pun Bian terus saja membuat panggilan video dengan mereka. Pokoknya hal sekecil apapun Bian harus tahu dan tak mau ketinggian.


Meski Bian tahu jika Afnan masih kecil untuk mengerti, tapi dia tetap saja tak mau lepas dari pandangan sang putra. Sebegitu cintanya dia pada putranya hingga terkadang membuat Maryam ikut cemburu.


"Kamu lagi apa, Sayang?" tanya Bian pada Afnan pada layar ponselnya dan di balas hanya senyuman yang menunjukkan gusinya yang belum tumbuh gigi.


"Wah, yang pintar ya, tunggu Abi pulang nanti kita main lagi. Oke?"


Entah ikatan batin antar anak dan ayah entah apa, Afnan yang masih bayi berusia tiga bulan lebih itu memberi respon yang luar biasa.


"Pintarnya anak Abi," canda Bian.


Suara deg dari Maryam mengalihkan perhatian Bian. "Kayaknya ada yang lupa nih," sindir Maryam.


"Wah, ada yang cemburu, Sayang. Wah, kamu harus hati-hati di rumah ya, nanti orang yang cemburuan itu bisa gigit pipi chubby kamu, Nak." Bian semakin meledek.


Maryam berdecak kesal. "Terus saja terus!"


Bian tertawa melihat tingkah imut Maryam yang cemburu pada putranya sendiri. "Masa sama anaknya cemburu sih," Bian mulai menggoda.


Tak ada sahutan dari Maryam, dan malahan istrinya itu menoleh pada arah yang berbeda. "Wah, ngambeknya nggak main-main kayaknya ya, Nak."


"Ya sudah, pulang nanti mau di bawakan apa?" tanyanya yang tahu jika Maryam menginginkan sesuatu. Dan benar saja, Maryam sudah membuat list catatan apa-apa saja yang ingin dia dapatkan.


"List nya sudah aku kirim ke WhatsApp kamu, Bi." Maryam tersenyum.


Bian mengangguk-anggukan kepalanya saat membaca satu persatu list yang di kirim Maryam.


"Hanya itu?" tanya Bian menawarkan.


"Iya, hanya itu." Maryam menjawab dengan singkat


"Baiklah, tunggu nanti di rumah ya."


"Oh iya, nanti juga aku mau imbalan nih buat upah bawain pesenan kamu," Bian tersenyum penuh arti.


"Dasar nggak mau kalah!" sungut Maryam.


Bian tertawa melihat kekesalan Maryam. "Aku bercanda, Sayang. Tapi kalau di kasih juga nggak akan nolak, aku." Bian menaik-turunkan alisnya.


"Abi kamu ngeselin ya. Nak." Maryam berbicara dengan Afnan dan di tanggapi dengan gerakan tangan dan tawa yang belum jelas suaranya.


"Ya sudah, sebentar lagi mau ada client jadi aku tutup dulu ya," ucap Bian sebelum menutup panggilan nya.


💢💢💢💢


Hari ini hari terakhir Ameera kontrol, Ameera keluar untuk ke toilet. Amier di panggil dokter yang merawat Ameera selama kehamilan.


Mereka terlibat perbincangan, Amier pamit setelah perbincangan tersebut.


Amier keluar dengan ekspresi yang tak terbaca. Ameera sudah menunggu di kursi tunggu dan menunduk. "Kita pulang, yuk?" ajak Amier.


Ameera mendongak dan tersenyum lalu menerima uluran tangan Amier.


SALAM HANGAT DARI AUTHOR KECE 😍.